Sabtu, 13 September 2014

X : ORANG PALING BERUNTUNG DI BABILONIA


 

 

ORANG PALING BERUNTUNG DI BABILONIA

 

 

 

Di depan karavannya, di atas kuda, duduk dengan gagahnya Sharru Nada, pangeran saudagar Babilonia. Dia menyukai kain sutera halus dan mengenakan pakaian mewah, dengan itulah ia berjubah. Dia menyukai hewan unggul dan duduk dengan nyamannya di atas kuda Arab yang kekar. Melihatnya, seseorang akan sukar menduga masa depannya. Dan, pasti juga orang tidak akan menyangka bahwa di dalam hatinya ia sedang bergulat dan masalah sedang meliputi hatinya.

 

Perjalanan dari Damaskus sangat jauh dan banyak melalui gurun-gurun yang menyulitkan. Tetapi hal itu bukan apa-apa bagi Sharru Nada. Suku bangsa Arab sangat garang dan senang sekali menyamun karavan yang kaya. Itu juga tidak menakutkannya karena dalam armadanya ada pasukan penjaga yang mengamankannya.

 

Tentang anak muda di sebelahnya, yang ia bawa dari Damaskus, inilah yang menyusahkan hatinya. Dia Hadan Gula, cucu dari rekan usahanya dulu, Arad Gula, yang kepadanya dia banyak berutang budi yang tidak akan pernah terbayarkan. Ia ingin melakukan sesuatu bagi cucunya, tetapi semakin dia ingin melakukannya, semakin sulit hal itu terlihat akan terlaksana dikarenakan ulah anak muda itu sendiri.

 

Melirik ke cincin dan anting anak muda itu, ia mereka-reka pada dirinya sendiri, “Dia fikir perhiasan itu untuk lelaki, padahal ia masih memiliki wajah keras kakeknya. Tetapi kakeknya tidak mengenakan jubah berkilau seperti ini. Sedangkan, aku mengajaknya, dan berharap aku dapat membantunya memulai sesuatu yang baru bagi dirinya sendiri, dan segera melupakan kebangkrutan yang  telah dilakukan ayahnya terhadap warisan sang kakek.”

 

Hadan Gula memecah lamunannya, “Mengapa engkau bekerja terlalu keras, selalu mengikuti perjalanan karavanmu menempuh jalan yang jauh? Tidak pernahkah engkau beristirahat sejenak untuk menikmati kehidupanmu?”

 

Sharru Nada tersenyum. “Menimati hidup?” ulangnya. “Apa yang akan engkau buat untuk menikmati hidupmu kalau engkau Sharru Nada?”

 

“Kalau aku memiliki kekayaan sebanyak kekayaanmu, aku akan hidup bagai seorang pangeran. Aku tidak akan pernah menyeberangi gurun. Aku akan gunakan keping uang itu secepat ia terkumpul di kantung uangku. Akan kukenakan pakaian termahal dan memakai perhiasan terlangka. Itulah kehidupan yang kusukai, hidup yang pantas dijalani.” Mereka berdua tertawa-tawa.

 

“Kakekmu tidak mengenakan perhiasan sama sekali,” Sharru Nada menukas tanpa berfikir, dan melanjutkannya dengan canda, “Engkau tiak menyediakan waktu untuk bekerja?”

 

“Kerja disediakan bagi para budak,” jawab Hadan Gula.

 

Sharru Nada menggigit bibirnya tetapi tidak memberikan tanggapan, berjalan dalam diam hingga jalan yang mereka lalui agak menurun. Di situ ia hentikan kudanya dan menunjuk ke lembah hijau di kejauhan, “Lihat, itu lembahnya. Lihat lebih jauh, di bawah samar-samar terlihat tembok kota Babilonia. Menara itu Kuil Genta, Apabila matamu cukup tajam engkau akan dapat melihat asap api abadi di ujung menaranya.”

 

“Jadi, itu Babilonia? Aku selalu mengimpikan melihat kota terkaya di seluruh dunia,” ujar Hadan Gula. “Babilonia, tempat kakekku memulai kejayaannya. Seandainya dia masih hidup. Kita tidak akan terlalu tertekan.”

 

“Mengapa mengharapkan jiwanya terus hidup melebihi jatah waktu hidup di dunia? Engkau dan ayahmu dapat terus melanjutkan hasil kerjanya.”

 

“Sayang, di antara kami, tidak ada yang memiliki bakat seperti dia. Ayahku dan aku tidak mengetahui rahasia yang dimilikinya, bagaimana mendatangkan keping-keping emas.”

 

Sharru Nada tidak memberikan tanggapan tetapi terus mengendalikan kudanya dan berjalan berhati-hati menuruni tebing itu menuju lembah di bawahnya. Di belakang mereka berarakan anggota karavan dalam kepulan debu kemerahan. Beberapa waktu kemudian mereka sampai di Jalan Raya Sang Raja dan berbelok ke arah selatan melalui hamparan tanah pertanian yang teririgasi dengan baik.

 

Tiga lelaki tua yang sedang membajak menarik perhatian Sharru Nada. Mereka terlihat agak tidak asing baginya. Luar biasa! Seseorang tidak melalui pertanian ini selama empat puluh tahun dan kemudian menemukan orang yang sama masih membajak tanah itu. Dan, sesuatu dalam dirinya mengatakan mereka masih tetap sama. Satu, dengan genggaman longgar, memegang bajak. Yang lainnya berjalan disisi sapi dengan giatnya, dengan tanpa hasil memukuli dengan tongkat agar sang sapi terus menarik bajak.

 

Empat puluh tahun yang lalu ia memandang dengan iri pada para petani itu! Ia rela bertukar tempat dengan sang petani! Tetapi lihatlah bedanya sekarang. Dengan bangga ia memandang ke rombongan karavan di belakangnya, unta-unta dan keledai terpilih, penuh dengan muatan barang tak ternilai harganya dari Damaskus. Semua itu miliknya sendiri.

 

Ia menunjuk kepada sang pembajak, sambil berkata, “Masih membajak ladang yang sama yang mereka bajak empat puluh tahun yang lalu.”

 

“Itu mereka, mengapa engkau fikir mereka masih orang yang sama?”

 

“Aku melihat mereka di situ,” jawab Sharru Nada.

 

Kenangan berlalu dengan cepat menelusuri benaknya. Mengapa ia tidak menguburkan saja masa lalunya dan hidup pada masa kini? Kemudian ia melihat, bagai sebuah lukisan, wajah Arad Gula yang tersenyum. Dinding pembatas antara dirinya dan anak muda yang sinis di sebelahnya segara lenyap.

 

Tetapi, bagaimana ia dapat membantu anak muda yang angkuh, pemboros dan tangan penuh perhiasan ini? Banyak pekerjaan yang dapat ia tawarkan kepada siapa saja yang mau bekerja, tetapi tidak pada orang yang merasa dirinya terlalu hebat untuk bekerja. Tetapi ia berutang pada Arad Gula untuk melakukan sesuatu, tidak dengan setengah hati. Dia dan Arad Gula tidak pernah melakukan hal seperti itu. Mereka tidak seperti anak muda ini.

 

Sebuah rencana seketika datang melintas. Ada beberapa masalah. Ia harus mempertimbangkan keluarganya sendiri dan kedudukannya. Rencana ini agak kejam, bisa melukai bahkan. Sebagai orang yang cepat mengambil keputusan, ia kesampingkan masalah yang mungkin timbul dan memutuskan untuk malaksanakannya.

 

“Tidakkah engkau ingin mendengar bagaimana kakekmu yang terhormat itu  dan aku bekerjasama dalam kongsi yang sangat menguntungkan?” ia bertanya.

 

“Mengapa tidak langsung ceritakan padaku bagaimana engkau berdua membuat keping emas,” jawab sang anak muda balas bertanya.

 

Sharru Nada mengabaikan jawaban itu dan melanjutkan, “Kami mulai dengan orang-orang yang sedang membajak itu. Aku tidak lebih tua dari dirimu sekarang. Ketika barisan serombongan orang yang aku ikut di dalamnya, sampai ke tempat itu, Megiddo tua yang baik, sang petani, mengeluhkan bagai mana buruknya kerja para pembajak itu. Megiddo di rantai di sebelahku. “Lihat pada orang-orang malas itu,’ kesahnya, ‘pemegang bajak tidak berusaha menekan bajaknya dalam-dalam, penerik kerbau juga tidak mempertahankan lembunya pada jalurnya dengan baik. Bagaimana mungkin mereka mengharapkan panen yag bagus kalau tanahnya tidak dibajak dengan baik.’”

 

“Engkau katakan Megiddo dirantai bersamamu?” Hadan Gula bertanya agak terkejut.

 

“Ya, dengan gelang perunggu di leher kami dan rangkaian rantai menghubungkan kami. Di sebelahnya lagi Zabado, pencuri kambing. Aku telah mengenalnya di Harroun. Di ujung sekali seorang yang kami panggil Lanun karena ia tidak mau mengenalkan namanya. Kami duga ia seorang pelaut karena ada gambar dua ekor ular saling melilit tertatto di dadanya sebagaimana umumnya para pelaut kala itu. Barisan rombongan kami dibuat berbanjar empat orang sebarisnya terus memanjang ke belakang.”

 

“Engkau dibelenggu sebagai budak?” Hadan Gula bertanya setengah tidak percaya.

 

“Tidakkah kakekmu menceritakan padamu bahwa aku dulu pernah menjadi seorang budak?”

 

“Dia sering membicarakan tentang engkau tetapi tidak pernah menyebutkan hal ini.”

 

“Dia memang seorang yang dapat engkau percayai, dapat memegang rahasia terdalammu. Engkau, juga, orang yang dapat aku percaya, bukankah benar begitu?” Sharru Nada berkata begitu sambil menatapnya langsung.

 

“Engkau dapat mempercayaiku, tapi aku agak terkejut. Katakan padaku bagaimana sampai engkau dapat menjadi seorang budak?”

 

Sharru Nada mengangkat bahunya, “Setiap orang merdeka dapat saja menjadi seorang budak. Rumah judi dan bir barley lah yang telah menjerumuskanku. Aku menjadi korban kecerobohan saudaraku. Dalam sebuah perkelahian ia membunuh seorang sahabatnya. Aku dijaminkan pada janda, istri korban, agar saudaraku tidak dituntut secara hukum. Ketika ayahku tidak dapat mengumpulkan perak untuk membebaskanku, sang janda naik darah dan menjualku pada pedagang budak.”

 

“Memalukan dan sangat tidak adil.” Kata Hadan gula menunjukkan ketidaksetujuannya. “Tetapi, katakan padaku, bagaimana engkau dapat memperoleh kemerdekaanmu kembali?”

 

“Kita akan sampai ke situ nanti, sekarang belum. Biar kulanjutkan dulu ceritaku. Ketika kita melewati para pembajak ladang itu, mereka menertawai kami. Seorang di antaranya mengangkat topi usangnya dan membungkuk rendah, sambil berteriak, ’Selamat datang di Babilonia, para tamu sang raja. Dia menunggumu di atas tembok kota dan telah siap menjamu, lumpur bata dan sup bawang.’ Setelah itu mereka semua tertawa terbahak-bahak.”

 

“Lanun menjadi marah dan memaki mereka dengan sama kerasnya. ‘Apa maksud mereka dengan raja menuunggu di atas tembok kota?’ aku bertanya padanya.”

 

”’Ke tembok kota engkau berbaris sambil memanggul bata sampai patah pinggangmu. Mungkin mereka akan memukulmu hingga mati sebelum tulang punggumngu patah. Mereka tidak akan memukulku. Aku yang akan membunuh mereka.’”

 

“Kemudian Megiddo berkata, ‘Tak masuk akal bagiku mendapatkan tuan hamba memukul mati budak yang patuh, dan mau bekerja keras. Tuan hamba suka dengan budak yang baik dan akan memperlakukan mereka dengan baik.’”

 

“’Siapa yang mau bekerja keras?’ komentar Zabado. ‘Para pembajak itu benar-benar orang yang bijaksana. Mereka tidak bekerja keras hingga patah tulang punggungnya. Bekerja seadanya asal dapat diselesaikan.’”

 

“’Engkau tidak akan maju jika mencuri-curi kerja seperti itu,’ bantah Megiddo, ‘Apabila engkau membajak satu hektar dalam sehari, itu baru kerja yang baik, semua tuan juga mengetahuinya. Tetapi apabila engkau hanya menyelesaikan setengah hektar, itu mencuri kerja namanya. Aku bukan pencuri kerja. Aku suka bekerja dan aku suka bekerja dengan baik, karena kudapatkan kerja sebagai sahabatku yang terbaik yang pernah kukenal. Kerja telah memberikanku hal-hal yang baik yang pernah kuperoleh, kebunku, sapi-sapiku, panen raya, semuanya.’”

 

“’Ya, mana barang-barang itu semua, sekarang?’ ejek Zabado. ‘Aku membayangkan lebih baik jika dapat dengan cerdik melalui semuanya tanpa bekerja. Lihat Zabado, apabila kita dijual ke tembok kota, dia akan memanggul kantung air atau pekerjaan mudah lainnya ketika engkau, yang senang bekerja, akan mematahkan tulang punggungmu memikul bata.” Dia tertawa dengan gelinya.

 

“Malam itu aku dilanda ketakutan. Aku tidak dapat tidur. Aku merapat dekat ke batas penjagaan, dan ketika semua sedang tertidur, aku tarik perhatian Godoso yang mendapat giliran penjagaan pertama malam itu. Dia salah satu dari prajurit Arab, yang sangat bengis, yang apabila ia merampok kantung-kantung uangmu, pasti dia akan sekaligus menyembelihmu.

 

“’Katakan padaku Godoso,’ bisikku, ‘apabila kami sampai di Babilonia akankah kami dijual ke tembok kota?’”

 

“’Mengapa engkau ingin tahu?’ ia bertanya penuh kecurigaan.”

 

“’Tidakkah engkau mngerti?’ aku memohon, ‘aku masih muda. Aku masih ingin hidup. Aku tidak ingin bekerja atau dipukuli hingga mati di tembok kota. Apakah ada kesempatan bagiku mendapatkan tuan yang baik?’”

 

“Ia membalas dengan bisikan, ‘kuberitahukan engkau sesuatu. Engkau anak yang baik, tidak merepotkan Godoso. Biasanya pertama kali kita akan pergi ke pasar budak. Dengar. Apabila ada calon pembeli, katakan pada mereka engkau pekerja yang baik, ingin bekerja bagi tuan yang baik. Buat mereka ingin membelimu. Apabila tidak ada yang membelimu, hari berikutnya engkau pasti akan menjadi penganggkut bata. Kerja yang kerasnya membunuh.’”

 

“Setelah dia pergi, aku berbaring di hangatnya pasir, menatap bintang-bintang dan memikirkan masalah kerja. Apa yang dikatakan Megiddo bahwa kerja adalah sahabat terbaiknya menyebabkanku berfikir mungkin kerja juga merupakan sahabat terbaikku juga. Pasti ia jadi sahabatku seandainya aku dapat keluar dari permasalahan ini.”

 

“Ketika Megiddo sudah bangun, kubisikkan padanya berita baik yang kudengar. Ada secarik sinar harapan muncul ketika kami mulai bergerak memasuki Babilonia. Senja hari kami mendekati tembok kota dan dapat melihat barisan manusia, seperti jajaran semut hitam, berjalan naik turun di tangga diagonal yang curam. Ketika semakin dekat, kami dibuat takjub oleh ribuan orang yang bekerja; sebagian menggali di bantaran sungai kecil, yang lainnya mencampur lumpur itu hingga menjadi bata lumpur. Jumlah terbanyak adalah yang memanggul bata lumpur itu dalam keranjang-keranjang besar ke atas tangga yang curam itu ke tempat pembuat tembok di bagian atas.”*

 

 

* Bangunan-bangunan terkenal di Babilonia kuno, tembok-tembok kotanya, kuil-kuil, taman gantung dan aluran-saluran air, semua dibangun dengan menggunakan tenaga budak, terutama para tawanan perang, sehingga hal itu cukup menjelaskan perlakuan tidak manusiawi yang dialaminya. Dalam kelompok para pekerja ini juga termasuk beberapa warga Babilonia dan daerah kekuasaan sekitarnya yang telah dijual sebagai budak karena tindakan kejahatan yang dilakukannya atau karena kesulitan keuangan yang dialaminya. Sudah menjadi kebiasaan di sana bag seseorang untuk menempatkan dirinya, istrinya atau anak-anaknya sebagai jaminan untuk pembayaran utang, keputusan hakim atau kewajiban lainnya. Jika kewajiban itu tidak dipenuhi, orang yang dijaminan dijual sebagai budak.

 

“Para pengawal memaki pekerja yang malas dan menyambuki dengan cambuk sapi ke punggung siapa saja yang tidak berjalan sesuai dengan baris jalan yang lainnya. Menyedihkan sekali, pekerja yang sudah keletihan, dengan kaki yang bergetar tumbang kebelakang terbawa keranjang berat yang dipanggulnya, tidak mampu berdiri lagi. Apabla sabetan cambuk tidak dapat lagi membuat mereka berdiri, mereka akan didorong ke samping jalan yang dilalui para penganggkut bata itu dan ditinggalkan meregang nyawa dalam kepedihan. Tidak lama mereka akan diseret ke bawah dikumpulkan bersama tubuh tak berdaya lainnya di tepi jalan menunggu penguburan seperti menguburkan hewan. Sementara itu aku merasa miris melihat keadaan itu, pemandangan yang membuat aku gemetar. Jadi inikah yang menunggu  anak ayahku ini apabila dia tidak laku dijual di pasar budak.”

 

“Godoso benar sekali. Kami dibawa melalui gerbang kota ke penjara budak dan keesokan harinya langsung ke pelataran lelang di pasar. Di situ kami, semua budak berbondong rapat dalam ketakutan dan hanya cambuk pengawal kami yang dapat membuat kami berjalan sehingga para pembeli dapat melihat-lihat keadaan budak yang akan dibelinya. Megiddo dan diriku sendiri dengan bersemangat berbicara dengan pembeli yang mengizinkan kami mengemukakannya.”

 

“Penjual budak membawa prajurit dari pengawal raja yang kemudian memborgol Lanun dan dengan kasar memukulnya ketika ia menentang. Ketika mereka berhasil membawanya pergi, aku agak merasa kasihan juga pada Lanun.”

 

“Megiddo berfikir kami akan segera berpisah. Katika tidak ada pembali di sekitar kami, ia berbicara padaku dengan penuh kesungguhan untuk agar aku benar-benar perhatikan bagaimana pentingnya kerja bagiku di masa yang akan datang : ‘Sebagian orang membencinya. Mereka membuat kerja sebagai musuhnya. Labih baik memperlakukannya sebagai sahabat, buat dirimu menyukainya. Jangan perdulikan apabila kerja itu terasa berat. Apabila engkau fikirkan betapa indahnya rumah yang akan engkau bangun, engkau tidak akan perduli betapa beratnya gelagar atau betapa jauhnya air harus diambil untuk membuat plester tembok. Berjanjilah padaku, nak, apabila engkau mendapat tuan yang baru, bekerjalah untuknya sekuat yang dapat engkau lakukan. Apabila ia tidak memperdulikan hasil kerjamu, biarkan saja. Ingat, kerja, hasil yang baik, akan memberi kebaikan pada yang melakukannya. Ia membuatnya menjadi manusia yang lebih baik.’ Ia berhenti berbicara sesaat seorang petani yang gempal datang ke kurungan kami dan memperhatikan kami dengan teliti.”

 

“Megiddo bertanya tentang kebunnya dan panenan, dan meyakinkan petani bahwa ia akan menjadi sangat berguna baginya. Setelah tawar menawar yang alot, sang petani akhirnya mengambil kantung uang dari balik jubahnya, dan segera Megiddo mengikuti tuan barunya menghilang dari pandangan.”

 

“Beberapa orang lainnya terjual pada pagi itu. Pada siang hari Godoso menyampaikan sesutau yang sangat penting bagiku bahwa pedagang budak sudah habis kesabarannya dan tidak mau menunggu satu malam lagi dan akan membawa semua budak yang belum laku ke pembeli wakil sang raja sore ini. Aku menjadi sangat terdesak dan ketika seorang yang gemuk, berperilaku santun mendatangi kami dan menanyakan adakah seorang pembuat roti di antara kami.”

 

“Aku mendekat kepadanya sambil mengatakan, ‘Mengapa seorang pembuat roti handal seperti engkau mencari seorang pembakar roti yang belum jelas kemampuannya? Bukankah akan lebih mudah untuk mengajarkan kepada seseorang yang begitu rajin bekerja seperti aku cara engkau membuat roti? Lihat diriku, aku muda, kuat dan gemar bekerja.Beri aku kesempatan dan aku akan berbuat semampuku untuk menghasilkan emas dan perak ke dalam kantung uangmu.’”

 

“Dia cukup terkesan dengan kesediaanku dan mulai melakukan penawaran pada pedagang budak yang tidak pernah memperhatikan aku sejak dia membeliku tetapi sekarang membual dengan fasihnya tentang kemampuanku, kesehatanku yang bagus dan betapa berharganya diriku. Aku merasa sepeti seekor lembu gemuk yang sedang ditawarkan kepada tukang jagal. Akhirnya, sangat menggembirakan hatiku, mereka mendapatkan kata sepakat. Aku mengikuti tuan baruku, sambil berandai-andai dan berfikir bahwa aku orang paling beruntung di Babilonia.”

 

“Rumah baruku, sangat sesuai dengan seleraku. Nana-naid, tuanku, mengajariku bagaimana caranya menggiling barley dengan gilingan batu yang terletak di tengah halaman, bagaimana menghidupkan api di dalam ruang pembakaran dan kemudian bagaimana caranya menggiling halus tepung bijian untuk membuat kue madu. Aku diberi ranjang di dalam gudang tempat ia menyimpan biji-bijian. Budak tua yang megurus rumah tangga, Swasti, menyediakan makanan bagiku dan terlihat cukup puas dengan kesediaanku selalu membantu dia dalam tugas-tugasnya yang berat-berat.”

 

“Inilah kesempatan yang sudah kutunggu-tunggu untuk membuat diriku semakin berharga bagi tuanku dan, aku berharap, mendapatkan jalan memperoleh kemerdekaanku.”

 

“Aku minta Nana-naid menunjukkan padaku cara menguli  roti dan membakarnya. Dia mengajarkanku, dan dia terlihat puas dengan keinginanku. Kemudian, ketika aku sudah dapat bekerja dengan bagus, aku minta padanya menunjukkan cara membuat kue madu, dan akhirnya aku mengerjakan semua pekerjaan pembuatan roti. Tuanku senang hatinya dapat berleha-leha, tetapi Swasti menggeleng-gelengkan kepalanya menunjukkan ketidaksenangannya. ‘Tidak ada pekerjaan itu hal yang buruk bagi seseorang,’ tegasnya.”

 

“Aku fikir inilah saatnya aku dapat mulai befikir bagaimana caranya aku mulai mengumpulkan keping-keping untuk pembeli kemerdekaanku. Saat pembuatan roti selesai di tengah hari, aku perkirakan Nana-naid akan menyetujui apabila aku dapat melakukan pekerjaan lain yang memberikan penghasilan di sore hari dan dia akan berbagi hasil pencaharian itu dengan diriku. Kemudian terlintas dalam pikiranku, mengapa tidak membuat kue madu lebih banyak dan  menjajakannya kepada orang-orang yang mau membelinya di jalan-jalan di dalam kota?

 

“Aku jelaskan rencanaku pada Nana-naid seperti ini : ‘Apabila aku dapat gunakan waktu sore hariku setelah selesai pembuatan roti untuk menghasilkan tiga keping, bukankah cukup adil apabila tuan membagi hasil kerjaku itu dengan diriku sehingga aku dapat memiliki keping milikku sendiri yang dapat kugunakan untuk keperluan sehari-hariku?’”

 

“’Cukup adil, cuku adil,’ dia menerimanya. Kemudian ketika kukatakan padanya rencanaku untuk menjajakan kue madu keliling kota, dia semakin senang. “Inilah yang akan kita lakukan,’ dia menyarankan. ‘Engkau jual kue-kue itu dua sekelip, dan separuh kelip menjadi milikku sebagai pembayar tepung dan madu dan kayu pembakar. Sisanya, aku akan ambil separuh dan engkau bisa menyimpan separuhnya lagi.’”

 

“Aku sangat bergembira dengan penawarannya yang dermawan bahwa aku dapat menyimpan untuk diriku sendiri, seperempat dari hasil penjualanku. Malam itu aku bekerja hingga larut membuat nampan pembawa roti. Nana-naid memberikan padaku jubah usangnya agar aku terlihat lebih sebagai penjual roti yang baik, dan Swasti membantuku mengepaskannya dengan diriku, dan mencucinya bersih-bersih.”

 

“Keesokan harinya aku membakar lebih banyak kue madu. Di atas nampan mereka terlihat coklat dan sangat menggoda selagi aku menjalani jalan-jalan di kota, sambil berteriak cukup keras menjajakan daganganku. Awalnya tidak ada orang yang terlihat tertarik, aku menjadi agak sedikit kecewa dan ragu. Tetapi tetap kuteruskan dan kemudian, ketika menjelang senja ketika orang-orang mulai merasakan lapar, kue-kue itu terjual dan nampanku segera kosong.”

 

“Nana-naid puas dengan keberhasilanku dan dengan senang hati membayar bagianku. Aku sangat terhibur dengan memiliki uangku sendiri. Megiddo sungguh benar ketika ia mengatakan bahwa seorang tuan akan menghargai kerja keras budak-budaknya. Malam itu aku begitu bersemangat menikmati keberhasilanku sampai-sampai aku susah tertidur dan terus mengira-ngira berapa jumlah yang dapat kuhasilkan dalam setahun dan berapa tahun yang kubutuhkan untuk dapat membeli kemerdekaanku.”

 

“Saat-saat aku menjajakan kue daganganku di kota setiap hari. Aku mendapatkan beberapa pelanggan tetap. Salah satunya tidak lain adalah kakekmu, Arad Gula. Dia saudagar permadani yang menjual permadaninya pada ibu-ibu rumah tangga, beredar dari satu ujung kota ke ujung lainnya, ditemani seekor keledai yang dibebani penuh dengan permadani dan sorang budak hitam menjaganya. Dia biasanya akan membeli dua potong kue untuk dirinya dan dua potong untuk budaknya, ia selalu sangat senang berbicara denganku sambil memakan kue yang dibelinya.”

 

“Kakekmu mengatakan sesuatu padaku suatu hari, hal yang selalu kuingat. ‘Aku menyukai kue-kuemu, nak, tetapi aku lebih suka jiwa wirausahamu dan caramu menawarkannya. Jiwa itu akan membawamu jauh ke jalan keberhasilan.’”

 

“Tetapi bagaimana engkau bisa mengerti, Hadan Gula, bahwa kalimat dukungan seperti itu sangat berarti bagi seorang budak muda, sebatang kara di tengah kota besar, berjuang dengan semua kemampuannya untuk mencari cara keluar dari kehinaan seorang budak?”

 

“Beberapa bulan berlalu, aku terus menerus menambah keping-keping ke dalam kantung uangku. Mulai terasa berat yang menyenangkan kala terikat di pinggangku. Kerja telah terbukti menjadi sahabat terbaikku seperti yang pernah diucapkan Megiddo. Aku bergembira, tetapi Swasti tidak.”

 

“’Tuanmu, aku khawatir dia telah menggunakan banyak waktu luangnya di rumah perjudian,’ begitu khawatirnya dia.

 

“Aku sangat gembira suatu hari bertemu dengan sahabatku Megiddo di jalan. Dia menggiring tiga ekor keledai penuh dibebani sayur-sayuran ke pasar. ‘Aku cukup berhasil,’ katanya. ‘Tuanku telah menghargai kerja kerasku sehingga saat ini aku dijadikannya sebagai mandor. Lihat, dia mempercayakan pemasaran hasil kebunnya padaku, dan juga mengirimkan sebagian pada keluargaku. Kerja telah membantuku keluar dari masalah yang lebih besar. Suatu hari nanti, ia akan menolongku membeli kemerdekaanku dan kemabli memiliki kebun milkku sendiri.’”

 

“Waktu berlalu dan Nana-naid betambah gelisah menungguku pulang dari berjualan setiap sore. Ia akan menunggu bila saja aku kembali dan akan dengan penuh semangat menghitung dan membagi-bagi uang kami. Dia juga menganjurkan aku agar mencari pasar yang lebih luas dan meningkatkan penjualan kami.”

 

“Kadang-kadang, aku berjualan sampai ke luar gerbang kota untuk mengunjungi pengawal budak yang sedang membangun tembok kota. Sebenarnya aku tidak begitu suka kembali melihat pemandangan yang tidak menyenangkan di situ tetapi para pengawal itu merupakan pelanggan yang sangat royal. Suatu hari aku agak terkejut melihat Zabado sedang berdiri di barisan yang akan mengisi keranjang dengan bata. Dia terlihat kurus kering dan agak sedikit bungkuk, dan punggungnya dipenuhi kapalan dan luka bekas cambukan para pengawal. Aku sedih melihatnya dan memberikannya sepotong kue yang langsung dilahapnya bagai binatang lapar. Melihat begitu inginnya ia mendapatkan makanan, yang terlihat diwajahnya, langsung saja aku segera  melarikan diri sebelum sempat ia mengambil nampanku.”

 

“’Mengapa engkau bekerja begitu keras?’ Arad Gula mengatakan padaku suatu hari. Sama seperti pertanyaan yang engkau ajukan padaku hari ini, masih ingat engkau? Aku katakan padanya apa yang dikatakan Megiddo padaku tentang kerja dan bagaimana telah terbukti menjadi sahabat terbaikku. Kutunjukkan padanya dengan bangga kantung uangku yang penuh keping dan menjelaskan padanya bagaimana aku telah mengumpulkannya untuk membeli kemerdekaanku.”

 

“’Apabila kamu merdeka, apa yang akan engkau lakukan?’ tanyanya ingin tahu.”

 

“’Nanti,’ jawabku, ‘aku ingin menjadi seorang saudagar.’”

 

“Ketika mendengar itu, ia menceritakan padaku sebuah rahasia. Sesuatu yang tidak pernah kuduga sebelumnya. ‘Engkau tahu tidak bahwa aku, juga, seorang budak. Aku berusaha dengan bekerjasama bersama tuanku.’”

 

“Hentikan,” pinta Hadan Gula, ”Aku tidak akan mendengar kebohongan yang mempermalukan kakekku. Dia bukan budak.” Matanya menyala penuh kemarahan.

 

Sharru Nada tetap tenang. “Aku menghormati kakekmu yang telah berhasil keluar dari keterpurukannya dan menjelma menjadi orang terkemuka di Damaskus. Bukankah engkau, cucunya memiliki trah yang sama? Apakah engkau cukup jantan untuk menghadapi kenyataan ini, atau engkau lebih memilih hidup dalam ilusi yang tidak benar?

 

Hadan Gula menegakkan duduknya di atas pelana. Dengan suara dalam penuh emosi dia menjawab, “Kakekku disayangi oleh siapapun. Tidak terbilang perbuatan baiknya. Apabila ada bencana kelaparan apakah tidak dengan keping emasnya ia membeli biji-bijian dari dari Mesir dan apakah tidak juga dengan karavannya membawa kembali ke Damaskus dan membagi-bagikannya kepada masyarakat yang memerlukan sehingga tidak ada yang mati kelaparan? Sekarang engkau mengatakan dia hanyalah budak yang dianggap tidak berguna di Babilonia.”

 

“Apabila dia tetap sebagai seorang budak di Babilonia, pastilah dia akan dianggap tidak berguna, disia-siakan, tetapi ketika, dengan usahanya sendiri, ia menjadi orang terhormat di Damaskus, para dewa telah mencabut kemalangannya dan menganugerahkannya dengan kehormatan,” jawab Sharru Nada.

 

“Setelah mengatakan kepadaku bahwa dia seorang budak,” Sharru Nada melanjutkan, ‘dia menjelaskan betapa bersemangatnya dia untuk memperoleh kemerdekaannya. Dan sekarang, ketika dia memiliki uang yang cukup untuk membeli kemerdekaan ia mulai terganggu dengan fikiran apa yang akan dilakukannya setelah itu. Begitu mengganggunya sehingga penjualannya merosot dan khawatrir kehilangan dukungan tuannya.”

 

“Aku tentang keraguannya : ‘Jangan lagi tergantung pada tuanmu. Kembali rasakan memiliki perasaan orang merdeka. Bertindaklah sebagai seorang merdeka dan berhasillah seperti seorang merdeka! Tentukan apa yang engkau inginkan untuk dicapai dan kemudian kerja akan membantu engkau mencapainya!’ Dia melanjutkan perjalanannya dengan mengatakan bahwa dia sangat senang ia telah mempermalukannya atas kepengecutannya tadi.”*

 

* Ketentuan perbudakan di Babilonia kumo, meski terlihat tidak konsisten bagi kita, sebenarnya diatur ketat dengan peraturan sang raja. Sebagai contoh, seorang budak dapat memiliki harta jenis apapun, bahkan memiliki seorang budak yang tuannya tidak dapat memilikinya. Budak dapat berkeluarga dengan bebas dengan bukan budak. Anak yang diperoleh dari seorang ibu yang merdeka merupakan anak merdeka. Sebagian besar saudagar di kota itu adalah budak. Sebagian budak-budak itu bekerjasama dengan tuannya dan memiliki kekayaan milik sendiri.

 

“Suatu hari aku berjualan ke luar gerbang kota, dan terkejut menemukan ada kerumunan orang berkumpul disana. Ketika kutanyakan pada seseorang apa yang terjadi dia menjawab : ‘Apakah engkau belum mendengar? Seorang budak yang melarikan diri, yang telah membunih salah satu pengawal raja telah diadili dan hari ini akan dicambuk hingga mati atas kejahatan yang dilakukannya. Bahkan sang raja sendiri akan menyaksikannya.”

 

“Begitu ramainya kerumunan itu yang mengelilingi tiang pencambukan itu, aku tidak berani mendekat karena takut nampan rotiku pasti akan terbalik-balik oleh padatnya orang disitu. Oleh karena itu aku pergi menaiki bagian tembok yang belum selesai dibangun untuk melihat melalui atas kepala orang-orang itu. Aku sangat beruntung dapat melihat langsung Nebukadnezar saat dia datang dengan mengendarai kereta kudanya yang keeamasan. Belum pernah aku menyaksikan kemewahan seperti itu, jubah-jubahnya yang dihiasi kain emas dan beludru.”

 

“Aku tidak dapat melihat pencambukan itu tetapi akau dapat mendengar terikan budak yang malang itu. Aku bayangkan betapa seseorang begitu terhormat dan tampan seperti sang raja dapat dengan tenang menyaksikan kejadian yang menyengsarakan itu, namun ketika aku melihat ia tertawa-tawa dan bersenda gurau sesama para orang terhormat lainnya, aku pastikan dia orang yang kejam dan memahami mengapa pekerjaan biadab diperlukan bagi budak-budak yang membangun tembok kota itu.”

 

“Setelah budak itu mati, tubuhnya digantung di sebuah tiang dengan tali yang diikatkan ke pergelangan kakinya agar setiap orang dapat melihatnya. Ketika kerumunan itu sudah jauh berkurang, aku mendekat, Pada dadanya yang berbulu, aku melihat tatto, dua ekor ular yang saling melilit. Dia Lanun.”

 

“Kala berikutnya akau bertemu dengan Arad Gula dia telah terlihat berbeda. Dengan penuh semangat dia menyapaku : ‘Ketahuilah, budak yang paling engkau kenal itu sekarang seorang yang merdeka. Ada kejaiaban dalam kata-katamu. Penjualan dan keuntungan ku meningkat lagi. Istriku berbahagia. Dia orang merdeka, keponakan tuanku. Dia begitu menginginkan kami pindah ke negeri asing dimana tidak seorangpun pernah mengenalku sebagai mantan seorang budak. Agar anak-anak kami tidak dapat dijangkau kemalangan yang pernah menimpa orang tuanya. Kerja sudah menjadi pembantu terbaikku. Kerja telah membuatku mampu memperoleh kembali kepercayaan diriku dan keahlian menjualku.’”

 

“Aku sangat berbahagia bahwa aku sudah dapat, meski dengan upaya yang sangat sedikit dan kecil, membalas dukungan dan dorongan yang pernah diberikannya padaku.”

 

“Suatu senja Swasti datang kepadaku terlihat penuh kekhawatiran : ‘Tuanmu dalam kesulitan. Aku mengkhawatirkan keadaannya. Beberapa bulan yang lalu ia menderita kekalahan yang besar di meja judi. Kemudian ia tidak membayar utang-utangnya pada petani atas pembelian biji-bijian tidak juga untuk pembelian madu. Dia tidak juga membayar utangnya pada pemberi pinjaman emas. Mereka semua sudah mulai kehilangan kesabaran, marah, dan mengancam tuanmu.’”

 

“’Mengapa kita harus khawatir atas kebodohannya itu. Kita bukan orang yang memeliharanya,” jawabku sekedarnya.

 

“’Bodoh benar engkau budak hijau, engkau tidak mengerti. Kepada pemberi pinjaman emas itu engkau telah dijaminkan tuanmu bagi pinjamannya. Dibawah hukum pemberi pinjaman dapat mengambil alih hak atasmu dan menjual engkau sebagai budak kepada siapa saja. Aku tidak tahu akan berbuat apa. Dia tuan yang baik. Mengapa? Oh mengapa, kesulitan sebesar itu datang kepadanya?”

 

“Ketakutan Swasti bukannya tidak berdasar. Ketika aku sedang membakar roti keesokan harinya, pemberi pinjaman emas datang dengan seorang lelaki yang dipanggilnya dengan nama Sasi. Orang ini mengamatiku dan mengatakan boleh juga.”

 

“Pemberi pinjaman emas tidak menunggu tuanku datang bahkan mengatakan pada Swasti untuk mengatakan pada tuanku bahwa dia telah mengambil aku. Dengan hanya mengenakan jubah yang kukenakan saat itu dan dengan kantung uangku yang tergantung aman di pinggangku, aku digiring meninggalkan roti yang belum selesai kubakar.”

 

“Aku digulung pergi dari harapan terbaikku bagaikan puting beliung mencabut pepohonan dari hutan dan melemparkannya ke laut yang sedang membadai bergelora. Lagi, rumah judi dan bir barley telah menyengsarakanku.”

 

“Sasi seorang yang kasar, tidak memiliki sopan santun dan bersuara kasar. Ketika ia menggiringku membelah kota, kuceritakan padanya kerja yang baik yang sudah kulakukan bagi Nana-naid dan mengharapkan akan mengerjakan hal yang bagus juga bagi dirinya. Jawabannya tidak menggembirakan :”

 

“’Aku tidak suka pekerjaan ini. Tuanku juga tidak. Sang Raja telah memerintahkan tuanku untuk mengirimkan aku dan memintaku menyelesaikan pekerjaan pada sebagian seksi dari  Saluran Besar. Tuannya telah memerintahkan Sasi untuk membeli budak lebih banyak, kerja keras dan selesaikan segera. Bah, bagaimana mungkin ada orang-orang yang akan dapat menyelesaikan pekerjaan besar dengan cepat?’”

 

“Bayangkan sebuah gurun pasir tanpa satu batang pohon pun, hanya belukar berduri dan matahari membakar dengan gilanya sehingga air di gentong menajdi  begitu panas sampai kita tidak sanggup meneguknya. Kemudian bayangkan barisan orang, berjalan menuruni galian yang dalam dan kemudian menyeret keranjang berat ke atas melalui jalan lunak berdebu dari pagi hingga gelap hari. Bayangkan juga makanan yang diberikan dengan meletakkannya ke dalam sebuah palungan terbuka dan kami memakannya bagai babi mendapatkan ransum. Kami tidak memiliki tempat berteduh, tanpa jerami tempat berbaring. Itulah kondisi yang aku alami. Aku menanamkan kantung uangku dalam tanah di tempat yang kutandai, sambil meragukan apakah aku dapat menemukan dan menggalinya kembali.”

 

“Pada mulanya aku bekerja dengan keinginan yang baik, tetapi setelah beberapa bulan beringsut, kurasakan semangatku mulai patah. Lalu serangan demam panas merajam tubuhku yang sudah kelelahan. Aku kehilangan selera makan dan tidak dapat sama sekali menugunyah daging atau pun sayuran. Pada malam hari aku selalu terjaga oleh rasa sakit dan gerun yang tidak menenangkan.”

 

“Dalam kesengsaraanku, aku membayangkan apakah tidak Zabado memiliki rencana yang baik, untuk mencuri pekerjaan dan menjaga punggungnya agar tidak patah oleh pekerjaan, Tetapi ketika aku mengenang pertemuan terakhirku dengannya dan kusadari bahwa rencananya pasti tidak bagus.”

 

“Aku mengenang Lanun dengan kegetirannya dan membayangkan mungkin akan lebih baik melawan dan terbunuh. Membayangkan tubuhnya yang bersimbah darah mengingatkanku bahwa rencananya sepeti ini juga tidak berguna sama sekali.”

 

“Kemudian aku teringat pertemuan terkahirku dengan Megiddo. Tangannya penuh dengan kapalan akibat bekerja keras tetapi jiwanya ringan dan ada kebahagiaan terpancar diwajahnya. Dia memiliki rencana yang terbaik.”

 

“Tetapi, akau sama inginnya bekerja keras seperti Megiddo; dia pasti tidak bisa bekerja lebih keras dari pada aku. Mengapa hasil kerjaku tidak membawaku kepada kebahagiaan dan keberhasilan? Apakah kerja yang membawa Megiddo ke kebahagiaan, ataukah kebahagiaan  dan keberhasilan semata anugerah dari pangkuan para dewa? Haruskah aku bekerja sepanjang umurku tanpa mendapatkan keinginanku, tanpa kebahagiaan dan tanpa keberhasilan? Semua pertanyaan itu bergejolak di benakku dan aku tidak dapat menemukan jawabannya. Aku benar-benar dalam kebingungan yang menyakitkan.”

 

“Bebarapa hari kemudian ketika seakan-akan aku sudah berada di ujung kemampuanku untuk bertahan dan pertanyaan-pertanyaanku masih jauh dari terjawab, Sasi mendatangiku. Seorang pembawa pesan telah diutus tuanku untuk membawaku kembali ke Babilonia. Aku segera menggali kantung uangku yang sangat berharga, menutupi diriku dengan sisa jubahku yang sudah tercabik-cabik dan segera pergi.”

 

“Ketika kami berjalan, fikiranku bagai tersapu putting beliung memutar aku kesana kemari terus berpacu melalui otakku yang kepanasan oleh demam. Aku bagaikan hidup dalam kalimat aneh yang selalu dinyanyikan di kota asalku Harroun :”

 

Gelandang seseorang dengan putting beliung.

Hempas dia dengan badai.

Jalan hidupnya, tidak dapat diikuti seorangpun.

Takdirnya tidak dapat diduga siapapun

 

“Akankah aku akan terus menerus dihukum karena aku tidak mengetahui apa-apa? Kesengsaraan dan kekecewaan apa lagikah yang sedang menungguku?”

 

“Ketika kami melalui halaman tengah rumah tuanku, bayangkkan betapa terkejutnya aku ketika aku melihat Arad Gula sedang menungguku. Dia membantu menurunkanku dari tunggangan dan memelukku bagai menemukan seorang saudara yang telah lama hilang.

 

“Ketika kami berjalan aku ingin mengikutinya dari belakang sebagai seorang budak harus mengikuti tuannya yang orang merdeka, tetapi dia tidak mengizinkanku. Dia meletakkan lengannya dipunggungku, sambil berkata, ‘Aku mencarimu kemana-mana. Ketika akau hampir berputus asa, aku bertemu dengan Swasti yang mengatakan kepadaku tentang pemberi pinjaman emas, yang kemudian mengarahkan aku ke petinggi pemilikmu. Dengan penawaran yang berat yang membuatku harus membayar sangat mahal demi membelimu, tetapi engkau cukup bernilai untuk itu. Pendapatmu dan jiwa wirausahamu telah menjadi inspirasiku ke keberhasilanku yang baru ini.’”

 

“’Pendapat Megiddo, bukan pendapatku,’ aku memotong kata-katanya.”

 

“’Pendapat Megiddo dan pendapat engkau. Terima kasih kepada kalian berdua, kita akan pergi ke Damaskus karena aku memerlukan engkau sebagai rekan kerjaku. Lihatlah,’ dia menegaskan, ‘dalam beberapa saat engkau akan menjadi seorang yang merdeka!’ Sambil berkata begitu dia mengeluarkan dari balik jubahnya lempeng tanah liat yang menyatakan aku sebagai budak. Diangkatnya tinggi di atas kepalanya dan membantingnya ke batuan di tanah sehingga pecah berkeping-keping. Dengan penuh rasa kemenangan ia menginjak-injak pecahan tanah liat itu hingga hancur menjadi debu.”

 

“Air mata kebahagiaan menggenang di mataku. Aku tahu bahwa aku orang paling beruntung di Babilonia.”

 

“Kerja, tahukah engkau, dengan kerja, pada saat kesengsaraan terdalamku telah terbukti kerja menjadi sahabat terbaikku. Kesediaanku untuk bekerja memungkinkan aku terhindar dari terjual bersama dengan budak-budak yang bekerja membangun tembok kota. Kerja juga yang telah memberi kesan khusus pada kakekmu, dia memilihku menjadi rekan kerjanya.”

 

Kemudian Hadan Gula bertanya, “Apakah kerja juga yang merupakan kunci rahasia kakekku memperoleh uang emas?”

 

“Itulah satu-satunya kunci yang dimilikinya ketika pertama kali aku mengenalnya,” jawab Sharru Nada. “Kakekmu menikmati kerja. Para dewa menghargai usahanya dan menganugerahinya dengan sebanyak-banyaknya kelebihan-kelebihan.”

 

“Sungguh benar sekali, aku dapat melihatnya,” sahut Hadan Gula sambil mengenang dengan sepenuh hati. “Kerja telah mendekatkannya dengan banyak sahabatnya yang mendambakan kerja keras seperti dia dan keberhasilan yang diraihnya. Kerja membawanya kepada kehormatan yang dirasakaannya di Damaskus. Kerja memberikannya semua hal-hal yang kusukai. Padahal aku mengira kerja hanya cocok bagi budak.”

 

“Hidup penuh dengan kebahagiaan yang dapat dinikmati seseorang,” komentar Sharru Nada. “Tiap orang memiliki tempatnya sendiri-sendiri. Aku senang bahwa tidak semata disediakan bagi para budak. Apabila memang demikian aku tidak dapat menikmati kebahagiaan terbaikku. Banyak hal yang aku suka lakukan tetapi tidak ada yang dapat menggantikan kerja.”

 

Sharru Nada dan Hadan Gula berjalan beriringan di bawah bayangan tebok kota yang tinggi hinga mencapai pintu besar, gerbang perunggu kota Babilonia. Pada saat kedatangannya pengawal gerbang yang berjaga segera berdiri sigap memberikan penghormatan warga yang mereka hormati itu. Dengan kepala diangkat tinggi Sharru Nada memimpin karavan itu melintasi gerbang menuju jalan-jalan di dalam kota.

 

“Aku selalu berharap dapat menjadi orang yang seperti kakekku,” Hadan Gula menyatakan padanya. “Tidak pernah kusadari sebelumnya orang seperti apa dia. Engkau telah menunjukkan padaku. Sekarang aku faham, aku bahkan menjadi lebih menghormatinya dan merasa lebih mantap menjadi seperti dia. Aku khawatir aku tidak dapat membalas budimu yag telah memberikan aku kunci keberhasilan kakekku. Sejak hari ini dan seterusnya, aku harus menggunakan kunci miliknya itu. Aku akan memulai dengan rendah hati seperti yang dilakukannya, yang lebih sesuai dengan kebenaran pusat jiwaku yang jauh lebih berharga dari pada perhiasan dan jubah mewah.”

 

Dengan berkata begitu Hadan Gula mencabuti perhiasan yang berkilauan di teliganya dan cincin-cincin dari jari tangannya. Kemudian, mengendalikan kudanya, ia mundur ke belakang, dengan penuh penghargaan, menapakkan kudanya di belakang pemimpin karavan.

 

 

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar