Sabtu, 13 September 2014

VII : TEMBOK KOTA BABILONIA

 
TEMBOK KOTA BABILONIA
 
 
 
Si tua Banzar, bekas prajurit yang gagah berani, tegak berdiri menjaga pintu gerbang masuk lorong menuju ke atas tembok kota lama Babilonia. Di atasnya pengawal-pengawal perkasa berperang mempertahankan kota. Kepada kekuatan merekalah tergantung kelangsungan kehidupan kota besar ini bersama dengan ratusan ribu penghuninya.
 
Di balik tembok terdengar teriakan-teriakan para penyerang, jeritan banyak sekali manusia, depakan kaki ribuan kuda, dentuman memekakkan palang penggempur gerbang yang terus melantak gerbang perunggu kota.
 
Pada jalan di depan gerbang berjaga barisan pemanah, menunggu para penyerang seandainya mereka berhasil menembus gerbang kota. Jumlah mereka tidak cukup banyak untuk tugas itu. Pasukan utama Babilonia sedang menyertai Sang Raja, jauh di timur dalam sebuah ekspedisi mengenyahkan pemberonrak Elamites. Tidak ada penyerangan ke kota yang diperkirakan datang pada saat kepergian mereka, pengawal kota sangat sedikit. Tanpa diduga, dari utara, datang menyerang pasukan Assyria. Dan sekarang tembok kota harus dipertahankan atau Babilonia akan hancur.
 
Banyak sekali penduduk di sekeliling Banzar, pucat dan ketakutan, sangat ingin mengetahui perkembangan peperangan itu. Dengan mata tertegun gerun mereka melihat para serdadu yang luka atau tewas dibawa ke garis belakang melalui lorong tembok kota.
 
Di tembok sekitar inilah titik terpenting dalam penyerangan itu. Setelah tiga hari mengurung kota, para musuh tiba-tiba melancarkan serangan terkuatnya pada sisi tembok yang dekat dengan lorong yang dijaga Banzar.
 
Pengawal di atas tembok kota berhadapan dengan tangga-tangga dan tiang pemanjat yang disandarkan penyerang pada sisi luar tembok, memanahi penyerangnya, menyiramkan minyak panas, atau menombaki siapa saja yang berhasil mencapai atas tembok. Melawan para pengawal, ribuan pemanah dari pihak penyerang terus menerus menyirami prajurit di atas tembok kota dengan anak-anak panah yang mematikan.
 
Si tua Banzar, berada di posisi terbaik untuk mendengarkan berita perkembangan peperangan. Ia pihak terdekat ke pusat peperangan dan yang pertama mendengar setiap denyut terbaru perkelahian dan getar keganasan penyerangan.
 
Seorang saudagar yang sudah cukup tua yang berkumpul dekat dengan Banzar, tangannya pucat kaku dan gemetar. “Katakan padaku! Ceritakan!” pintanya. “Mereka tidak boleh masuk. Anakku sedang bersama Sang Raja. Tidak ada yang menjaga istriku yang sudah tua. Barang milikku, mereka akan merampoknya semua. Makananku, tidak akan ada yang mereka sisakan. Kita sudah tua, terlalu tua untuk dapat menjaga diri kita sendiri – terlalu tua juga untuk menjadi budak. Kita akan kelaparan. Kita akan mati. Katakan padaku bahwa mereka tidak akan bisa masuk.”
 
“Tenangkan dirimu, saudagar tua,” jawab sang pengawal. “Tembok kota Babilonia sangat kuat. Kembalilah ke pasar dan katakan pada istrimu bahwa tembok kota akan melindungimu dan seluruh harta bendamu seselamat tembok itu melindungi harta kekayaan Sang Raja. Merapatlah lebih ke sisi tembok, nanti anak-anak panah yang melayang-layang itu dapat mengenaimu.”
 
Seorang wanita dengan bayi digendongannya menggantikan tempat saudagar tua berdiri ketika sang saudagar berlalu. “Sersan, apa berita baru dari atas?” Ceritakan padaku yang sesungguhnya agar akau dapat menenangkan suamiku. Ia masih terbaring demam akibat luka-lukanya, tetapi tetap masih memintaku menyiapkan tameng dan lembing agar dia dapat menjagaku, beserta anakku. Sudah pasti akan sangat mengerikan apabila musuh yang haus darah itu sampai berhasil masuk ke dalam kota.”
 
“Tetaplah tenangkan hatimu, setenang hati ibumu, dan akan tetap tenang begitu, karena tembok kota Babilonia akan melindungimu dan anakmu. Tembok ini tinggi dan sangat kuat. Tidakkah engkau dengar teriakan pengawal kita yang gagah itu ketika mereka mencurahkan minyak panas berapi pada penyerang di tangga-tangga pemanjat?”
 
“Ya, aku memang mendengarnya, tetapi aku juga mendengar batang penggedor gerbang yang terus memalu gerbang kota.”
 
“Kembalilah pada suamimu. Katakan padanya gerbang kota amat sangat kuat dan dapat menahan batang penggedor. Juga para penyerang yang memanjat tembok kota akan menghadapi tombakan pengawal. Jaga dirimu, dan berlindunglah dalam bangunan.”
 
Banzar melangkah ke samping untuk memberikan jalan kepada pertahanan beralat berat. Dengan dentangan tameng perunggu dan rantai-rantai yang berat, mereka menapaki lorong itu, seorang anak perpempuan memegangi sabuk perunggu Banzar.
 
“”Katakan padaku prajurit, tolong, apakah keadaan kita aman?” pintanya. “Aku mendengar bunyi-bunyi yang tidak menyenangkan. Aku lihat para punggawa berdarah-darah. Aku takut sekali. Apa yang akan terjadi pada keluargaku. Ibuku, adikku dan para bayi?”
 
Prajurit tua yang gagah itu mengedipkan matanya dan menegakkan wajahnya ketika ia menenangkan anak itu.
 
“Jangan takut, anak kecil,” ia meyakinkannya. “Tembok kota Babilonia akan melindungimu dan ibumu dan adikmu dan para bayi. Untuk mengamankan hal itu semualah Ratu Semiramis kita yang baik itu membangunnya lebih dari seratus tahun yang lalu. Tidak pernah tembok kota ini ditembus oleh musuh manapun. Pergi kembali, katakan pada ibumu dan adikmu dan para bayi bahwa tembok kota Babilonia akan melindungi mereka dan mereka tidak perlu gentar.”
 
Hari demi hari si tua Banzar berjaga pada posnya dan mengamati pasukan pertahanan beralat berat memenuhi lorong ke atas tembok kota, tetap di sana mempertahankan kota hingga terluka atau tewas baru mereka meninggalkan tembok itu. Di sekitarnya, tidak henti-hentinya berdatangan kerumunan penduduk kota yang dalam ketakutan mencari tahu dan bertanya apakah tembok kota dan pengawalnya masih mampu bertahan. Kepada mereka semua, Banzar memberikan jawaban dengan penuh keyakinan seorang serdadu tua, “Tembok kota Babilonia akan melindungi engkau.”
 
Selama tiga minggu dan lima hari penyerangan itu berlangsung dengan kekerasan tanpa henti. Semakin kuat dan perkasa terlihat rahang Banzar, sementara lorong di belakangnya basah oleh darah para prajurit yang terluka, bercampur lumpur di tanah yang terus terinjak-injak oleh para prajurit yang berlalu lalang ke atas tembok dan kembali ke bawah. Setiap hari penyerang yang terbunuh menumpuk di sekitar tembok kota. Setiap malam rekan-rekannya mengumpulkan dan menguburkan mereka.
 
Pada malam kelima minggu keempat suara-suara teriakan yang biasanya riuh rendah berkurang. Pada pagi berikutnya, ketika sinar mentari pertama menerangi padang luas di luar tembok kota, tampak kabut debu mengambang terhambur oleh jejak para penyerang yang sedang mengundurkan diri.
 
Teriakan kemenangan bergema di pihak pengawal tembok kota yang bertahan. Tidak diragukan lagi artinya. Teriakan itu disahuti oleh keriuhan teriakan para prajurit lainnya yang sedang siaga di sisi dalam tembok, diulangi lagi oleh gemuruh suara-suara penduduk di jalan-jalan dalam kota. Bergemuruh menyapu seluruh kota bagai badai tetapi melegakan.
 
Orang-orang keluar dari kediamannya. Jalan-jalan dipenuhi kerumunan manusia. Rasa takut yang memberatkan dada bermingu-minggu seolah menguap bertukar dengan arak-arakan kegembiraan. Dari puncak Kuil Bel yang tinggi dinyalakan api kemenangan. Melambung ke udara asap biru dari padanya, menyampaikan pesan sampai ke tempat-tempat yang jauh dan lebih luas.
 
Tembok kota Babilonia telah sekali lagi menangkal serangan musuh yang kuat dan garang yang meski telah berazam menjarah perbendaharaan kota dan memusnahkan penduduknya atau menjadikan mereka budak, terjadi tidak.
 
Babilonia bertahan dari abad ke abad karena kota itu terjaga secara meneyeluruh. Dia tidak boleh lalai melakukannya.
 
Tembok kota Babilonia merupakan contoh yang luar biasa tentang kebutuhan manusia dan keinginanan untuk tetap terlindungi dengan aman. Keinginan yang selalu ada dalam sejarah kemanusiaan. Keinginan itu masih sama kuatnya sekarang dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, tetapi untuk tujuan yang sama, kita telah mengembangkannya menjadi lebih luas dan merencanakan dengan labih baik.
 
Pada hari ini, dibalik banyak sekali perlindungan asuransi, tabungan dan sarana investasi lainnya, yang tidak ada yang dapat kita hindari, kita dapat menjaga diri kita sendiri dari kemalangan yang tidak dapat diduga yang dapat saja datang melintas atau bahkan duduk bersama di ruang tamu.
 
 
 
KITA TIDAK DAPAT MENGATASI KEHIDUPAN
TANPA PERLINDUNGAN YANG CUKUP
 
 
 
 
 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar