Sabtu, 13 September 2014

V : LIMA HUKUM EMAS


 

 

LIMA HUKUM EMAS

 

 

 

“Sekarung penuh emas atau sekarung penuh lempengan tanah liat bertuliskan kata-kata bijaksana; apabila engkau diberikan pilihan seperti itu, yang manakah yang engkau pilih?”

 

Di bawah bayangan api unggun dari belukar gurun, wajah-wajah terbakar matahari yang mendengarnya bergoyang binarnya dengan bayangan sinar unggun.

 

“Emas, emas,” seru keduapuluhtujuh orang itu.

 

Kalabab tua tersenyum, ia sudah dapat memastikan jawaban itu.

 

“Hei,” lanjutnya, sambil menaikkan lengannya. “Dengar gonggongan anjing liar di kelam malam itu. Mereka melolong dan mengibas-ngibaskan ekornya, mereka kurus dan lapar. Coba beri mereka makan, apa yang mereka perbuat? Berebut, berkelahi dan berkumpul lagi. Kemudian berebutan lagi berkelahi lagi dan berkumpul lagi, tanpa memikirkan apapun yang pasti akan terjadi esok hari.”

 

“Hal yang sama juga dilakukan manusia. Berikan mereka pilihan antara emas dan kebijaksanaan – apa yang mereka lakukan? Abaikan kebijaksanaan dan hamburkan emas. Besok mereka akan merengek kehabisan emas.”

 

“Emas memang hanya untuk dimiliki orang-orang mengetahui hukum-hukum emas dan mematuhinya.”

 

Kalabab menarik ujung jubah putihnya menutupi kaki kurusnya, melindunginya dari angin dingin gurun yang mulai berhembus.

 

“Karena engkau sudah melayaniku dengan sepenuh hati sepanjang perjalanan kita, karena engkau sudah merawat unta-untaku dengan baik, karena engkau semua telah menembus panas pasir gurun tanpa keluhan. Karena engkau telah berjuang melawan para perompak dengan berani sehingga membuat barang daganganku tak terganggu, aku akan menceritakan pada engkau semua malam ini kisah lima hukum emas, kisah ini merupakan riwayat yang belum pernah engkau dengar sebelumnya.”

 

“Hai engkau semua, dengarlah dengan perhatian penuh apa yang akan akau kisahkan ini, karena apabila engkau dapat menangkap maksudnya dan mengingat dan menggunakannya, suatu hari nanti engkau akan dapat memiliki emas yang berlimpah.”

 

Ia tegun dengan berwibawa sejenak. Di atas, dalam lingkupan biru temaram langit, bintang-bintang bertaburan di langit Babilonia yang cerah tak berawan. Di belakang kelompok orang-orang itu bayangan kabur tenda-tenda yang terpasang kukuh yang dapat menghadang badai gurun apabila ia datang. Di sebelah tenda-tenda itu tertumpuk rapi berbungkus-bungkus barang dagangan ditutupi kulit. Tidak jauh dari situ unta-unta duduk berjajar di atas pasir, sebagian terus terlihat lahap memamah biak, lainnya berdengkur keras tanpa irama.

 

“Engkau telah menceritakan kepada kami banyak sekali cerita menarik, Kalabab,” ujar pimpinan pekerja. “Kami memerlukan kebijakanmu yang dapat mengajari kami, bukankah besok pekerjaan kami telah selesai.”

 

“Aku telah menceritakan kepada engkau pengalamanku di negeri asing dan negeri-negeri yang jauh, tetapi malam ini aku akan meriwayatkan kepada engkau kebijaksanaan Arkad, orang bijak yang kaya raya.”

 

“Sudah banyak yang kami dengar tentang dia,” sahut pemimpin pekerja itu, “karena dia orang terkaya yang pernah hidup di Babilonia.”

 

“Dia memang orang terkaya, dan itu disebabkan karena kebijaksanaannya dalam hukum emas, bahkan belum pernah ada orang sebijaksana dia sebelumnya. Malam ini aku akan ceritakan kebijaksanaan utamanya sebagaimana diceritakan oleh Nomasir, anaknya, beberapa tahun yang lalu di Niniveh, ketika itu aku masih seorang remaja.”

 

“Aku dan tuan-ku telah penuh berdebu berjalan melalui gelap malam ke istana Nomasir. Aku membantu tuan-ku membawa banyak sekali bungkusan permadani mewah, yang tiap-tiap permadani diamati oleh Nomasir hingga pilihan corak-warnanya sesuai dengan keinginannya. Akhirnya ia cukup puas dan meminta kami duduk bersama dengannya dan minum minuman terpilih yang langka yang baunya yang enak sangat melonggarkan nafas di hidungku dan minuman itu juga menghangatkan perutku, yang tidak terbiasa dengan minuman seperti itu.”

 

“Kemudian, ia menceritakan kepada kami kebijaksanaan Arkad, ayahnya, itulah yang akan kuceritakan kembali kepadamu.”

 

“Di Babilonia sudah menjadi adat kebiasaan, seperti yang juga engkau ketahui, anak laki-laki seorang yang kaya raya akan tinggal bersama orang tuanya kemudian diharapkan akan mewarisi kekayaan itu. Arkad tidak begitu sependapat dengan adat kebiasaan itu. Oleh karena itu, ketika Nomasir mencapai usia dewasa ia menyampaikan pesan padanya :

 

“Anakku, aku berkeinginan agar engkau melanjutkan keberhasilan yang aku telah capai dalam hidupku. Namun, engkau harus, pertama-tama membuktikan bahwa engkau akan mampu mengelola kekayaan ini dengan bijaksana. Oleh karena itu, aku mengharapkan engkau pergi merantau ke dunia di luar sana dan tunjukkan kemampuanmu untuk menghasilkan emas dan buat dirimu menjadi orang yang terhormat di tengah masyarakat.”

 

“Untuk memulainya dengan baik, aku akan berikan dua hal yang, aku sendiri, ketika aku sebagai seorang muda yang miskin, yang mulai mengumpulkan kekayaan, tidak memilikinya.”

 

“Pertama, kuberikan sekantung emas. Apabila engkau gunakan dengan bijaksana, ia akan menjadi landasan keberhasilanmu di masa yang akan datang.”

 

“Kedua, kuberikan engkau lempeng tanah liat ini yang diatasnya tertulis lima hukum emas. Apabila engkau hayati dan wujudkan dalam kegiatan usahamu, ia akan memberikanmu kemampuan dan perlindungan.

 

“Sepuluh tahun dari sekarang kembalilah engkau kerumah ayahmu ini dan tunjukkan hasil kegiatanmu. Apabila ternyata engkau berhasil, aku akan menjadikan engkau ahli warisku. Sebaliknya, kalau engkau gagal, aku akan berikan harta bendaku pada para imam yang mungkin dapat menukarnya dengan sesuatu yang dapat menenangkan jiwaku dan hal-hal yang menyenangkan Para Dewa.”

 

“Lalu Nomasir merantau mencari kehidupan bagi dirinya sendiri, dengan membawa sekantung emas, dan lempeng tanah liat yang ia bungkus dengan hati-hati dengan sutera, budaknya dan dengan beberapa ekor kuda pergilah ia memulai usahanya.”

 

“Sepuluh tahun berlalu, dan Nomasir, sebagaimana telah disepakati, kembali ke kediaman ayahnya yang menyelenggarakan perjamuan besar menyambut kedatangan anaknya, mengundang banyak sahabat dan sanak saudara. Selesai berkenduri, kedua orang tuanya naik ke kedudukan mereka yang bagai tahta kerajaan pada satu sisi ruangan perjamuan yang besar itu, dan Nomasir berdiri di hadapan mereka menceritakan pengalaman dan hasil usahanya sebagaimana yang ia janjikan pada ayahnya.”

 

“Hari mulai malam. Ruangan itu sedikit berkabut asap dari sumbu dian minyak yang hanya dapat menerangi samar-samar ruangan itu. Budak-budak berbusana jaket putih tanpa kerah, mengayunkan kipas perlahan dengan berirama, mengalirkan udara lembab, dengan kipas bertangkai panjang dari pelepah palma. Suasana megah mewarnai ruangan saat itu. Istri Nomasir dan dua anak laki-lakinya, dengan sahabat dan para anggota keluarga lainnya, duduk di atas permadani di belakang Nomasir, semuanya bersiap-siap mendengarkan.”

 

“’Ayahku,’ ia mulai dengan tertib penuh kesopanan, ‘aku patuh pada ajaran kebijaksanaanmu. Sepuluh tahun lalu ketika aku beranjak dewasa, engkau minta aku merantau agar menjadi orang terhormat di dalam masyarakat, dari pada tinggal di rumah ini seolah menjadi raja di atas limpahan kekayaanmu.’”

 

“’Engkau antar aku berbekal sekantung emas. Engkau juga beri ajaran kebijaksanaan pengingat. Akan halnya emas, betapa sialnya! Harus kuakui bahwa aku telah mengelolanya dengan keliru. Semuanya lenyap, menguap, lari dari tanganku yang tidak berpengalaman bagaikan kuda betina liar yang pada kesepatan pertama lari dari jagaan remaja yang menangkapnya.’”

 

“Sang ayah tersenyum menikmati dengan mahfum. ‘Lanjutkan, anakku, ceritamu dengan segala perniknya sangat menarik hatiku.’”

 

“’Kuputuskan pergi ke Niniveh, kota yang sedang berkembang, dengan harapan aku akan mendapatkan kesempatan di sana. Aku bergabung dengan sebuah rombongan dan bersahabat dengan beberapa orang di antara anggota rombongan itu. Dua orang yang sangat fasih berbicara memiliki seekor kuda putih yang sangat bagus yang larinya sekencang angin.’”

 

“’Sepanjang perjalanan, mereka bercerita dengan yakinnya bahwa di Niniveh ada seorang kaya yang memiliki kuda yang dapat berlari sangat kencang dan tidak pernah terkalahkan. Pemiliknya percaya bahwa tidak ada seekorpun kuda yang dapat berpacu melampaui kecepatan kudanya. Oleh karena itu, ia berani bertaruh sebesar apapun bahwa kudanya akan mengalahkan semua kuda yang ada di Babilonia. Tetapi, dibandingkan dengan kuda putih miliknya, begitu kata sahabatku itu, paling-paling kuda di Niniveh itu hanya bagai bagai bagal kecapaian, dan pasti akan dengan mudah dikalahkan.’”

 

“’Mereka menawarkan, sebagai sebuah usulan pada rencana yang bagus, untuk mengizinkan aku menyertai mereka dalam taruhan itu. Aku benar-benar sangat tertarik dengan rencana itu.’”

 

“’Kuda kami kalah telak dan aku kehilangan sebagian besar emasku,’ Sang ayah tertawa. ‘Kemudian, baru kuketahui bahwa hal itu memang rencana jahat orang-orang itu, dan mereka telah melakukan hal itu berulangkali dengan menyertai rombongan-rombongan sambil mencari mangsa. Begitulah caranya. Orang kaya di Niniveh juga merupakan rekan kerja mereka, dan mereka mendapatkan bagian dari hasil kemenangannya. Cara penipuan yang canggih mengajarkan padaku pelajaran pertama dalam usahaku di rantau.’”

 

“’Segera setelah itu kupelajari lagi hal lainnya, yang sama pahitnya. Dalam rombongan itu ada seorang anak muda yang juga menjadi sahabatku. Dia anak seorang kaya dan, seperti halnya aku, merantau ke Niniveh untuk mencari lokasi yang cocok bagi usahanya. Segera setelah kesampaian kami di Niniveh, dia mengatakan kepadaku ada seorang saudagar yang meninggal dunia dan tokonya beserta banyak barang dagangan kepemilikannya akan dijual dengan harga yang sangat murah. Dia mengajak bekerja sama berdua dengan nilai yang sama separuh-separuh, tetapi untuk itu dia harus kembali dulu ke Babilonia mengambil emas untuk pembayaran bagian penanaman modalnya, jadi dia menganjurkan agar toko dan barang dagangan itu dibeli terlebih dahulu dengan emas milikku, dengan persetujuan bagian emas yang akan ia bayar akan kami gunakan nanti untuk memperluas usaha itu.’”

 

“’Lama ia menunda perjalanannya untuk kembali ke Babilonia, sementara itu ternyata juga bahwa dia bukanlah seorang yang pandai berdagang dan lebih-labih lagi dia suka berfoya-foya. Akhirnya, kerjasama dengannya kuhentikan, tetapi hal itu kulakukan lama setelah usaha kami menjadi sangat tidak menguntungkan, dan hanya barang-barang yang tidak laku yang masih tersisa dan sudah tidak ada lagi emas yang dapat digunakan untuk membeli barang dagangan baru. Kujual semua yang tersisa pada seorang Israel dengan harga yang sangat menyedihkan.’”

 

“’Segera saja datang susul menyusul, benar, ayahku, datang hari-hari yang pahit. Kucari pekerjaan tidak satu pun kudapatkan, karena aku tidak memiliki keahlian, dan tidak terlatih mencari nafkah keseharian. Aku jual kuda-kudaku. Aku jual budak-budakku. Aku jual pakaian-pakaianku untuk pembeli makanan dan pembayar tempat berteduh, hari-hari yang datang berikutnya semakin membawa hal-hal pahit yang kian memburuk.’”

 

“’Tetapi, pada hari-hari pahit sebegitu, aku selalu ingat akan kepercayaanmu padaku, ayahku. Engkau telah mengirimku ke rantau untuk menjadi orang, dan itulah yang membuat bulat semangatku menjalani dan mencapainya.’ Sang ibu menutup wajahnya dan terisak perlahan.”

 

“’Pada saat itu, teringat olehku akan lempeng tanah liat yang telah engkau bekalkan padaku yang di atasnya telah engkau goreskan lima hukum emas. Kemudian, kubaca dengan cermat uraian kebijaksanaan itu, dan kusadari bahwa sendainya saja kebijaksanaan ini telah kupelajari terlebih dahulu, emas-emasku tidak akan berlarian meninggalkanku. Kupelajari sampai hafal di luar kepala tiap-tiap hukum-hukum emas itu dan bertekad, apabila sekali lagi dewi kemujuran itu datang bersenyum kehadapanku, aku akan dipandu oleh kebijaksanaan yang sudah teruji oleh waktu itu, dan tidak oleh remaja hijau yang kurang berpengalaman.’”

 

“’Untuk pelajaran dan kebaikan bagi semua yang hadir setelah perjamuan malam ini. Aku akan bacakan ajaran kebijaksanaan ayahku yang digoreskannya pada lempeng tanah liat yang diberikannya padaku sepuluh tahun yang lalu :

 

Lima Hukum Emas

 

1.      Emas akan datang dengan senang hati dan dalam jumlah yang terus lebih banyak kepada seseorang yang menempatkan tidak kurang dari sepersepuluh yang dihasilkannya untuk dihimpun bagi masa depan dirinya dan keluarganya.

 

2.      Emas akan bekerja dengan rajin dan tekun bagi pemiliknya yang bijaksana yang dapat mengenal keuntungan yang dapat diperoleh dengan mempekerjakan emas, emas akan mampu melipatgandakan dirinya bagai ternak di padang yang subur.

 

3.      Emas akan senang bernaung dibawah lindungan pemiliknya yang berhati-hati, yang menanamkannya pada usaha-usaha dengan petunjuk ajaran kebijaksanaan orang yang sudah berpengalaman di bidangnya.

 

4.      Emas akan berlalu mengabaikan orang yang menanamkannya pada usaha atau penggunaannya dengan tujuan yang tidak begitu dikenalnya atau tidak diusahakan oleh orang ahli dalam pengelolaannya.

 

5.      Emas akan lari meninggalkan orang yang memaksakan pekerjaan padanya dengan harapan hasil yang tidak mungkin dicapai, atau orang yang mengikuti rayuan para penipu atau perancang kejahatan, atau orang yang terlalu percaya pada diri sendiri padahal ia kurang berpengalaman, atau mempekerjakannya pada usaha berdasarkan keinginan hati yang muncul dari angan-angan semata.’”

 

“’Itulah lima hukum emas sebagaimana ditulis oleh ayahku. Aku bahkan menyatakan hukum-hukum ini lebih bernilai dari pada emas itu sendiri, sebagaimana akan kutunjukkan dalam ceritaku selanjutnya.’”

 

“Ia kemudian mengulangi, berhadap-hadapan dengan ayahnya, ‘Telah kuceritakan betapa dalamnya jurang kemiskinan dan ketidakberdayaan yang telah diberikan ketidakberpengalamannya aku.’”

 

“’Namun, tidak ada rantai kemalangan yang tidak berakhir. Kejatuhanku terhenti, ketika kuperoleh pekerjaan mengawasi para budak yang dipekerjakan membangun tembok terluar kota yang baru.’”

 

“’Memanfaatkan pengetahuanku pada hukum emas yang petama, aku sisihkan sekeping perunggu dari penghasilanku yang pertama, menambahkan simpanan itu pada tiap kesempatan hingga dapat kuperoleh simpanan senilai sekeping perak. Sungguh suatu proses yang lamban sekali, apalagi aku juga masih harus memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari. Aku berbelanja dengan penuh gerutuan dan keluh kesah, kuakui, karena aku bertekad untuk mengembalikan semuanya sebelum jangka waktu sepuluh tahun berakhir sebanyak yang telah engkau, ayahku, berikan padaku.’”

 

“’Suatu hari, tuan para budak, yang aku sudah menjadi sangat bersahabat dengannya, berkata padaku : “Engkau memang anak muda yang hemat yang tidak menghambur-hamburkan apa yang engkau peroleh. Bukankah emas simpananmu tidak memberikanmu hasil apa pun?”’”

 

“’”Ya,” jawabku, ”Memang sudah kuniatkan untuk mengumpulkan emas untuk menggantikan apa yang telah diberikan ayahku yang telah kusalahusahakan.”’”

 

“’”Niat yang sangat baik, aku akan menjamin, dan tahukah engkau bahwa emas yang engkau kumpulkan itu dapat bekerja untukmu dan menghasilkan lebih banyak lagi emas bagimu?”’”

 

“’”Aduh! Pengalamanku teramat getir, emas ayahku berlarian meninggalkanku, dan aku masih sangat khawatir akan mengulang kejadian yang sama.”’”

 

“’”Kalau engkau mempercayaiku, aku akan berikan engkau pelajaran cara mengelola emas yang menguntungkan,” jawabnya. “Dalam satu tahun tembok terluar ini akan selesai dibangun dan segera disusul pembangunan gerbang perunggu pada tiap pintu masuk untuk melindungi kota dari musuh sang raja. Di seluruh Niniveh tidak tersedia cukup bahan untuk membuat gerbang itu dan sang raja belum lagi memikirkan bagaimana memperolehnya. Ini rencanaku : Kita bergabung, berkongsi mengumpulkan emas yang kita miliki dan mengirimkan satu karavan ke penambang-penambang perunggu dan timah, yang cukup jauh letaknya, dan membawa logam-logam itu ke Niniveh. Apabila sang raja memerintahkan, ‘Bangun gerbang-gerbang itu,’ hanya kita yang dapat menyediakan logamnya dan harga yang cukup lebih tinggi akan dibayarnya. Apabila sang raja tidak membelinya dari kita, kita tetap saja masih memiliki logam itu dan masih dapat menjualnya dengan harga pasar yang wajar.”’”

 

“’Dalam penawarannya aku meihat adanya kesempatan yang bagus yang harus diambil sesuai dengan hukum emas ketiga dan kutanamkan emas-emasku dengan petunjuk seorang yang bijaksana. Sungguh tidak mengecewakan. Kerja sama kami berhasil, dan bagian emasku yang kecil segera bertambah dengan hasil usaha itu.’”

 

“’Sejalan dengan berlalunya waktu, aku diterima berkongsi dalam kelompok yang sama dalam usaha-usaha lainnya. Mereka memang orang-orang bijaksana yang sangat berpengalaman dalam cara mengelola emas yang menguntungkan. Mereka bahas setiap rencana yang diajukan dengan menyeluruh dan sangat hati-hati sebelum benar-benar terjun kedalamnya. Mereka tidak membiarkan adanya kemungkinan kehilangan emas yang ditanamkannya atau membenamkannya pada usaha-usaha yang tidak menguntungkan yang tidak memungkinkan mereka menarik kembali emas yang ditanamnya. Hal-hal yang bodoh seperti mengikuti taruhan pacuan kereta kuda, atau pada kerjasama yang pernah kulakukan tanpa pengetahuan atau pengalaman sama sekali tidak mereka pertimbangkan. Mereka akan segera dapat menunjukkan kelemahan dan kekurangannya.’”

 

“’Melalui hubungan kerja dengan orang-orang ini, aku belajar menanamkan emasku dengan aman namun tetap memberikan hasil. Setelah beberapa tahun, harta simpananku bertambah lebih cepat. Aku tidak saja memperoleh kembali sebanyak yang pernah hilang dariku, bahkan jauh melebihinya.’”

 

“’Melalui kemalangan yang kualami, berbagai usaha-usahaku, dan keberhasilanku, aku telah menguji dari waktu ke waktu kebenaran ajaran kebijaksanaan lima hukum emas, ayahku, dan telah membuktikan hukum itu benar pada setiap pengujian. Bagi mereka yang tanpa pengetahuan akan lima hukum emas ini, emas sangat jarang datang, dan berlalu dengan cepatnya. Tetapi bagi mereka yang patuh melaksanakan lima hukum emas, emas datang kepadanya dan bekerja untuk dia bagaikan budak patuh yang sangat berguna.’”

 

“Nomasir menghentikan pembicaraannya dan memberikan aba-aba pada seorang budak yang berada di sudut belakang ruangan itu. Sang budak maju ke depan, membawa satu, setiap kali, tiga kantung kulit yang berat. Salah satunya diambil Nomasir dan ditempatkannya di atas lantai di hadapan ayahnya sambil mengatakan :”

 

“’Engkau telah memberiku sekantung emas, emas Babilonia. Di tempat yang sama ini, aku mengembalikan kepadamu satu kantung emas Niniveh yang sama beratnya. Pembayaran yang setimpal, aku kira semua akan menyetujuinya.’”

 

“’Engkau juga telah memberiku satu lempeng tanah liat berisikan ajaran kebijaksanaan. Untuk itulah, saat ini aku mengembalikan dua kantung emas.’ Sambil berkata begitu ia mengambil dua kantung lainnya dari sang budak, seperti kantung yang pertama, ia tempatkan di atas lantai di hadapan ayahnya.”

 

“’Dengan ini aku membuktikan padamu, ayahku, bahwa betapa lebih besarnya nilai yang kuberikan kepada ajaran kebijaksanaanmu dibandingkan dengan nilai emas. Tapi siapa yang dapat mengukur dengan berkantung emas, ajaran kebijaksanaan itu? Meski tak seorang pun dapat menilai ajaran kebijaksanaan dengan emas? Tanpa kebijaksanaan, emas akan lenyap dari tangan pemiliknya, tetapi dengan kabijaksanaan, emas dapat diperoleh siapa yang belum memilikinya, sebagaimana tiga kantung emas ini telah membuktikannya.’”

 

“’Sungguh, sungguh, memberikan aku rasa puas yang amat sangat, ayahku, berdiri dihadapanmu menyatakan hal ini, karena ajaran kebijaksanaanmu, aku telah mampu menjadi kaya, berada dan menjadi orang terhormat dalam masyarakat.””

 

“Sang ayah menempatkan telapak tangannya di atas kepala Nomasir. ‘Engkau telah melalui dengan baik pelajaranmu, dan aku, sungguh-sungguh, beruntung memiliki anak yang dapat kuandalkan menjaga harta dan meneruskan usahaku.’”

 

Kalabab menghentikan ceritanya dan memandang dengan menyelidik pada para pendengarnya.

 

“Apa artinya ini bagimu, cerita Nomasir ini?” lanjutnya.

 

“Siapa diantara kamu yang berani datang kepada ayahmu atau mertuamu dan menceritakan kebijaksanaannya dalam menggunaan hasil pencahariannya?”

 

“Apa yang akan difikirkan oleh orang yang kita hotmati itu jika engkau menghadap kepadanya dan berkata : ‘Saya telah merantau jauh dan belajar banyak hal bekerja keras dan memperoleh pencaharian yang banyak, tetapi emas hanya sedikit yang saya miliki. Sebagian penghasilan aku pergunakan dengan baik, sebagian lagi aku gunakan dengan sembarangan dan sebgian besar hilang karena salah penggunaannya.’”

 

“Apakah engkau masih mengira bahwa nasibmulah yang tidak menentu yang menentukan sehingga sebagian orang memiliki banyak emas, sebagian lagi tidak? Engkau samasekali keliru.”

 

“Seseorang memiliki banyak emas apabila dia mengetahui lima hukum emas dan menerapkannya dengan patuh.”

 

“Karena aku belajar lima hukum emas ini pada masa mudaku dan berpegangan padanya, aku dapat menjadi seorang saudagar berada. Bukan karena mantera-mantera aneh yang membuatku mengumpulkan semua kekayaanku.”

 

”Kekayaan yang datang dengan cepat akan bersegera pergi.”

 

“Kekayaan yang tinggal menetap yang dapat memberikan kegembiraan dan rasa puas bagi pemiliknya akan datang secara perlahan dan bertahap, karena ia lahir dari dan dengan pengetahuan dan ketekunan untuk mencapai tujuan jelas.”

 

“Memperoleh kekayaan hanyalah beban yang ringan semata bagi orang yang berpengetahuan. Menanggung beban ringan terus menerus berkepanjangan dari tahun ke tahun akan mendatangkan hasil sesuai dengan tujuan akhirnya.”

 

“Lima hukum emas menawarkan pada engkau semua imbalan kekayaan bagi yang melaksanakannya.”

 

“Tiap satu dari lima hukum emas ini kaya dengan sari pati ajaran, dan mungkin engkau semua tidak mencermati keberadaannya dalam cerita singkatku tadi. Sekarang aku akan mengulanginya. Aku menghafalnya diluar kepala karena pada masa mudaku, aku telah melihat betapa besar nilainya sehingga aku tidak cukup puas kalau tidak aku menyerapnya kata demi kata.”

 

 

Hukum Emas Yang Pertama

 

Emas akan datang dengan senang hati dan dalam jumlah yang terus lebih banyak kepada seseorang yang menempatkan tidak kurang dari sepersepuluh yang dihasilkannya untuk dihimpun bagi masa depan dirinya dan keluarganya.

 

 

“Setiap orang yang menyisihkan sepersepuluh hasil pencahariannya terus menerus dan menanamkannya dalam usaha dengan bijaksana pasti akan menghimpun harta yang bernilai yang akan dapat memberikan penghasilan baginya di masa yang akan datang dan lebih jauh lagi akan menjamin kemanan bagi keluarganya apabila terjadi Para Dewa memanggilnya ke alam arwah. Hukum ini selalu menyatakan bahwa emas akan datang dengan senang hati kepada orang yang sedemikian itu. Aku sudah membuktikannya pada kehidupanku sendiri. Semakin banyak emas yang kuhimpun, semakin banyak emas yang siap datang kepadaku dengan jumlah yang terus meningkat. Emas yang kusimpan memberikan tambahan hasil, bahkan kalau engkau menginginkan hasil yang dihasilkan emas itu akan ikut serta pula memberikan hasil lainnya, itulah cara kerja hukum emas yang pertama.”

 

 

Hukum Emas Yang Kedua

 

Emas akan bekerja dengan rajin dan tekun bagi pemiliknya yang bijaksana yang dapat mengenal keuntungan yang dapat diperoleh dengan mempekerjakan emas, emas akan mampu melipatgandakan dirinya bagai ternak di padang yang subur.

 

“Emas itu, memang, pekerja yang amat gigih. Ia akan bekerja lebih bersemangat melipatgandakan dirinya apabila kesempatan dihadapkan padanya. Bagi setiap orang yang telah memiliki simpanan emas, kesempatan akan datang bagi orang itu untuk memanfaatkannya dengan sepenuh guna. Selagi masa dan tahun berlalu, emas akan bertumbuh berlipatganda dengan kecepatan yang tak terduga.”

 

 

Hukum Emas Yang Ketiga

 

Emas akan senang bernaung dibawah lindungan pemiliknya yang berhati-hati, yang menanamkannya pada usaha-usaha dengan petunjuk ajaran kebijaksanaan orang yang sudah berpengalaman di bidangnya.

 

“Emas itu, memang, akan senang bernaung dibawah lindungan pemiliknya yang berhati-hati, seperti halnya ia meninggalkan pemiliknya yang cuai. Orang yang meminta nasihat dari orang yang ahli mengelola emas akan segera menyadari untuk tidak membahayakan dirinya dan emas miliknya, belajar untuk dengan hati-hati selalu menjaganya agar selamat dan dengan leganya melihat dan menikmati perkembangannya yang ajeg.”

 

 

Hukum Emas Yang Keempat

 

Emas akan berlalu mengabaikan orang yang menanamkannya pada usaha atau penggunaannya dengan tujuan yang tidak begitu dikenalnya atau tidak diusahakan oleh orang ahli dalam pengelolaannya.

 

“Bagi orang yang memiliki emas, tetapi tidak berpengetahuan untuk mengelolanya, beberapa diantaranya menggunakan emas untuk kegiatan yang terlihat paling sangat menguntungkan. Biasanya, hal ini berbahaya dan selalu diintai kerugian, dan apabila dicermati oleh orang yang bijaksana, akan terlihat hanya tipisnya keuntungan yang ada. Jadi, pemilik emas yang kurang berpengalaman yang hanya bertindak berdasarkan pengetahuan dan keinginannya, dan menanamkan emasnya pada usaha apapun atau tujuan apapun, yang tidak sama sekali dikenalnya, akan sering sekali mendapatkan bahwa tindakannya sangat tidak sempurna, dan harus membayarnya dengan emas-emasnya sebagai akibat hijaunya dia dalam pengalaman. Betuul, memang sangat bijaksana, orang yang menanamkan emasnya sesuai dengan anjuran kebijaksanaan orang yang berpengalaman dengan hukum emas.”

 

 

Hukum Emas Yang Kelima

 

Emas akan lari meninggalkan orang yang memaksakan pekerjaan padany dengan harapan hasil yang tidak mungkin dicapai, atau orang yang mengikuti rayuan para penipu atau perancang kejahatan, atau orang yang terlalu percaya pada diri sendiri padahal ia kurang berpengalaman, atau mempekerjakannya pada usaha berdasarkan keinginan hati yang muncul dari angan-angan semata.

 

“Tawaran yang menggiurkan yang menimbulkan gairah selalu datang kepada para pemilik emas yang baru. Usaha yang disuguhan seolah-olah memberikan kemampuan ajaib pada emasnya untuk memperoleh hasil yang menakjubkan yang hampir mustahil. Jadi berhati-hatilah, orang yang bijaksana akan selalu mengetahui ancaman yang mengendap-endap di balik setiap rencana yang menjanjikan kekayaan besar secara seketika.”

 

“Jangan lupakan orang kaya Niniveh yang tidak pernah membiarkan uang yang ditanamkannya dalam usaha akan berkurang atau terikat mati dalam penanaman usaha yang kurang menguntungkan.”

 

“Inilah akhir ceritaku tentang lima hukum emas. Dengan menyampaikannya kepada engkau semua, berarti aku telah menceritakan juga rahasia keberhasilanku sendiri.”

 

“Meskipun begitu, ternyata, tidak ada rahasia, hanya kebenaran semata yang pertama kali harus disadari oleh engkau semua, dan kemudian mengikuti orang yang melangkah keluar dari kebenaran yang sudah menjadi kebiasaan itu. Apakah engkau ingin seperti anjing liar itu, setiap hari masih harus memikirkan apa yang akan dimakan hari itu.”

 

“Besok, kita masuk ke Babilonia. Lihat! Lihat api yang membakar abadi di atas Kuil Genta! Kita sudah dapat memandang kota emas itu. Besok, setiap engkau akan mendapatkan emas, emas yang engkau peroleh dengan baik dari mata pencaharianmu.”

 

“Sepuluh tahun dari malam ini, apa yang akan engkau ceritakan tentang emas-emas itu?”

 

“Apakah ada di antara engkau, seseorang, seperti Nomasir, yang akan menggunakan sebagian emasnya untuk mulai menghimpun awal kekayaannya dan selanjutnya mengelolanya dengan bimbingan ajaran kebijaksanaan Arkad, sepuluh tahun dari sekarang, berkembang dengan aman dan leluasa, seperti anak Arkad, dia akan kaya-raya dan menjadi orang yang terhormat dalam masyarakat.”

 

“Tindakan bijaksana yang kita lakukan akan menyertai perjalanan hidup kita, melegakan hati dan menolong kita. Sama pastinya, tindakan sembrono akan membuntuti, tertempel dan menyengsarakan kita dengan penyesalan. Sayang! Mereka tidak dapat kita lupakan. Hal-hal pertama yang paling kita sesalkan yang akan selalu menelangsakan hati adalah hal yang seharusnya kita lakukan tetapi tidak, dan kesempatan yang datang kehadapan kita untuk kita raih, tetapi tidak.”

 

“Sungguh melimpah kekayaan Babilonia, begitu berlimpahnya tidak seorangpun dapat menghitung berapa kantung emas nilainya. Setiap tahun mereka bertambah kaya dan lebih bernilai. Seperti kekayaan di mana pun adanya, akan selalu mendatangkan hasil, hasil yang lebih melimpah menunggu orang yang mengetahui dengan jelas arah usahanya dan bertekad untuk memperoleh hasil yang pantas sesuai pencahariannya.”

 

“Dalam semangat tekadmu ada kekuatan ajaib. Arahkan kekuatan ini dengan apa yang engkau ketahui dari lima hukum emas maka engkau akan memperoleh bagian dari kekayaan Babilonia.”

 

 

 

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar