Sabtu, 13 September 2014

IX : LEMPENG TANAH LIAT DARI BABILONIA

 
 
LEMPENG TANAH LIAT DARI BABILONIA
 
 
 
 
ST. SWITHIN’S COLLEGE
 
Universitas Nottingham
 
Newark-on-Trent, Nottingham
 
 
21 Oktober, 1934
 
Professor Franklin Caldwell
 
Kepala Ekspedisi Ilmiah Inggeris
 
Hillah, Mesopotamia.
 
 
Professor yang terhormat.
 
 
Lima lempeng tanah liat hasil penggalianmu yang terakhir di reruntuhan Babilonia telah sampai dengan kapal yang sama yang membawa suratmu. Aku sangat tertarik pada lepeng-lemeng tanah liat itu, dan telah menghabiskan beberapa jam yang mengasikkan tanpa hentinya menerjemahkan tulisan yang ada di atasnya. Seharusnya aku segera langsung membalas suratmu, tetapi kutunda hingga akau selesai melakukan penerjemahan yang dengan surat ini kusertakan sebagai lampiran.
 
Lempeng tanah liat itu kuterima tanpa kerusakan, berkat kehati-hatianmu memberikan pengawet dan pengepakan yang sempurna.
 
Engkau akan terkesima seperti kami di laboratorium ini jika membaca cerita yang tertulis di lempeng itu. Seseorang mungkin akan mengharapkan membaca sebuah cerita yang tidak jelas dari masa lampau yang menceritakan percintaan dan petualangan. Seperti cerita-cerita “Arabian Night.” Namun, ternyata lempeng itu mengungkap permasalahan hidup seorang bernama Dabasir yang berusaha melunasi utang-utangnya, kita menjadi sadar bahwa kondisi yang ada di dunia kuno ini tidak berubah sama sekali selama lima ribu tahun, tidak sebagaimana yang diperkirakan banyak orang.
 
Cukup aneh, tetapi tulisan kuno ini agak mengejutkan aku, seperti dikatakan murid-muridku. Sebagai seorang professor, aku dianggap sebagai seorang pemikir yang memiliki hampir semua pengetahuan dalam segala bidang. Namun, ini, tiba-tiba ada seorang pada zaman dahulu kala yang muncul dari bawah debu reruntuhan Babilonia memberikan jalan keluar yang belum pernah kudengar, tentang bagaimana caranya membayar utang-utangmu sekaligus menyimpan emas yang berdentingan di kantung uangmu.
 
Hail buah pikiran yang menarik, dapat kukatakan begitu, akan sangat baik jika kita dapat membuktikan bahwa jalan keluar ini dapat juga dipergunakan pada masa kini, sebagaimana dia berhasil diterapkan di Babilonia. Nyonya Shrewsbury dan saya sendiri merencanakan akan mencoba rencana ini, yang mungkin akan dapat memperbaiki masalah kami sendiri.
 
Kami ucapkan selamat kepadamu dalam usaha penggalianmu, dan kami tunggu dengan senang hati kesempatan lain untuk membantu.
 
 
                                    Hormat saya,
 
 
                                    Alfred H. Shrewsbury
 
                                    Fakultas Arkeologi
 
 
Lempeng Pertama
 
 
Sekarang, bulan telah sempurna purnama, Aku, Dabasir, yang baru saja kembali dari menjalani perbudakan di Syria, bertekad penuh untuk membayar kembali semua utang-utangku dan menjadi seorang yang dapat dihargai di kota asalku Babilonia, aku tuliskan di atas lempengan tanah liat ini sebuah catatan kegiatan usahaku itu, yang akan membimbing dan membantuku menjalani keinginan hatiku ini.
 
Dengan nasihat yang bijaksana dari sahabat baikku, Mathon, pemberi pinjaman emas, aku memutuskan untuk menjalani sebuah rencana yang jelas, yang akan diberikannya, yang akan membawaku menjadi salah seorang yang terhormat, tanpa utang yang melekat pada hartaku dan dapat memiliki harga diri yang pantas.
 
Rencana ini memilik tiga tujuan yang merupakan harapan dan keinginanku.
 
Pertama, rencana ini mempersiapkan kemakmuranku di masa yang akan datang.
 
Oleh karena itu sepersepuluh dari seluruh hasil pencaharianku harus disisihkan sebagai simpananku sendiri. Seperti yang dikatakan Mathon dengan arifnya ketika ia mengatakan :
 
“Orang yang menyimpan di kantung uangnya emas dan perak yang tidak dibelanjakannya, sangat baik bagi keluarganya dan mematuhi Sang Raja.”
 
“Orang yang hanya memiliki beberapa keping perunggu di kantung uangnya tidak begitu berarti bagi keluarganya dan tidak begitu mematuhi Sang Raja.”
 
“Orang yang tidak memiliki apa-apa di kantung uangnya sangat tidak berguna bagi keluarganya dan tidak mematuhi Sang Raja, karena hatinya sendiri getir.”
 
“Oleh karena itu, seseorang yang menginginkan mencapai sesuatu harus memiliki keping-keping yang terus berdencing di kantung uangnya, dan ia memiliki dalam hatinya cinta pada keluarganya, dan kepatuhan pada Sang Raja.”
 
Kedua, rencana ini memerintahkan bahwa aku harus menafkahi istriku yang baik yang telah dengan setia dikembalikan kepadaku dari rumah ayahnya. Karena Mathon mengatakan bahwa dengan menjaga dengan baik istrimu yang setia engkau menanamkan harga diri dalam dirimu sendiri dan menambah kekuatan dan tekad dalam mencapai tujuanmu.
 
Oleh karena itu, tujuh persepuluh dari seluruh hasil pencaharianku harus kuperuntukkan untuk rumah, pakaian untuk dipakai, dan makanan untuk dimakan, dengan sedikit kelebihan untuk keperluan lainnya, yang tidak membuat kehidupan kita terasa kurang dapat dinikmati atau kurang memberi kebahagiaan. Tetapi dia juga menekankan untuk dengan hati-hati menjaga agar aku tidak mengeluarkan lebih dari tujuh persepuluh dari seluruh hasil pencaharian untuk keperluan-keperluan yang utama itu. Disinilah terletak keberhasilan rencana itu. Aku harus hidup hanya dengan jumlah bagian itu, dan tidak pernah menggunakan lebih dari itu atau membelanjakan untuk sesuatu yang harus aku bayar, dengan keping di luar dari bagian itu.
 
 
Lempeng Kedua
 
 
 
Ketiga, rencana ini mengharuskan, dari hasil pencaharian itu juga, semua utang-utang harus dibayarkan kembali..
 
Oleh karena itu setiap kali purnama telah sempurna, dua persepuluh dari seluruh hasil pencaharianku harus dibagi dengan adil dan merata kepada orang-orang yang telah mempercayai aku dan kepada mereka aku telah melakukan pinjaman. Dengan demikian pada akhirnya akan terbayar lunaslah semua utang-utangku.
 
Oleh karena itu, disini kutuliskan nama-nama setiap orang kepada siapa aku telah berutang dan jumlah sebenarnya utang-utangku.
 
Fahru, penenun kain, 2 perak, 6 perunggu.
Sinjar, pembuat perabot, 1 perak.
Ahmar, sahabatku, 3 perak, 1 perunggu.
Zankar, sahabatku, 4 perak, 7 perunggu.
Askamir, sahabatku, 1 perak, 3 perunggu.
Harinsir, pembuat perhiasan, 6 perak, 2 perunggu.
Diarbeker, sahabat ayahku, 4 perak, 1 perunggu.
Alkahad, pemilik rumah, 14 perak.
Mathon, pemberi pinjaman emas, 9 perak.
Birejik, petani, 1 perak, 7 perunggu.
 
(Selanjutnya, rusak, tidak terbaca)
 
 
Lempeng Ketiga
 
 
Kepada semua pemberi pinjaman seluruhnya aku berutang seratus sembilan belas keping perak dan seratus empat puluh satu keping perunggu. Karena begitu banyak jumlah yang terutang dan aku tidak melihat cara membayarnya kembali, dan dengan kebodohanku aku mengizinkan istriku kembali kepada ayahnya, dan kemudian aku meninggalkan kampung halamanku demi mencari kehidupan yang lebih mudah di tempat lain, hanya untuk mendapatan kemalangan dan mendapatkan diriku dijual  ke dalam kehinaan menjadi seorang budak.
 
Sekarang karena Mathon telah menunjukkan kepadaku bagaimana caranya membayar kembali pinjaman-pinjaman itu hanya dari sebagian kecil hasil pencaharianku, aku semakin sadar betapa besarnya ketololanku telah pergi lari dari hasil keborosanku.
 
Oleh karena itu aku mengunjungi setiap pemberi pinjaman padaku dan menjelaskan kepada mereka bahwa aku tidak memiliki sumber penghasilan yang lain untuk membayar kembali utang-utangku kecuali hanya dari hasil pencaharianku, dan aku bermaksud menggunakan duapersepuluh dari hasil pencaharianku guna membayar utang-utangku dengan adil dan merata. Hanya sebatas itulah yang dapat aku lakukan dan tidak lebih. Oleh karena itu, apabila mereka sabar, pada saatnya seluruh kewajibanku akan terselesaikan.
 
Ahmar, yang aku anggap sebagai sahabat terbaikku, memarahiku dengan keji dan aku meninggalkannya dengan penuh rasa malu. Birijek, sang petani, memohon agar aku membayar utangku padanya terlebih dahulu sebab dia sedang sangat membutuhkan peraknya. Alkahad, pemilik rumah, sungguh sangat tidak setuju dan menekankan bahwa ia akan membuat aku dalam kesulitan kecuali aku segera menyelesaikan semua utangku padanya.
 
Semua yang lain dengan rela setuju dengan rencanaku. Oleh karena itu aku menjadi lebih yakin dari sebelumnya untuk menjalankan rencana ini sepenuhnya, menjadi yakin bahwa lebih baik membayar semua utang-utangku daripada menghindari mereka. Meskipun aku tidak dapat memenuhi kebutuhan dan permintaan dari beberapa pemberi pinjaman aku akan menghadapi dengan adil pada semuanya.
 
 
Lempeng Keempat
 
 
Sekali lagi purnama bersinar sempurna. Aku telah bekerja keras dengan jiwa yang bebas. Istriku yang baik telah mendukung niatku untuk membayar kembali semua pemberi pinjaman. Karena niat kami yang cukup bijaksana, aku telah memperoleh penghasilan selama satu purnama, karena membantu membeli unta-unta yang sehat dengan kaki-kaki yang kuat, untuk Nebatur, sebanyak sembilan belas keping perak.
 
Jumlah itu sudah kubagi sesuai dengan rencana. Sepersepuluh kusisihkan untuk simpananku, tujuh persepuluh keberikan pada istriku yang baik untuk keperluan kehidupan kami sehari-hari. Duapersepuluh kubagikan kepada seluruh pemberi pinjaman seadil dan semerata mungkin dalam kepingan perak.
 
Aku tidak menemui Ahmar tetapi meninggalkan pembayaran kepadanya pada istrinya. Birejik sangat senang, ia bahkan mencium tanganku. Alkahad tua sendiri yang tidak puas dan mengatakan bahwa aku harus membayarnya lebih cepat. Untuk keluhannya itu kujawab bahwa apabila aku diizinkan untuk hidup secukupnya dan tidak terlalu disusahkan, dengan begitu saja akan dapat memungkinkan aku membayar lebih cepat. Semua yang lain berterima kasih kepadaku dan mengatakan hal yang baik-baik tentang usahaku.
 
Oleh karena itu, pada akhir setiap purnama, utang-utangku berkurang hampir empat keping perak dan aku masih menyimpan dua keping perak di kantung uangku, yang tidak dapat diganggugugat oleh orang lain. Hatiku menjadi lebih ringan dari sebelumnya, sudah lama aku tidak merasakannya.
 
Lagi purnama bersinar sempurna, Aku telah bekerja sama kerasnya tetapi dengan hasil yang lebih sedikit. Hanya sedikit unta yang dapat kubeli. Hanya sebelas keping perak yang dapat kuhasilkan. Meskipun demikian istriku yang baik dan aku tetap berpegang pada rencana kami, meski kami tidak membeli pakaian baru dan makan pun hanya sedikit sayuran. Sekali lagi kubayar pada diriku sendiri sepersepuluh dari sebelas keping perak untuk disimpan, dan hidup dengan tujuh persepuluh. Aku agak terkejut mendengar pujian Ahmar atas pembayaranku, meski pun jumlahnya sangat kecil. Birijek begitu pula. Alkahad naik pitam tetapi ketika kukatakan akau akan mengambil kembali jumlah yag akan kubayarkan apabila dia memang tidak menginginkannya, dia agak terhibur. Yang lainya, sebagaimana sebelumnya cukup puas.
 
Lagi purnama bersinar sempurna dan aku sangat bergembira. Aku terserempak pada kawanan unta yang bagus dan membeli cukup banyak unta terbaik, sehingga aku mendapatkan empat puluh dua keping perak. Bulan ini aku dan istriku telah membeli sandal dan pakaian baru yang sangat kami perlukan. Dan kami juga dapat menikmati daging dan unggas.
 
Lebih dari delapan keping perak sudah kami bayarkan kepada pemberi pinjaman. Bahkan Alkahad sudah tidak mengeluh lagi.
 
Sungguh baik rencana itu berjalan sehingga kami akan dapat melunasi utang-utang kami dan masih memiliki sebagian kekayaan yang dapat kami simpan dan nikmati.
 
Tiga kali purnama sempurna telah berlalu sejak terkahir kali aku menulis lempeng ini. Setiap kali kubayarkan buat diriku sendiri sepersepuluh dari hasil pencaharianku. Setiap kali pula istriku yang baik dan aku hidup dengan tujuh persepuluh meski kadang-kadang penuh kesulitan. Setiap kali pula kubayarkan kepada pemberi pinjman dua persepuluh.
 
Dalam kantung uangku sekarang aku memiliki dua puluh satu keping perak milikku. Ia membuatku mampu mengangkat wajahku di atas bahu ketika berhadapan dengan siapapun dan membuatku bangga dan bebas berjalan bersama sahabat-sahabatku.
 
Istriku memelihara rumah kami dengan baik dan dia dapat berpakaian lebih pantas. Kami gembira hidup bersama.
 
Rencana itu benar-benar tak ternilai. Dia telah menjadikanku seorang terhormat, seorang bekas budak.
 
 
Lempeng Kelima
 
 
Lagi purnama bersinar sempurna dan aku teringat sudah lama sekali terakhir aku menulis lempeng tanah liat ini. Dua belas bulan penuh telah datang dan pergi. Tetapi hari ini aku tidak akan melupakan catatanku karena pada hari ini aku telah membayar utangku yang terakhir. Inilah hari dimana istriku yang baik dan aku yang penuh syukur pada diriku sendiri dengan perayaan besar karena dengan penuh tekad tujuan kami telah tercapai.
 
Banyak hal terjadi pada kunjungan terakhirku pada para pemberi pinjaman yang akan selalu aku kenang. Ahmar meminta maaf atas kekasarannya dan mengatakan bahwa aku adalah salah satu orang yang paling ingin dan pantas dijadikan sahabat.
 
Alkahad tua ternyata tidak terlalu jahat, dia mengatakan, “Engkau sebelumnya sepotong tanah liat lembek yang diperas dan dibentuk oleh banyak tangan yang menyentuhmu, tetapi sekarang engkau telah menjadi sekerat perunggu yang dapat membuat sudut keras. Apabila engkau membutuhkan perak atau emas, setiap waktu engkau dapat datang kepadaku.”
 
Tidak hanya dia yang meberikan aku penghargaan yang tinggi. Beberapa yang lainnya memberikan rasa hormatnya padaku. Istriku yang baik memandangku dengan kilauan dalam matanya yang membuat seorang lelaki sepertiku menjadi lebih percaya diri.
 
Itulah rencana yang telah membuat aku berhasil. Ia telah membuat aku mampu melunasi semua utang-utangku dan mebuat  kantung uangku penuh dengan rincingan emas dan perak. Aku menyarankan kepada siapapun yang ingin maju. Sesungguhnya, apabila ia dapat menjadikan bekas budak membayar kembali semua utang-utangnya dan memiliki emas dalam kantung uangnya, mungkinkah ia tidak dapat membantu siapa saja memperoleh kemerdekaan? Tidak hanya aku, diriku sendiri, berhasil dengannya, karena aku yakin apabila aku mengikuti rencana ini lebih lanjut, dia akan menjadikanku orang berada di antara para orang-orang kaya.
 
 

 
 
 
ST. SWITHIN’S COLLEGE
 
Universitas Nottingham
 
Newark-on-Trent, Nottingham
 
 
 
                                           7 Nopember, 1936
 
Professor Franklin Caldwell
 
Kepala Ekspedisi Ilmiah Inggeris
 
Hillah, Mesopotamia.
 
 
Professor yang terhormat.
 
 
Apabila, dalam penggalianmu lebih lanjut pada reruntuhan Babilonia, engkau bertemu dengan hantu bekas penghuninya terdahulu, seorang pedagang unta tua bernama Dabasir, maka bantulah aku. Katakan padanya bahwa tulisannya pada lempeng tanah liat itu, berabad yang lalu, telah memberikan rasa terima kasih seumur hidup baginya dari sepasang orang-orang unversitas di London.
 
Engkau mungkin masih ingat isi suratku setahun yang lalu yang mengatakan bahwa Ny Shrewsbury dan aku sendiri bemeksud mencoba rencana seperti yang dituliskan pada lempeng tanah liat itu agar terbebas dari utang dan pada saat yang sama dapat memiliki emas yang berdencingan. Engkau pasti sudah menduga, meski kami sudah mencoba merahasiakannya dari sahabat-sahabat kami, tentang kehidupan kami yang pas-pasan.
 
Kami sangat malu pada diri sendiri selama bertahun-tahun dengan utang yang menumpuk tidak ada habisnya dan sealalu merasa was-was kalau-kalau salah satu dari kreditur itu mulai mencari-cari atau mempermasalahkan hal ini sehingga menjadi hal yang dapat memaksa kami keluar dari Universitas. Kami terus membayar - setiap kali sebanyak yang dapat kami peras dari penghasilan kami – tetapi tetap saja tidak dapat menyelesaikan semuanya. Disamping itu kami terus saja membelanjakan semua kebutuhan kami sepanjang kredit masih dapat diperoleh tanpa perduli berapapun tinggi bunganya.
 
Hal itu berlangsung hingga menjadi suatu lingkaran setan yang terus menerus berkembang menjadi lebih buruk, tidak pernah membaik. Perjuangan kami semakin sia-sia. Kami tidak dapat pindah ke kamar yang sewanya lebih rendah lagi karena kami masih berutang pada pemilik rumah. Kelihatannya tidak ada lagi yang dapat kami buat untuk memperbaiki keadaan kami.
 
Kemudian, datang sahabatmu ini, pedagang unta yang sudah tua dari Babilonia, dengan rencana yang sesuai dengan apa yang kami ingin peroleh.  Ia benar-benar menggugah kami untuk melakukan sistem yang dirancangnya. Kami buat daftar utang-utang kami, kubawa berkeliling mengunjungi setiap pemberi utang itu.
 
Aku jelaskan betapa tidak mungkinnya bagiku untuk akhirnya menyelesaikan semuanya dengan cara-cara yang selama ini kami lakukan. Mereka sendiri dapat melihat hal ini dari perhitungan yang kutunjukkan. Kemudian kujelaskan bahwa satu-satunya cara yang dapat kulakukan untuk menyelesaikan semuanya adalah dengan menyisihkan dua puluh persen dari penghasilanku setiap bulan untuk dibagi sama rata pada setiap kreditur, sehingga akhirnya semua utang itu, menurut rencana, akan dapat kami selesaikan dalam jangka waktu dua tahun. Dan, sementara itu untuk pembelanjaan selanjutnya, kami hanya akan membeli secara tunai yang akan lebih menguntungkan bagi mereka.
 
Rencana itu ternyata memang cukup baik. Penjual sayur, orang tua yang bijaksana, menjelaskan hal itu dengan cara yang lebih tegas. “Apabila engkau berbelanja dengan uang tunai dan juga membayar sebagian utangmu, itu jauh lebih baik dari yang selama ini engkau lakukan, selama tiga tahun ini engkau belum pernah mengurangi pokok pinjamanmu.”
 
Akhirnya aku mencatat semua nama-nama mereka dan membuat perjanjian kepada masing-masingnya yang mengikat mereka untuk tidak mengganggu kami dengan cara apapun demi sisa utang itu selama dua puluh persen dari penghasilanku digunakan untuk menyelesaikan utang itu. Kemudian kami mulai merencanakan bagaimana kehidupan kami dapat kami lalui dengan tujuh puluh persen. Kami bertekad untuk menyimpan sepuluh persen untuk dihimpun. Harapan dapat mengumpulkan perak, atau jika mungkin, emas, merupakan bagian rencana yang paling menarik.
 
Melakukan perubahan-perubahan ini seperti menjalani sebuah petualangan. Kami menikmati menyusun rencana itu, dan mencoba hidup dengan nyaman dengan sisa tujuh puluh persen. Pertama dimulai dengan sewa, dan ternyata berhasil mendapat pengurangan. Kemudian dengan teh merek kesukaan dan dengan sedikit ketelitian lebih kami cukup berhasil, betapa seringnya kami bisa medapatkan barang dengan kualitas tinggi pada harga yang lebih rendah.
 
Ini cerita yang cukup panjang untuk sebuah surat tetapi bagaimanapun juga, kesemuanya itu terbukti tidak terlalu menyulitkan. Kami berhasil melaluinya dan sangat menikmatinya. Betapa melegakan nyatanya keadaan kami dengan situasi tanpa ancaman dari utang-utang terdahulu.
 
Harus tidak kuabaikan, bagaimanapun juga, untuk mengatakan padamu tentang sisa sepuluh persen yang kami harapkan dapat menumpuk. Ya, ia bertambah terus selama ini, Tapi, jangan cepat tersenyum. Begini, ini bagian yang sedikit menyenangkan, mulai mengumpulkan uang yang tidak mau engkau gunakan. Lebih banyak enaknya mengelola simpanan itu dari pada menggunakannya.
 
Setelah beberapa waktu kami merasa cukup puas memiliki simpanan, meski hanya sedikit, kami mendapatkan kegunaannya yang lebih menguntungkan. Kami mulai menanamkannya pada lembaga keuangan, dan itu dapat kami lakukan dengan menanamkan sepuluh persen dari penghasilan setiap bulannya. Hal ini ternyata merupakan hal yang paling memuaskan dalam usaha melipatgandakan simpanan itu. Penanaman ini lah hal pertama yang justru kami dahulukan pada penghasilan bulanan kami.
 
Ada rasa aman yang menenangkan menyadari penanaman kami berkembang secara teratur. Pada saat akhir masa kerja mengajarku nanti, jumlahnya pasti sudah cukup lumayan, cukup besar sehingga hasil yang diberikannya akan dapat mencukupi kehidupan kami selanjutnya.
 
Semua ini berasal dari penghasilan yang sama dengan yang aku terima sebelumnya. Sulit dipercaya, tetapi sungguh nyata. Semua utang kami secara teratur terkurangi dan pada saat yang sama investasi kami terus meningkat. Di samping itu kami hidup secukupnya, secara materi, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Siapa yang akan percaya akan begitu besarnya perbedaan apabila kita mengikuti perencanaan keuangan dibandingkan dengan hanya mengikuti aliran kehidupan.
 
Pada akhir tahun depan, apabila semua utang-utang kami sudah terbayar lunas, kami akan memiliki sedikit kelonggaran menambah investasi kami atau sedikit ekstra untuk melakukan perjalanan atau rekreasi. Kami sudah bertekad tidak akan pernah lagi membiarkan biaya kehidupan kami melebihi tujuh puluh persen dari penghasilan kami.
 
Sekarang engkau akan faham mengapa kami ingin menyampaikan salam terima kasih kami kepada orang tua itu yang rencana rancangannya telah menyelamatkan kami dari “Neraka Dunia.”
 
Dia tahu. Dia telah mengalami hal itu semua. Dia ingin ada orang lain yang dapat manfaat dari pengalaman pahitnya. Itulah sebabnya ia menghabiskan waktu berjam-jam dengan tekunnya mengguratkan pesannya pada lempeng tanah liat itu.
 
Ia menyampaikan pesan yang benar bagi teman senasib buruk dan sependeritaan, sebuah pesan yang sangat penting meski sudah lima ribu tahun dia masih dapat keluar dari reruntuhan Babilonia, masih sangat benar dan masih sangat penting, seperti benar dan pentingnya pesan itu pada saat ia terkubur.
 
 
 
                                    Hormat saya,
 
 
                                    Alfred H. Shrewsbury
 
                                    Fakultas Arkeologi
 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar