TUJUH KUTUKAN KEMELARATAN
Kemakmuran Babilonia bertahan lama, bergema ke seluruh
wilayah dunia. Bertahun-tahun kemasyhurannya yang kita dengar sebagai kota
terkaya, yang memiliki kelimpahan harta yang sungguh mencengangkan.
Tetapi pada zaman dahulu, sebelumnya, tidaklah demikian
halnya. Orang-orang kaya Babilonia bertumbuh sebagai hasil kebijaksanaan
penduduknya. Mereka awalnya harus banyak belajar bagaimana menjadi kaya.
Ketika Raja yang ternama, Sargon, kembali ke Babilonia,
setelah mengalahkan musuh-musuhnya, bangsa Elamit, ia mendapatkan keadaan
penduduk kota yang kurang bagus. Penasehat Raja menjelaskan hal itu kepada Sang
Raja :
“Dulu, setelah tahun-tahun makmur yang dialami penduduk kota
karena kerajaan telah membangun kanal irigasi yang luar biasa dan mendirikan
Kuil Raja bagi Para Dewa, tapi sekarang setelah pekerjaan tersebut selesai,
rakyat kelihatannya tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya..
“Para kuli hidup tanpa pekerjaan. Saudagar kehilangan
pelanggan. Para petani tidak dapat menjual hasil kebunnya. Masyarakat bahkan
tidak mempunyai cukup emas untuk membeli makanan.”
“Tetapi, kemana perginya semua emas yang kita keluarkan
untuk pembangunan itu?” tanya Sang Raja.
“Emas-emas itu beredar kemudian, saya khawatir,” sahut Sang
Penasehat, “mengalir menjadi milik beberapa orang kaya di kota ini. Beredar
cepat dari tangan-tangan pemiliknya seperti susu kambing mengalir melalui
saringan, dalam perputaran kehidupan penduduk kota. Sekarang saat aliran emas
itu terhenti, sebagain besar pemilik emas itu telah kehabisan kepemilikannya,
penghasilannya habis tak berbekas.”
Sang Raja menjadi masgul, terpekur beberapa saat. Kemudian
ia bertanya, “Bagaimana mungkin hanya beberapa orang saja yang akhirnya
menguasai seluruh emas itu?”
“Karena mereka tahu caranya,” jawab Sang Penasehat. “Kita
tidak dapat mengutuk keberhasilan seseorang hanya karena mereka mengetahui
bagaimana cara mencapai keberhasilan. Kita juga tidak dapat dengan kekuatan
hukum mengambil bagian kekayaannya yang didapat secara benar, dan memberikannya
kepada yang kurang mampu.”
“Tetapi mengapa,” tuntut Sang Raja, “tidak semua orang
belajar bagaimana mengumpulkan emas dan dengan demikian dapat menjadikannya
sebagai seorang hartawan dan penuh kemakmuran?”
“Berkemungkinan bisa, Tuanku. Tetapi siapa yang akan
mengajarkan mereka? Para Imam sudah pasti tidak bisa, karena mereka sama sekali
tidak mengetahui permasalahan memperoleh penghasilan.”
“Di seluruh kota kita ini, siapa yang paling mengetahui
bagaimana cara menjadi kaya, Penasihat?” tanya Sang Raja.
“Pertanyaan Tuanku sudah terjawab sendiri, Tuanku. Siapa
yang paling kaya di Babilonia?”
“Benar sekali, Penasihat ahliku. Dia Arkad. Dia orang
terkaya di babilonia. Bawa dia menghadapku besok pagi.”
Keesokan harinya, sesuai titah Sang Raja, Arkad menghadapnya,
tegak dan terlihat gagah meski usianya sudah mencapai sembilan windu.
“Arkad,” ujar Sang Raja. “Apakah benar anda orang terkaya di
Babilonia?”
“Bagitulah yang saya dengar, Tuanku, dan kelihatannya tidak
ada yang membantahnya.”
“Bagaimana caranya engkau menjadi sebegitu kayanya?”
“Dengan mengambil keuntungan atas kesempatan yang tersedia
bagi seluruh masyarakat di kota kita yang baik ini.”
“Engkau memulainya dari tidak memiliki apa-apa?”
“Hanya keinginan besar untuk memperoleh kekayaan. Di samping
itu tidak ada yang lain.”
“Arkad,” lanjut Sang Raja, “Keadaan kota kita saat ini
kurang begitu baik karena hanya segelintir orang saja yang mengetahui cara
mengumpulkan kekayaan dan menguasai peredarannya, sementara sebagian besar
masyarakat tidak mengetahui samasekali bagaimana cara mengumpulkan emas yang
diperoleh dari usahanya.”
“Cita-citaku, Babilonia menjadi kota terkaya di dunia. Oleh
karena itu, kota ini harus menjadi kota yang penuh dengan orang yang kaya raya.
Katakan padaku, Arkad, apakah ada rahasia dalam mengumpulkan kekayaan? Dapatkah
hal itu diajarkan?”
“Bisa, Tuanku. Sesuatu yang diketahui seseorang dapat
diajarkan kepada yang lainnya.”
Mata Sang Raja berbinar. “Arkad, engkau telah mengucapkan
kata-kata yang sangat ingin kudengar. Maukah engkau melaksanakan tugas mulia
yang besar ini? Maukah engkau menularkan pengetahuanmu kepada semua pendidik,
yang selanjutnya saling mengajarkan sehingga kita mempunyai cukup banyak pendidik
yang akan mengajarkan cara mengumpulkan kekayaan pada setiap anggota masyarakat
di kota ini yang sangat memerlukannya.”
Arkad mengusung sembah dan berkata, “Hamba akan patuh
melaksanakannya, Tuanku. Pengetahuan apa pun yang hamba miliki akan dengan
senang hati akan hamba sebarkan demi saudara-sudaraku di kota Babilonia dan
demi kejayaan kerajaan ini. Hamba persilakan Sang Penasehat yang baik
mempersiapkan sebuah kelas berisi seratus orang, dan akan hamba paparkan pada
mereka tujuh obat yang telah menggemukkan pundi-pundi uang hamba yang dahulunya
tidak ada pundi uang yang lebih kosong dari pundi milik hamba di seluruh
Babilonia.”
Dua minggu kemudian, mematuhi titah Sang Raja, seratus orang
yang terpilih berkumpul di aula Kuil Pembelajaran, duduk berjejer setengah
lingkaran di dalam ruangan bundar yang cerah. Arkad duduk di sebelah bejana
kecil yang dari dalamnya keluar asap dari lampu keramat, menyebarkan bau dupa
yang wanginya sangat menyenangkan.
“Lihat, orang terkaya di Babilonia,” bisik salah satu
peserta, sambil menyikut orang di sampingnya, ketika Arkad mulai berdiri. “Dia
manusia biasa sama saja seperti kita semua.”
“Sebagai warga yang patuh pada Raja kita yang agung,” Arkad
memulai pembicaraannya, “Saya berdiri di hadapan kamu semua demi melayaninya.
Karena dahulunya saya adalah anak muda yang sangat papa tetapi sangat
menginginkan memiliki emas yang berlimpah, dan karena kudapatkan pengetahuan
yang membuatku mampu mencapai keinginanku, Sang Raja memintaku agar menularkan
pengetahuan itu kepada engkau semua.”
“Aku memulai keberuntunganku dengan cara yang paling
sederhana. Aku tidak memiliki kelebihan apa pun, aku juga tidak berkecukupan
dibandingkan dengan engkau semua bahkan dibandingkan seluruh penduduk
Babilonia.”
“Gudang uangku yang pertama hanyalah sebuah kantung usang.
Yang sangat kubenci karena selalu kosong dan tidak berguna. Aku menginginkan ia
agar berbentuk bundar, penuh terisi, berdencing dengan suara emas. Jadi, kucari
penyembuh kantung kosong itu. Aku menemukan tujuh penyembuh.
“Kepada engkau sekalian, yang hadir didepanku ini, akan
kujelaskan ke tujuh penyembuh kantung kosong yang kusarankan kepada semua orang
yang menginginkan kelimpahan emas. Setiap hari selama tujuh hari akan
kujelaskan kepadamu satu dari tujuh penyembuh itu.”
“Dengarkan dengan sepenuh hati pengetahuan yang akan
kusampaikan. Bahas bersamaku. Diskusikan sesamamu. Pelajari sedalam-dalamnya
inti sari pelajaran ini, agar engkau semua dapat mengisi di kantongmu
masing-masing, bibit-bibit kekayaan. Pertama kali hendaklah setiap orang
memulai dengan bijaksana mengumpulkan keberuntungan bagi dirinya masing-masing.
Kemudian, apabila engkau sudah cukup mampu, hanya bila engkau sudah cukup
mampu, ajarkanlah pengetahuan ini kepada orang lain.”
“Aku akan mengajarkannya dengan cara yang sederhana
bagaimana memenuhkan pundi-pundimu. Itu merupakan langkah pertama menuju ke
kuil kekayaan, dan tidak akan ada yang akan sampai ke sana apabila dia tidak
menanamkan kakinya kuat-kuat pada langkah pertama.
“Sekarang kita bahas penyembuh pertama.”
Penyembuh Pertama
Mulai gelembungkan
kantung uangmu
Arkad menyampaikan pertanyaanya kepada seorang yang terlihat
berpendidikan yang duduk di baris kedua.
“Sahabat baikku, apa yang merupakan keahlianmu?”
“Saya,” jawab orang itu, “penyalin dan penulis naskah pada
lempeng tanah liat.”
“Ya, dengan pekerjaan seperti itulah saya memperoleh perakku
yang pertama. Jadi, engkau memiliki kesempatan yang sama untuk menghimpun
kekayaan.”
Ia berkata pada seorang yang tampan yang duduk di baris yang
lebih di belakang, “Coba katakan pada kami apa yang engkau lakukan untuk
menafkahi keluargamu.”
“Saya,” balas orang ini, “tukang daging. Saya membeli
kambing-kambing dari penggembala menyembelih dan menjualnya pada para ibu rumah
tangga dan kulitnya saya jual kepada pembuat sandal.”
Karena engkau bekerja dan menghasilkan uang, engkau memiliki
kesempatan yang sama untuk berhasil seperti yang saya alami.”
Dengan cara itu Arkad memulai. Mencari keterangan bagaimana
setiap peserta bekerja memperoleh penghasilan untuk kehidupannya. Setelah dia
selesai menanyai semua peserta, ia berkata :
“Sekarang, murid-muridku, engkau dapat melihat ada berbagai
usaha dan kegiatan dalam memperoleh penghasilan. Setiap cara itu merupakan arus
masuknya emas, dari situlah setiap penghasil uang itu menyalurkan sebagian dari
hasilnya untuk kantung uagnya sendiri. Ke dalam setiap kantung uang kalian
semua mengalir uang, baik dalam jumlah banyak ataupun sedikit, tergantung pada
keampuannya masing-masing. Bukankah begitu?”
Terlihat semuanya setuju dengan pendapat itu.
“Kemudian,” lanjut Arkad, “apabila setiap orang berkeinginan
untuk menghimpun kekayaan yang lebih besar bagi dirinya, sangat tidak mungkin
untuk memulainya dari penggunaan sumber penghasilan yang telah engkau lakukan.”
Dengan hal ini pun semua peserta menyetujuinya.
Kemudian Arkad menoleh kepada seorang yang terlihat sederhana
yang telah menerangkan bahwa dirinya adalah pedagang telur. “Apabila engkau isi
setiap keranjang telurmu setiap pagi dengan sepuluh butir telur, kemudian
mengeluarkan dan menjual sembilan butir telur setiap petang, setelah beberapa
lama apa yang akan terjadi?”
“Akan banyak sekali sisa telur di rumahku.”
“Mengapa?”
“Setiap hari akau menjual lebih sedikit telur dari yang
kukumpulkan, akhirnya aku menyimpan banyak kelebihan.”
Arkad kemudian melayangkan pandangannya ke seluruh isi kelas
dengan tersenyum, bertanya, “Apakah dalam kelas ini ada yang kantung uangnya
kosong?”
Semula mereka melihat hal itu lucu. Kemudian mereka tertawa.
Akhirnya mereka tunjukkan kantung uang mereka dengan penuh canda getir.
“Baiklah,” lanjut Arkad. “Sekarang kuberitahukan padamu obat
pertama untuk mengisi kantung uang yang kosong yang aku telah pelajari. Lakukan
seperti apa yang kusarankan pada pedagang telur. Setiap sepuluh keping uang
yang engkau masukkan dalam kantung uangmu, pergunakanlah hanya sembilan untuk
keperluan keseharian kehidupanmu. Kantung uangmu akan segera mulai terisi dan
tambahan beratnya yang engkau rasakan ditanganmu akan seketika terasa menyenangkan
hatimu.”
“Jangan remehkan apa yang kukatakan karena kesderhanaannya.
Kebenaran itu sangat sederhana. Kukatakan pada engkau semua akan kuceritakan
bagaimana aku menghimpun kekayaanku. Inilah awal dari semuanya. Saya, juga,
dulu memiliki kantung uang yang kosong dan sangat menderita karena dengan begitu
tidak ada kesenanganku yang dapat kupenuhi. Tetapi begitu aku mulai hanya
menggunakan sembilan keping uang dari sepuluh yang kuperoleh, kantung uangku
mulai menggembung. Begitupula bisa, bagi engkau sekalian”
“Sekarang akan kuceritakan kebenaran yang cukup aneh, yang
alasannya tidak kuketahui. Sejak kukeluarkan hanya sembilan dari sepuluh yang
kuperoleh, kehidupanku biasa-biasa aja, aku bahkan tidak merasa menjadi lebih
berkekurangan apa-apa. Kemudian, tak selang beberapa lama, bahkan uang datang
kepadaku lebih mudah daripada sebelumnya. Sudah pasti itulah ketentuan hukum
Para Dewa, bahwa kepada siapa yang menyimpan sebagian dan menggunakan hanya
sebagian tapi tidak seluruh penghasilannya, emas akan datang dengan lebih
lancar. Sebaliknya, orang yang kantung uangnya kosong, akan dihindari emas.”
“Apa yang paling engau inginkan? Apakah kesenangan
sehari-hari yang engkau inginkan, perhiasan, sedikit barang mewah, pakaian
bagus, makan lebih banyak; hal-hal yang segera berlalu dan dilupakan? Atau
hal-hal yang lebih bermakna, emas, tanah, ternak, barang dagangan, pengeluaran
yang memberikan hasil tambahan? Keping uang yang engkau keluarkan dari kantung
uangmu akan memberikanmu hal-hal yag pertama, keping uag yang engkau tinggalkan
dalam kantung uangmu sebagai simpanan akan memberikanmu hal yang terakhir.”
“Itulah, murid-muridku, obat pertama yang aku temukan bagi
menyembuhkan kantung uangku yang kosong : ‘Setiap
sepuluh keping yang engkau peroleh, gunakanlah hanya sembilan.’ Bahaslah
hal ini sesama peserta di kelas ini. Apabila ada di antara engkau yang dapat
membuktikan ketidakbenarannya, katakan padaku besok ketika kita bertemu di
kelas ini kembali.”
Penyembuh Kedua
Atur dan cermati
pengeluaranmu
“Sebagian peserta, murid-muridku, telah bertanya padaku:
‘Bagaimana mungkin seseorang menyimpan sepersepuluh dari yang diperolehnya
dalam kantung uangnya sementara setiap keping uang yang dimilikinya itu tidak
dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya?’” itulah yang pertama kali
disampaikan Arkad pada hari kedua.
“Kemarin ada berapa dari semua murid di sini yang memiliki
pundi-pundi yang kosong?”
“Kami semua,” seru seisi kelas.
“Padahal, engkau semua tidak memiliki penghasilan yang sama.
Yang satu memperoleh penghasilan yang lebih besar dari yang lainnya. Sementara
ada yang memiliki tanggungan keluarga yang lebih besar dari yang lainnya.
Namun, mengapa semua sama, kantung uangnya kosong? Sekarang biar kunyatakan
kebenaran yang tidak biasa yang dilakukan manusia dan anak cucunya. Yaitu : Apa
yang masing-masing dari kita sebutkan ‘pengeluaran yang penting, yang harus
dikeluarkan’ akan senantiasa berkembang sejalan dengan peningkatan penghasilan,
kecuali kita menolaknya dengan melakukan sebaliknya.”
“Jangan campur adukkan pengeluaran penting, yang harus
dikeluarkan dengan keinginan hati. Setiap yang hadir di sini, bersama-sama
dengan keluargamu yang berbahagia, memiliki keinginan hati yang jauh lebih
besar dari yang dapat dipuaskan oleh penghasilanmu. Oleh karena itu meskipun
seluruh penghasilanmu engkau gunakan memenuhi keinginan hatimu sebanyak yang
dapat diperoleh dengan semua penghasilan itu. Tetap saja engkau akan masih
memiliki keinginan hati yang belum terpenuhi.”
“Setiap orang dibebani keinginan hati yang lebih besar dari
yang dapat ia penuhi. Apakah dengan seluruh kekayaan yang kumiliki saat ini
engkau fikir aku akan dapat memenuhi tak terbatasnya keinginan hatiku? Itu
pemikiran yang salah. Pada setiap saat selalu ada batas waktu. Pada setiap
kekuatan pasti ada batas kemampuan. Selalu ada batas jarak yang mampu kutempuh dalam
perjalananku. Ada batas jumah yang dapat kumakan. Begitupula ada batas kepuasan
yang kuperoleh dari sebuah kenikmatan.”
“Kukatakan padamu, sebagaimana rerumputan akan bertumbuh di
perkebunan apabila para petani meninggalkan sejumput akar dikebun yang
disiangnya, begitulah keinginan hati akan tumbuh dibenakmu apabila ada
kemungkinan tersedianya kemampuan untuk memenuhinya. Keinginan hati sangat
banyak ragamnya dan yang dapat engkau penuhi hanyalah tidak lebih dari sebagian
kecilnya.”
“Perhatikan dan pelajari dengan mendalam kebiasaan dalam
hidupmu. Disitulah nanti biasanya akan engkau temukan beberapa pengeluaran
tertentu yang biasanya engkau keluarkan sesungguhnya dapat degan bijak engkau
kurangi, bahkan menghilangkannya sama sekali dari daftar pengeluaranmu. Jadikan
motto dalam dirimu bahwa untuk setiap keping uang yang engkau keluarkan harus
memberikan nilai seratus persen, tidak ada yang disia-siakan.”
“Oleh karena itu, coba tuliskan dalam lempeng tanah liat
setiap pengeluaran untuk apa yang engkau inginkan. Pilihlah pengeluaran yang
penting, yang harus dikeluarkan dan yang pengeluaran lainnya yang mungkin dapat
engkau penuhi dengan sepersepuluh penghasilanmu. Coret pengeluaran yang lainnya
dan pertimbangkanlah mereka sebagai beragam keinginan hati yang harus pergi
tanpa perlu dipenuhi dan tidak perlu disesali.”
“Rencanakan pengeluaran yang penting, yang harus
dikeluarkan. Jangan sentuh sepersepuluh yang mengisi kantung uangmu sebagai
simpanan. Jadikanlah kegiatan mengisi kantung uang itu sebagai keinginan hatimu
yang sedang engkau penuhi. Terus hidup dengan rencana itu, dan terus sesuaikan
dengan keadaanmu. Jadikan dia sebagai pengawal yang mempertahankan usaha memenuhkan
pundi-pundi uangmu.”
Sampai di sini, seorang murid, mengenakan jubah merah
keemasan, berdiri dan bertanya, “Saya orang merdeka. Saya percaya bahwa adalah
hak saya untuk menikmati hal-hal yang baik dan menyenangkan di kehidupan ini.
Jadi saya menentang perbudakan yang dilakukan rencana pengeluaran ini yang
membatasi berapa jumah yang dapat engkau keluarkan dan untuk apa pengeluaran
dibolehkan. Saya rasa rencana itu akan mengambil sebagian besar kenikmatan
hidupku dan membuat saya lebih seperti keledai pemanggul beban.”
Kepadanya Arkad meberikan jawaban, “Siapakah, temanku, yang
akan menetapkan anggaran itu?”
“Aku akan membuatnya untuk diriku sendiri,” jawab murid yang
memberi kritik bantahan tadi.
“Jika begitu, apakah keledai pemanggul tadi merencanakan
juga beban yang ia panggul, permata, permadani dan batangan emas? Tidak begitu,
yang direncanakan bukan beban yang akan dipanggul, yang direncanakan pemanggul
tentunya, jerami dan biji-bijain serta kantung-kantung air untuk bekal makan
minumnya diperjalanan.”
“Tujuan perencanaan belanja adalah untuk membantu kita
menggemukkan pundi-pundi uang. Untuk membantu kita memenuhi keperluan mendasar
dan, sepanjang dapat dicapai, memenuhi sebagian keinginan hati. Rencana itu
dapat membuat engkau mampu memenuhi keinginan engkau yang utama dengan
menjaganya dari grogotan keinginan yang tidak jelas. Seperti cahaya terang di dalam
gua, engkau akan mampu menemukan kebocoran yang ada pada kantung uangmu dan
menutupnya dan mengawasi pengeluaran-pengeluaran untuk hanya hal-hal yang pasti
diperlukan dan pengeluaran yang jelas tujuannya.”
“Dengan itu, kemudian, berlanjut ke penyembuh kedua bagi
kantung uang yang kosong. Rencanakan
pengeluaranmu sesuai dengan keping uang yang engkau miliki untuk memenuhi
kebutuhan mendasar hidupmu, membayar hal-hal yang akan menggembirakanmu dan
memenuhi keinginan hatimu yang lain sepantasnya tanpa mengeluarkan lebih dari
sembilan per sepuluh dari penghasilanmu.”
Penyembuh Ketiga
Lipatgandakan emasmu
“Lihat, kantung uang yang kosong mulai terisi. Apabila
engkau telah mendisiplinan dirimu untuk menyisakan sepesepuluh dari seluruh
penghasilanmu. Engkau telah rencanakan, atur dan cermati pengeluaranmu dan
menjaga perkembangan kekayaanmu. Selanjutnya, kita mulai mempertimbangkan cara
untuk mempekerjakan simpanan itu dan melipatgandakannya. Memiliki emas di
pundi-pundi uang memang sangat memuaskan hati, tetapi tidak menghasilkan
apa-apa. Emas yang terkumpul dalam simpanan kita merupakan awal perkembangan
selanjutnya. Hasil yang akan diberikan emas itu akan menjadi alat yang dapat
membantu membangun keberuntungan kita.” Itu, yang diucapkan Arkad di kelas pada
hari ketiga.
“Bagaimana, selanjutnya kita mempekerjakan emas itu? Usaha
pertamaku gagal, aku menghabiskan seluruh simpananku. Ceritanya akan kita
bicarakan nanti. Usaha yang pertama kali memberikanku keuntungan adalah pinjaan
yang kuberikan pada Aggar, pembuat tameng. Sekali setahun ia membeli kiriman
perunggu yang dibawa kapal dari seberang laut, yang digunakannya sebagai bahan
baku usahanya. Kekurangan modal untuk membayar pedagang perunggu, ia meminjam
pada orang yang berkelebihan uang. Dia orang jujur yang terhormat. Pinjamannya
semua terbayar kembali, ditambah sisa sewa uang, ketika ia berhasil menjual
perisai hasil buatannya.
“Setiap kali, berikutnya ia kuberi pinjaman, kupinjamkan
juga sisa sewa uang yang ia bayarkan padaku. Dengan begitu tidak saja modalku bertambah,
hasil dari modal juga memberikan tambahan penghasilan. Sungguh memuaskan
melihat bagaimana semua jumlah penerimaan itu masuk ke pundi-pundi uangku.”
“Kukatakan kepadamu, murid-muridku, kekayaan seseorang bukan
dari banyaknya uang yang dibawa dalam kantung uangnya kesana kemari; tetapi
aliran penghasilan yang dibangunnya, aliran emas yang terus menerus mengalir ke
dalam kantung uangnya dan terus menerus membuatnya berkelimpahan. Itulah yang
diinginkan setiap orang. Itulah juga yang engkau, semua yang hadir disini,
menginginkannya; penghasilan yang terus menerus datang meski kamu bekerja atau
sedang bepergian.
“Penghasilan yang sangat besar telah kuperoleh. Begitu
banyaknya sehingga aku disebut sebagai orang kaya. Pinjaman yang kuberikan pada
Aggar adalah pelajaran pertamaku mengusahakan simpanan yang berhasil.
Berdasarkan pengalaman itu, aku mulai memperluas usaha itu, dan modalku terus
meningkat. Dari beberapa sumber, kemudian bertambah dari lebih banyak sumber,
semua mengalir ke dalam kantung uangku, aliran emas yang tersedia untuk
penggunaan lebih lanjut, tetapi tetap harus digunakan dengan pertimbanagn yang
bijaksana.”
“Begitulah, berawal dari penghasilan yang kecil sederhana
aku telah memperoleh sepasukan budak emas, masing-masing budak bekerja dan
memberikan hasi emas lebih banyak lagi. Sementara mereka bekerja untuk saya,
anaknya, cucunya, juga menyertai mereka bekerja keras bersama-sama hingga
semakin banyak penghasilan yang kuperoleh dari usaha bersama mereka.”
“Emas akan berkembang dengan cepat, apabila memberikan
penghasilan yang memadai seperti yang engkau dapat lihat dalam cerita berikut
ini : Seorang petani, ketika anak petamanya lahir, menyimpan sepuluh keping
perak kepada pemberi pinjaman uang dan meminta dia menyimpannya sebagai modal
yang akan disewakan hingga anaknya mencapai usia dua puluh tahun. Pemberi
pinjaman uang ini kemudian setuju melaksanakan hal itu, dan memberikan sewa
seperempat dari modal dalam jangka waktu empat tahun. Sang Petani meminta,
karena uang itu sudah dipersiapkan untuk anaknya, agar sewa yang ia terima
dimasukkan sebagai tambahan modal yang ia tanamkan.”
“Pada saat anak itu mencapai usia dua puluh tahun, Sang
Petani berkunjung kembali kepada pemberi pinjaman uang menanyakan perihal uang
peraknya. Pemberi pinjaman uang menjelaskan bahwa karena hasil sewanya telah
ditambahkan pada modal yang semula ia tanam, jumlahnya bertambah lebih cepat,
sepuluh keping perak yang ditanamkan sekarang telah berkembang menjadi tiga
puluh setengah keping.”
“Sang Petani cukup puas dengan berita itu dan karena anaknya
belum membutuhkan uang, ia menempatkan kembali semua uang itu pada pemberi
pinjaman uang. Ketika anak petani itu berumur lima puluh tahun, sementara itu
sang ayah sudah pergi ke alam arwah, pemberi pinjaman uang mengembalikan modal
yang ditanamkan beserta penghasilannya kepada anak petani itu semuanya sebanyak
seratus enam puluh tujuh keping perak.”
“Jadi, selama lima puluh tahun simpanan itu telah berlipat
ganda beserta seluruh hasilnya sebanyak hampir tujuh belas kali lipat.”
“Ini, kemudian, yang menjadi penyembuh ketiga atas kantung
uangmu yang melompong : Pekerjakan setiap
keping kekayaanmu sehingga mereka menghasilkan kekayaan tambahan, bagai pasukan,
mereka bekerja mengalirkan penghasilan bagimu, aliran penghasilan yang tidak ada
hentinya ke dalam kantung uangmu.”
Penyembuh Keempat
Jaga hartamu dari
kerugian
“Kemalangan sangat senang pada yang berkilau. Kilauan emas
yang ada dalam pundi-pundi seseorang harus dijaga dengan ketat, jika tidak dia akan
segera hilang. Jadi, akan sangat bijaksana apabila kita mulai dari belajar
menjaga harta yang sedikit dengan seksama, sebelum Para Dewa memberikan
kekayaan yang lebih besar untuk dijaga.” Ucap Arkad, pada hari keempat di
kelas.
“Setiap pemilik emas akan selalu digoda berbagai kesempatan
yang terlihat akan memberikannya hasil yang menggiurkan dalam bidang usaha yang
terlihat sangat dapat dilaksanakan. Terkadang, sahabat bahkan keluarga bahkan
mendukung usaha itu dan menganjurkan kita untuk terjun melaksanakannya.”
“Hal pertama dan yang utama dalam menjalankan usaha adalah
keamanan atas modal yang ditanamkan. Apakah baik apabila tergoda oleh
penghasilan yang lebih besar apabila ada kemungkinan modal yang ditanamkan akan
hilang? Aku bilang tidak. Hal terburuk yang akan dihadapi dalam menjalankan
usaha adalah kerugian. Pelajari dengan seksama, sebelum menanamkan kekayaanmu
pada suatu usaha, yakinkan dirimu bahwa modal yang ditanamkan dapat kembali
dengan selamat. Jangan tertuntun oleh bayangan keinginan hati yang indah
tentang menghimpun kekayaan dengan cepat.”
“Sebelum memberikan pinjaman kepada seseorang, yakinkan
dirimu akan kemampuannya untuk membayar kembali dan bahwa dia memiliki reputasi
yang cukup baik untuk itu, agar jangan engkau menjadi seolah-olah memberikannya
hadiah dari simpanan yang telah engkau himpun dengan bersusah payah.”
“Sebelum engkau menanamkan modalmu pada bidang usaha apapun
kenalilah terlebih dahulu bahaya-bahaya yang mengintai dalam menjalankannya.”
“Penanaman modalku yang pertama merupakan suatu tragedi pada
saat itu. Simpanan yang kujaga dan himpun selama setahun yang kupercayakan
kepada seorang tukang bata, bernama Azmur, yang bepergian ke negeri di sebarang
lautan, dan di Tyre disepakati ia akan membelikanku permata langka dari Phunisia.
Permata itu akan kami jual di Babilonia sekembalinya dari perjalanan itu, dan
keuntungannya akan kami bagi bersama. Orang Phunisia memang penipu, mereka
menjual kepadanya sepotong kaca yang terlihat bagai permata. Habis simpananku.
Hari ini, usaha itu telah mengajarkanku bahwa betapa bodohnya memberikan
kepercayaan kepada tukang batu untuk berdagang permata.”
“Oleh karena itu, kuajarkan kepada engkau semua kebijakan
yang telah kuperoleh dari pengalaman-pengalamanku : jangan terlalu yakin
terhadap hasil buah pikiranmu dalam hal menanamkan kekayaanmu, perhatikan
kemungkinan-kemungkinan buruknya. Jauh lebih baik kalau engkau meninta nasihat
kepada seseorang yang sudah berpengalaman dan berhasil dalam menjalankan usaha.
Nasihat seperti itu akan dengan diberikan dengan cuma-cuma dan akan bernilai
setara dengan emas yang sama nilainya dengan modal yang akan engkau tanam.
Nilai yang sesungguhnya dari nasihat adalah menyelamatkan engkau dari derita
kerugian.”
“Inilah penyembuh keempat kantung uang yang kosong yang
sangat penting, ia akan menjaga kantung uangmu dari kehilangan isinya setalah
engkau berhasil menggemukkannya. Jaga
kekayaanmu dari kerugian dengan cara menanamkannya hanya dalam usaha yang
seluruh modalnya aman dan dapat engkau tarik kembali senadainya usah tersebut
tidak menguntungkan. Berkonsultasilah dengan orang-orang bijak. Gunakan nasihat
dari orang yang telah menunjukkan keberhasilan dalam menangani emas. Jadikan
kebijaksanaan mereka menjaga kekayaanmu dari penanaman modal yang tidak aman.”
Penyembuh Kelima
Jadikan tempat
tinggalmu sebagai penanaman modal yang menguntungkan
“Apabila seseorang telah menyisihkan untuk disimpan
sepersepuluh dari penghasilannya, dan dia dapat hidup dengan sembilan bagian
sisanya dengan hidup yang berkecukupan dan dari sembilan per sepuluh itu masih
ada tersisa untuk dipergunakan sebagai modal usaha yang menguntungakan tanpa
mengurangi keadaan kehidupannya, maka kekayaannya akan dapat lebih cepat
berkembang,” itulah yang dikatakan Arkad pada pelajaran kelimanya.
“Sangat banyak penduduk Babilonia ini yang hidup
berumahtangga dalam rumah-rumah petak. Mereka membayar sewa yang cukup tinggi
pada pemilik rumah untuk ruangan kecil yang tidak ada tempat secuilpun tersisa
bagi istri-istri mereka untuk menanam bunga yang akan menggembirakan hati
mereka dan tidak tersedia pula tempat bagi anak-anak mereka bermain kecuali
dalam gang-gang yang sempit.”
“Tidak ada satu keluargapun akan hidup dengan penuh
kenyamanan kecuali ada tersedia lapangan bagi anak-anak untuk bermain dan
sepetak kebun bagi istrinya untuk tidak hanya menanam bunga, tetapi juga
sedikit sayuran dan buah yang hasilnya dapat digunakan sebagai tambahan menu
keluarga.”
“Bagi hati seorang lelaki hal itu menambah kebahagiaan,
memakan sayuran segar dan anggur
dari kebun sendiri. Memiliki rumah sendiri yang dengan
senang hati dirawat, menambah kebanggaan dalam hatinya dan akan semakin
mendorong kegiatan usahanya. Oleh karena itu, aku sangat menyarankan agar
setiap orang memiliki atap tempat mereka berlindung.”
“Memiliki rumah bukanlah hal diluar kemampuan seseorang yang
sangat bersungguh-sungguh. Bukankah Sang Raja telah memperluas wilayahnya
dengan membangun tembok kota yang baru yang mencakup wilayah yang lebih luas
yang didalamnya masih banyak tersisa tanah yang belum sepenuhnya terpakai, yang
dapat dibeli dengan harga yang sedikit lebih terjangkau?”
“Juga, kukatakan kepadamu, murid-muridku, pemberi pinjman
uang akan dengan senang hati memberikan pinjaman untuk kepentingan pembelian
tanah dan pembangunan rumah di atasnya. Engkau bisa meminjam uang untuk
kepentingan yang bernilai seperti membayar pembuat bata dan kuli bangunan,
apabila engkau sendiri dapat menunjukkan ada bagian dana yang cukup memadai
yang engkau tanggung sendiri.”
“Kemudian apabila rumah tersebut sudah jadi, engkau dapat
membayar utang-utangmu secara teratur sebagaimana engkau dahulunya membayar
sewa rumah petakmu. Karena setiap pembayaran akan mengurangi jumlah utangmu,
dalam jangka waktu beberapa tahun utang-utang itu akan segera lunas.”
“Setelah itu barulah engkau akan merasakan kegembiraan
memiliki rumah sendiri yang sangat bernilai, dan biaya yang engkau keluarkan
untuk itu hanya tinggal pajak yang engkau harus bayarkan kepada Sang Raja.”
“Juga, apabila istrimu pergi ke sungai untuk mencuci pakaian,
ia akan pulang dengan kantung kulti kambing berisi air yang akan dapat dia
gunakan untuk menyirami tanaman di kebunnya.”
“Akan sangat banyak berkah yang akan datang pada seseorang
yang memiliki rumah sendiri. Rumah itu akan menghindarkannya dari beban sewa
dan itu sangat mengurangi biaya hidupnya, membuat tersedia dana yang lebih
besar bagi meningkatkan taraf kehidupannya. Inilah yang menjadi penyembuh
kelima kantong uang yang kosong : Miliki
rumah sendiri.”
Penyembuh Keenam
Jamin penghasilanmu
di masa depan
“Hidup setiap orang beranjak dari masa kecilnya hingga
sampai usia renta. Itulah jalan kehidupan yang tidak ada seorangpun akan mempu
menghindarinya kecuali Para dewa memanggilnya lebih awal ke dunai para arwah.
Oleh karena itu kukatakan bahwa seharusnyalah seseorang : membuat persiapan untuk memperolah penghasilan yang memadai bagi masa
depannya, apabila ia tidak lagi muda, dan : membuat persiapan bagi keluarganya apabila mereka tidak lagi bersama
mereka untuk memberi nafkah. Pelajaran ini akan mengharuskan engkau semua
untuk mempersiapkan kantung uang yang penuh berlimpah sebelum kemampuanmu
memperoleh penghasian surut sepanjang meningkatnya usia.” Arkad menympaikan hal
itu di kelasnya pada hari keenam.
“Orang yang, karena faham akan hukum kekayaan, akan
memperoleh peningkatan perkembangan penghasilannya, harus memikirkan masa
depannya. Ia harus merencanakan cara menanamkan modal simpanannya untuk
cadangan yang diperkirakan akan tahan melalui jangka waktu yang cukup lama, dan
akan tersedia baginya apabila diperlukan sesuai waktu yang diperkirakannya.”
“Ada berbagai cara yang dapat ditempuh seseorang untuk
memperoleh jaminan penghasilan di masa depannya. Dia dapat mencari tempat
rahasia dan menanamkan emas peraknya di tempat itu, namun begaimanapun ahlinya
ia menyembunyikan hartanya paling tidak akan menjadi incaran penjarah. Dengan
alasan ini aku tidak menyarakan melakukan hal itu.”
“Seseorang dapat membeli tanah dan rumah dengan hartanya
untuk tujuan ini. Apabila dilakukan dengan petimbangan yang tepat, nilai tanah
dan rumah itu di masa yang akan datang akan terjaga, dan penghasilan yang dapat
diperoleh darinya di masa yang akan datang lebih dapat diharapkan.”
“Yang lainnya dapat menanamkan uangnya sebagai modal pada
pemberi pinjaman uang sehingga jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu.
Sewa uangnya ditambahkan sebagai tambahan modal yang ditanamkan akan lebih
meningkatkan penghasilannya. Aku mengenal pembuat sandal, bernama Arsan, yang
menjelaskan padaku belum lama berselang, bahwa setiap minggu selama delapan
tahun ia telah menempatkan dua keping perak sebagai modal pada pemberi pinjaman
uang. Pemberi pinjaman uang telah mengembalikan kepada Arsan perhitungan
penanaman modalnya yang sangat menyenangkan hati Arsan. Jumlah penanaman
kecilnya, dua keping perak setiap minggu dan hasil sewa uangnya yang disetujui
sebesar seperempat nilainya setiap empat tahun, sekarang telah menjadi seribu
empat puluh keping perak.”
“Aku dengan bersemangat menganjurkan Arsan utnuk terus
melanjutkan apa yang telah ia lakukan dengan menunjukkan nilai simpanannya
dalam dua belas tahun ke depan, berdasarkan perhitunganku, apabila ia tetap
melanjutkan penanaman tiap minggunya, pemberi pinjaman uang itu akan
memperhitungkan penanaman modal Arsan sebesar empat ribu keping perak, jumlah yang
cukup untuk mebuatnya sejahtera seumur hidupnya.”
“Yakinlah, penanaman kecil yang dibuat terus menerus akan
memberikan hasil yang menguntungkan, tidak
ada orang yang mengharapkan akan mendapatkan masa tuanya atau masa depan
keluarganya tidak terjamin, seberapa berhasil usahanya dan seberapa
menguntungkan penanaman modalnya kini.”
“Kulanjutkan dengan bahasan lebih mendalam berkenaan dengan
hal ini. Dalam pikiranku, aku percaya bahwa suatu hari nanti orang-orang yang
bijaksana akan menciptakan sesuatu rencana yang akan menjamin penghasilan di
masa depan apabila sesorang meninggal, penghasilan tersebut di dukung oleh
banyak sekali orang yang akan membayarnya dalam jumlah yang sedikit secara
teratur, sehingga jumlah yang cukup beasar akan dapat diterima oleh keluarga
yang ditinggalkan ke alam arwah. Hal inilah yang menurut pendapatku sangat bisa
diterima dan sangat kuanjurkan untuk dilakukan. Tetapi saat ini hal itu tidak
mungkin dilakukan karena kegiatan itu harus berlanjut melebihi umur manusia
bahkan melebihi usia kegiatan usaha-usaha yang selama ini ada di Babilonia.
Kegiatan atas usaha seperti itu haruslah berusia panjang dan dapat bertahan
lama seperti usia sebuah kerajaan. Suatu hari aku yakin hal ini akan ada yang
melaksanakannya karena sangat bermanfaat bagi banyak orang, karena meski dengan
pembayaran berkala yang kecil, ia akan menyediakan penghasilan yang cukup besar
bagi keluarga yang ditinggalkan ke alam arwah.”
“Tetapi, karena kita hidup di masa kita sendiri, bukan di masa
yang akan datang, kita hanya dapat manfaatkan setiap bentuk jalan yang tersedia
saat ini bagi mencapai tujuan kita. Oleh karena itu aku menyarankan kepada
setiap orang, agar mereka, dengan cara yang bijak dan yang telah difikirkan
dengan mendalam, mempersiapkan diri bagi kosongnya kantung uang mereka di
masa-masa hidupnya menjelang senja. Karena kantung uang yang kosong bagi orang
yang sudah tidak lagi mampu menghasilkan pendapatan, karena tuanya, atau
keluarga yang ditinggalkan karena telah mendahuluinya, sangat merupakan tragedi
yang pahit.”
“Inilah, penyembuh keenam bagi kantung uag yang kosong. Persiapkan sedini mungkin bagi kebutuhan
masa tuamu dan persiapkan juga perlindungan bagi keluargamu.”
Penyembuh Ketujuh
Tingkatkan kemampuan
memperoleh penghasilan
“Hari ini kukatakan kepadamu, murid-muridku, tentang satu
penyembuh utama bagi kantung uangmu yang kosong. Tetapi, aku tidak membicarakan
tentang uang dan kekayaan, aku akan mebicarakan tentang dirimu, tentang
seseorang di balik jubah beraneka warna yang duduk didepanku sat ini. Aku akan
menyampaikan kepadamu tentang fikiran dan kehidupan seseorang yang mendukung
atau menghambat keberhasilan mereka.” Begitulah Arkad membuka perckapan di
depan kelasnya pada hari ketujuh.
“Beberapa wkatu yang lalu datang kapadaku seorang anak muda
mengajukan pinjaman uang. Ketika kutanyakan kepadanya keperluan apa yang
mendesaknya melakukan pinjaman uang, ia mengeluhkan tentang penghasilannya yang
tidak dapat memenuhi biaya hidupnya. Selanjutnya kujelaskan kepadanya, apabila
begitu keadaannya, ia merupakan pelanggan yang buruk bagi pemberi pinjaman
uang, karena ia tidak memiliki kelebihan uang atas seluruh penghasilannya, dan
pasti tidak akan mampu membayar kembali pinjaman itu.”
“’Apa yang engkau perlukan, anak muda,’ kukatakan padanya,
‘adalah berusaha memperoleh penghasilan yang lebih banyak. Apa yang akan engkau
lakukan untuk mendapat penghasilan tambahan?’
“’Apa yang bisa kulakukan,’ jawabnya. ‘Enam kali dalam dua
purnama saya sudah meminta pada tuanku untuk menambah penghasilanku, tapi tidak
pernah dikabulkan. Tidak ada orang yang lebih sering dari diriku meminita
tambahan penghasilan.’”
“Kita tersenyum mendengar kesederhaan ini, namun anak muda
itu memiliki sesuatu persyaratan yang utama bagi usaha meningkatkan penghasilannya.
Dalam dirinya ada keinginan hati yang kuat untuk mendapatkan penghasilan yang
lebih besar, sebuah niat yang pas dan sangat dianjurkan untuk dimiliki.”
“Pencapaian selalu didahului
dengan keinginan hati. Keinginan hatimu harus kuat dan jelas.” Keinginan
hati yang umum, tidak jelas, merupakan angan-angan semata. Seseorang yang
berkeinginan untuk menjadi orang kaya, keinginan hati itu tidak berguna sama sekali.
Tetapi, apabila seseorang berkeinginan untuk memperolah lima keping emas, itu
baru jelas dan dapat diusahakannya untuk dipenuhi. Setelah ia tekadkan
tujuannya untuk memperoleh lima keping emas, selanjutnya ia akan dapat
melakukan hal yang serupa untuk memperoleh sepuluh, kemudian untuk dua puluh
keping dan berikutnya seribu keping dan, tanpa disadari, ia telah menjadi kaya.
Dengan belajar mencapai tujuan hatinya yang kecil, ia telah melatih dirinya
untuk mencapai tujuan lain yang lebih besar. Itulah proses yang akan menghimpun
kekayaan bersamanya: pertama dalam jumlah sedikit, selanjutnya dalam jumlah
yang lebih besar sejalan dengan perkembangan orang itu belajar dan akhirnya menjadi
pengusaha yang lebih berkemampuan dan tangguh.”
“Keinginn hati harus sederhana dan jelas. Tujuannya menjadi
tidak jelas kalau terlalu banyak dan ruwet atau di luar kemampuan orang tersebut
untuk mencapainya.”
“Ketika seseorang meningkatkan dan menyempurnakan
kemampuannya begitu pula kemampuannya untuk memperoleh penghasilan akan ikut meningkat.
Dahulu pada saat awal aku menjadi penulis lempeng tanah liat, kuhasilkan beberapa
keping perunggu sehari, kuperhatikan pekerja lain ada yang melakukan hal yang
lebih baik dan berpenghasilan lebih banyak dariku. Lalu, aku bertekad untuk
berusaha memperoleh penghasilan yang tidak bisa dilebihi dari pekerja lainnya.
Tidak terlalu lama bagiku untuk mengetahui apa penyebab mereka memperoleh
keberhasilan. Minat yang lebih banyak pada pekerjaanku, lebih tekun malakukan
tugasku, bersungguh-sungguh dalam usahaku, akhirnya, tidak ada orang yang dapat
menulis lempeng lebih banyak dari yang aku tulis dalam satu hari. Bersamaan
dengan meningkatnya keahlianku penghasilanku pun bertambah dengan sendirinya,
tanpa perlu aku enam kali mendatangi tuanku untuk meminta tambahan
penghasilan.”
“Semakin banyak ilmu yang kita miliki, semakin besar yang
dapat kita hasilkan. Orang yang mencari keahlian dan belajar lebih banyak dalam
bidang usahanya akan diganjar dengan penghasilan yang lebih besar. Apabila dia
seniman, ia akan belajar cara-cara dan alat-alat yang paling baik dalam
bidangnya. Apabila dia bergerak di bidang hukum atau pengobatan, ia akan
berkonsultasi dan bertukar pikiran dengan ahli di bidangnya. Apabla ia
pedagang, ia akan terus mencari barang yang lebih baik yang dapat dibeli dengan
harga yang lebih rendah.”
“Kehidupan dan ilmu seseorang selalu berubah dan menjadi
lebih baik karena orang ingin selalu mencari keahlian yang labih sempurna, agar
dapat memberikan sesuatu yang lebih baik pada lawan usahanya, itu yang sangat
ia perlukan. Oleh karena itu kuminta agar setiap orang untuk selalu berada di
baris terdepan dalam gerak kemajuan di bidangnya masing-masing, jangan
berhenti, kalau tidak ia akan tertinggal di belakang.”
“Bayak hal yang dihadapi seseorang yang dapat memperkaya
hidupnya dengan perolehan pengalaman. Hal-hal yang berikut ini, adalah hal yang
musti dilakukan seseorang apabila ia ingin menghargai dirinya sendiri :
“Ia harus membayar
utangnya tepat waktu sesuai dengan kemampuannya, tidak membeli susuatu yang
tidak mampu ia bayar.”
“Ia harus menjaga
keluarganya sehingga mereka akan mengatakan hal yang baik tentang dia.”
“Ia harus membuat
catatan warisan tertulis agar, dalam hal Para Dewa memanggilnya, pembagian
kekayaannya dapat dilakukan dengan tanpa pertikaian.”
“Ia harus memiliki
rasa kasihan pada orang yang terluka atau tertimpa bencana dan membantu mereka
dalam batas-batas yang wajar. Dia juga harus melakukan hal-hal yang baik
sepenuh hati bagi orang-orang yang bersikap baik kepadanya.”
“Jadi, penyembuh ketujuh bagi kantung uang yang kosong
adalah tanam dan pupuk kekuatanmu, terus
belajar dan menjadi lebih bijaksana, menjadi lebih ahli di bidangnya, dan
bertindak sebagaimana engkau menghargai dirimu sendiri. Dengan begitu
engkau akan memperoleh kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam usaha mencapai
keinginan hatimu yang telah engkau tetapkan dengan seksama.”
====
“Itulah ketujuh penyembuh kantung uang yang kosong, yang,
dirangkum dari pengalaman panjang
kehidupan yang berhasil, yang sangat kuanjurkan pada orang yang ingin mencari
kekayaan.”
“Di Babilonia ini sangat banyak sekali emas, murid-muridku,
lebih banyak dari yang engkau pernah bayangkan. Semuanya berlimpah ruah.”
“Berusahalah engkau menerapkan kebenaran ini, maka engkau
akan sejahtera dan menjadi kaya raya, karena itu memang hakmu.”
“Berusahalan engkau dan ajarkan pengetahuan ini agar setiap
warga kerajaan ini dapat juga hidup berkecukupan, tidak kurang suatu apa, dan
hidup penuh berkelimpahan di kota kita tercinta ini.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar