Sabtu, 13 September 2014

KULIT MUKA, DAFTAR ISI DAN PENGANTAR

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
GEORGE S. CLASON
 
 
 
 
ORANG TERKAYA DI BABILONIA
 

 
 
 
 
 
 
 
 
Didepanmu terbentang masa depanmu, bagai sebuah jalan yang mengarah jauh ke ujung batas pandangmu. Sepanjang jalan itu ada banyak tujuan yang ingin engkau capai …. Keinginan-keinginan yang sangat ingin engkau penuhi.
 
Untuk mencapai tujuan dan keinginan hatimu, engkau harus berhasil di bidang keuangan. Gunakan prinsip-prinsip dasar yang dijelaskan pada halaman-halaman berikut ini. Jadikan dia pembimbingmu menjauhi kecekakan dompetmu yang tipis ke yang lebih tebal, yang penuh, hidup dalam kehidupan yang lebih berbahagia yang dimungkinkan oleh dompet yang terisi penuh.
 
Seperti hukum daya tarik bumi, hukum-hukum uang bersifat alamiah dan tidak berubah. Mudah-mudahan hukum uang itu dapat berlaku juga bagimu, sebagaimana dia telah terbukti berlaku bagi sangat banyak sekali orang, kunci yang mantap bagi mendapatkan dompet tebal yang terisi penuh, rekening bank yang menggelembung dan perbaikan di bidang keuangan yang sangat memuaskan.
 
 
 
 

 
 
 
Uang adalah alat untuk mengukur keberhasilan di muka bumi.
 
Uang memungkinkan pemiliknya menikmati yang terbaik yang disediakan dunia.
 
Uang sangat banyak sekali bagi sesiapa yang mengenal hukum sederhana yang mengatur cara memperolehnya.
 
Uang hari ini diatur dengan hukum yang sama yang mengaturnya ketika orang berada dan para hartawan yang hidup berkelimpahan memenuhi jalan-jalan di Babilonia, enam ribu tahun yang lalu.
 
 
 

 
 
 
LIHAT, UANG BANYAK SEKALI
BAGI MEREKA YANG MENGENAL
HUKUM SEDERHANA YANG MENGATUR CARA MEMPEROLEHNYA
 
 
 
1.      Mulai gelembungkan kantung uangmu
 
2.      Atur dan cermati pengeluaranmu
 
3.      Lipatgandakan emasmu
 
4.      Jaga hartamu dari kerugian
 
5.      Jadikan tempat tinggalmu sebagai penanaman modal yang menguntungkan
 
6.      Jamin penghasilanmu di masa depan
 
7.      Tingkatkan kemampuan memperoleh penghasilan
 
 
- Orang Terkaya Di Babilonia
 
 
 

 
 
 
 
 
 
ORANG TERKAYA DI BABILONIA
 
 
GEORGE S. CLASON
 
 
 
 

 
 
 
DAFTAR ISI
 
 
Pengantar                                                                                                          
 
Orang Yang Menginginkan Emas
 
Orang Terkaya Di Babilonia
 
Tujuh Kutukan Kemelaratan
 
Bertemu Muka Dengan Dewi Keberuntungan
 
Lima Hukum Emas
 
Pemberi Pinjaman Emas Di Babilonia
 
Tembok Kota Babilonia
 
Pedagang Unta Di Babilonia
 
Lempeng Tanah Liat Dari Babilonia
 
Orang Paling Beruntung Di Babilonia
 
Sejarah Singkat Babilonia
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
PENGANTAR
 
 
 
Kemakmuran kita sebagai suatu negara tergantung kepada kemakmuran keuangan setiap orang sebagai warganya.
 
Buku ini menceritakan keberhasilan bagi setiap pembaca. Keberhasilan berarti pencapaian hasil yang diperoleh dengan usaha dan kemampuan kita sendiri. Persiapan yang cukup merupakan kunci keberhasilan. Tindakan kita tidak dapat lebih arif dari buah fikiran kita. Karena fikiran kita tidak dapat lebih bijaksana dari pemahaman kita akan sesuatu.
 
Buku penyembuh kantong uang yang kempis ini dapat disebut sebagai petunjuk pemahaman masalah keuangan. Itulah tujuannya : memberikan kepada orang yang begitu menginginkan keberhasilan di bidang keuangan, sebuah pemahaman yang dapat membantu mereka memperoleh uang, menyimpan uang, dan membuat kelebihan uangnya menghasilkan lebih banyak uang.
 
Pada halaman-halaman berikut, kita dibawa mundur ke masa Babilonia, tempat kelahiran yang membesarkan, membentuk prinsip-prinsip dasar keuangan yang sekarang diakui dan dipergunakan di seluruh dunia.
 
Bagi pembaca baru kami merasa gembira menyampaikan salam dan harapan semoga halaman-halaman buku ini mengandung inspirasi bagi mereka untuk mengembangkan saldo rekeningnya di bank, keberhasilan di bidang keuangan yang lebih besar, dan membantu menyeselaikan masalah keuangan, sebagaimana telah dengan bersemangatnya disampaikan para pembaca mulai dari pantai atlantik hingga pantai pasifik.
 
Bagi pengusaha yang telah menyebarkan cerita-cerita ini dalam jumlah besar kepada sahabat-sahabatnya, keluarga, pegawai dan rekan kerja, kami mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih. Tidak ada pengakuan dan dukungan yang lebih baik dari pada para praktisi yang mneghargai ajaran yang disampaikan, karena merekalah yang telah bekerja keras hingga mencapai keberhasilan dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar keuangan yang diajarkannya.
 
Babilonia menjadi kota terkaya di zaman kuno itu karena warganya merupakan orang-orang terkaya pada masa itu. Mereka memberikan penghargaan yang tinggi kepada nilai uang. Mereka menerapkan prinsip keuangan yang sehat dalam memperoleh uang, menyimpan uang dan membuat uangnya menghasilkan lebih banyak lagi uang. Mereka memberi diri mereka sendiri apa yang kita semua inginkan ….. penghasilan bagi masa depannya.
 
 
G. S. C.

 
 
 
 
ORANG TERKAYA DI BABILONIA
 
 

I : ORANG YANG MENGINGINKAN EMAS

 
ORANG YANG MENGINGINKAN EMAS
 
 
Bansir, pembuat kereta kuda di Babilonia, sangat kecewa. Dari tempat ia berdiri di depan rumahnya, ia memandang rumah yang sangat sederhana, dan sebuah bengkel kerja, yang masih terisi satu kereta kuda yang seolah terbengkalai, masih belum selesai dikerjakan.
 
Istrinya beberapa kali terlihat dengan sengaja menampakkan diri di ambang pintu. Pandangan sayu yang dilontarkan ke arah Bansir seolah mengingatkan bahwa beras mereka sudah hampir habis, dan Bansir seharusnya bergegas menyelesaikan pekerjaan yang merupakan keahliannya itu, memalu dan membengkokkan tulang-tulang roda, melicinkan permukaan kereta dan mengecatnya, mengikat kulit pada tiap roda, mempersiapkan pengiriman kereta, agar ia bisa segera menagih upah dari hartawan pelanggannya.
 
Kendati demikian, tubuh besarnya yang berotot hanya tersandar pada pagar rumah. Fikiran lambannya terus seolah dengan sabar berusaha mencari jalan keluar dari masalah yang tak berujung, yang belum pernah ia temukan penyelesaiannya. Matahari tropis yang terik, yang memanasi lembah Furat, tanpa ampun membakar tubuhnya. Keringat bercucuran, dari dahi merembes ke alis dan kemudian menetesi dadanya yang penuh bulu. Upf panasnya.
 
Dekat rumah Bansir, menjulang pagar-pagar tinggi yang mengelilingi kediaman Sang Raja. Di sebelahnya lagi, menusuk kebiruan langit, menjulang Menara Genta yang bercat cerah. Di bawah bayang-bayang kebesaran itulah rumah Bansir yang sederhana berada, beserta beberapa rumah lain yang juga kurang bagus dan kurang terawat. Begitulah Babilonia, campuran kemegahan dan kekumuhan. Hartawan kaya raya dengan orang terlunta-lunta, berbaur dalam lingkungan kota tanpa perencanaan tanpa ikatan sistem dalam dengung kehirukpikukan.
 
Di belakangnya, kalau ia ingin atau sempat memperhatikan, betapa riuhnya kereta kuda para hartawan, berlalu sambil menyingkirkan para pedagang kaki lima dan pengemis tanpa alas kaki yang terpaksa berhamburan ke sisi jalan. Sementara itu, di tempat lainnya, orang beradapun harus terdorong ke tepian parit agar memuluskan jalan para budak pengangkut air, guna kepentingan raja, masing-masing memanggul sekantung air dari kulit kambing yang akan digunakan untuk menyiram Taman Gantung Sang Raja. Bukan main riuh-rendahnya suasana.
 
Namun, Bansir sedang terlalu tenggelam dalam masalahnya sendiri. Ia tidak mengacuhkan kesibukan disekitarnya. Tiba-tiba, sebuah dentingan senar lyra yang tak disangka-sangkalah yang membangunkan Bansir dari lamunan bingungnya. Ia menoleh, menemukan sebuah senyum bersahabat yang sangat ia kenal, senyum sahabat karibnya – Kobbi, si pemusik.
 
“Semoga Para Dewa memberkatimu dengan limpahan berkah-Nya, sahabat,” salam panjang Kobbi. “Ya kan, begitu berkahnya bahkan engkau kelihatannya santai-santai saja, tidak perlu bekerja lagi. Sukurlah kalau begitu, betapa beruntungnya engkau. Nanti, keberuntunganmu akan kutambah lagi. Terpujilah Para Dewa, maka dari simpananmu yang cukup, yang telah membuatmu istirahat dari kesibukan bengkel, sudilah engkau mengeluarkan, tidak banyak, hanya dua shekel, untuk dipinjamkan padaku, tidak lama, hanya sampai nanti lewat malam, setelah pesta para hartawan. Uangmu tak kan hilang, tapi kembali pasti.”
 
“Kalau aku punya dua shekel,” jawab Bansir suntuk, “tidak ke siapapun kuberi pinjaman – bahkan ke padamu sekali pun, sahabat baikku, karena hanya itulah mungkin keberutunganku – bahkan seluruh peruntunganku. Tidak akan ada orang yang akan meminjamkan seluruh peruntungannya, bahkan ke sahabat terbaiknya kan?”
 
“Apa?” seru Kobi terkejut. Benar-benar terkejut. “Engkau tidak punya satu shekel pun di kantung uangmu, tapi bersandar di pagar ini bagai patung!? Kenapa engkau tidak segera menyelesaikan kereta kuda itu? Bagaimana engkau akan menafkahi kehidupan keluargamu? Jangan begitu. Kemana keuletanmu yang sudah kukenal itu? Apa yang engkau fikirkan? Apakah Para Dewa telah memberikan engkau ujian lagi?
 
“Pastilah ini cobaan Dewa,” sahut Bansir menyetujui. “Awalnya cuma mimpi, mimpi kosong semata, saya seperti orang yang sangat berhasil. Kantung uangku penuh, melimpah. Shekel-shekel kecil dengan ringannya kusebar pada para pengemis. Uang perak kugunakan membeli perhiasan buat istriku dan apa saja yang kusukai. Uang pecahan emas cukup banyak sehingga dapat menenangkanku. Masih ada jaminan bagiku, meski uang perak habis kupergunakan, sangat memuaskan hati, bahagia! Engkau tidak akan mengenalku sebagai kuli seperti ini. Dan engkau tidak akan mengenal lagi istriku, wajahnya tidak ada kerutan sama sekali bersinar penuh senyum. Dia masih seperti perawan belia.“
 
“Mimpi yang benar-benar indah,” tanggap Kobbi, ”tapi bagaimana perasaan yang menyenangkan itu membuatmu mematung galau tersandar di pagar seperti ini?”
 
“Kenapa? Kenapa tidak, begitu tersadar kudapati kantung uangku melompong, getir hatiku. Coba kita bahas hal ini bersama, karena, seperti kata para pelaut, kita berada di kapal yang sama, kita berdua ini. Selagi remaja, kita belajar budi pekerti kepada para imam yang bijaksana bersama-sama, sebagai anak muda kita bergembira bersama juga, menjelang setengah baya kita masih bersama-sama, selalu sebagai sahabat baik. Kita melakukan pekerjaan yang kita sukai, senang menghabiskan waktu berkarya dan menggunakan hasil usaha kita unntuk kehidupan sesuai dengan penghasilan kita. Banyak emas perak yang telah kita peroleh, dan juga pergunakan selama tahun-tahun itu, tetapi membayangkan kebahagiaan menjadi orang kaya, masih bagai mimpi bagi kita. Bah! Apakah kita lebih bodoh dari seekor kambing? Kita hidup di kota terkaya di dunia, para pengunjung kota ini menyanjungnya sebagai kota yang tiada bandingnya di seluruh dunia. Segala hal yang menakjubkan itu hanya tontonan bagi kita. Setengah umurmu kau gunakan bekerja keras, kamu, sahabat karibku, namun kantung uangmu tetap saja kosong, dan apa yang kau katakan padaku, ‘sudilah engkau mengeluarkan, tidak banyak, hanya dua shekel, untuk dipinjamkan padaku, tidak lama, hanya sampai nanti lewat malam, setelah pesta para hartawan.’ Lalu, apa jawabku? Apa akau bilang, ‘Ini kantung uangku, silakan manfaatkan sesuai kebutuhanmu.’ Tidak, kantung uangku sama kosongnya dengan milikmu. Kenapa bisa begini? Kenapa kita tidak dapat mengumpulkan emas dan perak, lebih dari sekedar memenuhi sandang dan pangan?”
 
“Apalagi kemewahan itu, coba perhatikan,” lanjut Bansir, “mereka seolah-olah sudah begitu saja dengan mudah mengikuti jejak pendahulunya? Mereka, keluarga mereka, anak-anaknya, keluarga anak-anaknya, seolah hidup sejahtera selamanya, sementara kita, harus sudah merasa cukup senang dengan kenduri susu kambing dan bubur nasi?”
 
“Belum pernah selama aku mengenalmu mendengar engkau berbicara seperti ini, Bansir.” Kobi tercengang.
 
“Belum pernah memang, selama itu. Aku berfikir seperti ini. Dari terang hari sampai jelang malam aku selalu sibuk, membuat kereta kuda terbaik yang pernah dibuat orang, dengan harapan suatu hari nanti, Para Dewa akan menghargai hasil kerjaku dan menghadiahkan aku dengan kekayaan berlimpah. Itu belum pernah terjadi. Akhirnya akau fikir hal itu tidak akan terjadi. Sedih hatiku. Maksudku, menjadi orang yang penuh kemakmuran. Membayangkan akan memiliki kebun luas dan banyak ternak, pakaian sutera halus dengan kantung uang yang penuh emas dan perak. Untuk itu semua aku rela bekerja sekuat tenagaku, dengan seluruh keahlian yang kumiliki, dan secerdas kecerdikan benakku, segala usahaku kuharapkan pada akhirnya akan menghasilkan yang terbaik sesuai anganku. Tapi, apa yang terjadi pada kita? Kutanyakan lagi kepadamu. Mengapa kita tidak memperoleh sesuai dengan usaha kita hal-hal yang melimpah yang biasa diperoleh dengan mudahnya dengan emas yang dimiliki para hartawan?
 
“Aku pun tidak mengerti!” sahut Kobbi. “Keberadaanku juga tidak lebih baik dari kamu. Hasil yang kuperoleh dari memetik lyra sangat cepat habisnya. Kadang-kadang aku harus mengusahakan sebisaku agar keluargaku tidak kehabisan makanan. Begitu juga, dalam hatiku kuimpikan lyra terbagus yang ada difikiranku, yang dapat melantunkan keindahan yang ada dibenakku. Hingga aku mampu menciptakan musik terindah, yang, bahkan Sang Raja sekalipun, belum pernah mendengarnya.”
 
“Lyra seperti itulah yang harus kau miliki. Tidak ada seorang pun di Babilonia ini yang dapat menciptakan musik semanis gubahanmu, melantunkan keindahan yang tidak hanya menyenangkan Sang Raja tetapi juga Para Dewa. Tapi bagaimana mungkin engkau akan melakukan hal itu sementara kita berdua ini sama miskinnya dengan budak Sang Raja? Dengar bunyi lonceng itu. Nah, itu mereka,” Ia menunjuk ke arah barisan bertelanjang dada, bersimbah keringat, para pemanggul air mendaki jalan kecil dari tepian sungai. Mereka berbaris lima-lima, setiap orang memanggul kantung air kulit kambing yang berat di punggungnya.
 
“Gagah sekali yang memandu arak-arakan pengangkut air itu”, kata Kobbi menyebutkan pemegang genta yang berjalan paling depan, “Orang penting di negeri ini. Dari penampilannya saja sudah terlihat.”
 
“Banyak orang gagah di dalam barisan pengangkut air itu,” ucap Bansir, “sama seperti kita. Yang tinggi, pirang, orang dari utara, anak hitam yang tertawa-tawa itu, orang dari selatan, sedangkan yang berperawakan kecil dari negeri timur. Semua bersama-sama mengangkut air dari sungai ke taman-taman, pulang pergi setiap hari, tahun demi tahun. Tanpa masa depan yang menjanjikan. Ranjang jerami tempat tidurnya, bubur nasi santapannya. Menyedihkan sekali Kobbi!”
 
“Aku mengasihani mereka. Tapi, tetap saja kita tidak lebih beruntung, meski kita bukan budak, meski kita manusia merdeka.”
 
“Benar, Kobbi, memikirkannya saja aku sudah merasa tidak enak. Kita pasti tidak mau menjalani kehidupan para budak. Kerja, kerja, kerja, tidak sampai kemana-mana, tidak menghasilkan apa-apa.”
 
“Mungkin kita perlu belajar bagaimana cara para hartawan itu mengumpulkan kekayaan dan melakukan hal yang mereka lakukan?” usul Kobbi.
 
“Mungkin ada rahasia yang perlu kita cari dan pelajari dari mereka yang memilikinya,” jawab Bansir mnyetujui dengan penuh ingin tahu.
 
“Hari ini,” ujar Kobbi, “aku berpapasan dengan sahabat lama kita, Arkad, mengendarai kereta kudanya yang berlapis emas. Harus kuakui, ia tidak merendahkan kesederhanaanku sebagaimana orang setaraf dengannya yang akan menganggap sebagai haknya untuk berbuat begitu. Ia bahkan melambaikan tangannya padaku, sehingga semua orang di sekitar kami melihat bagaimana ia menyampaikan salamnya dengan senyum ramah pada Kobbi, sang pemusik.”
 
“Dia disebut-sebut sebagai orang terkaya di Babilonia,” sela Bansir.
 
“Begitu kayanya sehingga Sang Raja mencari bantuan dan nasihat perbendaharaan padanya,” ujar Kobbi pula.
 
“Begitu kayanya,” sela Bansir, “tapi, aku khawatir kalau bertemu dengannya di gelap malam, tanganku akan segera menggerayangi kantung uangnya yang gemuk itu, ha ha.”
 
“Tidak mungkin,” sangkal Kobbi, “kekayaan hartawan itu tidak akan tersimpan dalam kantung uang yang dibawa-bawa. Seberapa penuh pun kantung uang, akan segera kosong apabila tidak ada aliran yang terus mengisinya. Arkad memiliki penghasilan yang terus menerus memenuhi kantung uangnya, sebanyak apapun ia pergunakan, uang di kantungnya akan tetap penuh.’
 
“Penghasilan, itu dia,” sergah Bansir. “Aku berharap penghasilan akan terus mengalir ke kantungku tidak perduli apakah aku sedang bersandar di pagar ini atau sedang melakukan ziarah ke tempat-tempat yang jauh. Arkad pasti tahu bagaimana cara menghasilkan uang bagi dirinya. Mungkinkah ia dapat menjelaskan sesuatu yang mencerahkan pikiran lambanku?”
 
“Saya fikir ia sudah mengajarkan pada Nomasir, anaknya,” jawab Kobbi. “Nomasir tidak akan pergi ke Niniveth dan, seperti yang dibicarakan banyak orang di tempat penginapan, Nomasir telah menjadi, tanpa bantuan bapaknya, salah satu orang terkaya di kota itu?”
 
“Kobbi, engkau telah membawaku ke pemikiran baru.” Sekilas cahaya berbinar dimata Bansir. “Bukankah tidak perlu mengeluarkan biaya jika kita hanya meminta saran yang baik dari seorang teman baik, dan, bukankah Arkad teman baik kita juga. Biarkan saja kita tidak berpunya, dengan kantung uang yang kosong bagaikan sarang elang yang sudah ditinggalkan penghuninya setahun yang lalu. Jangan hal itu menghalangi kita. Yang membuat kita risau adalah hidup berkekurangan di tengah-tengah kelimpahan. Kita ingin makmur. Ayo, kita kunjungi Arkad dan bertanya padanya bagaimana caranya agar kita, juga, dapat memperoleh penghasilan yang berkelimpahan bagi diri kita.”
 
“Engkau mengatakan hal sangat menarik, Bansir. Engkau mencerahkan fikiranku. Engkau menyadarkanku agar mencari alasan mengapa kita belum juga menemukan kekayaan belimpah. Kita belum pernah mencarinya. Engkau telah bekerja dengan rajin dan sabar untuk membuat kereta kuda yang terbaik di Babilonia. Untuk hal itu engkau telah mengerahkan segala kemampuanmu. Dalam hal itu engkau memang berhasil. Sangat berhasil bahkan. Aku sendiri telah berusaha menjadi pemain lyra terbaik, dan nyatanya aku berhasil.”
 
“Dalam hal-hal yang kita usahakan dengan sepenuh daya terbaik kita, kita berhasil. Bahkan Para Dewa pun bangga dengan keberhasilan kita dan membuat kita meneruskannya. Sekarang, akhirnya, kita lihat cahaya itu, terang seterang mentari pagi. Ia menawarkan kita pelajaran baru agar kita lebih berhasil dan lebih makmur. Dengan pengertian baru itu kita akan berusaha dengan jalan yang benar dan tindakan yang membanggakan, dan akan dapat mencapai tujuan kita.”
 
“Ayo kita pergi mengunjungi Arkad hari ini juga,” desak Bansir. “Juga, kita akan minta teman masa kecil kita yang lain yang tak jauh berbeda keberuntungannya dengan kita, untuk ikut serta, agar mereka, juga, dapat mempelajari pengetahuan ini.”
 
“Engkau benar-benar sangat baik pada teman-temanmu, Bansir. Itu membuatmu memiliki banyak sahabat. Jadi, begitulah, seperti yang engkau katakan. Kita pergi hari ini juga dan ajak mereka bersama-sama.”
 
 

 

II : ORANG TERKAYA DI BABILONIA

 
ORANG TERKAYA DI BABILONIA
 
 
Di Babilonia, pada zaman dahulu, hiduplah seorang yang sangat kaya bernama Arkad. Di seluruh Babilonia ia sangat dikenal sebagai orang yang memiliki harta yang berlimpah. Tetapi, ia juga terkenal akan kedermawanannya. Amat sangat ringan dan kuat dalam berderma. Murah hati pada seluruh sanak keluarga. Tidak terlalu perhitungan dalam pengeluaran-pengeluaran untuk memenuhi hajat hidupnya. Kendati demikian, setiap tahun kekayaannya bahkan bertambah lebih cepat dari pengeluaran-pengeluarannya.
 
Dan ada beberapa sahabat masa kecilnya datang berkunjung padanya dan mengatakan : “Arkad, kamu lebih beruntung dari pada kami. Engkau telah menjadi orang terkaya di Babilonia sementara kami berjuang hanya untuk mempertahankan hidup kami dari hari ke hari. Engkau mengenakan pakaian terbaik dan menikmati makanan mewah, tetapi kami harus cukup merasa puas apabila kami dapat memberi pakaian pada keluarga kami dengan bahan sederhana, asal layak, dan memberi makan sesuai dengan hasil terbaik yang kami peroleh.”
 
“Padahal, dulu kita sama setara. Kita belajar pada guru yang sama, bermain permainan yang serupa, bahkan dalam pelajaran dan permainan itu kita seimbang, tidak ada satu yang menonjol dari yang lainnya. Pada tahun-tahun itu, engkau juga tidak lebih terhormat dari pada kami.”
 
“Dalam bekerja engkau juga tidak bekerja lebih keras dari pada kami atau pun lebih tekun, begitulah sepanjang yang kami ketahui. Tetapi mengapa, kemudian, seolah ada Dewi Fortuna yang membuatmu melebihi kami semua dalam memperoleh hal-hal yang terbaik dalam kehidupan ini dan Sang Dewi mengabaikan kami, padahal kita memiliki hak yang sama?”
 
Menghadapi pernyataan itu Arkad langsung menyanggah mereka. Ia mengatakan, “Apabila engkau hidup dari hari ke sehari dan tidak mengumpulkan kekayaan apa-apa selama usia remaja kita hingga saat ini, itu disebabkan karena engkau gagal dalam mempelajari hukum pengembangan kekayaan, atau mungkin engkau tidak mengamatinya sama sekali.”
 
“’Dewi Fortuna’ itu sebenarnya hanyalah dewi jahat yang tidak memberikan kebaikan yang abadi pada siapapun. Sebaliknya, ia menghancurkan hampir setiap orang yang dilimpahkannya dengan durian runtuh, dengan keberuntungan tanpa usaha. Menjadikan mereka orang yang suka berfoya-foya, yang dalam tempo sekejap menghapushabiskan kekayaan mereka dan kemudian meninggalkan mereka dengan angan-angan bahwa mereka dapat hidup senang tanpa merasakan bahwa mereka tidak mampu menyediakan pembiayaannya. Yang lainnya menjadi sangat kedekut dan menggenggam keras kekayaannya, takut menggunakannya, sadar bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengumpulkannya kembali apabila terkurangi. Lebih jauh lagi, merkea takut hartanya hilang atau tercuri, membuat kehidupannya kosong dan pantas dikasihani.”
 
“Ada juga, mungkin, dapat memeliharanya dan menambah kekayaan itu dan berbahagia dan menjadi warga yang terhormat. Tapi sangat sedikit yang demikian itu, aku pun hanya mengenal mereka dari kabar burung semata.”
 
“Coba cermati mereka-mereka yang mewarisi kekayaan mendadak, apakah apa yang baru kuungkapkan ini bukan kebenaran adanya?”
 
Sahabat-sahabatnya membenarkan bahwa dari orang-orang yang mereka kenal yang mewarisi kekayaan, apa yang diucapkan Arkad ada benarnya, dan mereka meminta Arkad menjelaskan pada mereka bagaimana caranya ia menjadi orang yang memiliki kelimpahan yang tak terkira, jadi Arkad meneruskan :

“Pada masa mudaku kurasakan dan kulihat hal-hal yang baik yang memberikan kegembiraan, kebahagiaan dan yang memberikan kepuasan dan kesejahteraan. Dan kusadari bahwa kekayaanlah yang dapat mempermudah kita memperoleh hal itu semua.”
 
“Kekayaan itu kekuatan. Dengan kekayaan semua hal yang lain menjadi mungkin.”
 
“Kita dapat memenuhi rumah kita dengan perabot yang mewah.”
 
“Kita dapat berlayar ke tempat-tempat yang jauh di seberang lautan.”
 
“Kita dapat berpesta dengan makanan-makanan lezat dari negeri-negeri jauh.”
 
“Kita dapat membeli perhiasan yang dibuat pandai emas atau perajin permata.”
 
“Kita bahkan dapat membangun kuil yang megah bagi Para Dewa.”
 
“Kita dapat melakukan hal itu semua dan banyak lagi hal lainnya apa pun yang dapat menyenangkan hati dan menyejukkan jiwa.”
 
“Setelah kusadari hal itu, kuputuskan bahwa aku harus mengumpulkan hal-hal yang baik dalam kehidupan ini. Aku tidak mau menjadi penonton di kejauhan, melongo memperhatikan mereka yang menikmatinya. Aku tidak akan puas dengan pakaian sederhana yang terlihat bersahaja. Aku tidak akan puas berada di tengah orang-orang miskin. Sebaliknya akau akan menjadkan diriku sebagai tamu pada kemewahan pesta dan kesejahteraan. Aku harus menjadi hartawan.”
 
“Sebagaimana yang engkau ketahui, menjadi seorang anak pedagang kecil, dalam sebuah keluarga besar tanpa harapan, tanpa warisan, juga tanpa kelebihan apa-apa, seperti yang telah dengan jujur engkau ungkapkan, juga tidak ungggul dalam kebijaksanaan, saya memutuskan bahwa apabila saya ingin mencapai apa yang saya cita-citakan, yang saya butuhkan adalah waktu dan belajar.”

“Tentang waktu, semua orang memilikinya, berlebih-lebihan bahkan. Engkau, setiap orang, telah dikelabui oleh waktu yang cukup banyak untuk menjadikan dirimu kaya raya. Setelah sekian lama, apa yang terjadi. Ternyata, akhirnya engkau akui juga, bahwa tidak ada yang dapat engkau perlihatkan kecuali keluargamu yang baik yang dapat engkau bangga-banggakan.”
 
“Halnya belajar, bukankah guru kita yang bijaksana telah memberitahu kita bahwa belajar itu ada dua jenis : pertama, belajar menjadikan kita mengetahui apa yang kita pelajari dan ketahui, yang kedua belajar merupakan sebuah latihan yang menjelaskan pada kita apa yang tidak kita ketahui.”
 
“Oleh karena itu saya putuskan mempelajari bagaimana cara seseorang mengumpulkan kekayaan, dan setelah saya ketahui caranya, saya jadikan pembelajaran itu sebagai tugas saya dan melaksanakannya dengan bersunguh-sungguh. Karena, alangkah tidak bijaksana apabila kita terlalu menikmati hidup di hari-hari penuh keceriaan, sedangkan kesedihan pasti akan mendatangi kita pada waktunya atau pada saat kita kembali ke alam arwah.”
 
“Aku bekerja sebagai penulis lempeng tanah liat di perpustakaan kota, berjam-jam setiap hari kulakukan pekerjaan itu. minggu demi minggu, bulan ke bulan, terus bekerja, tetapi penghasilanku tidak memadai sama sekali, tidak ada yang dapat kutunjukkan. Makanan, pakaian dan persembahan bagi Para Dewa, dan lain-lain yang tidak dapat kuingat sama sekali, telah menghabiskan semua penghasilanku. Tetapi, untung tekadku tidak meninggalkanku.”
 
“Dan, pada suatu hari, Algamish, seorang pemberi pinjaman, berkunjung ke rumah wali kota memesan salinan Hukum Kesembilan, ia berkata padaku, ‘aku harus mendapatkannya dalam dua hari, apabila pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu itu, dua uang perak akan kuhadiahkan padamu.”
 
“Jadi, saya berusaha mati-matian menyelesaikan, tetapi Hukum Kesembilan itu terlalu panjang, dan ketika dua hari kemudian Algamish datang, pekerjaan itu masih belum selesai. Ia marah sekali, mungkin kalau saya ini budak miliknya sudah pasti saya akan dipukulinya. Tapi dia tahu Wali Kota tidak mungkin akan membiarkan ia menyakiti saya, jadi saya tenang-tenang saja, dan mengatakan padanya, ‘Algamish, bukankah engkau orang yang kaya raya, beritahukan padaku bagaimana caranya agar dapat menjadi kaya sepertimu, nanti akan kukerjakan salinan Hukum Kesembilan ini sepanjang malam dan besok, pagi-pagi sekali pasti dapat terselesaikan.”
 
“Ia tersenyum padaku dan menjawab, ‘engkau memang pedagang cerdik, baiklah, aku setuju, engkau selesaikan salinan itu dulu, besok pagi kita lihat hasilnya.”
 
“Sepanjang malam itu saya berusaha menyelesaikan salinan Hukum Kesembilan itu, meski punggungku terasa nyeri dan bau minyak pelarut tanah liat menyakitkan kepalaku dan membuat mataku berkunang-kunang. Akhirnya, ketika ia kembali bersamaan munculnya matahari, lempeng salinan itu selesai.”
 
“’Nah,’ ucapku, ‘sekarang katakan padaku apa yang telah engkau janjikan.”
 
“’Engkau telah menunaikan janjimu, anakku,’ katanya, ‘dan sekarang giliran saya memenuhi janjiku. Akan, kuberitahukan apa yang ingin engkau ketahui, bukankah aku telah tua dan orang tua senang sekali berbicara. Dan apabila ada anak muda datang memerlukan nasehat pada orang tua, dia akan memperoleh kebijaksanaan yang telah teruji bertahun-tahun. Tetapi anak muda sering beranggapan bahwa kebijaksanaan orang tua hanyalah kebijaksanaan masa lalu semata, tidak berguna bagi masa kini. Tapi, coba ingat-ingat hal ini, matahari yang bersinar hari ini sama dengan matahari yang bersinar pada masa ayahmu lahir, dan masih akan bersinar pada saat cucumu nanti kembali ke alam arwah.”
 
“’Pikiran anak muda,’ lanjutnya, ‘memang bersinar terang bagai lintasan meteor yang menerangi cakrawala, tetapi kebijaksanaan orang tua bagaikan bintang yang tidak bergeming, menetap di langit malam sehingga para pelaut dapat bergantung padanya ketika melayarai samudera.’”
 
“’Harus engkau serap ucapanku, sebab bila itu tidak engkau lakukan engkau akan gagal menyarikan kebenaran yang akan kusampaikan padamu, dan engkau akan mengira kerja kerasmu semalam suntuk tidak sepadan dengan apa yang engkau dapatkan.’”
 
“Kemudian dari bawah alis lebat yang memutih, matanya menatapku langsung dengan tajamnya dan berucap dalam nada rendah yang sangat dalam, ‘aku menemukan jalan kekayaan ketika menyimpulkan sebagian dari semua yang kuperoleh adalah miliku yang harus kusimpan. Maka engkaupun harus begitu.’”
 
“Selanjutnya, dengan tidak melanjutkan ucapannya, ia terus menghunjamkan pandangannya padaku dengan pandangan yang kurasakan langsung menusuk hatiku.”
 
“’Hanya begitu?’ aku bertanya.”
 
“’Ya, itu memadai untuk mengubah hati penggembala kambing menjadi hati rentenir,’ jawabnya.”
 
“’Tapi, bukankah semua yang keperoleh dapat kusimpan?’ tuntutku.”
 
“’Salah sama sekali,’ jawabnya. ‘Apakah engkau tidak membayar para penjahit untuk pakaianmu? Pembuat sandal? Engkau mengeluarkan uang untuk makan dan minummu? Dapatkah engkau hidup di Babilonia tanpa mengeluarkan uang? Apa yang tersisa dari penghasilanmu beberapa bulan belakangan ini yang dapat engkau tunjukkan? Atau penghasilanmu setahun yang lalu? Bodoh! Engkau mengeluarkan uang untuk membayar semua orang, tetapi tidak untuk dirimu sendiri. Guoblok, engkau bekerja untuk orang lain semata. Sama saja dengan budak yang bekerja untuk tuannya yang hanya memberikannya makanan dan pakaian. Tidak berbeda. Coba. Apabila engkau simpan untuk dirimu sendiri sepersepuluh dari seluruh penghasilanmu, berapa banyak yang sudah engkau kumpulkan selama sepuluh tahun?’”
 
“Pengetahuanku berhitung masih ada, jadi kujawab, ‘sama dengan penghasilanku dalam setahun.’”
 
“’Engkau Cuma separuh benar,’ sergahnya. ‘Setiap keping emas yang engkau simpan itu merupakan budak yang harus bekerja dan mengabdi padamu. Setiap perak yang dihasilkan emas itu merupakan anaknya, juga, harus menghasilkan sesuatu untukmu. Engkau hanya dapat menjadi kaya apabila apa yang engkau simpan memberikan penghasilan, begitupula anak-anaknya, penghasilan yang dihasilkannya, harus juga memberikan penghasilan. Itulah pertolongan yang dapat kuberikan padamu, kelimpahan yang begitu engkau dambakan’”
 
“’Apakah engkau kira aku telah menipumu supaya engkau bersusah payah menyelesaikan salinan itu,’ lanjutnya, ’sesungguhnya dengan ini aku telah membayarmu lebih dari seribu kali lipat, seandainya saja engkau cukup cerdas menangkap inti sari kebenaran yang kusampaikan.’”
 
“’Sebagian dari semua yang engkau hasilkan adalah milikmu yang harus engkau simpan. Jumlahnya tidak buleh kurang dari sepersepuluh, seberapa kecilpun hasil yang engkau dapatkan. Lebih bagus lagi kalau engkau mampu menyimpannya lebih dari itu. Bayar dulu dirimu sendiri. Jangan membeli dari penjahit, atau pembuat sandal lebih dari kemampuanmu dan sediakan secukupnya untuk makan, berderma dan persembahan bagi Para Dewa.’”
 
“’Kekayaan, seperti pohon, berkembang dari sebiji bibit yang kecil. Keping perak pertama yang engkau simpan bagai bijian yang akan menumbuhkan pohon kekayaanmu. Lebih cepat engkau tanamkan, maka lebih cepat pua ia akan tumbuh. Semakin tekun engkau memeliharanya, menyirami, memberi pupuk, dengan simpanan-simpanan berikutnya terus menerus, semakin cepat engkau akan berteduh di bawah rindangnya pohon kekayaan itu.’”
 
“Begitulah, ia ambil lempeng salinan itu dan berlalu.”
 
“Aku memikirkan dalam-dalam apa yang telah disampaikannya, sangat masuk akal. Jadi kuputuskan untuk mencobanya. Setiap kali aku dibayar, kuambil satu dari setiap sepuluh keping perak dan menyimpannya. Dan cukup aneh, aku tidak pernah mengalami kekurangan uang lebih dari sebelumnya. Aku mulai mendapatkan sedikit perbedaan ketika mampu melewati beberapa waktu. Tetapi berulang kali juga, aku tergoda, ketika melihat simpananku telah berkembang, utnuk menggunakannya, memperoleh barang-barang indah yang ditawarkan para pedagang, yang dibawa dengan unta dan kapal-kapal dari negeri Phunisia. Tetapi aku cukup bijaksana untuk tidak melakukannya.”
 
“Dua belas bulan berlalu, Algamish datang kembali dan mengatakan kepadaku, ‘Nak, sudahkah engkau bayar dirimu sendiri tidak kurang dari sepersepuluh dari yang engkau hasilkan selama setahun ini?’”
 
“Dengan bangganya kujawab, ‘Ya, tuan, sudah.’”
 
“’Bagus,’ jawabnya dengan wajah ceria padaku, ‘dan apa yang telah engkau perbuat terhadap simpananmu itu?’”
 
“’Kuberikan pada Azmur, pembuat bata, yang mengatakan ia akan pergi jauh ke seberang laut dan di Tyre ia akan membelikanku permata Phunisia yang langka. Apabila ia pulang kami akan menjualnya dengan harga yang tinggi dan berbagi keuntungannya.’”
 
“’Orang bodoh harus belajar’,’ gerutunya, ‘mengapa engkau mempercayai pengetahuan tukang bata untuk masalah permata? Apakah engkau akan mendatangi tokang roti untuk menanyakan masalah tata surya? Tidak, alangkah bodohnya engkau, seharusnya engkau mengunjungi ahli perbintangan, kalau engkau memang dapat berfikir. Habislah simpananmu, anak kemarin sore, engkau telah mencabut pohon kekayaanmu sampai ke akar-akarnya. Tapi tanam lagi yang lainnya. Coba lagi. Lain kali kalau engkau memerlukan nasehat atau pengetahuan tentang permata, kunjungi pedagang permata. Kalau engkau ingin mengetahui segala sesuatu tentang kambing, datangi penggembala. Nasehat memang dapat diperoleh dengan tanpa biaya, tetapi berhati-hatilah, ambillah hanya nasehat yang berguna bagimu. Orang yang meminta nasehat tentang simpanannya kepada seseorang yang tidak berpengalaman di bidang itu, akan membayarnya dengan seluruh simpanannya justru untuk membuktikan betapa bodohnya nasehat itu.’ Setelah mengatakan hal itu iapun berlalu.”
 
“Benar seperti yang dikatakannya. Orang-orang Phunisia memang penipu. Mereka menjual ke Azmur sepotong gelas yang tak bernilai yang terlihat seperti batu permata. Habis sudah simpananku. Tetapi seperti yang dinasehatkan Algamish, saya mulai menyimpan kembali setiap sepersepuluh keping perak yang saya peroleh, karena saya telah menjadi biasa melakukannya, usaha untuk menyimpan ini menjadi sangat tidak berat lagi.”
 
“Sekali lagi, dua belas bulan berlalu, Algamish datang lagi ke perpustakaan kota menemui saya. ‘Bagaimana perkembanganmu setelah terkahir kita bertemu?’”
 
“’Aku telah membayar diriku sendiri dengan tekun,’ jawabku, ‘dan simpananku telah kupercayakan pada Aggar pembuat tameng, untuk membeli perunggu bahan pembuat tameng, dan setiap bulan ia membayar padaku sewa uang itu.’”
 
“’Itu bagus. Dan apa yang engkau perbuat atas sewa uang itu?’”
 
“’Lumayan, aku bisa menikmati madu dan anggur bermutu dan kue berrempah yang lezat. Aku juga telah membeli selendang sutera ungu. Suatu hari nanti akau akan membeli seekor keledai muda yang dapat kutunggangi kemana-mana.’”
 
“Algamish tertawa mendengarkan hal itu. ‘Engkau telah memakan anak-anak simpananmu. Bagaimana mungkin engkau akan berharap mereka bekerja untukmu? Dan bagaimana pula mereka akan melahirkan keturunan yang juga dapat menjadi budakmu? Pertama-tama, himpun dan dapatkan dulu bala tentara budak emasmu baru kemudian pesta yang mewah dapat engkau nikmati tanpa penyesalan di kemudian hari.’ Sambil mengutarakan hal itu iapun berlalu.”
 
“Kemudian aku tidak melihatnya lagi selama dua tahun, ketika ia muncul kembali wajahnya telah penuh kerutan dalam matanya lebih kuyu, ia telah menjadi seorang yang sangat tua. Dan ia mengatakan kepadaku, ‘Arkad, sudahkah engkau memperoleh kekayaan yang engkau impi-impikan itu?’”
 
“Kujawab, ‘Masih belum semuanya, tetapi sebagian sudah kudapatkan dan bahkan memberikanku penghasilan tambahan, dan penghasilan tambahan itu juga menumbuhkan penghasilan baru yang lain.’”
 
“’Apakah engkau masih meminta nasehat dari pembuat bata?’”
 
“’Mereka memberi nasehat yang bagus tentang bagaimana membuat bata.’ Jawabku sekenanya”
 
“’Arkad,’ lanjutnya, ‘engkau telah belajar dengan baik. Pertama engkau belajar hidup dengan biaya kebutuhan secukupnya yang lebih kecil dari yang mampu engkau peroleh. Kemudian engkau belajar mencari nasehat dari orang yang benar-benar menguasai yang berkeahlian di bidangnya. Dan terakhir, engkau telah belajar bagaimana membuat emas bekerja untukmu.
 
“’Engkau telah belajar sendiri bagaimana memperoleh penghasilan, bagaimana menyimpannya dan bagaimana pula menggunakannya. Oleh karena itu engkau dapat dipercaya untuk menjalankan sebuah usaha. Aku sudah bertambah tua. Anak-anakku hanya memikirkan bagaimana caranya menggunakan uang tetapi tidak memikirkan sama sekali bagaimana cara memperolehnya. Usahaku sangat besar dan banyak, dan aku akan semakin tidak mampu untuk mengurus semuanya. Apabila engkau mau pergi ke Nippur dan mengurus serta mengusahakan tanahku di sana, akau akan menjadikanmu rekan usahaku dan akan berbagi hasil usaha bersama.’”
 
“Jadi, aku pergi ke Nippur mengurus harta kekayaannya yang besar di sana. Oleh karena aku sangat berkeinginan dan karena aku telah berhasil menguasai tiga hukum pengelolaan kekayaan, aku mampu melipatgandakan kekayaannya. Akupun ikut sejahtera, dan ketika jiwa Algamish kembali ke alam baka, aku mendapatkan bagian dari kekayaannya sesuai dengan perjanjian yang telah rapi dibuatnya sesuai dengan ketentuan hukum.”
 
Begitulah yang dikemukakan Arkad, dan ketika ia menyelesaikan ceritanya, salah seorang sahabatnya berkata, “Engkau memang sangat beruntung Algamish telah menjadikan engkau sebagai pewaris sebagian kekayaannya.”
 
“Beruntung hanya karena saya memiliki keinginan untuk berkelimpahan sebelum saya bertemu dengannya. Bagaimanakah apabila selama empat tahun saya tidak membuktikan kegigihan saya mencapai tujuan itu dengan menyimpan sepersepuluh dari seluruh yang saya hasilkan? Apakah engkau mengatakan nelayan itu beruntung padahal bertahun-tahun ia mempelajari kebiasaan ikan-ikan yang berubah-ubah sesuai perubahan angin sehingga ia dapat menebar jaring pada waktu dan tempat yang benar-benar berikan. Kesempatan itu bagai Dewi sombong yang tidak memerlukan apa-apa, yang tidak akan membuang waktu dengan orang yang tidak mempersiapkan diri.”
 
“Engkau memiliki tekad yang kuat untuk terus melanjutkan rencanamu setelah engkau kehilangan seluruh simpanan tahun pertamamu. Dalam hal ini engkau benar-benar luar biasa,” ujar sahabat lainnya.
 
“Tekad!” bantah Arkad. “Omong kosong. Apakah engkau fikir tekad akan memberimu kekuatan untuk memanggul beban yag tidak bisa diusung seekor unta, atau menarik bajak yang tidak bisa dihela kerbau? Tekad hanyalah pemicu semata dalam usahamu melaksanakan rencana yang telah engkau tetapkan untuk engkau capai. Apabila kutetapkan tugas bagi diriku, meskipun tugas sederhana sekalipun, tetap saja akan kurencanakan secermat mungkin. Bagaimana mungkin aku akan percaya diri melakukan hal-hal besar yang penting kalau aku tidak merencanakannya? Misalnya, apabila kukatakan pada diriku, ‘Selama seratus hari, setiap hari aku melewati jembatan memasuki kota ini, aku akan memungut sebuah kerikil di jalan dan melemparkannya ke dalam aliran sungai.’ Itu akan kulakukan. Apabila pada hari ketujuh aku melewati jembatan itu dan baru teringat bahwa aku lupa akan tugasku. Aku tidak akan mengatakan pada diriku, ‘Besok akan kulemparkan dua buah batu sekaligus, hasilnya akan sama saja.’ Apa yang akan engkau lakukan. Aku akan melangkah mundur ke belakang ke jembatan itu dan melontarkan sebuah batu. Itu baru betul. Pada hari ke dua puluh aku tidak akan mengatakan pada diriku, ‘Arkad, ini tidak berguna. Apa untungnya bagimu melontarkan sebuah batu setiap hari selama seratus hari? Lemparkan saja seratus batu sekaligus, beres.’ Tidak, bahkan mengucapkannya saja aku tidak akan apalagi melakukannya. Apabila tugas sudah kutetapkan bagi diriku sendiri, akan kuselesaikan. Jadi, aku akan berhati-hati agar tidak menetapkan tugas yang terlalu berat dan tidak mungkin diselesaikan. Aku tidak mau kepayahan, aku suka bersenang-senang.”
 
Lalu salah seorang shabat yang lain ikut berujar dengan mengatakan, “Apabila yang engkau ceritakan memang benar, dan sepertinya betul sebagaimana yang engau katakan, masuk akal, dan sangat sederhana, apabila setiap orang melaksanakannya maka tidak ada lagi harta benda yang tersisa untuk dimiliki.”
 
“Kekayaan tumbuh dan berkembang bilamana manusia mengeluarkan energi, berusaha,” jawab Arkad. “Apabila ada seorang hartawan membangun istana baru, apakah uang dan kekayaan yang ia keluarkan untuk membangun lantas hilang? Tidak, pembuat bata akan mendapat sebagian, kuli bangunan akan mendapatkannya juga, begitu pula arsitek dan perajin hiasan istana itu. Semua yang ikut serta dalam usaha membangun istana itu mendapatkan bagian dari pembayaran dan ongkos pembangunan istana itu. Setelah istana itu selesai apakah nilainya tidak sama dengan biaya pembangunannya? Apakah tanah tempat istana itu didirikan tidak menjadi bertambah nilainya karena ia terletak disitu? Tanah di sekitar istana itu tidak naik nilainya karena terhampar disitu? Kekayaan berkembang dengan cara yang ajaib. Tidak ada seorangpun yang dapat meramalkan batas pertumbuhannya. Bukankah bangsa Phunisia membangun kota-kota besarnya di pantai-pantai gersang dengan kekayaan yang mereka peroleh dari kapal-kapal dagang yang menyebar di lautan?”
 
“Jadi, apa yang engkau sarankan pada kami supaya kami lakukan agar kami juga bisa menjadi kaya?” masih ada lagi pertanyaan dari sahabatnya yang lain. “Tahun-tahun sudah berlalu, kami tidak lagi muda dan tidak ada harta yang telah kami simpan.”
 
“Kusarankan engkau menerapkan nasehat Algamish dan katakan pada dirimu sendiri, ‘Sebagian dari semua yang kuperoleh adalah milikku yang harus kusimpan.’ Ucapkan itu di pagi hari pada saat engkau bangun dari tidurmu. Ucapkan pada siang hari. Ucapkan lagi pada malam hari. Ucapkan pula setiap jam tiap hari. Katakan itu pada dirimu sendiri sehingga kata-kata itu seolah tertulis jelas dengan huruf api terpampang melintang dilangit.”
 
“Gugah dirimu dengan ide itu. Tanam dalam benakmu. Kemudian ambillah dengan bijak dari simpanan itu secukupnya. Tetapi tidak boleh kurang dari sepersepuluhnya harus tersimpan, untuk digunakan dimasa depan. Apabila perlu sekali, rencanakan pengeluaranmu. Tetapi tetap sediakan bagian untuk disimpan. Engkau akan segera dapat merasakan rasa sejahtera memiliki kekayaan yang tersimpan hanya engkau sendiri yang dapat menggunakannya. Semakin berkembang ia, akan semakin terdorong engkau. Kenikmatan hidup yang baru akan membuatmu bersemangat. Kegigihan yang lebih besar akan datang mendukungmu meraih tambahan penghasilan. Karena peningkatan penghasilanmu, tidakkah engkau dapat lebih menambah persentase jumlah penghasilan yang engkau simpan?”
 
“Kemudain belajar mempekerjakan harta simpananmu. Jadikan dia budakmu. Jadikan pula anak-anaknya dan cucu-cucunya bekerja untukmu.”
 
“Pastikan ada penghasilanmu di masa-masa yang akan datang. Perhatikan orang-orang yang sudah uzur itu, dan jangan lupa bahwasanya engkau juga akan seperti mereka. Oleh kerana itu usahakan dan pekerjakan simpananmu dengan sangat hati-hati kalau tidak engkau akan kehilangan semuanya. Penghasilan yang tinggi memukau sangat menipu, merayu orang-orang yang lengah kedalam kehancuran dan penyesalan.”
 
“Perhatikan juga hal-hal yang tidak diinginkan keluargamu sendainya engkau dipanggil Para Dewa ke alam arwah. Perlindungan seperti itu selalu dapat disediakan apabila engkau  menyediakan simpanan kecil secara bertahap. Orang yang mempersiapkan hal itu tidak akan menunda hingga penghasilan yang besar tersedia untuk keperluan-keperluan yang baik itu.”
 
“Berkonsultasilah dengan orang bijak. Cari nasehat dari orang yang pekerjaan sehari-harinya mengelola uang. Mereka akan menyelamatkanmu dari kekeliruan yang pernah kulakukan ketika menggunakan nasehat keuangan dari Azmur, si pembuat bata. Penghasilan kecil yang lebih aman harus diutamakan dari pada menanggung resiko yang lebih besar.”
 
“Nikmatilah hidupmu selagi hidup di bumi ini. Jangan terlalu membebani dirimu sendiri atau menyimpan terlalu banyak dari yang dapat engkau sediakan. Apabila sepersepuluh dari semua penghasilanmu merupakan jumlah yang terbanyak yang dapat dengan nyaman engkau sediakan untuk disimpan, cukuplah puas dengan jumlah itu, asal tetap engkau pertahankan. Hidup saja sesuai dengan penghasilanmu tetapi jangan pula membuat dirimu begitu pelit dan takut mengeluarkan uang. Hidup itu enak dan hidup itu kaya dengan hal-hal yang pantas engkau nikmati sepenuhnya.”
 
Sahabat-sahabatnya berterima kasih kepadanya dan pergi berlalu. Beberapa terdiam karena mereka tidak punya bayangan sama sekali dan tidak dapat mengerti isi pembicaraan. Sebagian lagi sangat tidak menerima karena mereka fikir seseorang yang sudah sangat kaya seharusnya membagi kekayaannya dengan sahabat lamanya yang kurang beruntung. Tetapi ada beberapa orang yang memiliki harapan baru yang terbayang dimatanya. Mereka menyadari bahwa Algamish telah kembali setiap waktu ke ruangan penyalin naskah di perpustakaan karena ia mengamati perkembangan orang yang berusaha mencari jalan keluar dari kegelapan ke dunia yang gilang gemilang. Apabila orang tersebut sudah menemukan sinar gilang gemilang itu, sebuah tempat telah menunggunya. Tidak seorangpun dapat menempati kedudukan itu hingga ia dapat mengusahakan bagi dirinya sendiri dengan pengertiannya sendiri, hingga ia bersedia menghadapi setiap kesempatan yang muncul.
 
Mereka dalam kelompok terkahir inilah yang dicari, yaitu mereka yang, dalam tahun-tahun mendatang, berulangkali mengunjungi Arkad, yang dengan sangat gembira menerima mereka. Mereka berkonsultasi, dan ia memberikan beberapa nasehat tanpa biaya dari perbendaharaan kebijaksanaannya sebagaimana seorang yang berpengalaman luas akan dengan senang hati melakukannya. Ia membantu mereka mempekerjakan simpanannya dengan hasil yang lumayan dengan aman sehingga tidak ada simpanan yang hilang percuma atau tidak mendatangkan hasill tambahan sama sekali.
 
Titik balik kehidupan orang-orang ini datang pada hari ketika mereka menyadari kebenaran yang datang dari Algamish melalui Arkad dan dari Arkad menyentuh mereka.
 
 
 
SEBAGIAN DARI SEMUA YANG ENGKAU HASILKAN
ADALAH MILIKMU YANG HARUS ENGKAU SIMPAN