Sabtu, 13 September 2014

VIII : PEDAGANG UNTA DI BABILONIA

 
 
PEDAGANG UNTA DI BABILONIA
 
 
 
 
Semakin lapar seseorang, semakin terang batinnya bekerja – juga semakin tajam penciumannya pada aroma makanan.
 
Tarkad, anak laki-laki Azure, setidaknya berfikir begitu. Selama dua hari penuh dia tidak mencicipi makanan kecuali dua buah kesemek kecil yang dicurinya di atas pagar sebuah kebun. Dia tidak dapat memetik yang lainnya karena tiba-tiba datang seorang wanita yang dengan marahnya mengejar Tarkad sepanjang jalan. Suara teriakannya yang tajam masih terngiang-ngiang di telinganya ketika ia berjalan menyusuri keramaian pasar. Lengkingan itu membuatnya menahan diri dari mencuri buah-buahan yang menggoda, yang begitu banyak dijual di pasar itu.
 
Belum pernah disadarinya betapa luar biasa banyaknya bahan makanan di bawa ke pasar Babilonia dan betapa enaknya aroma bebauan yang menyertai sayur dan buah itu. Meninggalkan pasar, ia berjalan ke sebuah penginapan dan mondar-mandir di depan sebuah rumah makan. Mungkin di sini dia dapat bertemu dengan seseorang yang dikenalnya, seseorang yang dapat ia minta diberi pinjaman sekeping perunggu yang akan dapat membuat penjaga penginapan yang tidak ramah itu tersenyum, dan dengan itu juga, rela memberikan bantuan. Tanpa keping perak itu dia sangat tahu bagaimana perilaku sangat tidak senangnya penjaga penginapan itu ketika berhadapan dengannya. 
 
Ketika ia sedang asik memikirkan hal itu, secara tak terduga ia terserempak muka dengan muka dengan seseorang yang paling dihindarinya, seorang yang berperawakan tinggi dan bertulang besar Dabasir, pedagang unta. Di antara semua sahabat dan siapapun yang pernah ia pinjam sedikit, paling-paling beberapa keping perunggu, Dabasir yang paling tidak membuatnya nyaman karena kegagalannya untuk memenuhi janji untuk mengembalikannya tepat waktu.
 
Wajah Dabasir sedikit lega mendapatkannya. “Ha! Ini dia Tarkad, orang yang kucari-cari mungkin dia akan mengembalikan dua keping perunggu yang kupinjamkan kepadanya satu bulan yang lalu; juga satu keping perak yang kupinjamkan padanya sebelum itu. Akhirnya kita bersua. Aku sangat memerlukan keping-keping itu hari ini. Apa katamu, Nak? Bagaimana?”
 
Tarkad tergagap dan wajahnya semu memucat. Dengan perut yang kosong dia tidak lagi memiliki nyali untuk bertengkar dengan Dabasir yang gemar berbicara itu. “Maafkan aku, maaf sekali,” ia bergumam pelahan, ”tetapi hari ini aku tidak memiliki keping perunggu ataupun keping perak untuk membayarmu.”
 
“Maka carilah,” deask Dabasir. “Tidak dapatkah engkau memperoleh beberapa keping perunggu dan sekeping perak untuk membayar kembali kemurahan hati seorang sahabat lama ayahmu yang menolongmu ketika engkau dalam kesempitan?”
 
“Aku sedang dirundung malang, bagaimana mungkin aku akan dapat membayarmu kembali.”
 
“Kemalangan! Engkau menyalahkan para dewa karena kelemahanmu sendiri. Kemalangan merundung orang yang hanya memikirkan meminjam uang dari pada membayar utang-utangnya. Mari ikut besamaku, nak, aku mau makan. Aku lapar, sambil makan akan kuceritakan kepadamu sebuah cerita.”
 
Tarkad kecut hatinya mendengar keterusterangan Dabasir, tapi paling tidak ada ajakan masuk ke rumah makan yang memang selalu diidamkannya.
 
Dabasir mendorongnya ke sudut ruangan yang agak jauh dimana mereka duduk diatas sebuah permadani kecil.
 
Ketika Kauskor, pemilik rumah makan, muncul sambil tersenyum, Dabasair menyapanya dengan bahasanya yang agak kasar tetapi sangat terbuka, “Kadal gurun gendut, hidangkan aku sepotong kaki kambing, agak berlemak setengah matang, dan roti dan semua sayur-sayuran, aku lapar dan mau makan agak banyak.Jangan lupakan sahabatku ini. Bawakan dia seteko air. Air yang dingin, bukankah hari ini panas.”
 
Hati Tarkad tersumbat. Haruskah ia duduk disini dan hanya minum air sementara melihat orang ini melahap kaki kambing segar itu? Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak dapat menemukan kata-kata untuk diucapkan.
 
Dabasir, sebaliknya, tidak pernah mengenal kata diam. Tersenyum dan melambaikan lengannya dengan halus kepada pelanggan lainnya, yang semuanya dikenalnya dengan baik, melanjutkan pembicaraannya.
 
“Aku mendengar dari seorang yang baru datang dari Urfa cerita tentang seorang yang kaya yang memiliki sepotong batu yang di belah tipis sekali sehingga sehingga seseorang dapat melihat menembus batu itu. Ia menaruh batu itu di jendela rumahnya agar tidak dimasuki air hujan. Warnanya kuning, begitu kata orang yang baru datang itu, dan dia diberikan kesempatan untuk melihat menembusnya dan semua dunia di luar sana terlihat aneh dan tidak sama dengan keadaan yang sebenarnya. Apa pendapatmu tentang hal itu, Tarkad? Apakah engkau fikir dunia akan dapat terlihat dengan warna yang berbeda bagi seseorang?”
 
“Aku tidak berani mengatakannya,” jawab anak muda itu, ia lebih tertarik pada kaki kambing yang terhidang di depan Dabasir.
 
“Baiklah. Aku tahu itu benar karena aku sendiri telah melihat dunia dengan warna yang berbeda dengan warna yang seharusnya, dan kisah yang akan kuceritakan ini berhubungan dengan bagaimana aku dapat kembali melihat dunia dengan warna yang sesungguhnya.”
 
“Dabasir mau bercerita,” bisik orang yang sedang makan di sebelah Dabasir kepada tetangga duduknya sambil menarik permadani tempat dia duduk lebih mendekat ke Dabasir. Orang yang sedang makan lainnya yang tertarik membawa makanannya duduk di sekeliling Dabasir membentuk setengah lingkaran. Mereka mengunyah makanannya dengan lahap berkecap-kecap di telinga Tarkad dan seolah melambai-lambaikan daging-daging empuk itu di depan matanya, sedangkan dia sendiri duduk tanpa makanan suatu apa. Dabasir tidak menawarkann makan bersamanya, bahkan perduli pun tidak menyuruhnya menjumput bagian roti yang agak keras yang terpotong dan jatuh di lantai.
 
“Kisah yang akan kuceritakan ini,” mulai Dabasir, berhenti sejenak menggigit bagian gemuk enak kaki kambing, “mengenai masa mudaku dan bagaimana aku kemudian menjadi pedagang unta. Tidakkah ada di antara engkau yang mengetahui bahwa aku dulu pernah menjadi budak di Syria?”
 
Bisik-bisik terkejut terdengar di antara pendengar, hal itu membuat senang hati Dabasir.
 
“Ketika aku masih muda,” lanjut Dabasir setelah satu lagi gigitan tertancap lahap pada kaki kambing, “aku belajar berpencaharian pada ayahku, sebagai pembuat pelana. Aku bekerja padanya di toko dan kemudian mendapat seorang istri. Sebagai orang muda mentah tidak terlalu ahli, aku hanya berpenghasilan sedikit saja, tidak banyak, hanya dapat memenuhi keerluan istriku yang cantik secara sederhana. Aku menginginkan barang-barang bagus yang tidak dapat kupenuhi. Kemudian kudapatkan pemilik toko mempercayaiku untuk membayar kemudian meski aku tidak mampu membelinya saat itu.”
 
“Sebagai orang muda mentah tidak berpengalaman aku tidak tahu bahwa siapa saja yang membelanjakan lebih dari pada yang dapat ia hasilkan ia telah menaburkan angin pemenuhan keinginan yang tidak perlu dan dari situ ia pasti akan menuai badai kemalangan dan akan mempermalukannya. Jadi aku bersenang-senang sesuai keinginan hatiku, berpakaian bagus, membeli perhiasan dan perabotan mewah untuk istri dan rumahku, semua diluar batas kemampuanku.”
 
“Aku membayar utangku semampuku, untuk sementara semua berjalan lancar. Tetapi, pada saat kusadari aku tidak dapat lagi menggunakan penghasilanku untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan membayar utang-utangku. Para pemberi pinjaman mulai mencari-cariku meminta melunasi pembelanjaan mewahku dan kehidupanku mulai menjadi menyedihkan. Aku meminjam lagi pada sahabatku, tetapi tidak mampu melunasinya juga. Keadaan berubah dari buruk ke lebih buruk lagi. Naas. Istriku kembali ke orang tuanya dan untuk diriku sendiri aku putuskan meninggalkan Babilonia menuju ke kota lain di mana anak muda diharapkan akan mendapat kesempatan yang lebih baik.”
 
“Selama dua tahun aku mengembara tanpa hasil bekerja pada sebuah karavan pedagang. Dari situ, kemudian aku berhubungan dengan sekelompok penyamun yang menyusuri gurun mencari karavan tanpa pengawalan. Pekerjaan itu sangat tidak pantas, apalagi sebagai anak dari seorang yang terhormat seperti ayahku, tetapi aku sedang melihat dunia dari belakang batu yang warnanya berbeda dan tidak menyadari lembah kemunduran apa yang aku sedang jatuh kedalamnya.”
 
“Kami mendapatkan hasil yang bagus pada perampokan yang pertama, menjarah harta benda berharga berupa emas dan sutera dan barang dagangan bernilai lainnya. Jarahan ini kami bawa ke Ginir dan berfoya-foya di sana.”
 
“Kali kedua kami tidak terlalu beruntung. Bagitu selesai kami garap sebuah karavan, kami diserang oleh penombak-penombak kepala suku setempat yang sudah dibayar karavan itu untuk perlindungan mereka. Dua pemimpin kami terbunuh, sisanya diangkut ke Damaskus dimana kami ditelanjangi dari pakaian kami dan dijual sebagai budak.”
 
“Aki dibeli seharga dua keping perak oleh kepala suku gurun Syria. Dengan kepala yang sudah digunduli dan dengan hanya mengenakan cawat, aku tidak ada bedanya dengan budak-budak yang lainnya. Sebagai anak muda yang kurang hati-hati, aku kira keadaan ini hanya sebagai salah satu petualangan biasa hingga suatu saat tuan-ku membawaku kepada ke empat istri-istrinya dan mengatakan kepada mereka behwa mereka dapat menjadikan aku sebagai salah seorang kasim mereka.
 
“Baru saat itulah, benar-benar, kusadarai betapa tidak berdayanya situasiku. Penduduk gurun ini begitu keras dan kejam. Saat itu aku harus tunduk pada keinginan mereka tanpa senjata ataupun kesempatan atau cara meloloskan diri.”
 
“Dengan penuh ketakutan, aku terdiri di situ, sementara empat wanita itu memandangiku. Aku sangat berharap aku akan memperoleh belas kasihan dari mereka. Sira, istri yang pertama, lebih tua dari istri-istri yang lain. Wajahnya dingin seolah tanpa perasaan dan dia memandang ke arahku. Aku dilewatinya dengan sedikit harapan. Yang berikutnya merupakan wanita cantik yang sangat sombong yang memandangku tanpa minat sama sekali seolah-olah aku seekor cacing tanah. Dua yang terakhir tersenyum-senyum geli seakan semua kejadian ini hanya lelucon semata.”
 
“Waktu terasa berjalan lama sekali ketika aku beriri disitu menunggu putusan. Setiap wanita terlihat menginginkan yang lainnya yang memutuskan. Akhirnya Sira angkat bicara dengan suara yang dingin.”
 
“’Kasim kita telah cukup banyak, tetapi perawat unta yang hanya beberapa, sementara yang kita miliki semuanya tidak begitu berguna. Bahkan hari ini, ketika aku ingin menjenguk ibuku yang sedang sakit demam tidak ada satu budak pun yang dapat kupercaya untuk menggiring unta bagiku. Tanyakan pada budak ini apakah ia mampu menggiring unta?”
 
“Tuan-ku lantas bertanya padaku, ‘Apa yang kau ketahui tentang unta?’”
 
“Sambil berusaha menutupi keinginanku, aku menjawab, ‘Aku bisa membuat mereka duduk, aku dapat mengatur bebannya, aku mampu menggiring mereka berjalan jauh tanpa lelah. Apabila diperlukan aku dapat memperbaiki hiasan pelananya.’”
 
“’Budak ini telah menyatakan mengenal semuanya,’ simpul tuan-ku. ‘Apabila engkau inginkan, Sira, ambil budak ini jadikan perawat untamu.’”
 
“Kemudian aku diberikan kepada Sira dan hari itu juga aku giring untanya melalui suatu perjalanan yang cukup jauh ke tempat ibunya yang sedang sakit. Aku menggunakan kesempatan itu berterima kasih padanya karena telah begitu baik menjadikanku perawat untanya dan juga menceritakan padanya bahwa aku bukanlah budak karena kelahiran, tetapi anak seorang merdeka, seorang pembuat pelana di Babilonia. Aku juga menceritakan padanya sebagian besar riwayat perjalananku. Ia memberikan pendapat yang mengecewakan aku dan setelah itu aku terus memikirkan apa yang dikatakannya padaku.”
 
“’Bagaimana engkau dapat mengatakan engkau orang merdeka sedangkan kelemahanmu telah menjadikan engkau seperti ini? Apabila seseorang memiliki dalam dirinya jiwa budak apakah ia akhirnya tidak akan menjadi seorang budak, tidak perduli apakah ia dilahirkan sebagai budak atau merdeka, bukankah ia menjadi seperti air yang akan menyesuaikan ketinggiannya pada akhirnya? Apabila seseorang memiliki dalam dirinya jiwa merdeka apakah ia tidak akan menjadi orang terhormat dan dihargai dalam negerinya sendiri meski ia tidak terlalu beruntung?’”
 
“Selama satu tahun aku menjadi budak dan hidup bersama para budak lainnya, tetapi aku  tidak dapat menjadi salah seorang dari mereka. Pada suatu hari Sira bertanya padaku, ‘Pada saat para budak dan bercanda bergurau sesamanya, mengapa engkau duduk sendiri di sini di dalam tenda?’”
 
“Kepada pertanyaan itu kujawab, ‘Aku memikirkan apa yang engkau katakan padaku. Aku bertanya-tanya pada diriku apakah aku memiliki jiwa budak. Aku tidak bisa bersenda gurau bersama mereka, jadi aku harus memisahkan diriku.’”
 
“’Aku, juga, harus memisahkan diri,’ ia menerangkan dirinya. ‘Maharku sangat besar dan tuan ku menikahiku karena mahar. Ia tidak benar-benar menginginkanku. Apa yang diimpikan setiap wanita adalah diinginkan. Tetapi karena adanya mahar, dan karena aku tidak dapat memberikan keturunan baik lelaki maupun wanita, aku harus memisahkan diri. Seandainya aku seorang laki-laki aku lebih suka mati dari pada menjadi budak, tetapi kebudayaan suku kami memperlakukan wanita seolah budak.’”
 
“’Apa pendapatmu tentang diriku saat ini?’ kutanyakan padanya seketika itu juga. ‘Apakah aku memiliki jiwa merdeka atau jiwa budak?’”
 
“’Apakah engkau memiliki keinginan untuk melunasi utang-utangmu di Babilonia?’ ia balik bertanya.”
 
“’Ya, aku memiliki keinginan itu, tetapi tidak menemukan jalannya.’”
 
“’Apabila engkau cukup puas dengan membiarkan tahun-tahun berlalu dengan tenang tanpa melakukan usaha untuk membayar lunas utangmu, maka engkau memang pantas memiliki jiwa rendah seorang budak. Tidak seorangpun orang akan dikatakan terhormat apabila ia tidak menghargai dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang dikatakan menghargai dirinya sendiri apabila ia tidak membayar lunas utang-utangnya.’”
 
“’Tetapi apa yang dapat aku lakukan, aku hanya seorang budak di Syria?’”
 
“’Jadilah budak di Syria, si lembek’”
 
“’Aku bukan si lembek,’ kusangkal keras.
 
“’Coba buktikan.’”
 
“’Bagaimana?’”
 
“’Bukankah Sang Raja yang perkasa memerangi musuh-musuhnya dengan segala cara yang dapat ia lakukan dengan segala daya yang ia miliki? Utangmu adalah musuhmu. Dia membuatmu meninggalkan Babilonia. Engkau meninggalkan mereka tanpa perlawanan dan itu membuat mereka bertambah kuat bagimu. Engkau harus memeranginya sebagai seorang lelaki, engkau dapat mengalahkan mereka dan menjadi warga terhormat dalam masyarakat. Tetapi engkau tidak memiliki jiwa seorang lelaki untuk melawan mereka dan akhirnya harga dirimu sebagai orang merdeka turun hingga  engkau menjadi budak di Syria.’”
 
“’Banyak sekali kegalauan dalam fikiranku yang ditimbulkan oleh tuduhannya yang tidak menyenangkan itu dan banyak kalimat-kalimat bantahan tersusun untuk membuktikan bahwa jiwaku bukanlah jiwa budak, tetapi aku tidak memiliki kesempatan untuk menyuarakannya. Tiga hari kemudian pelayan Sira membawaku menghadap tuannya.
 
“’Ibuku, kembali, sakit keras,’ katanya. ‘Persiapkan dua unta suamiku yang terbaik. Gantungkan kantung-kantung air dan perkakas untuk perjalanan jauh. Pelayan akan memberimu persediaan makanan di tenda dapur.’ Aku persiapkan unta sambil bertanya-tanya kenapa begitu banyak perbekalan yang disediakan sang pelayan, sedangkan kediaman ibunya dapat ditempuh dalam kurang dari satu hari. Sang pelayan menaiki unta kedua di belakang dan aku menggiring unta tuanku di depan. Ketika kami sampai ke kediaman ibunya hari sudah gelap. Sira membebaskan pelayannya pergi dengan urusan sang pelayan itu sendiri dan kemudian berkata kepadaku.”
 
“’Dabasir, apakah engkau mempunyai jiwa seorang merdeka atau jiwa seorang budak?’”
 
“’Jiwa seorang yang merdeka,’ aku bertahan dengan itu.
 
“’Sekarang saatnya kesempatan buat engkau membuktikannya. Saat ini, tuan mu pasti sedang mabuk berat dan anak buahnya lagi teler. Ambil unta ini dan larilah. Dalam kantung ini ada pakaian tuan mu untuk engkau gunakan sebagai samaran. Aku nanti akan mengatakan bahwa engkau mencuri unta ini dan melarikan diri ketika aku sedang mengunjungi ibuku yang sakit.’”
 
“’Engkau memiliki jiwa seorang ratu,’ kukatakan padanya, ‘aku doakan agar engkau dapat memperoleh kebahagiaan.’”
 
“’Kebahagiaan,’ jawabnya, ‘tidak menunggu istri yang melarikan diri yang mencarinya ke negeri yang jauh di antara orang-orang yang asing. Pergilah menuruti jalanmu sendiri, mudah-mudahan para dewa gurun melindungi engkau karena perjalananmu sangat jauh dan engkau akan jarang mendapatkan air dan makanan.’”
 
“Aku tidak memerlukan hal-hal yang lain, hanya beterima kasih padanya dengan sangat dan langsung menembus malam. Aku tidak mengenal wilayah asing ini dan hanya memiliki gambaran samar arah dimana keberadaan letak Babilonia, namun dengan tanpa rasa takut kurambah padang pasir itu mengarah ke perbukitan. Seekor unta kutunggangi sambil menarik unta lainnya. Aku bergerak sepanjang malam dan sepanjang hari berikutnya, dengan rasa takut tertangkap, dikejar bayangan hukuman yang akan dikenakan pada seorang budak yang mencuri unta dan harta tuannya dan mencoba melarikan diri.
 
“Pada petang harinya sampailah aku ke daerah bebatuan yang sama tidak dapat dihuninya dengan sebuah gurun. Bebatuan tajam menyakiti kaki-kaki untaku yang setia selanjutnya mereka melangkah dengan hati-hati, perlahan memilih tempat menelapak dan melaluinya dengan sengsara. Aku tidak menemukan manusia atau binatang buas dan dapat memaklumi mengapa mereka menghindari tempat yang tidak bersahabat ini.”
 
“Melanjutkan perjalanan itu sungguh merupakan pengalaman yang luar biasa yang dapat diceritakan oleh hanya sedikit orang yang dapat hidup-hidup melaluinya. Hari demi hari kami tapaki. Air dan makanan habis sudah. Panasnya matahari memberi siksa tak berampun. Pada akhir hari ke sembilan, aku jatuh menggelosor dari punggung untaku dengan perasaan aku terlalu lemah untuk naik kembali ke atasnya dan aku pasti akan mati, lenyap ditelan negeri tak bertuan ini.”
 
“Tak berdaya, aku terbaring di atas tanah dan tertidur, tidak bangun-bangun hingga muncul matahari pagi.”
 
“Aku duduk dan memandangi keadaan sekitar. Ada sedikit kesejukan di udara pagi itu. Unta-untaku terpuruk nelangsa tidak berapa jauh dariku. Di sekelilingku terhampar daerah gersang luas ranggas tak berguna ditutupi pasir dan bebatuan serta belukar berduri, tidak ada tanda-tanda adanya air, tidak juga makanan buat unta apalagi buat manusia.”
 
“Mungkinkah dalam suasana sepi yang damai ini aku menghadapi hari akhirku? Batinku menjadi lebih jernih dari sebelumnya. Tubuhku sekarang terasa tidak begitu penting lagi. Bibirku yang kering pecah-pecah dan berdarah, lidah yang membengkak kering mengeras, perut kosongku, semua telah kehilangan rasa tersakit, yang menyerang sampai hari sebelumnya.”
 
“Aku melihat jauh sejauh mata memandang ke seberang dan pertanyaan itu muncul lagi, ‘Apakah aku memiliki jiwa seorang budak atau jiwa seorang manusia merdeka?’ Kemudian dengan jernih kusadari bahwa jika jiwaku jiwa seorang budak, aku akan menyerah, menggeletak ditengah gurun dan mati, sebuah akhir yang pantas bagi seorang budak yang melarikan diri.”
 
“Tetapi apabila aku memiliki jiwa seorang manusia merdeka, aku akan bagaimana? Pasti aku akan kerahkan kemampuanku mencari jalan ke Babilonia, melunasi utang pada orang yang telah mempercayaiku, bawa kebahagiaan pada istriku yang benar-benar mencintaiku dan timbulkan ketenangan dan rasa puas pada orang tuaku.”
 
“’Utang-utangmu adalah musuhmu yang membuat engkau lari meninggalkan Babilonia,’ seperti dikatakan Sira. Ya memang begitu. Mengapa aku menghindar untuk tetap berdiri tegak seperti seorang lelaki? Mengapa aku telah membiarkan istriku kembali pada ayahnya?”
 
“Lantas seuatu yang aneh terjadi. Seisi dunia ini seakan menjadi berbeda warnanya seolah-olah selama ini aku telah melihatnya melalui batu berwarna yang seketika di pindahkan dari hadapanku. Akhirnya aku melihat nilai yang sesungguhnya dari kehidupan ini.”
 
“Mati di tengah gurun! Aku tidak! Dengan pandangan yang baru, aku melihat hal-hal yang harus aku lakukan. Pertama aku akan kembali ke Babilonia dan berhadapan dengan setiap orang yang aku berutang padanya dan kubayar kembali, belum sama sekali. Kepada mereka akan kukatakan bahwa setelah tahun-tahun berkelana dengan masa penuh bencana, aku telah kembali untuk membayar kembali utang-utangku secepat yang diizinkan para dewa. Selanjutnya aku akan membangun sebuah rumah untuk istriku dan menjadikan diriku seorang warga yang dapat dibanggakan orang tuaku.”
 
“Utangku adalah musuh-musuhku, tetapi mereka yang memberikanku pinjaman adalah sahabat-sahabatku yang telah menaruh kepercayaan padaku.”
 
“Dengan sisa kekuatan aku berusaha berdiri di atas kakiku yang bergetar lemah. Lapar? Bagaimana haus? Itu semua hanya hal yang harus dilalui pada jalan ke Babilonia. Di dalam diriku mengalir deras jiwa seorang merdeka yang kembali berusaha mengenyahkan musuh-musuhnya dan kembali membuat perhitungan agar impas dengan sahabat-sahabatnya. Aku benar-benar bersemangat dengan bayangan penuntasan itu.”
 
“’Mata unta-untaku yang kuyu menjadi berbinar oleh nada baru suaraku yang parau. Dengan usaha yang keras, setelah beberapa kali percobaan, beranjak, mereka dapat berdiri. Dengan penuh kesengsaraan dan susah payah, mereka terus bergerak ke arah utara ke arah mana seuatu dalam diriku mengatakan aku akan menemukan Babilonia.”
 
“Kami temukan air. Kami melewati daerah yang agak subur yang terdapat rumput dan bauh-buahan segar di situ. Kami temukan jalan ke Babilonia karena jiwa seorang yang merdeka melihat kehidupan sebagai rangkaian masalah yang harus diselesaikan dan menyelesaikannya, sementara jiwa seorang budak hanya akan mengeluh, ‘Apa yang dapat aku lakukan, bukankah aku hanya seorang budak?’”
 
“Bagaimana dengan dirimu, Tarkad? Tidakkah perut laparmu membuat fikiranmu menjadi lebih terang? Apakah engkau siap mengambil jalan yang akan memberimu harga dirimu kembali? Tidak dapatkah engkau memandang dunia ini dengan warnanya yang sesungguhnya? Tidakkah engkau mempunyai keinginan untuk melunasi utang-utangmu, seberapa banyak pun mereka, dan sekali lagi kembali menjadi orang yang terhormat di Babilonia?”
 
“Air mata menumpuk di bola mata anak muda itu. Dari duduk ia berlutut. ‘Engkau telah menunjukkan padaku sebuah pandangan baru; aku bahkan sudah dapat merasakan jiwa seorang yang merdeka mengalir dalam diriku.’”
 
“Tapi apa yang terjadi sepulangnya engkau ke Babilonia?” tanya pendengar yang sangat tertarik dengan cerita Dabasir.
 
Dimana kemauan berada, disitu jalan di dapat,” jawab Dabasir. “Aku sekarang memiliki kemauan jadi kucari jalan keluarnya. Pertama kudatangi setiap orang yang aku berutang kepadanya dan meminta kemudahan sampai aku dapat bermatapencaharian dan membayar utang-utang padanya. Sebagian besar dari mereka senang dapat melihatku kembali. Beberapa orang masih marah dan memaki-makiku tapi ada juga yang menawarkan bantuan kepadaku; salah seorang bahkan benar-benar memberikan aku bantuan yang sangat aku butuhkan. Dia Mathon, pemberi pinjaman emas. Mengetahui bahwa aku pernah menjadi perawat unta di Syria, ia mengirim aku ke si tua Nebatur, pedagang unta, yang baru saja dititahkan Sang Raja kita yang baik untuk membeli unta-unta unggul yang baik yang akan digunkan dalam ekspedisi Sang Raja berikutnya. Dengan Nebatur, aku dapat menerapkan pengetahuanku tentang unta dengan baik. Secara bertahap aku mampu membayar kembali setiap perunggu dan setiap keping perak. Dan akhirnya aku dapat dengan berani mengangkat wajahku dan merasakan bahwa aku seorang yang terhormat di mata masyarakat.”
 
Sekali lagi Dabasir kembali ke makanannya. “Kauskor, lambatnya engkau, bagai keong,” teriaknya keras hingga terdengar sampai ke dapur, ”makanan ini sudah dingin. Bawakan lagi aku daging yang baru dipanggang. Bawakan juga seporsi besar untuk Tarkad, anak sahabat lamaku, yang lapar dan harus makan bersamaku.”
 
Begitulah akhir cerita Dabasir pedagang unta di Babilonia kuno. Ia menemukan jiwanya sendiri ketika ia menyadari kebenaran yang agung, kebenaran yang sudah dikenal dan dipergunakan oleh orang-orang yang bijaksana pada masa-masa jauh sebelumnya.
 
Ajaran kebijaksanaan itu telah membimbing orang-orang di berbagai zaman keluar dari kesulitan menuju keberhasilan dan akan terus melakukan hal yang sama pada siapa saja yang memiliki kearifan untuk mengenal kekuatan ajaib. Ajaran yang dapat digunakan setiap orang yang membaca kalimat ini :
 
 
 
 
DIMANA KEMAUAN BERADA
DI SITU JALAN DIDAPAT
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar