LIMA HUKUM EMAS
“Sekarung penuh emas atau sekarung penuh lempengan tanah
liat bertuliskan kata-kata bijaksana; apabila engkau diberikan pilihan seperti
itu, yang manakah yang engkau pilih?”
Di bawah bayangan api unggun dari belukar gurun, wajah-wajah
terbakar matahari yang mendengarnya bergoyang binarnya dengan bayangan sinar
unggun.
“Emas, emas,” seru keduapuluhtujuh orang itu.
Kalabab tua tersenyum, ia sudah dapat memastikan jawaban
itu.
“Hei,” lanjutnya, sambil menaikkan lengannya. “Dengar
gonggongan anjing liar di kelam malam itu. Mereka melolong dan
mengibas-ngibaskan ekornya, mereka kurus dan lapar. Coba beri mereka makan, apa
yang mereka perbuat? Berebut, berkelahi dan berkumpul lagi. Kemudian berebutan
lagi berkelahi lagi dan berkumpul lagi, tanpa memikirkan apapun yang pasti akan
terjadi esok hari.”
“Hal yang sama juga dilakukan manusia. Berikan mereka
pilihan antara emas dan kebijaksanaan – apa yang mereka lakukan? Abaikan
kebijaksanaan dan hamburkan emas. Besok mereka akan merengek kehabisan emas.”
“Emas memang hanya untuk dimiliki orang-orang mengetahui
hukum-hukum emas dan mematuhinya.”
Kalabab menarik ujung jubah putihnya menutupi kaki kurusnya,
melindunginya dari angin dingin gurun yang mulai berhembus.
“Karena engkau sudah melayaniku dengan sepenuh hati
sepanjang perjalanan kita, karena engkau sudah merawat unta-untaku dengan baik,
karena engkau semua telah menembus panas pasir gurun tanpa keluhan. Karena
engkau telah berjuang melawan para perompak dengan berani sehingga membuat
barang daganganku tak terganggu, aku akan menceritakan pada engkau semua malam
ini kisah lima hukum emas, kisah ini merupakan riwayat yang belum pernah engkau
dengar sebelumnya.”
“Hai engkau semua, dengarlah dengan perhatian penuh apa yang
akan akau kisahkan ini, karena apabila engkau dapat menangkap maksudnya dan
mengingat dan menggunakannya, suatu hari nanti engkau akan dapat memiliki emas
yang berlimpah.”
Ia tegun dengan berwibawa sejenak. Di atas, dalam lingkupan
biru temaram langit, bintang-bintang bertaburan di langit Babilonia yang cerah
tak berawan. Di belakang kelompok orang-orang itu bayangan kabur tenda-tenda
yang terpasang kukuh yang dapat menghadang badai gurun apabila ia datang. Di
sebelah tenda-tenda itu tertumpuk rapi berbungkus-bungkus barang dagangan
ditutupi kulit. Tidak jauh dari situ unta-unta duduk berjajar di atas pasir,
sebagian terus terlihat lahap memamah biak, lainnya berdengkur keras tanpa
irama.
“Engkau telah menceritakan kepada kami banyak sekali cerita
menarik, Kalabab,” ujar pimpinan pekerja. “Kami memerlukan kebijakanmu yang
dapat mengajari kami, bukankah besok pekerjaan kami telah selesai.”
“Aku telah menceritakan kepada engkau pengalamanku di negeri
asing dan negeri-negeri yang jauh, tetapi malam ini aku akan meriwayatkan kepada
engkau kebijaksanaan Arkad, orang bijak yang kaya raya.”
“Sudah banyak yang kami dengar tentang dia,” sahut pemimpin
pekerja itu, “karena dia orang terkaya yang pernah hidup di Babilonia.”
“Dia memang orang terkaya, dan itu disebabkan karena kebijaksanaannya
dalam hukum emas, bahkan belum pernah ada orang sebijaksana dia sebelumnya.
Malam ini aku akan ceritakan kebijaksanaan utamanya sebagaimana diceritakan
oleh Nomasir, anaknya, beberapa tahun yang lalu di Niniveh, ketika itu aku
masih seorang remaja.”
“Aku dan tuan-ku telah penuh berdebu berjalan melalui gelap
malam ke istana Nomasir. Aku membantu tuan-ku membawa banyak sekali bungkusan
permadani mewah, yang tiap-tiap permadani diamati oleh Nomasir hingga pilihan
corak-warnanya sesuai dengan keinginannya. Akhirnya ia cukup puas dan meminta
kami duduk bersama dengannya dan minum minuman terpilih yang langka yang baunya
yang enak sangat melonggarkan nafas di hidungku dan minuman itu juga
menghangatkan perutku, yang tidak terbiasa dengan minuman seperti itu.”
“Kemudian, ia menceritakan kepada kami kebijaksanaan Arkad,
ayahnya, itulah yang akan kuceritakan kembali kepadamu.”
“Di Babilonia sudah menjadi adat kebiasaan, seperti yang
juga engkau ketahui, anak laki-laki seorang yang kaya raya akan tinggal bersama
orang tuanya kemudian diharapkan akan mewarisi kekayaan itu. Arkad tidak begitu
sependapat dengan adat kebiasaan itu. Oleh karena itu, ketika Nomasir mencapai
usia dewasa ia menyampaikan pesan padanya :
“Anakku, aku berkeinginan agar engkau melanjutkan
keberhasilan yang aku telah capai dalam hidupku. Namun, engkau harus,
pertama-tama membuktikan bahwa engkau akan mampu mengelola kekayaan ini dengan
bijaksana. Oleh karena itu, aku mengharapkan engkau pergi merantau ke dunia di luar
sana dan tunjukkan kemampuanmu untuk menghasilkan emas dan buat dirimu menjadi
orang yang terhormat di tengah masyarakat.”
“Untuk memulainya dengan baik, aku akan berikan dua hal
yang, aku sendiri, ketika aku sebagai seorang muda yang miskin, yang mulai
mengumpulkan kekayaan, tidak memilikinya.”
“Pertama, kuberikan sekantung emas. Apabila engkau gunakan
dengan bijaksana, ia akan menjadi landasan keberhasilanmu di masa yang akan
datang.”
“Kedua, kuberikan engkau lempeng tanah liat ini yang
diatasnya tertulis lima hukum emas. Apabila engkau hayati dan wujudkan dalam
kegiatan usahamu, ia akan memberikanmu kemampuan dan perlindungan.
“Sepuluh tahun dari sekarang kembalilah engkau kerumah
ayahmu ini dan tunjukkan hasil kegiatanmu. Apabila ternyata engkau berhasil,
aku akan menjadikan engkau ahli warisku. Sebaliknya, kalau engkau gagal, aku
akan berikan harta bendaku pada para imam yang mungkin dapat menukarnya dengan
sesuatu yang dapat menenangkan jiwaku dan hal-hal yang menyenangkan Para Dewa.”
“Lalu Nomasir merantau mencari kehidupan bagi dirinya
sendiri, dengan membawa sekantung emas, dan lempeng tanah liat yang ia bungkus
dengan hati-hati dengan sutera, budaknya dan dengan beberapa ekor kuda pergilah
ia memulai usahanya.”
“Sepuluh tahun berlalu, dan Nomasir, sebagaimana telah
disepakati, kembali ke kediaman ayahnya yang menyelenggarakan perjamuan besar
menyambut kedatangan anaknya, mengundang banyak sahabat dan sanak saudara.
Selesai berkenduri, kedua orang tuanya naik ke kedudukan mereka yang bagai
tahta kerajaan pada satu sisi ruangan perjamuan yang besar itu, dan Nomasir
berdiri di hadapan mereka menceritakan pengalaman dan hasil usahanya
sebagaimana yang ia janjikan pada ayahnya.”
“Hari mulai malam. Ruangan itu sedikit berkabut asap dari
sumbu dian minyak yang hanya dapat menerangi samar-samar ruangan itu.
Budak-budak berbusana jaket putih tanpa kerah, mengayunkan kipas perlahan
dengan berirama, mengalirkan udara lembab, dengan kipas bertangkai panjang dari
pelepah palma. Suasana megah mewarnai ruangan saat itu. Istri Nomasir dan dua
anak laki-lakinya, dengan sahabat dan para anggota keluarga lainnya, duduk di
atas permadani di belakang Nomasir, semuanya bersiap-siap mendengarkan.”
“’Ayahku,’ ia mulai dengan tertib penuh kesopanan, ‘aku
patuh pada ajaran kebijaksanaanmu. Sepuluh tahun lalu ketika aku beranjak
dewasa, engkau minta aku merantau agar menjadi orang terhormat di dalam
masyarakat, dari pada tinggal di rumah ini seolah menjadi raja di atas limpahan
kekayaanmu.’”
“’Engkau antar aku berbekal sekantung emas. Engkau juga beri
ajaran kebijaksanaan pengingat. Akan halnya emas, betapa sialnya! Harus kuakui
bahwa aku telah mengelolanya dengan keliru. Semuanya lenyap, menguap, lari dari
tanganku yang tidak berpengalaman bagaikan kuda betina liar yang pada kesepatan
pertama lari dari jagaan remaja yang menangkapnya.’”
“Sang ayah tersenyum menikmati dengan mahfum. ‘Lanjutkan,
anakku, ceritamu dengan segala perniknya sangat menarik hatiku.’”
“’Kuputuskan pergi ke Niniveh, kota yang sedang berkembang,
dengan harapan aku akan mendapatkan kesempatan di sana. Aku bergabung dengan
sebuah rombongan dan bersahabat dengan beberapa orang di antara anggota
rombongan itu. Dua orang yang sangat fasih berbicara memiliki seekor kuda putih
yang sangat bagus yang larinya sekencang angin.’”
“’Sepanjang perjalanan, mereka bercerita dengan yakinnya
bahwa di Niniveh ada seorang kaya yang memiliki kuda yang dapat berlari sangat
kencang dan tidak pernah terkalahkan. Pemiliknya percaya bahwa tidak ada
seekorpun kuda yang dapat berpacu melampaui kecepatan kudanya. Oleh karena itu,
ia berani bertaruh sebesar apapun bahwa kudanya akan mengalahkan semua kuda
yang ada di Babilonia. Tetapi, dibandingkan dengan kuda putih miliknya, begitu
kata sahabatku itu, paling-paling kuda di Niniveh itu hanya bagai bagai bagal
kecapaian, dan pasti akan dengan mudah dikalahkan.’”
“’Mereka menawarkan, sebagai sebuah usulan pada rencana yang
bagus, untuk mengizinkan aku menyertai mereka dalam taruhan itu. Aku
benar-benar sangat tertarik dengan rencana itu.’”
“’Kuda kami kalah telak dan aku kehilangan sebagian besar
emasku,’ Sang ayah tertawa. ‘Kemudian, baru kuketahui bahwa hal itu memang
rencana jahat orang-orang itu, dan mereka telah melakukan hal itu berulangkali
dengan menyertai rombongan-rombongan sambil mencari mangsa. Begitulah caranya.
Orang kaya di Niniveh juga merupakan rekan kerja mereka, dan mereka mendapatkan
bagian dari hasil kemenangannya. Cara penipuan yang canggih mengajarkan padaku
pelajaran pertama dalam usahaku di rantau.’”
“’Segera setelah itu kupelajari lagi hal lainnya, yang sama
pahitnya. Dalam rombongan itu ada seorang anak muda yang juga menjadi
sahabatku. Dia anak seorang kaya dan, seperti halnya aku, merantau ke Niniveh
untuk mencari lokasi yang cocok bagi usahanya. Segera setelah kesampaian kami
di Niniveh, dia mengatakan kepadaku ada seorang saudagar yang meninggal dunia
dan tokonya beserta banyak barang dagangan kepemilikannya akan dijual dengan
harga yang sangat murah. Dia mengajak bekerja sama berdua dengan nilai yang
sama separuh-separuh, tetapi untuk itu dia harus kembali dulu ke Babilonia
mengambil emas untuk pembayaran bagian penanaman modalnya, jadi dia
menganjurkan agar toko dan barang dagangan itu dibeli terlebih dahulu dengan emas
milikku, dengan persetujuan bagian emas yang akan ia bayar akan kami gunakan
nanti untuk memperluas usaha itu.’”
“’Lama ia menunda perjalanannya untuk kembali ke Babilonia,
sementara itu ternyata juga bahwa dia bukanlah seorang yang pandai berdagang
dan lebih-labih lagi dia suka berfoya-foya. Akhirnya, kerjasama dengannya
kuhentikan, tetapi hal itu kulakukan lama setelah usaha kami menjadi sangat
tidak menguntungkan, dan hanya barang-barang yang tidak laku yang masih tersisa
dan sudah tidak ada lagi emas yang dapat digunakan untuk membeli barang
dagangan baru. Kujual semua yang tersisa pada seorang Israel dengan harga yang
sangat menyedihkan.’”
“’Segera saja datang susul menyusul, benar, ayahku, datang hari-hari
yang pahit. Kucari pekerjaan tidak satu pun kudapatkan, karena aku tidak
memiliki keahlian, dan tidak terlatih mencari nafkah keseharian. Aku jual
kuda-kudaku. Aku jual budak-budakku. Aku jual pakaian-pakaianku untuk pembeli
makanan dan pembayar tempat berteduh, hari-hari yang datang berikutnya semakin
membawa hal-hal pahit yang kian memburuk.’”
“’Tetapi, pada hari-hari pahit sebegitu, aku selalu ingat
akan kepercayaanmu padaku, ayahku. Engkau telah mengirimku ke rantau untuk
menjadi orang, dan itulah yang membuat bulat semangatku menjalani dan
mencapainya.’ Sang ibu menutup wajahnya dan terisak perlahan.”
“’Pada saat itu, teringat olehku akan lempeng tanah liat yang
telah engkau bekalkan padaku yang di atasnya telah engkau goreskan lima hukum
emas. Kemudian, kubaca dengan cermat uraian kebijaksanaan itu, dan kusadari
bahwa sendainya saja kebijaksanaan ini telah kupelajari terlebih dahulu,
emas-emasku tidak akan berlarian meninggalkanku. Kupelajari sampai hafal di
luar kepala tiap-tiap hukum-hukum emas itu dan bertekad, apabila sekali lagi
dewi kemujuran itu datang bersenyum kehadapanku, aku akan dipandu oleh kebijaksanaan
yang sudah teruji oleh waktu itu, dan tidak oleh remaja hijau yang kurang
berpengalaman.’”
“’Untuk pelajaran dan kebaikan bagi semua yang hadir setelah
perjamuan malam ini. Aku akan bacakan ajaran kebijaksanaan ayahku yang
digoreskannya pada lempeng tanah liat yang diberikannya padaku sepuluh tahun
yang lalu :
Lima Hukum Emas
1. Emas
akan datang dengan senang hati dan dalam jumlah yang terus lebih banyak kepada
seseorang yang menempatkan tidak kurang dari sepersepuluh yang dihasilkannya
untuk dihimpun bagi masa depan dirinya dan keluarganya.
2. Emas
akan bekerja dengan rajin dan tekun bagi pemiliknya yang bijaksana yang dapat
mengenal keuntungan yang dapat diperoleh dengan mempekerjakan emas, emas akan mampu
melipatgandakan dirinya bagai ternak di padang yang subur.
3. Emas
akan senang bernaung dibawah lindungan pemiliknya yang berhati-hati, yang
menanamkannya pada usaha-usaha dengan petunjuk ajaran kebijaksanaan orang yang sudah berpengalaman
di bidangnya.
4. Emas
akan berlalu mengabaikan orang yang menanamkannya pada usaha atau penggunaannya
dengan tujuan yang tidak begitu dikenalnya atau tidak diusahakan oleh orang
ahli dalam pengelolaannya.
5. Emas
akan lari meninggalkan orang yang memaksakan pekerjaan padanya dengan harapan
hasil yang tidak mungkin dicapai, atau orang yang mengikuti rayuan para penipu atau perancang
kejahatan,
atau orang yang terlalu percaya pada diri sendiri padahal ia kurang
berpengalaman, atau mempekerjakannya pada usaha berdasarkan keinginan hati yang
muncul dari angan-angan semata.’”
“’Itulah lima hukum emas sebagaimana ditulis oleh ayahku.
Aku bahkan menyatakan hukum-hukum ini lebih bernilai dari pada emas itu
sendiri, sebagaimana akan kutunjukkan dalam ceritaku selanjutnya.’”
“Ia kemudian mengulangi, berhadap-hadapan dengan ayahnya,
‘Telah kuceritakan betapa dalamnya jurang kemiskinan dan ketidakberdayaan yang
telah diberikan ketidakberpengalamannya aku.’”
“’Namun, tidak ada rantai kemalangan yang tidak berakhir.
Kejatuhanku terhenti, ketika kuperoleh pekerjaan mengawasi para budak yang
dipekerjakan membangun tembok terluar kota yang baru.’”
“’Memanfaatkan pengetahuanku pada hukum emas yang petama,
aku sisihkan sekeping perunggu dari penghasilanku yang pertama, menambahkan
simpanan itu pada tiap kesempatan hingga dapat kuperoleh simpanan senilai sekeping
perak. Sungguh suatu proses yang lamban sekali, apalagi aku juga masih harus
memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari. Aku berbelanja dengan penuh gerutuan
dan keluh kesah, kuakui, karena aku bertekad untuk mengembalikan semuanya
sebelum jangka waktu sepuluh tahun berakhir sebanyak yang telah engkau, ayahku,
berikan padaku.’”
“’Suatu hari, tuan para budak, yang aku sudah menjadi sangat
bersahabat dengannya, berkata padaku : “Engkau memang anak muda yang hemat yang
tidak menghambur-hamburkan apa yang engkau peroleh. Bukankah emas simpananmu
tidak memberikanmu hasil apa pun?”’”
“’”Ya,” jawabku, ”Memang sudah kuniatkan untuk mengumpulkan
emas untuk menggantikan apa yang telah diberikan ayahku yang telah
kusalahusahakan.”’”
“’”Niat yang sangat baik, aku akan menjamin, dan tahukah
engkau bahwa emas yang engkau kumpulkan itu dapat bekerja untukmu dan
menghasilkan lebih banyak lagi emas bagimu?”’”
“’”Aduh! Pengalamanku teramat getir, emas ayahku berlarian
meninggalkanku, dan aku masih sangat khawatir akan mengulang kejadian yang
sama.”’”
“’”Kalau engkau mempercayaiku, aku akan berikan engkau
pelajaran cara mengelola emas yang menguntungkan,” jawabnya. “Dalam satu tahun
tembok terluar ini akan selesai dibangun dan segera disusul pembangunan gerbang
perunggu pada tiap pintu masuk untuk melindungi kota dari musuh sang raja. Di
seluruh Niniveh tidak tersedia cukup bahan untuk membuat gerbang itu dan sang
raja belum lagi memikirkan bagaimana memperolehnya. Ini rencanaku : Kita
bergabung, berkongsi mengumpulkan emas yang kita miliki dan mengirimkan satu
karavan ke penambang-penambang perunggu dan timah, yang cukup jauh letaknya,
dan membawa logam-logam itu ke Niniveh. Apabila sang raja memerintahkan,
‘Bangun gerbang-gerbang itu,’ hanya kita yang dapat menyediakan logamnya dan
harga yang cukup lebih tinggi akan dibayarnya. Apabila sang raja tidak
membelinya dari kita, kita tetap saja masih memiliki logam itu dan masih dapat
menjualnya dengan harga pasar yang wajar.”’”
“’Dalam penawarannya aku meihat adanya kesempatan yang bagus
yang harus diambil sesuai dengan hukum emas ketiga dan kutanamkan emas-emasku
dengan petunjuk seorang yang bijaksana. Sungguh tidak mengecewakan. Kerja sama
kami berhasil, dan bagian emasku yang kecil segera bertambah dengan hasil usaha
itu.’”
“’Sejalan dengan berlalunya waktu, aku diterima berkongsi
dalam kelompok yang sama dalam usaha-usaha lainnya. Mereka memang orang-orang
bijaksana yang sangat berpengalaman dalam cara mengelola emas yang
menguntungkan. Mereka bahas setiap rencana yang diajukan dengan menyeluruh dan
sangat hati-hati sebelum benar-benar terjun kedalamnya. Mereka tidak membiarkan
adanya kemungkinan kehilangan emas yang ditanamkannya atau membenamkannya pada
usaha-usaha yang tidak menguntungkan yang tidak memungkinkan mereka menarik
kembali emas yang ditanamnya. Hal-hal yang bodoh seperti mengikuti taruhan
pacuan kereta kuda, atau pada kerjasama yang pernah kulakukan tanpa pengetahuan
atau pengalaman sama sekali tidak mereka pertimbangkan. Mereka akan segera
dapat menunjukkan kelemahan dan kekurangannya.’”
“’Melalui hubungan kerja dengan orang-orang ini, aku belajar
menanamkan emasku dengan aman namun tetap memberikan hasil. Setelah beberapa
tahun, harta simpananku bertambah lebih cepat. Aku tidak saja memperoleh
kembali sebanyak yang pernah hilang dariku, bahkan jauh melebihinya.’”
“’Melalui kemalangan yang kualami, berbagai usaha-usahaku,
dan keberhasilanku, aku telah menguji dari waktu ke waktu kebenaran ajaran
kebijaksanaan lima hukum emas, ayahku, dan telah membuktikan hukum itu benar
pada setiap pengujian. Bagi mereka yang tanpa pengetahuan akan lima hukum emas
ini, emas sangat jarang datang, dan berlalu dengan cepatnya. Tetapi bagi mereka
yang patuh melaksanakan lima hukum emas, emas datang kepadanya dan bekerja
untuk dia bagaikan budak patuh yang sangat berguna.’”
“Nomasir menghentikan pembicaraannya dan memberikan aba-aba
pada seorang budak yang berada di sudut belakang ruangan itu. Sang budak maju
ke depan, membawa satu, setiap kali, tiga kantung kulit yang berat. Salah
satunya diambil Nomasir dan ditempatkannya di atas lantai di hadapan ayahnya
sambil mengatakan :”
“’Engkau telah memberiku sekantung emas, emas Babilonia. Di
tempat yang sama ini, aku mengembalikan kepadamu satu kantung emas Niniveh yang
sama beratnya. Pembayaran yang setimpal, aku kira semua akan menyetujuinya.’”
“’Engkau juga telah memberiku satu lempeng tanah liat
berisikan ajaran kebijaksanaan. Untuk itulah, saat ini aku mengembalikan dua
kantung emas.’ Sambil berkata begitu ia mengambil dua kantung lainnya dari sang
budak, seperti kantung yang pertama, ia tempatkan di atas lantai di hadapan
ayahnya.”
“’Dengan ini aku membuktikan padamu, ayahku, bahwa betapa
lebih besarnya nilai yang kuberikan kepada ajaran kebijaksanaanmu dibandingkan
dengan nilai emas. Tapi siapa yang dapat mengukur dengan berkantung emas,
ajaran kebijaksanaan itu? Meski tak seorang pun dapat menilai ajaran
kebijaksanaan dengan emas? Tanpa kebijaksanaan, emas akan lenyap dari tangan
pemiliknya, tetapi dengan kabijaksanaan, emas dapat diperoleh siapa yang belum
memilikinya, sebagaimana tiga kantung emas ini telah membuktikannya.’”
“’Sungguh, sungguh, memberikan aku rasa puas yang amat
sangat, ayahku, berdiri dihadapanmu menyatakan hal ini, karena ajaran
kebijaksanaanmu, aku telah mampu menjadi kaya, berada dan menjadi orang
terhormat dalam masyarakat.””
“Sang ayah menempatkan telapak tangannya di atas kepala
Nomasir. ‘Engkau telah melalui dengan baik pelajaranmu, dan aku,
sungguh-sungguh, beruntung memiliki anak yang dapat kuandalkan menjaga harta
dan meneruskan usahaku.’”
Kalabab menghentikan ceritanya dan memandang dengan
menyelidik pada para pendengarnya.
“Apa artinya ini bagimu, cerita Nomasir ini?” lanjutnya.
“Siapa diantara kamu yang berani datang kepada ayahmu atau
mertuamu dan menceritakan kebijaksanaannya dalam menggunaan hasil pencahariannya?”
“Apa yang akan difikirkan oleh orang yang kita hotmati itu
jika engkau menghadap kepadanya dan berkata : ‘Saya telah merantau jauh dan
belajar banyak hal bekerja keras dan memperoleh pencaharian yang banyak, tetapi
emas hanya sedikit yang saya miliki. Sebagian penghasilan aku pergunakan dengan
baik, sebagian lagi aku gunakan dengan sembarangan dan sebgian besar hilang
karena salah penggunaannya.’”
“Apakah engkau masih mengira bahwa nasibmulah yang tidak
menentu yang menentukan sehingga sebagian orang memiliki banyak emas, sebagian
lagi tidak? Engkau samasekali keliru.”
“Seseorang memiliki banyak emas apabila dia mengetahui lima
hukum emas dan menerapkannya dengan patuh.”
“Karena aku belajar lima hukum emas ini pada masa mudaku dan
berpegangan padanya, aku dapat menjadi seorang saudagar berada. Bukan karena
mantera-mantera aneh yang membuatku mengumpulkan semua kekayaanku.”
”Kekayaan yang datang dengan cepat akan bersegera pergi.”
“Kekayaan yang tinggal menetap yang dapat memberikan
kegembiraan dan rasa puas bagi pemiliknya akan datang secara perlahan dan
bertahap, karena ia lahir dari dan dengan pengetahuan dan ketekunan untuk
mencapai tujuan jelas.”
“Memperoleh kekayaan hanyalah beban yang ringan semata bagi
orang yang berpengetahuan. Menanggung beban ringan terus menerus berkepanjangan
dari tahun ke tahun akan mendatangkan hasil sesuai dengan tujuan akhirnya.”
“Lima hukum emas menawarkan pada engkau semua imbalan
kekayaan bagi yang melaksanakannya.”
“Tiap satu dari lima hukum emas ini kaya dengan sari pati
ajaran, dan mungkin engkau semua tidak mencermati keberadaannya dalam cerita
singkatku tadi. Sekarang aku akan mengulanginya. Aku menghafalnya diluar kepala
karena pada masa mudaku, aku telah melihat betapa besar nilainya sehingga aku
tidak cukup puas kalau tidak aku menyerapnya kata demi kata.”
Hukum Emas Yang
Pertama
Emas akan datang dengan senang hati dan dalam jumlah yang terus lebih
banyak kepada seseorang yang menempatkan tidak kurang dari sepersepuluh yang
dihasilkannya untuk dihimpun bagi masa depan dirinya dan keluarganya.
“Setiap orang yang menyisihkan sepersepuluh hasil
pencahariannya terus menerus dan menanamkannya dalam usaha dengan bijaksana
pasti akan menghimpun harta yang bernilai yang akan dapat memberikan
penghasilan baginya di masa yang akan datang dan lebih jauh lagi akan menjamin
kemanan bagi keluarganya apabila terjadi Para Dewa memanggilnya ke alam arwah.
Hukum ini selalu menyatakan bahwa emas akan datang dengan senang hati kepada
orang yang sedemikian itu. Aku sudah membuktikannya pada kehidupanku sendiri.
Semakin banyak emas yang kuhimpun, semakin banyak emas yang siap datang
kepadaku dengan jumlah yang terus meningkat. Emas yang kusimpan memberikan
tambahan hasil, bahkan kalau engkau menginginkan hasil yang dihasilkan emas itu
akan ikut serta pula memberikan hasil lainnya, itulah cara kerja hukum emas
yang pertama.”
Hukum Emas Yang Kedua
Emas akan bekerja dengan rajin dan tekun bagi pemiliknya yang bijaksana
yang dapat mengenal keuntungan yang dapat diperoleh dengan mempekerjakan emas,
emas akan mampu melipatgandakan dirinya bagai ternak di padang yang subur.
“Emas itu, memang, pekerja yang amat gigih. Ia akan bekerja
lebih bersemangat melipatgandakan dirinya apabila kesempatan dihadapkan
padanya. Bagi setiap orang yang telah memiliki simpanan emas, kesempatan akan
datang bagi orang itu untuk memanfaatkannya dengan sepenuh guna. Selagi masa
dan tahun berlalu, emas akan bertumbuh berlipatganda dengan kecepatan yang tak
terduga.”
Hukum Emas Yang Ketiga
Emas akan senang bernaung dibawah lindungan pemiliknya yang
berhati-hati, yang menanamkannya pada usaha-usaha dengan petunjuk ajaran
kebijaksanaan orang yang sudah berpengalaman di bidangnya.
“Emas itu, memang, akan senang bernaung dibawah lindungan
pemiliknya yang berhati-hati, seperti halnya ia meninggalkan pemiliknya yang
cuai. Orang yang meminta nasihat dari orang yang ahli mengelola emas akan
segera menyadari untuk tidak membahayakan dirinya dan emas miliknya, belajar
untuk dengan hati-hati selalu menjaganya agar selamat dan dengan leganya melihat
dan menikmati perkembangannya yang ajeg.”
Hukum Emas Yang Keempat
Emas akan berlalu mengabaikan orang yang menanamkannya pada usaha atau
penggunaannya dengan tujuan yang tidak begitu dikenalnya atau tidak diusahakan
oleh orang ahli dalam pengelolaannya.
“Bagi orang yang memiliki emas, tetapi tidak berpengetahuan
untuk mengelolanya, beberapa diantaranya menggunakan emas untuk kegiatan yang
terlihat paling sangat menguntungkan. Biasanya, hal ini berbahaya dan selalu
diintai kerugian, dan apabila dicermati oleh orang yang bijaksana, akan
terlihat hanya tipisnya keuntungan yang ada. Jadi, pemilik emas yang kurang
berpengalaman yang hanya bertindak berdasarkan pengetahuan dan keinginannya,
dan menanamkan emasnya pada usaha apapun atau tujuan apapun, yang tidak sama
sekali dikenalnya, akan sering sekali mendapatkan bahwa tindakannya sangat
tidak sempurna, dan harus membayarnya dengan emas-emasnya sebagai akibat
hijaunya dia dalam pengalaman. Betuul, memang sangat bijaksana, orang yang
menanamkan emasnya sesuai dengan anjuran kebijaksanaan orang yang berpengalaman
dengan hukum emas.”
Hukum Emas Yang Kelima
Emas akan lari meninggalkan orang yang memaksakan pekerjaan padany
dengan harapan hasil yang tidak mungkin dicapai, atau orang yang mengikuti
rayuan para penipu atau perancang kejahatan, atau orang yang terlalu percaya
pada diri sendiri padahal ia kurang berpengalaman, atau mempekerjakannya pada
usaha berdasarkan keinginan hati yang muncul dari angan-angan semata.
“Tawaran yang menggiurkan yang menimbulkan gairah selalu
datang kepada para pemilik emas yang baru. Usaha yang disuguhan seolah-olah
memberikan kemampuan ajaib pada emasnya untuk memperoleh hasil yang menakjubkan
yang hampir mustahil. Jadi berhati-hatilah, orang yang bijaksana akan selalu
mengetahui ancaman yang mengendap-endap di balik setiap rencana yang menjanjikan
kekayaan besar secara seketika.”
“Jangan lupakan orang kaya Niniveh yang tidak pernah
membiarkan uang yang ditanamkannya dalam usaha akan berkurang atau terikat mati
dalam penanaman usaha yang kurang menguntungkan.”
“Inilah akhir ceritaku tentang lima hukum emas. Dengan
menyampaikannya kepada engkau semua, berarti aku telah menceritakan juga
rahasia keberhasilanku sendiri.”
“Meskipun begitu, ternyata, tidak ada rahasia, hanya
kebenaran semata yang pertama kali harus disadari oleh engkau semua, dan kemudian
mengikuti orang yang melangkah keluar dari kebenaran yang sudah menjadi
kebiasaan itu. Apakah engkau ingin seperti anjing liar itu, setiap hari masih
harus memikirkan apa yang akan dimakan hari itu.”
“Besok, kita masuk ke Babilonia. Lihat! Lihat api yang
membakar abadi di atas Kuil Genta! Kita sudah dapat memandang kota emas itu.
Besok, setiap engkau akan mendapatkan emas, emas yang engkau peroleh dengan
baik dari mata pencaharianmu.”
“Sepuluh tahun dari malam ini, apa yang akan engkau
ceritakan tentang emas-emas itu?”
“Apakah ada di antara engkau, seseorang, seperti Nomasir,
yang akan menggunakan sebagian emasnya untuk mulai menghimpun awal kekayaannya
dan selanjutnya mengelolanya dengan bimbingan ajaran kebijaksanaan Arkad,
sepuluh tahun dari sekarang, berkembang dengan aman dan leluasa, seperti anak
Arkad, dia akan kaya-raya dan menjadi orang yang terhormat dalam masyarakat.”
“Tindakan bijaksana yang kita lakukan akan menyertai
perjalanan hidup kita, melegakan hati dan menolong kita. Sama pastinya,
tindakan sembrono akan membuntuti, tertempel dan menyengsarakan kita dengan
penyesalan. Sayang! Mereka tidak dapat kita lupakan. Hal-hal pertama yang
paling kita sesalkan yang akan selalu menelangsakan hati adalah hal yang
seharusnya kita lakukan tetapi tidak, dan kesempatan yang datang kehadapan kita
untuk kita raih, tetapi tidak.”
“Sungguh melimpah kekayaan Babilonia, begitu berlimpahnya
tidak seorangpun dapat menghitung berapa kantung emas nilainya. Setiap tahun
mereka bertambah kaya dan lebih bernilai. Seperti kekayaan di mana pun adanya,
akan selalu mendatangkan hasil, hasil yang lebih melimpah menunggu orang yang
mengetahui dengan jelas arah usahanya dan bertekad untuk memperoleh hasil yang
pantas sesuai pencahariannya.”
“Dalam semangat tekadmu ada kekuatan ajaib. Arahkan kekuatan
ini dengan apa yang engkau ketahui dari lima hukum emas maka engkau akan
memperoleh bagian dari kekayaan Babilonia.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar