PEDAGANG UNTA DI BABILONIA
Semakin lapar seseorang, semakin terang batinnya bekerja –
juga semakin tajam penciumannya pada aroma makanan.
Tarkad, anak laki-laki Azure, setidaknya berfikir begitu.
Selama dua hari penuh dia tidak mencicipi makanan kecuali dua buah kesemek
kecil yang dicurinya di atas pagar sebuah kebun. Dia tidak dapat memetik yang
lainnya karena tiba-tiba datang seorang wanita yang dengan marahnya mengejar
Tarkad sepanjang jalan. Suara teriakannya yang tajam masih terngiang-ngiang di
telinganya ketika ia berjalan menyusuri keramaian pasar. Lengkingan itu
membuatnya menahan diri dari mencuri buah-buahan yang menggoda, yang begitu
banyak dijual di pasar itu.
Belum pernah disadarinya betapa luar biasa banyaknya bahan
makanan di bawa ke pasar Babilonia dan betapa enaknya aroma bebauan yang
menyertai sayur dan buah itu. Meninggalkan pasar, ia berjalan ke sebuah
penginapan dan mondar-mandir di depan sebuah rumah makan. Mungkin di sini dia
dapat bertemu dengan seseorang yang dikenalnya, seseorang yang dapat ia minta
diberi pinjaman sekeping perunggu yang akan dapat membuat penjaga penginapan yang
tidak ramah itu tersenyum, dan dengan itu juga, rela memberikan bantuan. Tanpa
keping perak itu dia sangat tahu bagaimana perilaku sangat tidak senangnya
penjaga penginapan itu ketika berhadapan dengannya.
Ketika ia sedang asik memikirkan hal itu, secara tak terduga
ia terserempak muka dengan muka dengan seseorang yang paling dihindarinya,
seorang yang berperawakan tinggi dan bertulang besar Dabasir, pedagang unta. Di
antara semua sahabat dan siapapun yang pernah ia pinjam sedikit, paling-paling
beberapa keping perunggu, Dabasir yang paling tidak membuatnya nyaman karena
kegagalannya untuk memenuhi janji untuk mengembalikannya tepat waktu.
Wajah Dabasir sedikit lega mendapatkannya. “Ha! Ini dia
Tarkad, orang yang kucari-cari mungkin dia akan mengembalikan dua keping
perunggu yang kupinjamkan kepadanya satu bulan yang lalu; juga satu keping
perak yang kupinjamkan padanya sebelum itu. Akhirnya kita bersua. Aku sangat
memerlukan keping-keping itu hari ini. Apa katamu, Nak? Bagaimana?”
Tarkad tergagap dan wajahnya semu memucat. Dengan perut yang
kosong dia tidak lagi memiliki nyali untuk bertengkar dengan Dabasir yang gemar
berbicara itu. “Maafkan aku, maaf sekali,” ia bergumam pelahan, ”tetapi hari
ini aku tidak memiliki keping perunggu ataupun keping perak untuk membayarmu.”
“Maka carilah,” deask Dabasir. “Tidak dapatkah engkau
memperoleh beberapa keping perunggu dan sekeping perak untuk membayar kembali
kemurahan hati seorang sahabat lama ayahmu yang menolongmu ketika engkau dalam
kesempitan?”
“Aku sedang dirundung malang, bagaimana mungkin aku akan
dapat membayarmu kembali.”
“Kemalangan! Engkau menyalahkan para dewa karena kelemahanmu
sendiri. Kemalangan merundung orang yang hanya memikirkan meminjam uang dari
pada membayar utang-utangnya. Mari ikut besamaku, nak, aku mau makan. Aku lapar,
sambil makan akan kuceritakan kepadamu sebuah cerita.”
Tarkad kecut hatinya mendengar keterusterangan Dabasir, tapi
paling tidak ada ajakan masuk ke rumah makan yang memang selalu diidamkannya.
Dabasir mendorongnya ke sudut ruangan yang agak jauh dimana
mereka duduk diatas sebuah permadani kecil.
Ketika Kauskor, pemilik rumah makan, muncul sambil
tersenyum, Dabasair menyapanya dengan bahasanya yang agak kasar tetapi sangat
terbuka, “Kadal gurun gendut, hidangkan aku sepotong kaki kambing, agak
berlemak setengah matang, dan roti dan semua sayur-sayuran, aku lapar dan mau
makan agak banyak.Jangan lupakan sahabatku ini. Bawakan dia seteko air. Air
yang dingin, bukankah hari ini panas.”
Hati Tarkad tersumbat. Haruskah ia duduk disini dan hanya
minum air sementara melihat orang ini melahap kaki kambing segar itu? Ia tidak
mengatakan apa-apa. Ia tidak dapat menemukan kata-kata untuk diucapkan.
Dabasir, sebaliknya, tidak pernah mengenal kata diam.
Tersenyum dan melambaikan lengannya dengan halus kepada pelanggan lainnya, yang
semuanya dikenalnya dengan baik, melanjutkan pembicaraannya.
“Aku mendengar dari seorang yang baru datang dari Urfa cerita
tentang seorang yang kaya yang memiliki sepotong batu yang di belah tipis
sekali sehingga sehingga seseorang dapat melihat menembus batu itu. Ia menaruh
batu itu di jendela rumahnya agar tidak dimasuki air hujan. Warnanya kuning,
begitu kata orang yang baru datang itu, dan dia diberikan kesempatan untuk
melihat menembusnya dan semua dunia di luar sana terlihat aneh dan tidak sama
dengan keadaan yang sebenarnya. Apa pendapatmu tentang hal itu, Tarkad? Apakah
engkau fikir dunia akan dapat terlihat dengan warna yang berbeda bagi
seseorang?”
“Aku tidak berani mengatakannya,” jawab anak muda itu, ia
lebih tertarik pada kaki kambing yang terhidang di depan Dabasir.
“Baiklah. Aku tahu itu benar karena aku sendiri telah
melihat dunia dengan warna yang berbeda dengan warna yang seharusnya, dan kisah
yang akan kuceritakan ini berhubungan dengan bagaimana aku dapat kembali
melihat dunia dengan warna yang sesungguhnya.”
“Dabasir mau bercerita,” bisik orang yang sedang makan di
sebelah Dabasir kepada tetangga duduknya sambil menarik permadani tempat dia
duduk lebih mendekat ke Dabasir. Orang yang sedang makan lainnya yang tertarik
membawa makanannya duduk di sekeliling Dabasir membentuk setengah lingkaran.
Mereka mengunyah makanannya dengan lahap berkecap-kecap di telinga Tarkad dan
seolah melambai-lambaikan daging-daging empuk itu di depan matanya, sedangkan
dia sendiri duduk tanpa makanan suatu apa. Dabasir tidak menawarkann makan
bersamanya, bahkan perduli pun tidak menyuruhnya menjumput bagian roti yang
agak keras yang terpotong dan jatuh di lantai.
“Kisah yang akan kuceritakan ini,” mulai Dabasir, berhenti
sejenak menggigit bagian gemuk enak kaki kambing, “mengenai masa mudaku dan
bagaimana aku kemudian menjadi pedagang unta. Tidakkah ada di antara engkau
yang mengetahui bahwa aku dulu pernah menjadi budak di Syria?”
Bisik-bisik terkejut terdengar di antara pendengar, hal itu
membuat senang hati Dabasir.
“Ketika aku masih muda,” lanjut Dabasir setelah satu lagi
gigitan tertancap lahap pada kaki kambing, “aku belajar berpencaharian pada
ayahku, sebagai pembuat pelana. Aku bekerja padanya di toko dan kemudian
mendapat seorang istri. Sebagai orang muda mentah tidak terlalu ahli, aku hanya
berpenghasilan sedikit saja, tidak banyak, hanya dapat memenuhi keerluan istriku
yang cantik secara sederhana. Aku menginginkan barang-barang bagus yang tidak
dapat kupenuhi. Kemudian kudapatkan pemilik toko mempercayaiku untuk membayar
kemudian meski aku tidak mampu membelinya saat itu.”
“Sebagai orang muda mentah tidak berpengalaman aku tidak
tahu bahwa siapa saja yang membelanjakan lebih dari pada yang dapat ia hasilkan
ia telah menaburkan angin pemenuhan keinginan yang tidak perlu dan dari situ ia
pasti akan menuai badai kemalangan dan akan mempermalukannya. Jadi aku
bersenang-senang sesuai keinginan hatiku, berpakaian bagus, membeli perhiasan
dan perabotan mewah untuk istri dan rumahku, semua diluar batas kemampuanku.”
“Aku membayar utangku semampuku, untuk sementara semua
berjalan lancar. Tetapi, pada saat kusadari aku tidak dapat lagi menggunakan
penghasilanku untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan membayar utang-utangku.
Para pemberi pinjaman mulai mencari-cariku meminta melunasi pembelanjaan
mewahku dan kehidupanku mulai menjadi menyedihkan. Aku meminjam lagi pada
sahabatku, tetapi tidak mampu melunasinya juga. Keadaan berubah dari buruk ke
lebih buruk lagi. Naas. Istriku kembali ke orang tuanya dan untuk diriku
sendiri aku putuskan meninggalkan Babilonia menuju ke kota lain di mana anak
muda diharapkan akan mendapat kesempatan yang lebih baik.”
“Selama dua tahun aku mengembara tanpa hasil bekerja pada
sebuah karavan pedagang. Dari situ, kemudian aku berhubungan dengan sekelompok
penyamun yang menyusuri gurun mencari karavan tanpa pengawalan. Pekerjaan itu sangat
tidak pantas, apalagi sebagai anak dari seorang yang terhormat seperti ayahku,
tetapi aku sedang melihat dunia dari belakang batu yang warnanya berbeda dan
tidak menyadari lembah kemunduran apa yang aku sedang jatuh kedalamnya.”
“Kami mendapatkan hasil yang bagus pada perampokan yang
pertama, menjarah harta benda berharga berupa emas dan sutera dan barang
dagangan bernilai lainnya. Jarahan ini kami bawa ke Ginir dan berfoya-foya di
sana.”
“Kali kedua kami tidak terlalu beruntung. Bagitu selesai
kami garap sebuah karavan, kami diserang oleh penombak-penombak kepala suku
setempat yang sudah dibayar karavan itu untuk perlindungan mereka. Dua pemimpin
kami terbunuh, sisanya diangkut ke Damaskus dimana kami ditelanjangi dari
pakaian kami dan dijual sebagai budak.”
“Aki dibeli seharga dua keping perak oleh kepala suku gurun
Syria. Dengan kepala yang sudah digunduli dan dengan hanya mengenakan cawat,
aku tidak ada bedanya dengan budak-budak yang lainnya. Sebagai anak muda yang
kurang hati-hati, aku kira keadaan ini hanya sebagai salah satu petualangan
biasa hingga suatu saat tuan-ku membawaku kepada ke empat istri-istrinya dan
mengatakan kepada mereka behwa mereka dapat menjadikan aku sebagai salah
seorang kasim mereka.
“Baru saat itulah, benar-benar, kusadarai betapa tidak berdayanya
situasiku. Penduduk gurun ini begitu keras dan kejam. Saat itu aku harus tunduk
pada keinginan mereka tanpa senjata ataupun kesempatan atau cara meloloskan
diri.”
“Dengan penuh ketakutan, aku terdiri di situ, sementara
empat wanita itu memandangiku. Aku sangat berharap aku akan memperoleh belas
kasihan dari mereka. Sira, istri yang pertama, lebih tua dari istri-istri yang
lain. Wajahnya dingin seolah tanpa perasaan dan dia memandang ke arahku. Aku
dilewatinya dengan sedikit harapan. Yang berikutnya merupakan wanita cantik
yang sangat sombong yang memandangku tanpa minat sama sekali seolah-olah aku
seekor cacing tanah. Dua yang terakhir tersenyum-senyum geli seakan semua
kejadian ini hanya lelucon semata.”
“Waktu terasa berjalan lama sekali ketika aku beriri disitu
menunggu putusan. Setiap wanita terlihat menginginkan yang lainnya yang
memutuskan. Akhirnya Sira angkat bicara dengan suara yang dingin.”
“’Kasim kita telah cukup banyak, tetapi perawat unta yang hanya
beberapa, sementara yang kita miliki semuanya tidak begitu berguna. Bahkan hari
ini, ketika aku ingin menjenguk ibuku yang sedang sakit demam tidak ada satu
budak pun yang dapat kupercaya untuk menggiring unta bagiku. Tanyakan pada
budak ini apakah ia mampu menggiring unta?”
“Tuan-ku lantas bertanya padaku, ‘Apa yang kau ketahui
tentang unta?’”
“Sambil berusaha menutupi keinginanku, aku menjawab, ‘Aku
bisa membuat mereka duduk, aku dapat mengatur bebannya, aku mampu menggiring
mereka berjalan jauh tanpa lelah. Apabila diperlukan aku dapat memperbaiki
hiasan pelananya.’”
“’Budak ini telah menyatakan mengenal semuanya,’ simpul
tuan-ku. ‘Apabila engkau inginkan, Sira, ambil budak ini jadikan perawat
untamu.’”
“Kemudian aku diberikan kepada Sira dan hari itu juga aku
giring untanya melalui suatu perjalanan yang cukup jauh ke tempat ibunya yang
sedang sakit. Aku menggunakan kesempatan itu berterima kasih padanya karena
telah begitu baik menjadikanku perawat untanya dan juga menceritakan padanya
bahwa aku bukanlah budak karena kelahiran, tetapi anak seorang merdeka, seorang
pembuat pelana di Babilonia. Aku juga menceritakan padanya sebagian besar
riwayat perjalananku. Ia memberikan pendapat yang mengecewakan aku dan setelah
itu aku terus memikirkan apa yang dikatakannya padaku.”
“’Bagaimana engkau dapat mengatakan engkau orang merdeka
sedangkan kelemahanmu telah menjadikan engkau seperti ini? Apabila seseorang
memiliki dalam dirinya jiwa budak apakah ia akhirnya tidak akan menjadi seorang
budak, tidak perduli apakah ia dilahirkan sebagai budak atau merdeka, bukankah
ia menjadi seperti air yang akan menyesuaikan ketinggiannya pada akhirnya?
Apabila seseorang memiliki dalam dirinya jiwa merdeka apakah ia tidak akan
menjadi orang terhormat dan dihargai dalam negerinya sendiri meski ia tidak
terlalu beruntung?’”
“Selama satu tahun aku menjadi budak dan hidup bersama para
budak lainnya, tetapi aku tidak dapat
menjadi salah seorang dari mereka. Pada suatu hari Sira bertanya padaku, ‘Pada
saat para budak dan bercanda bergurau sesamanya, mengapa engkau duduk sendiri
di sini di dalam tenda?’”
“Kepada pertanyaan itu kujawab, ‘Aku memikirkan apa yang
engkau katakan padaku. Aku bertanya-tanya pada diriku apakah aku memiliki jiwa
budak. Aku tidak bisa bersenda gurau bersama mereka, jadi aku harus memisahkan
diriku.’”
“’Aku, juga, harus memisahkan diri,’ ia menerangkan dirinya.
‘Maharku sangat besar dan tuan ku menikahiku karena mahar. Ia tidak benar-benar
menginginkanku. Apa yang diimpikan setiap wanita adalah diinginkan. Tetapi
karena adanya mahar, dan karena aku tidak dapat memberikan keturunan baik lelaki
maupun wanita, aku harus memisahkan diri. Seandainya aku seorang laki-laki aku
lebih suka mati dari pada menjadi budak, tetapi kebudayaan suku kami
memperlakukan wanita seolah budak.’”
“’Apa pendapatmu tentang diriku saat ini?’ kutanyakan
padanya seketika itu juga. ‘Apakah aku memiliki jiwa merdeka atau jiwa budak?’”
“’Apakah engkau memiliki keinginan untuk melunasi
utang-utangmu di Babilonia?’ ia balik bertanya.”
“’Ya, aku memiliki keinginan itu, tetapi tidak menemukan
jalannya.’”
“’Apabila engkau cukup puas dengan membiarkan tahun-tahun
berlalu dengan tenang tanpa melakukan usaha untuk membayar lunas utangmu, maka
engkau memang pantas memiliki jiwa rendah seorang budak. Tidak seorangpun orang
akan dikatakan terhormat apabila ia tidak menghargai dirinya sendiri, dan tidak
ada seorangpun yang dikatakan menghargai dirinya sendiri apabila ia tidak
membayar lunas utang-utangnya.’”
“’Tetapi apa yang dapat aku lakukan, aku hanya seorang budak
di Syria?’”
“’Jadilah budak di Syria, si lembek’”
“’Aku bukan si lembek,’ kusangkal keras.
“’Coba buktikan.’”
“’Bagaimana?’”
“’Bukankah Sang Raja yang perkasa memerangi musuh-musuhnya
dengan segala cara yang dapat ia lakukan dengan segala daya yang ia miliki?
Utangmu adalah musuhmu. Dia membuatmu meninggalkan Babilonia. Engkau
meninggalkan mereka tanpa perlawanan dan itu membuat mereka bertambah kuat
bagimu. Engkau harus memeranginya sebagai seorang lelaki, engkau dapat
mengalahkan mereka dan menjadi warga terhormat dalam masyarakat. Tetapi engkau tidak
memiliki jiwa seorang lelaki untuk melawan mereka dan akhirnya harga dirimu
sebagai orang merdeka turun hingga
engkau menjadi budak di Syria.’”
“’Banyak sekali kegalauan dalam fikiranku yang ditimbulkan
oleh tuduhannya yang tidak menyenangkan itu dan banyak kalimat-kalimat bantahan
tersusun untuk membuktikan bahwa jiwaku bukanlah jiwa budak, tetapi aku tidak
memiliki kesempatan untuk menyuarakannya. Tiga hari kemudian pelayan Sira
membawaku menghadap tuannya.
“’Ibuku, kembali, sakit keras,’ katanya. ‘Persiapkan dua unta
suamiku yang terbaik. Gantungkan kantung-kantung air dan perkakas untuk
perjalanan jauh. Pelayan akan memberimu persediaan makanan di tenda dapur.’ Aku
persiapkan unta sambil bertanya-tanya kenapa begitu banyak perbekalan yang
disediakan sang pelayan, sedangkan kediaman ibunya dapat ditempuh dalam kurang
dari satu hari. Sang pelayan menaiki unta kedua di belakang dan aku menggiring
unta tuanku di depan. Ketika kami sampai ke kediaman ibunya hari sudah gelap.
Sira membebaskan pelayannya pergi dengan urusan sang pelayan itu sendiri dan
kemudian berkata kepadaku.”
“’Dabasir, apakah engkau mempunyai jiwa seorang merdeka atau
jiwa seorang budak?’”
“’Jiwa seorang yang merdeka,’ aku bertahan dengan itu.
“’Sekarang saatnya kesempatan buat engkau membuktikannya.
Saat ini, tuan mu pasti sedang mabuk berat dan anak buahnya lagi teler. Ambil
unta ini dan larilah. Dalam kantung ini ada pakaian tuan mu untuk engkau
gunakan sebagai samaran. Aku nanti akan mengatakan bahwa engkau mencuri unta
ini dan melarikan diri ketika aku sedang mengunjungi ibuku yang sakit.’”
“’Engkau memiliki jiwa seorang ratu,’ kukatakan padanya,
‘aku doakan agar engkau dapat memperoleh kebahagiaan.’”
“’Kebahagiaan,’ jawabnya, ‘tidak menunggu istri yang
melarikan diri yang mencarinya ke negeri yang jauh di antara orang-orang yang
asing. Pergilah menuruti jalanmu sendiri, mudah-mudahan para dewa gurun
melindungi engkau karena perjalananmu sangat jauh dan engkau akan jarang
mendapatkan air dan makanan.’”
“Aku tidak memerlukan hal-hal yang lain, hanya beterima
kasih padanya dengan sangat dan langsung menembus malam. Aku tidak mengenal
wilayah asing ini dan hanya memiliki gambaran samar arah dimana keberadaan
letak Babilonia, namun dengan tanpa rasa takut kurambah padang pasir itu
mengarah ke perbukitan. Seekor unta kutunggangi sambil menarik unta lainnya.
Aku bergerak sepanjang malam dan sepanjang hari berikutnya, dengan rasa takut
tertangkap, dikejar bayangan hukuman yang akan dikenakan pada seorang budak
yang mencuri unta dan harta tuannya dan mencoba melarikan diri.
“Pada petang harinya sampailah aku ke daerah bebatuan yang
sama tidak dapat dihuninya dengan sebuah gurun. Bebatuan tajam menyakiti
kaki-kaki untaku yang setia selanjutnya mereka melangkah dengan hati-hati,
perlahan memilih tempat menelapak dan melaluinya dengan sengsara. Aku tidak
menemukan manusia atau binatang buas dan dapat memaklumi mengapa mereka
menghindari tempat yang tidak bersahabat ini.”
“Melanjutkan perjalanan itu sungguh merupakan pengalaman
yang luar biasa yang dapat diceritakan oleh hanya sedikit orang yang dapat
hidup-hidup melaluinya. Hari demi hari kami tapaki. Air dan makanan habis
sudah. Panasnya matahari memberi siksa tak berampun. Pada akhir hari ke
sembilan, aku jatuh menggelosor dari punggung untaku dengan perasaan aku
terlalu lemah untuk naik kembali ke atasnya dan aku pasti akan mati, lenyap
ditelan negeri tak bertuan ini.”
“Tak berdaya, aku terbaring di atas tanah dan tertidur,
tidak bangun-bangun hingga muncul matahari pagi.”
“Aku duduk dan memandangi keadaan sekitar. Ada sedikit
kesejukan di udara pagi itu. Unta-untaku terpuruk nelangsa tidak berapa jauh
dariku. Di sekelilingku terhampar daerah gersang luas ranggas tak berguna
ditutupi pasir dan bebatuan serta belukar berduri, tidak ada tanda-tanda adanya
air, tidak juga makanan buat unta apalagi buat manusia.”
“Mungkinkah dalam suasana sepi yang damai ini aku menghadapi
hari akhirku? Batinku menjadi lebih jernih dari sebelumnya. Tubuhku sekarang
terasa tidak begitu penting lagi. Bibirku yang kering pecah-pecah dan berdarah,
lidah yang membengkak kering mengeras, perut kosongku, semua telah kehilangan
rasa tersakit, yang menyerang sampai hari sebelumnya.”
“Aku melihat jauh sejauh mata memandang ke seberang dan
pertanyaan itu muncul lagi, ‘Apakah aku memiliki jiwa seorang budak atau jiwa
seorang manusia merdeka?’ Kemudian dengan jernih kusadari bahwa jika jiwaku
jiwa seorang budak, aku akan menyerah, menggeletak ditengah gurun dan mati,
sebuah akhir yang pantas bagi seorang budak yang melarikan diri.”
“Tetapi apabila aku memiliki jiwa seorang manusia merdeka,
aku akan bagaimana? Pasti aku akan kerahkan kemampuanku mencari jalan ke
Babilonia, melunasi utang pada orang yang telah mempercayaiku, bawa kebahagiaan
pada istriku yang benar-benar mencintaiku dan timbulkan ketenangan dan rasa
puas pada orang tuaku.”
“’Utang-utangmu adalah musuhmu yang membuat engkau lari
meninggalkan Babilonia,’ seperti dikatakan Sira. Ya memang begitu. Mengapa aku
menghindar untuk tetap berdiri tegak seperti seorang lelaki? Mengapa aku telah
membiarkan istriku kembali pada ayahnya?”
“Lantas seuatu yang aneh terjadi. Seisi dunia ini seakan
menjadi berbeda warnanya seolah-olah selama ini aku telah melihatnya melalui
batu berwarna yang seketika di pindahkan dari hadapanku. Akhirnya aku melihat nilai
yang sesungguhnya dari kehidupan ini.”
“Mati di tengah gurun! Aku tidak! Dengan pandangan yang
baru, aku melihat hal-hal yang harus aku lakukan. Pertama aku akan kembali ke
Babilonia dan berhadapan dengan setiap orang yang aku berutang padanya dan kubayar
kembali, belum sama sekali. Kepada mereka akan kukatakan bahwa setelah
tahun-tahun berkelana dengan masa penuh bencana, aku telah kembali untuk membayar
kembali utang-utangku secepat yang diizinkan para dewa. Selanjutnya aku akan
membangun sebuah rumah untuk istriku dan menjadikan diriku seorang warga yang
dapat dibanggakan orang tuaku.”
“Utangku adalah musuh-musuhku, tetapi mereka yang
memberikanku pinjaman adalah sahabat-sahabatku yang telah menaruh kepercayaan
padaku.”
“Dengan sisa kekuatan aku berusaha berdiri di atas kakiku
yang bergetar lemah. Lapar? Bagaimana haus? Itu semua hanya hal yang harus
dilalui pada jalan ke Babilonia. Di dalam diriku mengalir deras jiwa seorang
merdeka yang kembali berusaha mengenyahkan musuh-musuhnya dan kembali membuat
perhitungan agar impas dengan sahabat-sahabatnya. Aku benar-benar bersemangat
dengan bayangan penuntasan itu.”
“’Mata unta-untaku yang kuyu menjadi berbinar oleh nada baru
suaraku yang parau. Dengan usaha yang keras, setelah beberapa kali percobaan, beranjak,
mereka dapat berdiri. Dengan penuh kesengsaraan dan susah payah, mereka terus
bergerak ke arah utara ke arah mana seuatu dalam diriku mengatakan aku akan
menemukan Babilonia.”
“Kami temukan air. Kami melewati daerah yang agak subur yang
terdapat rumput dan bauh-buahan segar di situ. Kami temukan jalan ke Babilonia
karena jiwa seorang yang merdeka melihat kehidupan sebagai rangkaian masalah
yang harus diselesaikan dan menyelesaikannya, sementara jiwa seorang budak
hanya akan mengeluh, ‘Apa yang dapat aku lakukan, bukankah aku hanya seorang
budak?’”
“Bagaimana dengan dirimu, Tarkad? Tidakkah perut laparmu
membuat fikiranmu menjadi lebih terang? Apakah engkau siap mengambil jalan yang
akan memberimu harga dirimu kembali? Tidak dapatkah engkau memandang dunia ini
dengan warnanya yang sesungguhnya? Tidakkah engkau mempunyai keinginan untuk
melunasi utang-utangmu, seberapa banyak pun mereka, dan sekali lagi kembali
menjadi orang yang terhormat di Babilonia?”
“Air mata menumpuk di bola mata anak muda itu. Dari duduk ia
berlutut. ‘Engkau telah menunjukkan padaku sebuah pandangan baru; aku bahkan
sudah dapat merasakan jiwa seorang yang merdeka mengalir dalam diriku.’”
“Tapi apa yang terjadi sepulangnya engkau ke Babilonia?”
tanya pendengar yang sangat tertarik dengan cerita Dabasir.
“Dimana kemauan
berada, disitu jalan di dapat,” jawab Dabasir. “Aku sekarang memiliki
kemauan jadi kucari jalan keluarnya. Pertama kudatangi setiap orang yang aku
berutang kepadanya dan meminta kemudahan sampai aku dapat bermatapencaharian dan
membayar utang-utang padanya. Sebagian besar dari mereka senang dapat melihatku
kembali. Beberapa orang masih marah dan memaki-makiku tapi ada juga yang
menawarkan bantuan kepadaku; salah seorang bahkan benar-benar memberikan aku
bantuan yang sangat aku butuhkan. Dia Mathon, pemberi pinjaman emas. Mengetahui
bahwa aku pernah menjadi perawat unta di Syria, ia mengirim aku ke si tua
Nebatur, pedagang unta, yang baru saja dititahkan Sang Raja kita yang baik
untuk membeli unta-unta unggul yang baik yang akan digunkan dalam ekspedisi
Sang Raja berikutnya. Dengan Nebatur, aku dapat menerapkan pengetahuanku
tentang unta dengan baik. Secara bertahap aku mampu membayar kembali setiap
perunggu dan setiap keping perak. Dan akhirnya aku dapat dengan berani mengangkat
wajahku dan merasakan bahwa aku seorang yang terhormat di mata masyarakat.”
Sekali lagi Dabasir kembali ke makanannya. “Kauskor,
lambatnya engkau, bagai keong,” teriaknya keras hingga terdengar sampai ke
dapur, ”makanan ini sudah dingin. Bawakan lagi aku daging yang baru dipanggang.
Bawakan juga seporsi besar untuk Tarkad, anak sahabat lamaku, yang lapar dan
harus makan bersamaku.”
Begitulah akhir cerita Dabasir pedagang unta di Babilonia
kuno. Ia menemukan jiwanya sendiri ketika ia menyadari kebenaran yang agung,
kebenaran yang sudah dikenal dan dipergunakan oleh orang-orang yang bijaksana
pada masa-masa jauh sebelumnya.
Ajaran kebijaksanaan itu telah membimbing orang-orang di
berbagai zaman keluar dari kesulitan menuju keberhasilan dan akan terus
melakukan hal yang sama pada siapa saja yang memiliki kearifan untuk mengenal
kekuatan ajaib. Ajaran yang dapat digunakan setiap orang yang membaca kalimat
ini :
|
DIMANA KEMAUAN BERADA
DI SITU JALAN DIDAPAT
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar