Sabtu, 13 September 2014

I : ORANG YANG MENGINGINKAN EMAS

 
ORANG YANG MENGINGINKAN EMAS
 
 
Bansir, pembuat kereta kuda di Babilonia, sangat kecewa. Dari tempat ia berdiri di depan rumahnya, ia memandang rumah yang sangat sederhana, dan sebuah bengkel kerja, yang masih terisi satu kereta kuda yang seolah terbengkalai, masih belum selesai dikerjakan.
 
Istrinya beberapa kali terlihat dengan sengaja menampakkan diri di ambang pintu. Pandangan sayu yang dilontarkan ke arah Bansir seolah mengingatkan bahwa beras mereka sudah hampir habis, dan Bansir seharusnya bergegas menyelesaikan pekerjaan yang merupakan keahliannya itu, memalu dan membengkokkan tulang-tulang roda, melicinkan permukaan kereta dan mengecatnya, mengikat kulit pada tiap roda, mempersiapkan pengiriman kereta, agar ia bisa segera menagih upah dari hartawan pelanggannya.
 
Kendati demikian, tubuh besarnya yang berotot hanya tersandar pada pagar rumah. Fikiran lambannya terus seolah dengan sabar berusaha mencari jalan keluar dari masalah yang tak berujung, yang belum pernah ia temukan penyelesaiannya. Matahari tropis yang terik, yang memanasi lembah Furat, tanpa ampun membakar tubuhnya. Keringat bercucuran, dari dahi merembes ke alis dan kemudian menetesi dadanya yang penuh bulu. Upf panasnya.
 
Dekat rumah Bansir, menjulang pagar-pagar tinggi yang mengelilingi kediaman Sang Raja. Di sebelahnya lagi, menusuk kebiruan langit, menjulang Menara Genta yang bercat cerah. Di bawah bayang-bayang kebesaran itulah rumah Bansir yang sederhana berada, beserta beberapa rumah lain yang juga kurang bagus dan kurang terawat. Begitulah Babilonia, campuran kemegahan dan kekumuhan. Hartawan kaya raya dengan orang terlunta-lunta, berbaur dalam lingkungan kota tanpa perencanaan tanpa ikatan sistem dalam dengung kehirukpikukan.
 
Di belakangnya, kalau ia ingin atau sempat memperhatikan, betapa riuhnya kereta kuda para hartawan, berlalu sambil menyingkirkan para pedagang kaki lima dan pengemis tanpa alas kaki yang terpaksa berhamburan ke sisi jalan. Sementara itu, di tempat lainnya, orang beradapun harus terdorong ke tepian parit agar memuluskan jalan para budak pengangkut air, guna kepentingan raja, masing-masing memanggul sekantung air dari kulit kambing yang akan digunakan untuk menyiram Taman Gantung Sang Raja. Bukan main riuh-rendahnya suasana.
 
Namun, Bansir sedang terlalu tenggelam dalam masalahnya sendiri. Ia tidak mengacuhkan kesibukan disekitarnya. Tiba-tiba, sebuah dentingan senar lyra yang tak disangka-sangkalah yang membangunkan Bansir dari lamunan bingungnya. Ia menoleh, menemukan sebuah senyum bersahabat yang sangat ia kenal, senyum sahabat karibnya – Kobbi, si pemusik.
 
“Semoga Para Dewa memberkatimu dengan limpahan berkah-Nya, sahabat,” salam panjang Kobbi. “Ya kan, begitu berkahnya bahkan engkau kelihatannya santai-santai saja, tidak perlu bekerja lagi. Sukurlah kalau begitu, betapa beruntungnya engkau. Nanti, keberuntunganmu akan kutambah lagi. Terpujilah Para Dewa, maka dari simpananmu yang cukup, yang telah membuatmu istirahat dari kesibukan bengkel, sudilah engkau mengeluarkan, tidak banyak, hanya dua shekel, untuk dipinjamkan padaku, tidak lama, hanya sampai nanti lewat malam, setelah pesta para hartawan. Uangmu tak kan hilang, tapi kembali pasti.”
 
“Kalau aku punya dua shekel,” jawab Bansir suntuk, “tidak ke siapapun kuberi pinjaman – bahkan ke padamu sekali pun, sahabat baikku, karena hanya itulah mungkin keberutunganku – bahkan seluruh peruntunganku. Tidak akan ada orang yang akan meminjamkan seluruh peruntungannya, bahkan ke sahabat terbaiknya kan?”
 
“Apa?” seru Kobi terkejut. Benar-benar terkejut. “Engkau tidak punya satu shekel pun di kantung uangmu, tapi bersandar di pagar ini bagai patung!? Kenapa engkau tidak segera menyelesaikan kereta kuda itu? Bagaimana engkau akan menafkahi kehidupan keluargamu? Jangan begitu. Kemana keuletanmu yang sudah kukenal itu? Apa yang engkau fikirkan? Apakah Para Dewa telah memberikan engkau ujian lagi?
 
“Pastilah ini cobaan Dewa,” sahut Bansir menyetujui. “Awalnya cuma mimpi, mimpi kosong semata, saya seperti orang yang sangat berhasil. Kantung uangku penuh, melimpah. Shekel-shekel kecil dengan ringannya kusebar pada para pengemis. Uang perak kugunakan membeli perhiasan buat istriku dan apa saja yang kusukai. Uang pecahan emas cukup banyak sehingga dapat menenangkanku. Masih ada jaminan bagiku, meski uang perak habis kupergunakan, sangat memuaskan hati, bahagia! Engkau tidak akan mengenalku sebagai kuli seperti ini. Dan engkau tidak akan mengenal lagi istriku, wajahnya tidak ada kerutan sama sekali bersinar penuh senyum. Dia masih seperti perawan belia.“
 
“Mimpi yang benar-benar indah,” tanggap Kobbi, ”tapi bagaimana perasaan yang menyenangkan itu membuatmu mematung galau tersandar di pagar seperti ini?”
 
“Kenapa? Kenapa tidak, begitu tersadar kudapati kantung uangku melompong, getir hatiku. Coba kita bahas hal ini bersama, karena, seperti kata para pelaut, kita berada di kapal yang sama, kita berdua ini. Selagi remaja, kita belajar budi pekerti kepada para imam yang bijaksana bersama-sama, sebagai anak muda kita bergembira bersama juga, menjelang setengah baya kita masih bersama-sama, selalu sebagai sahabat baik. Kita melakukan pekerjaan yang kita sukai, senang menghabiskan waktu berkarya dan menggunakan hasil usaha kita unntuk kehidupan sesuai dengan penghasilan kita. Banyak emas perak yang telah kita peroleh, dan juga pergunakan selama tahun-tahun itu, tetapi membayangkan kebahagiaan menjadi orang kaya, masih bagai mimpi bagi kita. Bah! Apakah kita lebih bodoh dari seekor kambing? Kita hidup di kota terkaya di dunia, para pengunjung kota ini menyanjungnya sebagai kota yang tiada bandingnya di seluruh dunia. Segala hal yang menakjubkan itu hanya tontonan bagi kita. Setengah umurmu kau gunakan bekerja keras, kamu, sahabat karibku, namun kantung uangmu tetap saja kosong, dan apa yang kau katakan padaku, ‘sudilah engkau mengeluarkan, tidak banyak, hanya dua shekel, untuk dipinjamkan padaku, tidak lama, hanya sampai nanti lewat malam, setelah pesta para hartawan.’ Lalu, apa jawabku? Apa akau bilang, ‘Ini kantung uangku, silakan manfaatkan sesuai kebutuhanmu.’ Tidak, kantung uangku sama kosongnya dengan milikmu. Kenapa bisa begini? Kenapa kita tidak dapat mengumpulkan emas dan perak, lebih dari sekedar memenuhi sandang dan pangan?”
 
“Apalagi kemewahan itu, coba perhatikan,” lanjut Bansir, “mereka seolah-olah sudah begitu saja dengan mudah mengikuti jejak pendahulunya? Mereka, keluarga mereka, anak-anaknya, keluarga anak-anaknya, seolah hidup sejahtera selamanya, sementara kita, harus sudah merasa cukup senang dengan kenduri susu kambing dan bubur nasi?”
 
“Belum pernah selama aku mengenalmu mendengar engkau berbicara seperti ini, Bansir.” Kobi tercengang.
 
“Belum pernah memang, selama itu. Aku berfikir seperti ini. Dari terang hari sampai jelang malam aku selalu sibuk, membuat kereta kuda terbaik yang pernah dibuat orang, dengan harapan suatu hari nanti, Para Dewa akan menghargai hasil kerjaku dan menghadiahkan aku dengan kekayaan berlimpah. Itu belum pernah terjadi. Akhirnya akau fikir hal itu tidak akan terjadi. Sedih hatiku. Maksudku, menjadi orang yang penuh kemakmuran. Membayangkan akan memiliki kebun luas dan banyak ternak, pakaian sutera halus dengan kantung uang yang penuh emas dan perak. Untuk itu semua aku rela bekerja sekuat tenagaku, dengan seluruh keahlian yang kumiliki, dan secerdas kecerdikan benakku, segala usahaku kuharapkan pada akhirnya akan menghasilkan yang terbaik sesuai anganku. Tapi, apa yang terjadi pada kita? Kutanyakan lagi kepadamu. Mengapa kita tidak memperoleh sesuai dengan usaha kita hal-hal yang melimpah yang biasa diperoleh dengan mudahnya dengan emas yang dimiliki para hartawan?
 
“Aku pun tidak mengerti!” sahut Kobbi. “Keberadaanku juga tidak lebih baik dari kamu. Hasil yang kuperoleh dari memetik lyra sangat cepat habisnya. Kadang-kadang aku harus mengusahakan sebisaku agar keluargaku tidak kehabisan makanan. Begitu juga, dalam hatiku kuimpikan lyra terbagus yang ada difikiranku, yang dapat melantunkan keindahan yang ada dibenakku. Hingga aku mampu menciptakan musik terindah, yang, bahkan Sang Raja sekalipun, belum pernah mendengarnya.”
 
“Lyra seperti itulah yang harus kau miliki. Tidak ada seorang pun di Babilonia ini yang dapat menciptakan musik semanis gubahanmu, melantunkan keindahan yang tidak hanya menyenangkan Sang Raja tetapi juga Para Dewa. Tapi bagaimana mungkin engkau akan melakukan hal itu sementara kita berdua ini sama miskinnya dengan budak Sang Raja? Dengar bunyi lonceng itu. Nah, itu mereka,” Ia menunjuk ke arah barisan bertelanjang dada, bersimbah keringat, para pemanggul air mendaki jalan kecil dari tepian sungai. Mereka berbaris lima-lima, setiap orang memanggul kantung air kulit kambing yang berat di punggungnya.
 
“Gagah sekali yang memandu arak-arakan pengangkut air itu”, kata Kobbi menyebutkan pemegang genta yang berjalan paling depan, “Orang penting di negeri ini. Dari penampilannya saja sudah terlihat.”
 
“Banyak orang gagah di dalam barisan pengangkut air itu,” ucap Bansir, “sama seperti kita. Yang tinggi, pirang, orang dari utara, anak hitam yang tertawa-tawa itu, orang dari selatan, sedangkan yang berperawakan kecil dari negeri timur. Semua bersama-sama mengangkut air dari sungai ke taman-taman, pulang pergi setiap hari, tahun demi tahun. Tanpa masa depan yang menjanjikan. Ranjang jerami tempat tidurnya, bubur nasi santapannya. Menyedihkan sekali Kobbi!”
 
“Aku mengasihani mereka. Tapi, tetap saja kita tidak lebih beruntung, meski kita bukan budak, meski kita manusia merdeka.”
 
“Benar, Kobbi, memikirkannya saja aku sudah merasa tidak enak. Kita pasti tidak mau menjalani kehidupan para budak. Kerja, kerja, kerja, tidak sampai kemana-mana, tidak menghasilkan apa-apa.”
 
“Mungkin kita perlu belajar bagaimana cara para hartawan itu mengumpulkan kekayaan dan melakukan hal yang mereka lakukan?” usul Kobbi.
 
“Mungkin ada rahasia yang perlu kita cari dan pelajari dari mereka yang memilikinya,” jawab Bansir mnyetujui dengan penuh ingin tahu.
 
“Hari ini,” ujar Kobbi, “aku berpapasan dengan sahabat lama kita, Arkad, mengendarai kereta kudanya yang berlapis emas. Harus kuakui, ia tidak merendahkan kesederhanaanku sebagaimana orang setaraf dengannya yang akan menganggap sebagai haknya untuk berbuat begitu. Ia bahkan melambaikan tangannya padaku, sehingga semua orang di sekitar kami melihat bagaimana ia menyampaikan salamnya dengan senyum ramah pada Kobbi, sang pemusik.”
 
“Dia disebut-sebut sebagai orang terkaya di Babilonia,” sela Bansir.
 
“Begitu kayanya sehingga Sang Raja mencari bantuan dan nasihat perbendaharaan padanya,” ujar Kobbi pula.
 
“Begitu kayanya,” sela Bansir, “tapi, aku khawatir kalau bertemu dengannya di gelap malam, tanganku akan segera menggerayangi kantung uangnya yang gemuk itu, ha ha.”
 
“Tidak mungkin,” sangkal Kobbi, “kekayaan hartawan itu tidak akan tersimpan dalam kantung uang yang dibawa-bawa. Seberapa penuh pun kantung uang, akan segera kosong apabila tidak ada aliran yang terus mengisinya. Arkad memiliki penghasilan yang terus menerus memenuhi kantung uangnya, sebanyak apapun ia pergunakan, uang di kantungnya akan tetap penuh.’
 
“Penghasilan, itu dia,” sergah Bansir. “Aku berharap penghasilan akan terus mengalir ke kantungku tidak perduli apakah aku sedang bersandar di pagar ini atau sedang melakukan ziarah ke tempat-tempat yang jauh. Arkad pasti tahu bagaimana cara menghasilkan uang bagi dirinya. Mungkinkah ia dapat menjelaskan sesuatu yang mencerahkan pikiran lambanku?”
 
“Saya fikir ia sudah mengajarkan pada Nomasir, anaknya,” jawab Kobbi. “Nomasir tidak akan pergi ke Niniveth dan, seperti yang dibicarakan banyak orang di tempat penginapan, Nomasir telah menjadi, tanpa bantuan bapaknya, salah satu orang terkaya di kota itu?”
 
“Kobbi, engkau telah membawaku ke pemikiran baru.” Sekilas cahaya berbinar dimata Bansir. “Bukankah tidak perlu mengeluarkan biaya jika kita hanya meminta saran yang baik dari seorang teman baik, dan, bukankah Arkad teman baik kita juga. Biarkan saja kita tidak berpunya, dengan kantung uang yang kosong bagaikan sarang elang yang sudah ditinggalkan penghuninya setahun yang lalu. Jangan hal itu menghalangi kita. Yang membuat kita risau adalah hidup berkekurangan di tengah-tengah kelimpahan. Kita ingin makmur. Ayo, kita kunjungi Arkad dan bertanya padanya bagaimana caranya agar kita, juga, dapat memperoleh penghasilan yang berkelimpahan bagi diri kita.”
 
“Engkau mengatakan hal sangat menarik, Bansir. Engkau mencerahkan fikiranku. Engkau menyadarkanku agar mencari alasan mengapa kita belum juga menemukan kekayaan belimpah. Kita belum pernah mencarinya. Engkau telah bekerja dengan rajin dan sabar untuk membuat kereta kuda yang terbaik di Babilonia. Untuk hal itu engkau telah mengerahkan segala kemampuanmu. Dalam hal itu engkau memang berhasil. Sangat berhasil bahkan. Aku sendiri telah berusaha menjadi pemain lyra terbaik, dan nyatanya aku berhasil.”
 
“Dalam hal-hal yang kita usahakan dengan sepenuh daya terbaik kita, kita berhasil. Bahkan Para Dewa pun bangga dengan keberhasilan kita dan membuat kita meneruskannya. Sekarang, akhirnya, kita lihat cahaya itu, terang seterang mentari pagi. Ia menawarkan kita pelajaran baru agar kita lebih berhasil dan lebih makmur. Dengan pengertian baru itu kita akan berusaha dengan jalan yang benar dan tindakan yang membanggakan, dan akan dapat mencapai tujuan kita.”
 
“Ayo kita pergi mengunjungi Arkad hari ini juga,” desak Bansir. “Juga, kita akan minta teman masa kecil kita yang lain yang tak jauh berbeda keberuntungannya dengan kita, untuk ikut serta, agar mereka, juga, dapat mempelajari pengetahuan ini.”
 
“Engkau benar-benar sangat baik pada teman-temanmu, Bansir. Itu membuatmu memiliki banyak sahabat. Jadi, begitulah, seperti yang engkau katakan. Kita pergi hari ini juga dan ajak mereka bersama-sama.”
 
 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar