Sabtu, 13 September 2014

III : TUJUH KUTUKAN KEMELARATAN

 
 
TUJUH KUTUKAN KEMELARATAN
 
 
 
Kemakmuran Babilonia bertahan lama, bergema ke seluruh wilayah dunia. Bertahun-tahun kemasyhurannya yang kita dengar sebagai kota terkaya, yang memiliki kelimpahan harta yang sungguh mencengangkan.
 
Tetapi pada zaman dahulu, sebelumnya, tidaklah demikian halnya. Orang-orang kaya Babilonia bertumbuh sebagai hasil kebijaksanaan penduduknya. Mereka awalnya harus banyak belajar bagaimana menjadi kaya.
 
Ketika Raja yang ternama, Sargon, kembali ke Babilonia, setelah mengalahkan musuh-musuhnya, bangsa Elamit, ia mendapatkan keadaan penduduk kota yang kurang bagus. Penasehat Raja menjelaskan hal itu kepada Sang Raja :
 
“Dulu, setelah tahun-tahun makmur yang dialami penduduk kota karena kerajaan telah membangun kanal irigasi yang luar biasa dan mendirikan Kuil Raja bagi Para Dewa, tapi sekarang setelah pekerjaan tersebut selesai, rakyat kelihatannya tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya..
 
“Para kuli hidup tanpa pekerjaan. Saudagar kehilangan pelanggan. Para petani tidak dapat menjual hasil kebunnya. Masyarakat bahkan tidak mempunyai cukup emas untuk membeli makanan.”
 
“Tetapi, kemana perginya semua emas yang kita keluarkan untuk pembangunan itu?” tanya Sang Raja.
 
“Emas-emas itu beredar kemudian, saya khawatir,” sahut Sang Penasehat, “mengalir menjadi milik beberapa orang kaya di kota ini. Beredar cepat dari tangan-tangan pemiliknya seperti susu kambing mengalir melalui saringan, dalam perputaran kehidupan penduduk kota. Sekarang saat aliran emas itu terhenti, sebagain besar pemilik emas itu telah kehabisan kepemilikannya, penghasilannya habis tak berbekas.”
 
Sang Raja menjadi masgul, terpekur beberapa saat. Kemudian ia bertanya, “Bagaimana mungkin hanya beberapa orang saja yang akhirnya menguasai seluruh emas itu?”
 
“Karena mereka tahu caranya,” jawab Sang Penasehat. “Kita tidak dapat mengutuk keberhasilan seseorang hanya karena mereka mengetahui bagaimana cara mencapai keberhasilan. Kita juga tidak dapat dengan kekuatan hukum mengambil bagian kekayaannya yang didapat secara benar, dan memberikannya kepada yang kurang mampu.”
 
“Tetapi mengapa,” tuntut Sang Raja, “tidak semua orang belajar bagaimana mengumpulkan emas dan dengan demikian dapat menjadikannya sebagai seorang hartawan dan penuh kemakmuran?”
 
“Berkemungkinan bisa, Tuanku. Tetapi siapa yang akan mengajarkan mereka? Para Imam sudah pasti tidak bisa, karena mereka sama sekali tidak mengetahui permasalahan memperoleh penghasilan.”
 
“Di seluruh kota kita ini, siapa yang paling mengetahui bagaimana cara menjadi kaya, Penasihat?” tanya Sang Raja.
 
“Pertanyaan Tuanku sudah terjawab sendiri, Tuanku. Siapa yang paling kaya di Babilonia?”
 
“Benar sekali, Penasihat ahliku. Dia Arkad. Dia orang terkaya di babilonia. Bawa dia menghadapku besok pagi.”
 
Keesokan harinya, sesuai titah Sang Raja, Arkad menghadapnya, tegak dan terlihat gagah meski usianya sudah mencapai sembilan windu.
 
“Arkad,” ujar Sang Raja. “Apakah benar anda orang terkaya di Babilonia?”
 
“Bagitulah yang saya dengar, Tuanku, dan kelihatannya tidak ada yang membantahnya.”
 
“Bagaimana caranya engkau menjadi sebegitu kayanya?”
 
“Dengan mengambil keuntungan atas kesempatan yang tersedia bagi seluruh masyarakat di kota kita yang baik ini.”
 
“Engkau memulainya dari tidak memiliki apa-apa?”
 
“Hanya keinginan besar untuk memperoleh kekayaan. Di samping itu tidak ada yang lain.”
 
“Arkad,” lanjut Sang Raja, “Keadaan kota kita saat ini kurang begitu baik karena hanya segelintir orang saja yang mengetahui cara mengumpulkan kekayaan dan menguasai peredarannya, sementara sebagian besar masyarakat tidak mengetahui samasekali bagaimana cara mengumpulkan emas yang diperoleh dari usahanya.”
 
“Cita-citaku, Babilonia menjadi kota terkaya di dunia. Oleh karena itu, kota ini harus menjadi kota yang penuh dengan orang yang kaya raya. Katakan padaku, Arkad, apakah ada rahasia dalam mengumpulkan kekayaan? Dapatkah hal itu diajarkan?”
 
“Bisa, Tuanku. Sesuatu yang diketahui seseorang dapat diajarkan kepada yang lainnya.”
 
Mata Sang Raja berbinar. “Arkad, engkau telah mengucapkan kata-kata yang sangat ingin kudengar. Maukah engkau melaksanakan tugas mulia yang besar ini? Maukah engkau menularkan pengetahuanmu kepada semua pendidik, yang selanjutnya saling mengajarkan sehingga kita mempunyai cukup banyak pendidik yang akan mengajarkan cara mengumpulkan kekayaan pada setiap anggota masyarakat di kota ini yang sangat memerlukannya.”
 
Arkad mengusung sembah dan berkata, “Hamba akan patuh melaksanakannya, Tuanku. Pengetahuan apa pun yang hamba miliki akan dengan senang hati akan hamba sebarkan demi saudara-sudaraku di kota Babilonia dan demi kejayaan kerajaan ini. Hamba persilakan Sang Penasehat yang baik mempersiapkan sebuah kelas berisi seratus orang, dan akan hamba paparkan pada mereka tujuh obat yang telah menggemukkan pundi-pundi uang hamba yang dahulunya tidak ada pundi uang yang lebih kosong dari pundi milik hamba di seluruh Babilonia.”
 
Dua minggu kemudian, mematuhi titah Sang Raja, seratus orang yang terpilih berkumpul di aula Kuil Pembelajaran, duduk berjejer setengah lingkaran di dalam ruangan bundar yang cerah. Arkad duduk di sebelah bejana kecil yang dari dalamnya keluar asap dari lampu keramat, menyebarkan bau dupa yang wanginya sangat menyenangkan.
 
“Lihat, orang terkaya di Babilonia,” bisik salah satu peserta, sambil menyikut orang di sampingnya, ketika Arkad mulai berdiri. “Dia manusia biasa sama saja seperti kita semua.”
 
“Sebagai warga yang patuh pada Raja kita yang agung,” Arkad memulai pembicaraannya, “Saya berdiri di hadapan kamu semua demi melayaninya. Karena dahulunya saya adalah anak muda yang sangat papa tetapi sangat menginginkan memiliki emas yang berlimpah, dan karena kudapatkan pengetahuan yang membuatku mampu mencapai keinginanku, Sang Raja memintaku agar menularkan pengetahuan itu kepada engkau semua.”
 
“Aku memulai keberuntunganku dengan cara yang paling sederhana. Aku tidak memiliki kelebihan apa pun, aku juga tidak berkecukupan dibandingkan dengan engkau semua bahkan dibandingkan seluruh penduduk Babilonia.”
 
“Gudang uangku yang pertama hanyalah sebuah kantung usang. Yang sangat kubenci karena selalu kosong dan tidak berguna. Aku menginginkan ia agar berbentuk bundar, penuh terisi, berdencing dengan suara emas. Jadi, kucari penyembuh kantung kosong itu. Aku menemukan tujuh penyembuh.
 
“Kepada engkau sekalian, yang hadir didepanku ini, akan kujelaskan ke tujuh penyembuh kantung kosong yang kusarankan kepada semua orang yang menginginkan kelimpahan emas. Setiap hari selama tujuh hari akan kujelaskan kepadamu satu dari tujuh penyembuh itu.”
 
“Dengarkan dengan sepenuh hati pengetahuan yang akan kusampaikan. Bahas bersamaku. Diskusikan sesamamu. Pelajari sedalam-dalamnya inti sari pelajaran ini, agar engkau semua dapat mengisi di kantongmu masing-masing, bibit-bibit kekayaan. Pertama kali hendaklah setiap orang memulai dengan bijaksana mengumpulkan keberuntungan bagi dirinya masing-masing. Kemudian, apabila engkau sudah cukup mampu, hanya bila engkau sudah cukup mampu, ajarkanlah pengetahuan ini kepada orang lain.”
 
“Aku akan mengajarkannya dengan cara yang sederhana bagaimana memenuhkan pundi-pundimu. Itu merupakan langkah pertama menuju ke kuil kekayaan, dan tidak akan ada yang akan sampai ke sana apabila dia tidak menanamkan kakinya kuat-kuat pada langkah pertama.
 
“Sekarang kita bahas penyembuh pertama.”
 
 
 
Penyembuh Pertama
 
Mulai gelembungkan kantung uangmu
 
 
Arkad menyampaikan pertanyaanya kepada seorang yang terlihat berpendidikan yang duduk di baris kedua.
 
“Sahabat baikku, apa yang merupakan keahlianmu?”
 
“Saya,” jawab orang itu, “penyalin dan penulis naskah pada lempeng tanah liat.”
 
“Ya, dengan pekerjaan seperti itulah saya memperoleh perakku yang pertama. Jadi, engkau memiliki kesempatan yang sama untuk menghimpun kekayaan.”
 
Ia berkata pada seorang yang tampan yang duduk di baris yang lebih di belakang, “Coba katakan pada kami apa yang engkau lakukan untuk menafkahi keluargamu.”
 
“Saya,” balas orang ini, “tukang daging. Saya membeli kambing-kambing dari penggembala menyembelih dan menjualnya pada para ibu rumah tangga dan kulitnya saya jual kepada pembuat sandal.”
 
Karena engkau bekerja dan menghasilkan uang, engkau memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil seperti yang saya alami.”
 
Dengan cara itu Arkad memulai. Mencari keterangan bagaimana setiap peserta bekerja memperoleh penghasilan untuk kehidupannya. Setelah dia selesai menanyai semua peserta, ia berkata :
 
“Sekarang, murid-muridku, engkau dapat melihat ada berbagai usaha dan kegiatan dalam memperoleh penghasilan. Setiap cara itu merupakan arus masuknya emas, dari situlah setiap penghasil uang itu menyalurkan sebagian dari hasilnya untuk kantung uagnya sendiri. Ke dalam setiap kantung uang kalian semua mengalir uang, baik dalam jumlah banyak ataupun sedikit, tergantung pada keampuannya masing-masing. Bukankah begitu?”
 
Terlihat semuanya setuju dengan pendapat itu.
 
“Kemudian,” lanjut Arkad, “apabila setiap orang berkeinginan untuk menghimpun kekayaan yang lebih besar bagi dirinya, sangat tidak mungkin untuk memulainya dari penggunaan sumber penghasilan yang telah engkau lakukan.”
 
Dengan hal ini pun semua peserta menyetujuinya.
 
Kemudian Arkad menoleh kepada seorang yang terlihat sederhana yang telah menerangkan bahwa dirinya adalah pedagang telur. “Apabila engkau isi setiap keranjang telurmu setiap pagi dengan sepuluh butir telur, kemudian mengeluarkan dan menjual sembilan butir telur setiap petang, setelah beberapa lama apa yang akan terjadi?”
 
“Akan banyak sekali sisa telur di rumahku.”
 
“Mengapa?”
 
“Setiap hari akau menjual lebih sedikit telur dari yang kukumpulkan, akhirnya aku menyimpan banyak kelebihan.”
 
Arkad kemudian melayangkan pandangannya ke seluruh isi kelas dengan tersenyum, bertanya, “Apakah dalam kelas ini ada yang kantung uangnya kosong?”
 
Semula mereka melihat hal itu lucu. Kemudian mereka tertawa. Akhirnya mereka tunjukkan kantung uang mereka dengan penuh canda getir.
 
“Baiklah,” lanjut Arkad. “Sekarang kuberitahukan padamu obat pertama untuk mengisi kantung uang yang kosong yang aku telah pelajari. Lakukan seperti apa yang kusarankan pada pedagang telur. Setiap sepuluh keping uang yang engkau masukkan dalam kantung uangmu, pergunakanlah hanya sembilan untuk keperluan keseharian kehidupanmu. Kantung uangmu akan segera mulai terisi dan tambahan beratnya yang engkau rasakan ditanganmu akan seketika terasa menyenangkan hatimu.”
 
“Jangan remehkan apa yang kukatakan karena kesderhanaannya. Kebenaran itu sangat sederhana. Kukatakan pada engkau semua akan kuceritakan bagaimana aku menghimpun kekayaanku. Inilah awal dari semuanya. Saya, juga, dulu memiliki kantung uang yang kosong dan sangat menderita karena dengan begitu tidak ada kesenanganku yang dapat kupenuhi. Tetapi begitu aku mulai hanya menggunakan sembilan keping uang dari sepuluh yang kuperoleh, kantung uangku mulai menggembung. Begitupula bisa, bagi engkau sekalian”
 
“Sekarang akan kuceritakan kebenaran yang cukup aneh, yang alasannya tidak kuketahui. Sejak kukeluarkan hanya sembilan dari sepuluh yang kuperoleh, kehidupanku biasa-biasa aja, aku bahkan tidak merasa menjadi lebih berkekurangan apa-apa. Kemudian, tak selang beberapa lama, bahkan uang datang kepadaku lebih mudah daripada sebelumnya. Sudah pasti itulah ketentuan hukum Para Dewa, bahwa kepada siapa yang menyimpan sebagian dan menggunakan hanya sebagian tapi tidak seluruh penghasilannya, emas akan datang dengan lebih lancar. Sebaliknya, orang yang kantung uangnya kosong, akan dihindari emas.”
 
“Apa yang paling engau inginkan? Apakah kesenangan sehari-hari yang engkau inginkan, perhiasan, sedikit barang mewah, pakaian bagus, makan lebih banyak; hal-hal yang segera berlalu dan dilupakan? Atau hal-hal yang lebih bermakna, emas, tanah, ternak, barang dagangan, pengeluaran yang memberikan hasil tambahan? Keping uang yang engkau keluarkan dari kantung uangmu akan memberikanmu hal-hal yag pertama, keping uag yang engkau tinggalkan dalam kantung uangmu sebagai simpanan akan memberikanmu hal yang terakhir.”
 
“Itulah, murid-muridku, obat pertama yang aku temukan bagi menyembuhkan kantung uangku yang kosong : ‘Setiap sepuluh keping yang engkau peroleh, gunakanlah hanya sembilan.’ Bahaslah hal ini sesama peserta di kelas ini. Apabila ada di antara engkau yang dapat membuktikan ketidakbenarannya, katakan padaku besok ketika kita bertemu di kelas ini kembali.”
 
 
 
Penyembuh Kedua
 
Atur dan cermati pengeluaranmu
 
 
“Sebagian peserta, murid-muridku, telah bertanya padaku: ‘Bagaimana mungkin seseorang menyimpan sepersepuluh dari yang diperolehnya dalam kantung uangnya sementara setiap keping uang yang dimilikinya itu tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya?’” itulah yang pertama kali disampaikan Arkad pada hari kedua.
 
“Kemarin ada berapa dari semua murid di sini yang memiliki pundi-pundi yang kosong?”
 
“Kami semua,” seru seisi kelas.
 
“Padahal, engkau semua tidak memiliki penghasilan yang sama. Yang satu memperoleh penghasilan yang lebih besar dari yang lainnya. Sementara ada yang memiliki tanggungan keluarga yang lebih besar dari yang lainnya. Namun, mengapa semua sama, kantung uangnya kosong? Sekarang biar kunyatakan kebenaran yang tidak biasa yang dilakukan manusia dan anak cucunya. Yaitu : Apa yang masing-masing dari kita sebutkan ‘pengeluaran yang penting, yang harus dikeluarkan’ akan senantiasa berkembang sejalan dengan peningkatan penghasilan, kecuali kita menolaknya dengan melakukan sebaliknya.”
 
“Jangan campur adukkan pengeluaran penting, yang harus dikeluarkan dengan keinginan hati. Setiap yang hadir di sini, bersama-sama dengan keluargamu yang berbahagia, memiliki keinginan hati yang jauh lebih besar dari yang dapat dipuaskan oleh penghasilanmu. Oleh karena itu meskipun seluruh penghasilanmu engkau gunakan memenuhi keinginan hatimu sebanyak yang dapat diperoleh dengan semua penghasilan itu. Tetap saja engkau akan masih memiliki keinginan hati yang belum terpenuhi.”
 
“Setiap orang dibebani keinginan hati yang lebih besar dari yang dapat ia penuhi. Apakah dengan seluruh kekayaan yang kumiliki saat ini engkau fikir aku akan dapat memenuhi tak terbatasnya keinginan hatiku? Itu pemikiran yang salah. Pada setiap saat selalu ada batas waktu. Pada setiap kekuatan pasti ada batas kemampuan. Selalu ada batas jarak yang mampu kutempuh dalam perjalananku. Ada batas jumah yang dapat kumakan. Begitupula ada batas kepuasan yang kuperoleh dari sebuah kenikmatan.”
 
“Kukatakan padamu, sebagaimana rerumputan akan bertumbuh di perkebunan apabila para petani meninggalkan sejumput akar dikebun yang disiangnya, begitulah keinginan hati akan tumbuh dibenakmu apabila ada kemungkinan tersedianya kemampuan untuk memenuhinya. Keinginan hati sangat banyak ragamnya dan yang dapat engkau penuhi hanyalah tidak lebih dari sebagian kecilnya.”
 
“Perhatikan dan pelajari dengan mendalam kebiasaan dalam hidupmu. Disitulah nanti biasanya akan engkau temukan beberapa pengeluaran tertentu yang biasanya engkau keluarkan sesungguhnya dapat degan bijak engkau kurangi, bahkan menghilangkannya sama sekali dari daftar pengeluaranmu. Jadikan motto dalam dirimu bahwa untuk setiap keping uang yang engkau keluarkan harus memberikan nilai seratus persen, tidak ada yang disia-siakan.”
 
“Oleh karena itu, coba tuliskan dalam lempeng tanah liat setiap pengeluaran untuk apa yang engkau inginkan. Pilihlah pengeluaran yang penting, yang harus dikeluarkan dan yang pengeluaran lainnya yang mungkin dapat engkau penuhi dengan sepersepuluh penghasilanmu. Coret pengeluaran yang lainnya dan pertimbangkanlah mereka sebagai beragam keinginan hati yang harus pergi tanpa perlu dipenuhi dan tidak perlu disesali.”
 
“Rencanakan pengeluaran yang penting, yang harus dikeluarkan. Jangan sentuh sepersepuluh yang mengisi kantung uangmu sebagai simpanan. Jadikanlah kegiatan mengisi kantung uang itu sebagai keinginan hatimu yang sedang engkau penuhi. Terus hidup dengan rencana itu, dan terus sesuaikan dengan keadaanmu. Jadikan dia sebagai pengawal yang mempertahankan usaha memenuhkan pundi-pundi uangmu.”
 
Sampai di sini, seorang murid, mengenakan jubah merah keemasan, berdiri dan bertanya, “Saya orang merdeka. Saya percaya bahwa adalah hak saya untuk menikmati hal-hal yang baik dan menyenangkan di kehidupan ini. Jadi saya menentang perbudakan yang dilakukan rencana pengeluaran ini yang membatasi berapa jumah yang dapat engkau keluarkan dan untuk apa pengeluaran dibolehkan. Saya rasa rencana itu akan mengambil sebagian besar kenikmatan hidupku dan membuat saya lebih seperti keledai pemanggul beban.”
 
Kepadanya Arkad meberikan jawaban, “Siapakah, temanku, yang akan menetapkan anggaran itu?”
 
“Aku akan membuatnya untuk diriku sendiri,” jawab murid yang memberi kritik bantahan tadi.
 
“Jika begitu, apakah keledai pemanggul tadi merencanakan juga beban yang ia panggul, permata, permadani dan batangan emas? Tidak begitu, yang direncanakan bukan beban yang akan dipanggul, yang direncanakan pemanggul tentunya, jerami dan biji-bijain serta kantung-kantung air untuk bekal makan minumnya diperjalanan.”
 
“Tujuan perencanaan belanja adalah untuk membantu kita menggemukkan pundi-pundi uang. Untuk membantu kita memenuhi keperluan mendasar dan, sepanjang dapat dicapai, memenuhi sebagian keinginan hati. Rencana itu dapat membuat engkau mampu memenuhi keinginan engkau yang utama dengan menjaganya dari grogotan keinginan yang tidak jelas. Seperti cahaya terang di dalam gua, engkau akan mampu menemukan kebocoran yang ada pada kantung uangmu dan menutupnya dan mengawasi pengeluaran-pengeluaran untuk hanya hal-hal yang pasti diperlukan dan pengeluaran yang jelas tujuannya.”
 
“Dengan itu, kemudian, berlanjut ke penyembuh kedua bagi kantung uang yang kosong. Rencanakan pengeluaranmu sesuai dengan keping uang yang engkau miliki untuk memenuhi kebutuhan mendasar hidupmu, membayar hal-hal yang akan menggembirakanmu dan memenuhi keinginan hatimu yang lain sepantasnya tanpa mengeluarkan lebih dari sembilan per sepuluh dari penghasilanmu.”
 
 
 
Penyembuh Ketiga
 
Lipatgandakan emasmu
 
 
“Lihat, kantung uang yang kosong mulai terisi. Apabila engkau telah mendisiplinan dirimu untuk menyisakan sepesepuluh dari seluruh penghasilanmu. Engkau telah rencanakan, atur dan cermati pengeluaranmu dan menjaga perkembangan kekayaanmu. Selanjutnya, kita mulai mempertimbangkan cara untuk mempekerjakan simpanan itu dan melipatgandakannya. Memiliki emas di pundi-pundi uang memang sangat memuaskan hati, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Emas yang terkumpul dalam simpanan kita merupakan awal perkembangan selanjutnya. Hasil yang akan diberikan emas itu akan menjadi alat yang dapat membantu membangun keberuntungan kita.” Itu, yang diucapkan Arkad di kelas pada hari ketiga.
 
“Bagaimana, selanjutnya kita mempekerjakan emas itu? Usaha pertamaku gagal, aku menghabiskan seluruh simpananku. Ceritanya akan kita bicarakan nanti. Usaha yang pertama kali memberikanku keuntungan adalah pinjaan yang kuberikan pada Aggar, pembuat tameng. Sekali setahun ia membeli kiriman perunggu yang dibawa kapal dari seberang laut, yang digunakannya sebagai bahan baku usahanya. Kekurangan modal untuk membayar pedagang perunggu, ia meminjam pada orang yang berkelebihan uang. Dia orang jujur yang terhormat. Pinjamannya semua terbayar kembali, ditambah sisa sewa uang, ketika ia berhasil menjual perisai hasil buatannya.
 
“Setiap kali, berikutnya ia kuberi pinjaman, kupinjamkan juga sisa sewa uang yang ia bayarkan padaku. Dengan begitu tidak saja modalku bertambah, hasil dari modal juga memberikan tambahan penghasilan. Sungguh memuaskan melihat bagaimana semua jumlah penerimaan itu masuk ke pundi-pundi uangku.”
 
“Kukatakan kepadamu, murid-muridku, kekayaan seseorang bukan dari banyaknya uang yang dibawa dalam kantung uangnya kesana kemari; tetapi aliran penghasilan yang dibangunnya, aliran emas yang terus menerus mengalir ke dalam kantung uangnya dan terus menerus membuatnya berkelimpahan. Itulah yang diinginkan setiap orang. Itulah juga yang engkau, semua yang hadir disini, menginginkannya; penghasilan yang terus menerus datang meski kamu bekerja atau sedang bepergian.
 
“Penghasilan yang sangat besar telah kuperoleh. Begitu banyaknya sehingga aku disebut sebagai orang kaya. Pinjaman yang kuberikan pada Aggar adalah pelajaran pertamaku mengusahakan simpanan yang berhasil. Berdasarkan pengalaman itu, aku mulai memperluas usaha itu, dan modalku terus meningkat. Dari beberapa sumber, kemudian bertambah dari lebih banyak sumber, semua mengalir ke dalam kantung uangku, aliran emas yang tersedia untuk penggunaan lebih lanjut, tetapi tetap harus digunakan dengan pertimbanagn yang bijaksana.”
 
“Begitulah, berawal dari penghasilan yang kecil sederhana aku telah memperoleh sepasukan budak emas, masing-masing budak bekerja dan memberikan hasi emas lebih banyak lagi. Sementara mereka bekerja untuk saya, anaknya, cucunya, juga menyertai mereka bekerja keras bersama-sama hingga semakin banyak penghasilan yang kuperoleh dari usaha bersama mereka.”
 
“Emas akan berkembang dengan cepat, apabila memberikan penghasilan yang memadai seperti yang engkau dapat lihat dalam cerita berikut ini : Seorang petani, ketika anak petamanya lahir, menyimpan sepuluh keping perak kepada pemberi pinjaman uang dan meminta dia menyimpannya sebagai modal yang akan disewakan hingga anaknya mencapai usia dua puluh tahun. Pemberi pinjaman uang ini kemudian setuju melaksanakan hal itu, dan memberikan sewa seperempat dari modal dalam jangka waktu empat tahun. Sang Petani meminta, karena uang itu sudah dipersiapkan untuk anaknya, agar sewa yang ia terima dimasukkan sebagai tambahan modal yang ia tanamkan.”
 
“Pada saat anak itu mencapai usia dua puluh tahun, Sang Petani berkunjung kembali kepada pemberi pinjaman uang menanyakan perihal uang peraknya. Pemberi pinjaman uang menjelaskan bahwa karena hasil sewanya telah ditambahkan pada modal yang semula ia tanam, jumlahnya bertambah lebih cepat, sepuluh keping perak yang ditanamkan sekarang telah berkembang menjadi tiga puluh setengah keping.”
 
“Sang Petani cukup puas dengan berita itu dan karena anaknya belum membutuhkan uang, ia menempatkan kembali semua uang itu pada pemberi pinjaman uang. Ketika anak petani itu berumur lima puluh tahun, sementara itu sang ayah sudah pergi ke alam arwah, pemberi pinjaman uang mengembalikan modal yang ditanamkan beserta penghasilannya kepada anak petani itu semuanya sebanyak seratus enam puluh tujuh keping perak.”
 
“Jadi, selama lima puluh tahun simpanan itu telah berlipat ganda beserta seluruh hasilnya sebanyak hampir tujuh belas kali lipat.”
 
“Ini, kemudian, yang menjadi penyembuh ketiga atas kantung uangmu yang melompong : Pekerjakan setiap keping kekayaanmu sehingga mereka menghasilkan kekayaan tambahan, bagai pasukan, mereka bekerja mengalirkan penghasilan bagimu, aliran penghasilan yang tidak ada hentinya ke dalam kantung uangmu.”
 
 
 
Penyembuh Keempat
 
Jaga hartamu dari kerugian
 
 
“Kemalangan sangat senang pada yang berkilau. Kilauan emas yang ada dalam pundi-pundi seseorang harus dijaga dengan ketat, jika tidak dia akan segera hilang. Jadi, akan sangat bijaksana apabila kita mulai dari belajar menjaga harta yang sedikit dengan seksama, sebelum Para Dewa memberikan kekayaan yang lebih besar untuk dijaga.” Ucap Arkad, pada hari keempat di kelas.
 
“Setiap pemilik emas akan selalu digoda berbagai kesempatan yang terlihat akan memberikannya hasil yang menggiurkan dalam bidang usaha yang terlihat sangat dapat dilaksanakan. Terkadang, sahabat bahkan keluarga bahkan mendukung usaha itu dan menganjurkan kita untuk terjun melaksanakannya.”
 
“Hal pertama dan yang utama dalam menjalankan usaha adalah keamanan atas modal yang ditanamkan. Apakah baik apabila tergoda oleh penghasilan yang lebih besar apabila ada kemungkinan modal yang ditanamkan akan hilang? Aku bilang tidak. Hal terburuk yang akan dihadapi dalam menjalankan usaha adalah kerugian. Pelajari dengan seksama, sebelum menanamkan kekayaanmu pada suatu usaha, yakinkan dirimu bahwa modal yang ditanamkan dapat kembali dengan selamat. Jangan tertuntun oleh bayangan keinginan hati yang indah tentang menghimpun kekayaan dengan cepat.”
 
“Sebelum memberikan pinjaman kepada seseorang, yakinkan dirimu akan kemampuannya untuk membayar kembali dan bahwa dia memiliki reputasi yang cukup baik untuk itu, agar jangan engkau menjadi seolah-olah memberikannya hadiah dari simpanan yang telah engkau himpun dengan bersusah payah.”
 
“Sebelum engkau menanamkan modalmu pada bidang usaha apapun kenalilah terlebih dahulu bahaya-bahaya yang mengintai dalam menjalankannya.”
 
“Penanaman modalku yang pertama merupakan suatu tragedi pada saat itu. Simpanan yang kujaga dan himpun selama setahun yang kupercayakan kepada seorang tukang bata, bernama Azmur, yang bepergian ke negeri di sebarang lautan, dan di Tyre disepakati ia akan membelikanku permata langka dari Phunisia. Permata itu akan kami jual di Babilonia sekembalinya dari perjalanan itu, dan keuntungannya akan kami bagi bersama. Orang Phunisia memang penipu, mereka menjual kepadanya sepotong kaca yang terlihat bagai permata. Habis simpananku. Hari ini, usaha itu telah mengajarkanku bahwa betapa bodohnya memberikan kepercayaan kepada tukang batu untuk berdagang permata.”
 
“Oleh karena itu, kuajarkan kepada engkau semua kebijakan yang telah kuperoleh dari pengalaman-pengalamanku : jangan terlalu yakin terhadap hasil buah pikiranmu dalam hal menanamkan kekayaanmu, perhatikan kemungkinan-kemungkinan buruknya. Jauh lebih baik kalau engkau meninta nasihat kepada seseorang yang sudah berpengalaman dan berhasil dalam menjalankan usaha. Nasihat seperti itu akan dengan diberikan dengan cuma-cuma dan akan bernilai setara dengan emas yang sama nilainya dengan modal yang akan engkau tanam. Nilai yang sesungguhnya dari nasihat adalah menyelamatkan engkau dari derita kerugian.”
 
“Inilah penyembuh keempat kantung uang yang kosong yang sangat penting, ia akan menjaga kantung uangmu dari kehilangan isinya setalah engkau berhasil menggemukkannya. Jaga kekayaanmu dari kerugian dengan cara menanamkannya hanya dalam usaha yang seluruh modalnya aman dan dapat engkau tarik kembali senadainya usah tersebut tidak menguntungkan. Berkonsultasilah dengan orang-orang bijak. Gunakan nasihat dari orang yang telah menunjukkan keberhasilan dalam menangani emas. Jadikan kebijaksanaan mereka menjaga kekayaanmu dari penanaman modal yang tidak aman.”
 
 
 
Penyembuh Kelima
 
Jadikan tempat tinggalmu sebagai penanaman modal yang menguntungkan
 
 
“Apabila seseorang telah menyisihkan untuk disimpan sepersepuluh dari penghasilannya, dan dia dapat hidup dengan sembilan bagian sisanya dengan hidup yang berkecukupan dan dari sembilan per sepuluh itu masih ada tersisa untuk dipergunakan sebagai modal usaha yang menguntungakan tanpa mengurangi keadaan kehidupannya, maka kekayaannya akan dapat lebih cepat berkembang,” itulah yang dikatakan Arkad pada pelajaran kelimanya.
 
“Sangat banyak penduduk Babilonia ini yang hidup berumahtangga dalam rumah-rumah petak. Mereka membayar sewa yang cukup tinggi pada pemilik rumah untuk ruangan kecil yang tidak ada tempat secuilpun tersisa bagi istri-istri mereka untuk menanam bunga yang akan menggembirakan hati mereka dan tidak tersedia pula tempat bagi anak-anak mereka bermain kecuali dalam gang-gang yang sempit.”
 
“Tidak ada satu keluargapun akan hidup dengan penuh kenyamanan kecuali ada tersedia lapangan bagi anak-anak untuk bermain dan sepetak kebun bagi istrinya untuk tidak hanya menanam bunga, tetapi juga sedikit sayuran dan buah yang hasilnya dapat digunakan sebagai tambahan menu keluarga.”
 
“Bagi hati seorang lelaki hal itu menambah kebahagiaan, memakan sayuran segar dan anggur
dari kebun sendiri. Memiliki rumah sendiri yang dengan senang hati dirawat, menambah kebanggaan dalam hatinya dan akan semakin mendorong kegiatan usahanya. Oleh karena itu, aku sangat menyarankan agar setiap orang memiliki atap tempat mereka berlindung.”
 
“Memiliki rumah bukanlah hal diluar kemampuan seseorang yang sangat bersungguh-sungguh. Bukankah Sang Raja telah memperluas wilayahnya dengan membangun tembok kota yang baru yang mencakup wilayah yang lebih luas yang didalamnya masih banyak tersisa tanah yang belum sepenuhnya terpakai, yang dapat dibeli dengan harga yang sedikit lebih terjangkau?”
 
“Juga, kukatakan kepadamu, murid-muridku, pemberi pinjman uang akan dengan senang hati memberikan pinjaman untuk kepentingan pembelian tanah dan pembangunan rumah di atasnya. Engkau bisa meminjam uang untuk kepentingan yang bernilai seperti membayar pembuat bata dan kuli bangunan, apabila engkau sendiri dapat menunjukkan ada bagian dana yang cukup memadai yang engkau tanggung sendiri.”
 
“Kemudian apabila rumah tersebut sudah jadi, engkau dapat membayar utang-utangmu secara teratur sebagaimana engkau dahulunya membayar sewa rumah petakmu. Karena setiap pembayaran akan mengurangi jumlah utangmu, dalam jangka waktu beberapa tahun utang-utang itu akan segera lunas.”
 
“Setelah itu barulah engkau akan merasakan kegembiraan memiliki rumah sendiri yang sangat bernilai, dan biaya yang engkau keluarkan untuk itu hanya tinggal pajak yang engkau harus bayarkan kepada Sang Raja.”
 
“Juga, apabila istrimu pergi ke sungai untuk mencuci pakaian, ia akan pulang dengan kantung kulti kambing berisi air yang akan dapat dia gunakan untuk menyirami tanaman di kebunnya.”
 
“Akan sangat banyak berkah yang akan datang pada seseorang yang memiliki rumah sendiri. Rumah itu akan menghindarkannya dari beban sewa dan itu sangat mengurangi biaya hidupnya, membuat tersedia dana yang lebih besar bagi meningkatkan taraf kehidupannya. Inilah yang menjadi penyembuh kelima kantong uang yang kosong : Miliki rumah sendiri.”
 
 
 
Penyembuh Keenam
 
Jamin penghasilanmu di masa depan
 
 
“Hidup setiap orang beranjak dari masa kecilnya hingga sampai usia renta. Itulah jalan kehidupan yang tidak ada seorangpun akan mempu menghindarinya kecuali Para dewa memanggilnya lebih awal ke dunai para arwah. Oleh karena itu kukatakan bahwa seharusnyalah seseorang : membuat persiapan untuk memperolah penghasilan yang memadai bagi masa depannya, apabila ia tidak lagi muda, dan : membuat persiapan bagi keluarganya apabila mereka tidak lagi bersama mereka untuk memberi nafkah. Pelajaran ini akan mengharuskan engkau semua untuk mempersiapkan kantung uang yang penuh berlimpah sebelum kemampuanmu memperoleh penghasian surut sepanjang meningkatnya usia.” Arkad menympaikan hal itu di kelasnya pada hari keenam.
 
“Orang yang, karena faham akan hukum kekayaan, akan memperoleh peningkatan perkembangan penghasilannya, harus memikirkan masa depannya. Ia harus merencanakan cara menanamkan modal simpanannya untuk cadangan yang diperkirakan akan tahan melalui jangka waktu yang cukup lama, dan akan tersedia baginya apabila diperlukan sesuai waktu yang diperkirakannya.”
 
“Ada berbagai cara yang dapat ditempuh seseorang untuk memperoleh jaminan penghasilan di masa depannya. Dia dapat mencari tempat rahasia dan menanamkan emas peraknya di tempat itu, namun begaimanapun ahlinya ia menyembunyikan hartanya paling tidak akan menjadi incaran penjarah. Dengan alasan ini aku tidak menyarakan melakukan hal itu.”
 
“Seseorang dapat membeli tanah dan rumah dengan hartanya untuk tujuan ini. Apabila dilakukan dengan petimbangan yang tepat, nilai tanah dan rumah itu di masa yang akan datang akan terjaga, dan penghasilan yang dapat diperoleh darinya di masa yang akan datang lebih dapat diharapkan.”
 
“Yang lainnya dapat menanamkan uangnya sebagai modal pada pemberi pinjaman uang sehingga jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Sewa uangnya ditambahkan sebagai tambahan modal yang ditanamkan akan lebih meningkatkan penghasilannya. Aku mengenal pembuat sandal, bernama Arsan, yang menjelaskan padaku belum lama berselang, bahwa setiap minggu selama delapan tahun ia telah menempatkan dua keping perak sebagai modal pada pemberi pinjaman uang. Pemberi pinjaman uang telah mengembalikan kepada Arsan perhitungan penanaman modalnya yang sangat menyenangkan hati Arsan. Jumlah penanaman kecilnya, dua keping perak setiap minggu dan hasil sewa uangnya yang disetujui sebesar seperempat nilainya setiap empat tahun, sekarang telah menjadi seribu empat puluh keping perak.”
 
“Aku dengan bersemangat menganjurkan Arsan utnuk terus melanjutkan apa yang telah ia lakukan dengan menunjukkan nilai simpanannya dalam dua belas tahun ke depan, berdasarkan perhitunganku, apabila ia tetap melanjutkan penanaman tiap minggunya, pemberi pinjaman uang itu akan memperhitungkan penanaman modal Arsan sebesar empat ribu keping perak, jumlah yang cukup untuk mebuatnya sejahtera seumur hidupnya.”
 
“Yakinlah, penanaman kecil yang dibuat terus menerus akan memberikan hasil yang menguntungkan, tidak ada orang yang mengharapkan akan mendapatkan masa tuanya atau masa depan keluarganya tidak terjamin, seberapa berhasil usahanya dan seberapa menguntungkan penanaman modalnya kini.”
 
“Kulanjutkan dengan bahasan lebih mendalam berkenaan dengan hal ini. Dalam pikiranku, aku percaya bahwa suatu hari nanti orang-orang yang bijaksana akan menciptakan sesuatu rencana yang akan menjamin penghasilan di masa depan apabila sesorang meninggal, penghasilan tersebut di dukung oleh banyak sekali orang yang akan membayarnya dalam jumlah yang sedikit secara teratur, sehingga jumlah yang cukup beasar akan dapat diterima oleh keluarga yang ditinggalkan ke alam arwah. Hal inilah yang menurut pendapatku sangat bisa diterima dan sangat kuanjurkan untuk dilakukan. Tetapi saat ini hal itu tidak mungkin dilakukan karena kegiatan itu harus berlanjut melebihi umur manusia bahkan melebihi usia kegiatan usaha-usaha yang selama ini ada di Babilonia. Kegiatan atas usaha seperti itu haruslah berusia panjang dan dapat bertahan lama seperti usia sebuah kerajaan. Suatu hari aku yakin hal ini akan ada yang melaksanakannya karena sangat bermanfaat bagi banyak orang, karena meski dengan pembayaran berkala yang kecil, ia akan menyediakan penghasilan yang cukup besar bagi keluarga yang ditinggalkan ke alam arwah.”
 
“Tetapi, karena kita hidup di masa kita sendiri, bukan di masa yang akan datang, kita hanya dapat manfaatkan setiap bentuk jalan yang tersedia saat ini bagi mencapai tujuan kita. Oleh karena itu aku menyarankan kepada setiap orang, agar mereka, dengan cara yang bijak dan yang telah difikirkan dengan mendalam, mempersiapkan diri bagi kosongnya kantung uang mereka di masa-masa hidupnya menjelang senja. Karena kantung uang yang kosong bagi orang yang sudah tidak lagi mampu menghasilkan pendapatan, karena tuanya, atau keluarga yang ditinggalkan karena telah mendahuluinya, sangat merupakan tragedi yang pahit.”
 
“Inilah, penyembuh keenam bagi kantung uag yang kosong. Persiapkan sedini mungkin bagi kebutuhan masa tuamu dan persiapkan juga perlindungan bagi keluargamu.”
 
 
 
Penyembuh Ketujuh
 
Tingkatkan kemampuan memperoleh penghasilan
 
 
“Hari ini kukatakan kepadamu, murid-muridku, tentang satu penyembuh utama bagi kantung uangmu yang kosong. Tetapi, aku tidak membicarakan tentang uang dan kekayaan, aku akan mebicarakan tentang dirimu, tentang seseorang di balik jubah beraneka warna yang duduk didepanku sat ini. Aku akan menyampaikan kepadamu tentang fikiran dan kehidupan seseorang yang mendukung atau menghambat keberhasilan mereka.” Begitulah Arkad membuka perckapan di depan kelasnya pada hari ketujuh.
 
“Beberapa wkatu yang lalu datang kapadaku seorang anak muda mengajukan pinjaman uang. Ketika kutanyakan kepadanya keperluan apa yang mendesaknya melakukan pinjaman uang, ia mengeluhkan tentang penghasilannya yang tidak dapat memenuhi biaya hidupnya. Selanjutnya kujelaskan kepadanya, apabila begitu keadaannya, ia merupakan pelanggan yang buruk bagi pemberi pinjaman uang, karena ia tidak memiliki kelebihan uang atas seluruh penghasilannya, dan pasti tidak akan mampu membayar kembali pinjaman itu.”
 
“’Apa yang engkau perlukan, anak muda,’ kukatakan padanya, ‘adalah berusaha memperoleh penghasilan yang lebih banyak. Apa yang akan engkau lakukan untuk mendapat penghasilan tambahan?’
 
“’Apa yang bisa kulakukan,’ jawabnya. ‘Enam kali dalam dua purnama saya sudah meminta pada tuanku untuk menambah penghasilanku, tapi tidak pernah dikabulkan. Tidak ada orang yang lebih sering dari diriku meminita tambahan penghasilan.’”
 
“Kita tersenyum mendengar kesederhaan ini, namun anak muda itu memiliki sesuatu persyaratan yang utama bagi usaha meningkatkan penghasilannya. Dalam dirinya ada keinginan hati yang kuat untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar, sebuah niat yang pas dan sangat dianjurkan untuk dimiliki.”
 
Pencapaian selalu didahului dengan keinginan hati. Keinginan hatimu harus kuat dan jelas.” Keinginan hati yang umum, tidak jelas, merupakan angan-angan semata. Seseorang yang berkeinginan untuk menjadi orang kaya, keinginan hati itu tidak berguna sama sekali. Tetapi, apabila seseorang berkeinginan untuk memperolah lima keping emas, itu baru jelas dan dapat diusahakannya untuk dipenuhi. Setelah ia tekadkan tujuannya untuk memperoleh lima keping emas, selanjutnya ia akan dapat melakukan hal yang serupa untuk memperoleh sepuluh, kemudian untuk dua puluh keping dan berikutnya seribu keping dan, tanpa disadari, ia telah menjadi kaya. Dengan belajar mencapai tujuan hatinya yang kecil, ia telah melatih dirinya untuk mencapai tujuan lain yang lebih besar. Itulah proses yang akan menghimpun kekayaan bersamanya: pertama dalam jumlah sedikit, selanjutnya dalam jumlah yang lebih besar sejalan dengan perkembangan orang itu belajar dan akhirnya menjadi pengusaha yang lebih berkemampuan dan tangguh.”
 
“Keinginn hati harus sederhana dan jelas. Tujuannya menjadi tidak jelas kalau terlalu banyak dan ruwet atau di luar kemampuan orang tersebut untuk mencapainya.”
 
“Ketika seseorang meningkatkan dan menyempurnakan kemampuannya begitu pula kemampuannya untuk memperoleh penghasilan akan ikut meningkat. Dahulu pada saat awal aku menjadi penulis lempeng tanah liat, kuhasilkan beberapa keping perunggu sehari, kuperhatikan pekerja lain ada yang melakukan hal yang lebih baik dan berpenghasilan lebih banyak dariku. Lalu, aku bertekad untuk berusaha memperoleh penghasilan yang tidak bisa dilebihi dari pekerja lainnya. Tidak terlalu lama bagiku untuk mengetahui apa penyebab mereka memperoleh keberhasilan. Minat yang lebih banyak pada pekerjaanku, lebih tekun malakukan tugasku, bersungguh-sungguh dalam usahaku, akhirnya, tidak ada orang yang dapat menulis lempeng lebih banyak dari yang aku tulis dalam satu hari. Bersamaan dengan meningkatnya keahlianku penghasilanku pun bertambah dengan sendirinya, tanpa perlu aku enam kali mendatangi tuanku untuk meminta tambahan penghasilan.”
 
“Semakin banyak ilmu yang kita miliki, semakin besar yang dapat kita hasilkan. Orang yang mencari keahlian dan belajar lebih banyak dalam bidang usahanya akan diganjar dengan penghasilan yang lebih besar. Apabila dia seniman, ia akan belajar cara-cara dan alat-alat yang paling baik dalam bidangnya. Apabila dia bergerak di bidang hukum atau pengobatan, ia akan berkonsultasi dan bertukar pikiran dengan ahli di bidangnya. Apabla ia pedagang, ia akan terus mencari barang yang lebih baik yang dapat dibeli dengan harga yang lebih rendah.”
 
“Kehidupan dan ilmu seseorang selalu berubah dan menjadi lebih baik karena orang ingin selalu mencari keahlian yang labih sempurna, agar dapat memberikan sesuatu yang lebih baik pada lawan usahanya, itu yang sangat ia perlukan. Oleh karena itu kuminta agar setiap orang untuk selalu berada di baris terdepan dalam gerak kemajuan di bidangnya masing-masing, jangan berhenti, kalau tidak ia akan tertinggal di belakang.”
 
“Bayak hal yang dihadapi seseorang yang dapat memperkaya hidupnya dengan perolehan pengalaman. Hal-hal yang berikut ini, adalah hal yang musti dilakukan seseorang apabila ia ingin menghargai dirinya sendiri :
 
Ia harus membayar utangnya tepat waktu sesuai dengan kemampuannya, tidak membeli susuatu yang tidak mampu ia bayar.”
 
Ia harus menjaga keluarganya sehingga mereka akan mengatakan hal yang baik tentang dia.”
 
Ia harus membuat catatan warisan tertulis agar, dalam hal Para Dewa memanggilnya, pembagian kekayaannya dapat dilakukan dengan tanpa pertikaian.”
 
Ia harus memiliki rasa kasihan pada orang yang terluka atau tertimpa bencana dan membantu mereka dalam batas-batas yang wajar. Dia juga harus melakukan hal-hal yang baik sepenuh hati bagi orang-orang yang bersikap baik kepadanya.”
 
“Jadi, penyembuh ketujuh bagi kantung uang yang kosong adalah tanam dan pupuk kekuatanmu, terus belajar dan menjadi lebih bijaksana, menjadi lebih ahli di bidangnya, dan bertindak sebagaimana engkau menghargai dirimu sendiri. Dengan begitu engkau akan memperoleh kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam usaha mencapai keinginan hatimu yang telah engkau tetapkan dengan seksama.”
 
 
====
 
 
“Itulah ketujuh penyembuh kantung uang yang kosong, yang, dirangkum dari pengalaman  panjang kehidupan yang berhasil, yang sangat kuanjurkan pada orang yang ingin mencari kekayaan.”
 
“Di Babilonia ini sangat banyak sekali emas, murid-muridku, lebih banyak dari yang engkau pernah bayangkan. Semuanya berlimpah ruah.”
 
“Berusahalah engkau menerapkan kebenaran ini, maka engkau akan sejahtera dan menjadi kaya raya, karena itu memang hakmu.”
 
“Berusahalan engkau dan ajarkan pengetahuan ini agar setiap warga kerajaan ini dapat juga hidup berkecukupan, tidak kurang suatu apa, dan hidup penuh berkelimpahan di kota kita tercinta ini.”
 
 
 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar