Sabtu, 13 September 2014

IV : BERTEMU MUKA DENGAN DEWI KEBERUNTUNGAN

 
 
BERTEMU MUKA DENGAN DEWI KEBERUNTUNGAN
 
 
 
 
Apabila seseorang beruntung, tidak ada yang dapat memperkirakan sampai seberapa jauh, seberapa besar keberuntungannya. Benamkan dia ke dalam Sungai Furat, dan tanpa diduga dia akan muncul berenang ke tepian dengan mutiara di tangannya.”
 
- Pepatah Babilonia
 
 
 
 
Keinginan untuk mendapat keuntungan merupakan hal yang manusiawi dan lumrah. Sama kuatnya hasrat itu di dalam dada orang-orang Babilonia pada masa ribuan tahun lalu dengan di dalam hati orang-orang yang hidup pada zaman kini. Kita semua mengharapkan dalam hidup ini akan selalu disentuh berkah dewi keberuntungan. Apakah ada cara, bagaimana agar kita dapat menemuinya dan menarik, tidak hanya perhatiannya, tetapi juga berkah yang menyertainya?
 
Apakah ada cara untuk menarik perhatian dewi keberuntungan?
 
Itulah yang justru ingin diketahui oleh orang-orang Babilonia pada masa itu. Itulah yang sebenarnya mereka putuskan untuk ditelusuri. Mereka orang-orang cerdas dan pemikir tangguh. Itulah juga, yang dapat menjelaskan mengapa kota mereka dikenal sebagai kota terkaya dan terkuat pada masa itu.
 
Pada masa dahulu, yang sudah lama sekali itu, tidak ada sekolah ataupun perguruan tinggi. Kendatipun demikian, mereka memiliki pusat pembelajaran yang sangat mendukung perkembangan ilmu dan kehidupan. Di antara menara dan bangunan tinggi di Babilonia terdapatlah satu bangunan penting yang setara pentingnya dengan Istana Sang Raja, Taman Gantung dan Kuil Para Dewa. Engkau tidak menemukan bangunan itu ditulis dalam buku-buku sejarah, besar kemungkinan tidak pernah disebut sama sekali, namun demikian, ia memberikan pengaruh yang luar biasa pada kehidupan keilmuan dan kesejahtearan masyarakat pada masa itu.
 
Gedung itu adalah Kuil Pembelajaran, tempat kebijaksanaan masa lalu dipelajari dan dibahas oleh para guru yang penuh minat dan tempat masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat pada saat itu dibahas bersama dalam majelis terbuka. Dalam lingkungan dinding kuil itu semua orang dianggap setara. Budak-budak sederhana sekalipun dapat menyanggah, dengan bebas tanpa rasa takut, pendapat seorang pangeran dari keluarga kerajaan.
 
Di antara orang-orang yang sering berulang kali berkunjung ke Kuil Pembelajaran itu, ada seorang kaya yang bijaksana bernama Arkad, yang digelari orang terkaya di Babilonia. Arkad memiliki ruangan khusus, yang hampir setiap petang serombongan orang, sebagian sudah cukup tua, sebagian masih remaja, sebagian besar berumur setengah baya, berkumpul untuk membahas, mendiskusikan dan saling berdalil atas hal-hal yang menarik perhatian mereka. Disanalah, seandainya dapat, akan kita dengar pembicaraan yang membahas mengenai cara memperoleh nasib baik.
 
Mentari baru saja terbenam seperti bola api merah memancarkan sinarnya menembus kabut senja yang tersaput debu gurun ketika Arkad melangkah menuju undak-undak tempat ia biasanya duduk. Sudah ada delapan puluh orang menunggu kedatangannya, bersimpuhan pada ambal kecil beratur di atas lantai. Masih ada lagi beberapa peserta lain yang datang kemudian.
 
“Apa yang akan kita bicarakan malam ini,” tanya Arkad.
 
Dengan sedikit ragu, seorang penenun permadani yang jangkung mengajukan pendapatnya, seraya berdiri, sesuai kebiasaan di situ. “Saya mempunyai satu masalah yang sangat ingin agar dapat dibicarakan dalam majelis ini, namun ragu menawarkannya karena khawatir akan terasa lucu dan remeh bagimu, Arkad, dan semua sahabat baikku di sini.”
 
Karena di dorong-dorong oleh Arkad, dan beberapa peserta lainnya, ia melanjutkan. “Hari ini saya sangat beruntung, karena saya menemukan sekantung uang yang di dalamnya terdapat keping-keping emas. Untuk terus mendapatkan keberuntungan seperti ini sangat saya inginkan. Saya kira semua orang akan berfikiran sama dengan saya. Jadi kutawarkan agar kita membicarakan bagaimana caranya agar keberuntungan datang mengunjungi kita atau dapat menemukan cara membujuk keberuntungan mendatangi seseorang.”
 
“Sebuah masalah yang sangat menarik sudah diajukan,” timbal Arkad, “sesuatu yang cukup bernilai untuk kita bahas di sini. Bagi sebagian orang, nasib baik dikatakan sebagai kejadian yang, bagaikan kecelakaan, akan diperoleh seseorang begitu saja tanpa tujuan dan tanpa alasan. Sebagian lainnya percaya penganugerah semua keberuntungan itu adalah dewi paling dermawan kita, Ashtar, yang akan selalu siaga menganugerahkan hadiah dengan murah hatinya pada siapa saja yang menyenangkan hatinya. Berbicaralah, sahabat-sahabatku, bagaimana pendapatmu, kita akan mencari tahu apakah ada cara agar nasib baik dapat kita bujuk untuk mengunjungi kita semuanya?”
 
“Ayo! Ya! Boleh!” tanggap kelompok yang terus bertambah yang terlihat begitu ingin mendengarkannya.
 
Arkad melanjutkan, “Untuk memulai pembicaraan kita, ada baiknya kita mendengar dari orang-orang yang hadir di sini yang pernah mengalami pengalaman yang sama yang telah dialami penenun permadani, menemukan atau menerima benda berharga atau perhiasan, dengan tanpa usaha apapun yang dilakukan.”
 
Keadaan menjadi hening sejnak, setiap orang saling toleh menoleh menunggu sesorang menjawabnya tetapi tidak seorangpun yang unjuk diri.
 
“Wah, tidak seorangpun?” tanya Arkad, “jadi, jarang sekali terjadi nasib baik seperti itu. Apakah ada, siapa, sekarang yang dapat memberi saran kemana kita akan mencari lebih jauh, guna mendalami masalah ini?”
 
“Nah, kalau begitu boleh lah,” kata seorang anak muda yang berjubah lumayan bagus seraya berdiri. “Apabila seseorang mebicarakan masalah nasib baik, bukankah sama halnya dengan orang yang fikirannya tertuju pada meja perjudian? Bukankah di sana dapat kita jumpai banyak orang-orang yang mengharapkan dewi keberuntungan menganugerahkannya hasil yang berlimpah?”
 
Ketika ia kembali duduk seseorang menegahnya, “Jangan berhenti! Lanjutkan ceritamu! Ceritakan pada kami, bukankah engkau mengharapkan keberuntunggan sang dewi di atas meja judi? Apakah sang dewi menggelindingkan dadu sesuai dengan yang engkau perkirakan sehingga engkau dapat mengalahkan sang bandar, atau sebaliknya dia memenangkan bandar sehingga keping-keping perak yang kau peroleh dengan susah payah ludes di sana?”
 
Anak muda itu ikut tertawa bersama orang yang hadir di majelis itu, kemudian menjawab, “Saya tidak membantah, bahwa, kelihatannya Sang Dewi bahkan tidak tahu saya ada di meja judi itu. Tidak pernah menang. Bagaimana dengan saudara-saudara semua? Apakah engkau menemukan dia menunggumu di tempat perjudian itu untuk membantumu memperoleh keuntungan dari perjudian? Saya sangat ingin mendengarnya sekaligus ingin mempelajarinya.”
 
“Permulaan yang bagus,” tukas Arkad. ”Kita berkumpul di sini utnuk mempertimbangkan segala sisi pertanyaan atas masalah yang kita bahas. Mengabaikan meja judi sama saja artinya mengabaikan hasrat asli setiap orang, kesenangan untuk mengambil kesempatan dengan sedikit keping perak dengan harapan memenangkan sejumlah besar keping emas.”
 
“Percakapan tentang judi ini mengingatkanku pada pacuan kereta kuda kemarin,” ujar seseorang pendengar. “Apabila Sang Dewi mengunjungi rumah judi, tentunya ia juga tidak melewatkan pacuan kereta yang berkilau dan kuda-kuda dengan mulut berbusa yang bahkan memberikan lebih banyak hiburan. Katakan pada kami apa adanya, Arkad, apakah Sang Dewi membisikkan padamu agar engkau menempatkan taruhanmu pada kuda abu-abu dari Niniveth kemarin? Aku berdiri tepat di belakangmu dan sangat tidak percaya engkau berani menempatkan taruhanmu pada kuda abu-abu itu. Padahal engkau lebih tahu, sama seperti yang kami ketahui, bahwa tidak ada peserta dari seluruh Assiria yang dapat mengalahkan kuda pacuan Babilonia dalam setiap pacuan.”
 
“Apakah dewi keberuntungan membisikkan padamu untuk memilih kuda abu-abu karena pada belokan terakhir kuda hitam akan terbalik dan menghalangi lajur kuda pacuan Babilonia sehingga kuda abu-abu dapat memenangkan pacuan itu meski kemampuannya diragukan?”
 
Arkad tersenyum dengan senangnya pada orang yang menggodanya itu. “Apa alasan kita untuk percaya bahwa Sang Dewi akan sangat tertarik pada taruhan yang kita pasang pada pacuan kereta kuda? Bagiku Sang Dewi adalah dewi cinta dan kehormatan yang kesenangannya membantu siapapun yang memerlukan bantuan dan memberikan anugerah kepada siapapun yang layak menerimanya. Aku mencarinya, bukan dimeja judi atau pacuan kuda, tempat lebih banyak orang kehillangan keping-keping emas dari pada mendapatkannya, tetapi di tempat lain, tempat orang-orang berkarya diberikan nilai lebih pada hasil kerjanya dan lebih pantas diberikan anugerah.”
 
“Tempat petani membajak tanah, pedagang berdagang dengan jujur, dan dalam setiap bidang pekerjaan, selalu ada kesempatan memperoleh penghasilan dari kegiatan usaha. Mungkin tidak setiap waktu mereka akan memperoleh anugerah karena kadang-kadang tindakannya mungkin keliru dan kala lainnya angin dan cuaca mengalahkan usahanya. Namun, apabila mereka tekun, mereka biasanya akan dapat mengharapkan hasil yang baik, Hal ini jelas, bahwa kesempatan memperoleh penghasilan selalu ada di fihak yang selalu berusaha.
 
“Tetapi, apabila seseorang berjudi, keadaannya menjadi terbalik, karena kesempatan memperoleh keuntungan baginya jauh lebih kecil dari pada kesempatan bandar memperoleh keuntungan. Permainan itu telah diatur sedemikian rupa sehingga akan selalu menguntungkan sang bandar. Itulah usahanya, yang telah direncanakan secara cermat sehingga dapat memberikan keuntungan dari keping-keping yang dipertaruhkan para penjudi. Hanya sedikit penjudi yang menyadari betapa pastinya keuntungan bagi bandar dan betapa tidak pastinya kemungkinan penjudi untuk menang.”
 
“Sebagai contoh, coba kita pelajari penjudi yang bermain dadu. Setiap kali dadu digelindingkan kita menempatkan pasangan untuk angka yang muncul di atas. Apabila angka tersebut cocok dengan yang dipertaruhkan kita memperoleh bayaran empat kali jumlah yang dipertaruhkan. Apabila selain angka itu yang muncul, kita kalah, keping yang kita pertaruhkan hilang. Kalau kita perhitungkan angka-angka yang muncul, maka setiap putaran dadu kita memiliki lima kemungkinan rugi, tetapi karena kecocokan angka dibayar empat kali lipat, kita memperoleh kemungkinan menang hanya empat kali. Setiap malam perjudian sang bandar dapat mengharapkan memperoleh keuntungan seperlima dari seluruh keping yang dipertaruhkan. Dapatkah seseorang berharap memperoleh keuntungan lebih dari sekali-sekali menghadapi kecilnya kemungkinan yang telah dirancang agar penjudi akan mengalami kerugian seperlima dari taruhannya?”
 
“Memang betul itu, tetapi, beberapa orang memperoleh kemenangan yang cukup besar sesekali,” ujar salah seorang pendengar.
 
“Benar, mereka menang,” lanjut Arkad. “Menyadari hal ini, pertanyaan berikut muncul di kepalaku, apakah uang yang diperoleh dengan cara itu memberikan nilai yang langgeng pada yang memperoleh keberuntungan itu. Di antara kenalanku, banyak yang merupakan orang berhasil di Babilonia, tetapi di antara mereka aku tidak dapat menemukan seorangpun yang bagian dari keberhasilannya diperoleh dari sumber seperti itu.”
 
“Engkau yang berkumpul di majelis ini, malam ini, mungkin mengenal lebih banyak lagi warga masyarakat yang berada. Akan sangat menarik bagiku untuk mengetahui apabila ada beberapa warga yang berhasil itu memperoleh kekayaannya mereka himpun dari meja judi. Coba, setiap yang hadir, sebutkan siapa yang engkau ketahui? Bagaimana?”
 
Setelah beberapa masa hening, seorang yang biasanya suka bercanda memecah kesunyian, “Apakah yang engkau tanyakan termasuk Sang Bandar?”
 
“Kalau engkau tidak dapat menemukan yang lain,” sahut Arkad. “Apabila tidak seorangpun di antara engkau dapat menyebutkan yang lain, bagaimana dengan dirimu sendiri? Apakah ada yang terus menerus memperoleh kemenangan sehingga agak enggan menyebutkan sumber kekayaannya?”
 
Tantangannya dijawab oleh beberapa gerutuan dari barisan belakang dan menjalar menjadi bahan tertawaan.
 
“Kelihatannya kita tidak mencari nasib baik pada tempat semacam itu, sebagai tempat yang selalu dikunjungi Sang Dewi,” lanjutnya. “Jadi, mari kita jelajahi tempat lainnya. Kita tidak menemukan Sang Dewi pada orang yang menemukan kantung uang yang hilang. Tidak juga kita temukan di meja perjudian. Atau, juga, di pertaruhan pacuan kereta kuda, harus kuakui, di pacuan itu, aku lebih banyak kehilangan keping emas perakku dari pada memenanginya.”
 
“Sekarang, coba kita pertimbangkan kegiatan dan usaha kita masing-masing. Bukankah kita tidak menganggap kegiatan usaha yang menguntungkan sebagai nasib baik melainkan sebagai hasil kerja keras kita semata? Aku cenderung menganggap kita telah mengabaikan nasib baik yang kita peroleh sebagai anugerah Sang Dewi. Mungkin dia benar-benar telah membantu kita apabila kita tidak menghargai kedermawanannya. Siapa yang ingin meneruskan pembicaraan lebih lanjut majelis ini?’
 
Berdirilah seorang saudagar tua, sambil merapikan jubah putihnya yang indah. “Dengan izin engkau, sahabatku yang mulia, Arkad, aku mengajukan tawaran. Bila, seperti yang engkau telah katakan, kita mengganggap keberhasilan kita sebagai hasil usaha dan kerja keras kita sendiri, mengapa tidak kita amati keberhasilan yang nyaris kita peroleh, namun gagal terjadi, yang seharusnya dapat memberikan kita keuntungan yang lumayan. Pasti akan sangat jarang contoh-contoh nasib baik apabila kita tidak pernah gagal dan selalu berhasil dalam berusaha. Karena apabila tidak ada penghasilan yang kita peroleh dari usaha kita maka kita akan mengganggap kegagalan itu bukan imbalan usaha kita. Pasti banyak yang hadir di sini memiliki pengalaman serupa itu untuk dibahas bersama.”
 
“Benar-benar suatu pendekatan yang bijaksana,” setuju Arkad. “Siapa diantara engkau semua yang  memperoleh nasib baik yang hampir saja dapat engkau genggam, menguap begitu saja di depan wajahmu?”
 
Beberapa lengan diacungkan, satu di antaranya dari sang saudagar tua. Arkad memberi isyarat kepadanya agar berbicara. “Seperti yang engkau sarankan, coba kami dengar pengalamanmu sendiri.”
 
“Aku akan sangat senang menceritakannya,” lanjut dia, “suatu hal yang sangat berkaitan dengan betapa dekatnya nasib baik datang menghampiri seseorang dan betapa butanya orang itu membiarkan nasib baik itu berlalu meninggalkannya dengan beban kerugian dan penyesalan kemudian yang tidak berguna.”
 
“Beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih sangat muda, baru saja menikah dan mulai berusaha mencari nafkah, suatu hari, datanglah ayahku menganjurkan dengan sangat agar aku melakukan penanaman modal usaha. Anak dari seorang sahabat baiknya telah menemukan dan tertarik pada sebidang tanah tandus tidak berapa jauh di luar dinding kota kita. Tanah itu letaknya jauh lebih tinggi dari saluran air, sehingga tidak ada air yang mengalir di atasnya.”
 
“Anak sahabat ayahku itu memiliki rencana untuk membeli tanah itu, membangun tiga kincir air besar yang akan digerakkan oleh kerbau dan selanjutnya mengairi tanah itu agar dapat dibudidayakan. Apabila hal itu terlaksana, ia merencanakan pula untuk membagi tanah itu kedalam luasan-luasan yang lebih kecil untuk dijual kepada warga kota untuk dijadikan kebun.”
 
“Anak sahabat ayahku tidak memiliki emas yang cukup untuk melaksanakan rencananya itu. Seperti halnya aku, ia masih muda dan hanya berpenghasilan yang sedikit lebih dari memadai. Ayahnya, seperti juga ayahku, memiliki keluarga yang besar dan berpenghasilan tidak berlebihan. Ia, kemudian, memutuskan untuk mengajak beberapa rekannya membantu mewujudkan rencana itu bersamanya. Terkumpullah kelompok dengan dua belas anggota, setiap orangnya harus berpenghasilan dan setuju untuk menyisihkan sepersepuluh dari penghasilannya kedalam kelompok itu sampai tanah tersebut siap dijual. Selanjutnya semuanya akan memperoleh bagian keuntungan sebanding dengan modal yang mereka masing-masing tanamkan.”
 
“’Engkau, anakku,’ kata ayahku, ‘saat ini berada pada masa mudamu. Aku sangat inigin melihat engkau mulai menghimpun kekayaan bagi dirimu sendiri sehingga engkau akan menjadi orang yang terpandang di antara warga masyarakat. Aku ingin melihat engkau memperoleh keuntungan dari pengalaman dan kesalahan akibat kurangnya pengetahuan ayahmu.”
 
“’Memang itulah juga yang sangat saya inginkan, ayahku,’ jawabku.’”
 
“’Sekarang, dengar nasihatku. Lakukan apa yang seharusnya telah aku lakukan saat aku seusiamu. Sisihkan sepersepuluh dari penghasilanmu dan tanamkan pada penanaman modal yang benar. Dengan sepersepuluh penghasilanmu itu, dan apa yang engkau peroleh dari hasil penanamannya, engkau dapat, sebelum usiamu mencapai umurku saat ini, menghimpun bagi dirimu sendiri harta yang akan sangat bernilai.”
 
“’Kata-katamu merupakan kata-kata yang bijaksana, ayahku. Aku sangat menginginkan kekayaan. Tetapi ada sangat benyak keperluan yang harus kupenuhi dengan penghasilanku yang cekak ini. Oleh karena itu, aku agak ragu menjalankan apa yang engkau nasehatkan padaku. Aku masih muda. Masih banyak waktu.’”
 
“’Itulah yang ada dalam fikiranku pada saat aku seusiamu, ternyata, tahun-tahun berlalu dan aku masih juga belum memulainya.’”
 
“’Kita hidup dalam masa yang berbeda, ayahku. Aku pasti mampu menghindarkan diriku dari kesalahan seperti yang engkau lakukan.’”
 
“’Kesempatan telah berdiri di depanmu, anakku. Ia menawarkan usaha yang dapat membawamu ke kekayaan. Aku minta padamu, jangan tunda lagi. Pergilah kamu besok pagi ke anak sahabatku itu dan tawarkan padanya sepersepuluh dari penghasilanmu untuk ikut serta dalam rencana usahanya. Datanglah tepat waktu besok pagi. Kesempatan tidak menunggu-nunggu seorangpun. Hari ini ia berdiri di depanmu; segara setelah itu ia pergi. Jadi, jangan menunda!’”
 
“Meskipun telah disarankan dengan sepenuh hati ayahku, aku ragu dan enggan. Ada jubah baru yang indah yang baru saja datang dibawa para pedagang dari Timur, jubah yang berkilau mewah yang istriku yang baik dan kau sendiri merasa kami harus memilikinya satu seorang. Seandainya aku setuju untuk menanamkan sepersepuluh dari penghasilanku kedalam usaha itu, kami tentu harus menahan keinginan untuk memiliki jubah itu, juga kepuasan-kepuasan lainnya yang benar-benar kami inginkan bisa didapat dengan jumlah itu.Kutunda keputusan untuk menanamkan uangku pada usaha itu dan terlambat akhirnya, disusul kemudian oleh penyesalan-penyasalan yang menyertainya. Usaha tersebut ternyata sangat berhasil, bahkan melebihi semua yang diramalkan orang-orang. Itulah ceritaku, menggambarkan bagaimana aku mempersilakan nasib baik berlalu dari hadapanku.”
 
“Dalam cerita itu dapat kita lihat bagaimana : nasib baik menunggu di hadapan seseorang yang memanfaatkan kesempatan,” begitu komentar seorang penghuni gurun yang berwajah kehitaman. “Untuk menghimpun kekayaan selalu ada awalnya. Permulaan, mestinya hanya akan berupa beberapa keping emas atau perak yang orang itu sisihkan dari penghasilanna dilanjutkan dengan pemanfaatan simpanan itu bagi usaha lainnya. Aku sendiri, memiliki banyak ternak. Usaha ternakku yang pertama kumulai ketika aku masih kanak-kanak lagi dengan membeli seeekor anak sapi seharga sekeping perak. Itulah, anak sapi yang kujadikan awal kekayaanku, sangat berarti bagiku.”
 
“Untuk mengambil langkah pertama menghimpun kekayaan sama halnya memperoleh nasib baik bagi setiap orang. Pada semua orang, mengambil langkah pertama, yang mengubah dirinya dari seseorang yang memperoleh penghasilan dari usaha atau kegiatannya menjadi seseorang yang memperoleh bagian dari penghasilan yang dihasilkan emas miliknya, hal itu sangat penting. Beberapa orang, beruntung, melakukannya ketika masih berusia muda sehingga mampu mendahului mereka yang memulainya setelah menjelang setengah baya atau orang-orang yang kurang beruntung, seperti ayah saudagar ini yang tidak pernah memulainya.”
 
“Seandainya sahabat kita, saudagar ini, mengambil langkah itu pada usia mudanya ketika kesempatan itu berdiri dihadapannya, hari ini ia akan menghimpun kekayaan dari yang dimilikinya saat ini. Seandainya nasib baik yang mendatangi sahabat kita ini, dan penenun permadani, membuat mereka mengambil langkah meraih kesempatan itu, sudah dapat dipastikan itu akan menjadi awal datangnya nasib-baik dan munculnya kesempatan-kesempatan lebih besar lainnya.”
 
“Terima kasih, terima kasih! Saya juga ingin berbicara.” Seorang asing dari negeri tetangga berdiri. “Saya orang Syria. Saya tidak begitu mahir berbicara dalam bahasa Babilonia. Saya ingin menyebut sahabat ini, sang pedagang, dengan suatu sebutan. Mungkin akan terdengar agak kurang sopan, sebutan ini. Tapi akau akan menyebutnya demikian. Tetapi, aduh, aku tidak mengenal sebutan ini dalam bahasamu. Jika kusebutkan dalam bahasa Syria, engkau tidak akan mengerti. Coba tolong, orang-orang yang baik di sini, beritahukan aku sebutan bagi orang yang mengabaikan berbuat sesuatu yang sesungguhnya sangat baik baginya.”
 
“Penyia-nyia kesempatan,” kata seseorang.
 
“Ya, itu dia,” tanggap orang Syria itu, sambil menggarak-gerakkan tangannya dengan ria, “ia tidak menanggapi kesempatan ketika kesempatan itu hadir di hadapannya. Kesempatan itu menunggu. Dia bilang aku sibuk saat ini. Lain kali, barangkali kita bisa beramah tamah. Kesempatan, tidak akan menunggu orang yang lamban seperti itu. Kesempatan beranggapan apabila apabila seseorang ingin beruntung ia akan bergerak seketika. Setiap orang yang tidak bergerak cepat ketika kesempatan tiba, dialah penyia-nyia kesempatan sepeti sahabat kita ini, sang saudagar.”
 
Sang saudagar berdiri dan dengan santunnya membungkuk hormat menanggapi tertawaan hadirin. “Aku senang dan sangat menghargai engkau, orang asing dalam kota ini, yang segan tidak sama sekali mengemukakan kebenaran.”
 
“Sekarang mari kita dengar cerita yang lain tentang masalah kesempatan ini. Siapa lagi yang memiliki pengalaman yang dapat diberikan pada kita?” pinta Arkad.
 
“Saya punya,” jawab seorang berjubah merah umur setengah baya. “Saya pedagang ternak, umumnya unta dan kuda. Kadang-kadang saya juga membeli biri-biri dan kambing. Cerita yang akan kusampaikan dengan seungguhnya ini akan menggambarkan bagaimana kesempatan datang pada suatu malam ketika saya samasekali tidak mengharapkannya. Mungkin karena tidak diharapkan itu, aku membiarkannya berlalu. Engkau semualah yang akan menilainya.”
 
“Pada suatu malam, ketika aku kembali ke kota, setelah malakukan perjalanan mencari unta dagangan selama sepuluh hari yang mengecewakan, aku sedikit gusar ketika medapatkan gerbang kota sudah ditutup dan terkunci. Sementara budak-budakku mendirikan tenda untuk bermalam yang mungkin akan kami lewati dengan hanya sedikit sisa makanan tanpa air, aku didatangi seorang peternak yang sudah agak tua, yang sama seperti kami, terkunci di luar gerbang kota.
 
“’Salam Tuan,’ ia menyapaku, ‘dari penampilanmu, engkau pasti pedagang ternak. Apabila memang benar begitu, aku ingin menjual kepadamu sekawanan biri-biri unggul yang baru aku datangkan ke sini. Susahnya, istriku yang baik sedang terbaring sakit terkena demam. Aku harus segera kembali ke peternakanku. Belilah olehmu biri-biriku agar aku dan rombongan dapat segera naik ke unta kami dan segera kembali tanpa menunda-nunda lagi.’”
 
“Ketika itu malam sangat gelap sehingga aku tidak dapat melihat kawanan biri-biri itu, tetapi dari suara-suara embekannya aku tahu pasti itu kawanan biri-biri yang bagus. Setelah menyia-nyiakan sepuluh hari tanpa hasil unta dagangan, aku menjadi sangat tertarik untuk menerima tawaran itu. Dalam kerisauannya, ia menawarkan harga yang paling baik. Aku menerimanya, dengan harapan budak-budakku akan menggiring kawanan biri-biri itu melewati gerbang kota besok pagi dan menjualnya dengan keuntungan yang lumayan besar.”
 
“Segera saja kesepakatan di dapat, kupanggil budak-budakku untuk membawa obor agar kami dapat menghitung kawanan biri-biri itu yang dikatakan pedagang itu ada berjumlah sembilan ratus ekor. Aku tidak akan memberatkanmu, sahabatku, dengan tambahan penjelasan betapa tidak mungkinnya menghitung begitu banyak biri-biri yang sedang memamhbiak, kehausan, yang tidak dapat ditenangkan dan terus berdesak-desakan. Penghitungan tidak mungkin dapat dilakukan. Oleh karena itu dengan tegas kuberitahukan pada peternak itu aku akan menghitungnya nanti di siang hari dan akan membayarnya setelah jelas jumlah perhitungannya.
 
“’Tolonglah saya, Tuan yang mulia,’ pohonnya,’cukup bayar saya dua pertiga dari harga yang disepakati malam ini agar aku dapat segera kembali ke peternakanku. Akan kutinggalkan budakku yang paling pintar dan paling terpelajar, untuk membantu melakukan perhitungan di siang nanti. Ia dapat dipercaya dan engkau dapat membayar sisa kekurangannya pada dia.’”
 
“Tetapi aku bersikeras dan menolak melakukan pembayaran pada malam itu. Kesepakatan batal terjadi. Keesokan paginya, sebelum aku bangun, gerbang kota sudah dibuka dan empat pembeli bergegas berdatangan mencari ternak dagangan. Mereka sangat bersemangat dan bersedia melakukan pembelian dengan harga yang sangat tinggi karena adanya berita akan adanya serangan ke kota dan warga kota sedang dalam keadaan siaga terhadap ancaman itu, tambahan lagi persediaan makanan saat itu sedang menipis. Hampir tiga kali lipat harga yang peternak itu tawarkan kepadaku, itulah jumlah yang akhirnya diterima sang peternak atas biri-birinya. Begitulah, nasib baik yang jarang terjadi, dibiarkan berlalu begitu saja.”
 
“Benar-benar sebuah cerita yang luar biasa,” komentar Arkad. “Kebijakasanaan apa yang diajarkannya?”
 
“Kebijaksanaan untuk membuat pembayaran segera apabila kita yakin keuntungan sudah sangat jelas,” simpul pembuat pelana yang cukup dikenal. “Apabila ada penawaran yang sangat menguntungkan, maka engkau perlu melakukan perlindungan terhadap penawaran itu dari kelemahan dirimu sendiri dengan cara yang sama seperti engkau menjaganya dari orang lain. Kita makhluk fana ini selalu berubah-ubah. Sayangnya, bisa kukatakan lebih tepat, kita mengubah pendirian kita lebih sering pada hal yang keliru dari pada yang benar. Salah, pada hal yang keliru kita benar-benar keras kepala. Betul, pada hal yang benar kita cenderung ragu dan membiarkan kesempatan berlalu. Keputusanku yang pertama selalu merupakan keputusan yang terbaik. Tetapi selalau saja aku menemukan kesulitan mendorong diriku sendiri untuk segera melaksanakan hal yang sudah jelas menguntungkan itu meski sudah menemukannya di depan mata. Oleh karena itu sebagai perlindungan atas kelemahan diriku sendiri, aku akan segera memberikan uang muka tanda jadi atas penawaran itu. Hal ini akan menghindarkanku dari penyesalan atas hilangnya nasib baik yang seharusnya menjadi milikku.”
 
“Terima kasih! Aku sekali lagi ingin berbicara,” Orang Syria telah kembali tegak berdiri. “Cerita-cerita ini ada persamaannya. Setiap kali kesempatan hilang berlalu dengan berbagai alasan. Setiap kali ia datang dengan impian berkah kepada orang yang menyia-nyiakannya. Setiap kali mereka ragu, bukan, saat ini bukan waktu yang tepat, bahkan, tidak katanya. Bagaimana seseorang akan mencapai keberhasilan dengan cara seperti itu?”
 
“Bijak sekali kata-katamu, sahabatku,” tanggap pedagang ternak itu. “Nasib baik meninggalkan sang penyia-nyia kesempatan dalam kedua cerita itu. Namun, hal itu bukanlah hal yang luar biasa. Sifat untuk menyia-nyiakan kesempatan ada pada diri setiap orang. Kita menginginkan kekayaan; tetapi seringkali ketika kesempatan muncul dihadapan kita, sifat untuk menyia-nyiakan dalam diri kita mendorong dengan berbagai cara untuk menunda menerimanya. Apabila kita mendengar bujukan itu, kita sendiri justru menjadi musuh terberat kita.”
 
”Pada masa mudaku aku tidak menyimpulkannya sebagaimana sahabat Syria kita ini dengan gembira membicarakannya panjang lebar di sini. Pertama kali aku berpikir, mungkin itu memang dikarenakan keputusanku sendiri yang tidak baik yang menyebabkan kerugian dalam usaha perdaganganku. Kemudian aku memang menyalahkan kekeras-kepalaanku. Akhirnya, aku menyadarinya sebagaimana apa adanya, suatu – kebiasaan untuk tidak perlu menunda apa yang harus segera dilakukan, lakukan dengan langsung dan tegas. Hal yang paling kubenci adalah apabila kutemukan sifat ini menampakkan dirinya tepat dihadapanku. Dengan kepahitan bagai bagal liar yang terikat pada kereta kuda. Keberhasilan kucapai ketika aku membebaskan diriku dari musuh besarku ini.”
 
“Terima kasih! Aku ingin bertanya kepada sang saudagar.” Itu yang dikatakan orang Syria selanjutnya. “Engkau mengenakan jubah yang indah, tidak seperti orang-orang berkekurangan. Engkau berbicara selayaknya secara orang-orang yang berhasil. Katakan pada kami, bila saatnya penyia-nyia kesempatan berbisik di telingamu?”
 
“Seperti halnya sahabat kita sang pedagang ternak, aku juga harus menyadari keberadaannya dan mengalahkannya,” jawab sang saudagar. “Bagiku, dia bagaikan seorang lawan, selalu mengintai dan menunggu untuk menghalang-halangi keberhasilanku. Cerita yang kukemukakan tadi hanya satu dari sekian banyak kejadian serupa yang dapat kuuraikan semua, bagaimana dia telah mengusir kesempatan-kesempatan yang datang kepadaku. Sebenarnya hal itu tidak terlalu sukar untuk diatasi begitu kita sudah menyadarinya. Tidak ada orang yang akan mengizinkan dengan senang hati seorang pencuri merampok gandum dalam periuknya. Begitu juga tidak akan ada orang yang bersedia apabila musuhnya mengusir pelanggannya dan mengambil keuntungan yang seharusnya menjadi bagiannya. Sekali aku menyadari bahwa tindakan itu adalah hsil usaha yang dilakukan lawanku, dengan satu tekad yang teguh aku mengalahkannya. Setiap orang harus menjadi tuan dari sifat menyia-nyiakan kesempatan pada dirinya sebelum ia dapat mengharapkan mendapatkan bagian dari kelimpahan kekayaan Babilonia.”
 
“Bagaimana menurutmu, Arkad?” Karena engkau orang terkaya di Babilonia, banyak yang mengatakan engkau orang yang paling beruntung di antara orang-orang yang beruntung. Apakah engkau sependapat denganku bahwa seseorang tidak akan mencapai keberhasilan yang penuh menyeluruh sebelum ia sepenuhnya menghancurkan sifat menyia-nyiakan kesempatan yang ada dalam dirinya?”
 
“Sama seperti yang engkau katakan,” Arkad menerimanya. “Sepanjang hidupku yang sudah cukup lama aku memperhatikan satu generasi dilanjutkan dengan generasi yang lain, berjalan dalam usaha dagangnya, ilmu pengetahuan dan mempelajari apa yang dapat memberikan keberhasilan dalam hidup ini. Kesempatan datang kepada semua orang ini. Sebagian menggenggamnya segera dan terus maju mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi sebagian besar ragu, goyah dan tertinggal di belakang.”
 
Arkad, bergeming ke arah penenun. “Engkau tadi yang menganjurkan kita membicarakan masalah nasib baik di majelis ini. Mari kita dengar apa yang engkau pikirkan tentang masalah ini?”
 
“Aku semula memang melihat nasib baik dalam pandangan yang agak berbeda, Aku fikir nasib baik sebagai sesuatu yang kita inginkan yang mungkin terjadi kepada seseorang tanpa ada usaha sama sekali yang dilakukannya. Sekarang, aku sadari bahwa kejadian itu bukanlah sesuatu yang dapat diusahakan seseorang agar nasib baik datang mendekatinya. Dari pembicaraan kita dapat aku pelajari bahwa : untuk menarik nasib baik datang kepadamu, engkau harus memanfaatkan seluruh kesempatan. Jadi, di masa yang akan datang, aku akan berusaha sekuat tenaga memanfaatkan setiap kesempatan yang datang ke hadapanku.”
 
“Engkau telah menyerap inti sari pembicaraan yang diungkap dalam majelis ini,” jawab Arkad. “Selamat, kita menemukan, bahkan mengikuti jalur kesempatan, jarang terjadi hal sebaliknya. Sahabat kita sang saudagar telah menemukan nasib baik yang sangat amat bagus apabila ia menerima kesempatan yang dianugerahkan dewi kebaikan padanya. Sahabat kita sang pedagang ternak, begitu juga, akan menikmati nasib baik apabila ia menyelesaikan penawaran untuk membeli sekawanan biri-biri dan menjualnya dengan keuntungan yang lumayan besar.”
 
“Kita mengikuti pembicaraan ini, mencari cara bagaimana agar nasib baik tergoda untuk mengunjungi kita. Aku kira kita telah menemukan caranya. Kedua cerita tadi mengambarkan bagaimana nasib baik mengikuti kesempatan. Disitulah terletak kebenaran bahwa cerita tentang nasib baik yang serupa, dimenangkan, atau kehilangan, tidak dapat diubah. Kebenarannya adalah : Nasib baik dapat didatangkan dengan memanfaatkan kesempatan.”
 
“Siapa pun yang bersemangat menggenggam setiap kesempatan bagi kebaikannya, akan menarik perhatian kebaikan sang dewi. Sang dewi selalu sangat bersedia membantu orang-orang yang menarik hatinya. Orang-orang yang senantiasa siaga bertindak, sangat menarik hatinya.
 
“Tindakan akan membawa engkau ke depan ke arah keberhasilan yang begitu engkau inginkan.”
 
 
 
ORANG YANG SENANTIASA SIAGA BERTINDAK
AKAN DIDAHULUKAN OLEH DEWI KELIMPAHAN
 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar