BERTEMU MUKA DENGAN DEWI KEBERUNTUNGAN
|
”Apabila seseorang
beruntung, tidak ada yang dapat memperkirakan sampai seberapa jauh, seberapa besar
keberuntungannya. Benamkan dia ke dalam Sungai Furat, dan tanpa diduga dia
akan muncul berenang ke tepian dengan mutiara di tangannya.”
- Pepatah Babilonia
|
Keinginan untuk mendapat keuntungan merupakan hal yang
manusiawi dan lumrah. Sama kuatnya hasrat itu di dalam dada orang-orang
Babilonia pada masa ribuan tahun lalu dengan di dalam hati orang-orang yang
hidup pada zaman kini. Kita semua mengharapkan dalam hidup ini akan selalu
disentuh berkah dewi keberuntungan. Apakah ada cara, bagaimana agar kita dapat
menemuinya dan menarik, tidak hanya perhatiannya, tetapi juga berkah yang menyertainya?
Apakah ada cara untuk menarik perhatian dewi keberuntungan?
Itulah yang justru ingin diketahui oleh orang-orang
Babilonia pada masa itu. Itulah yang sebenarnya mereka putuskan untuk
ditelusuri. Mereka orang-orang cerdas dan pemikir tangguh. Itulah juga, yang
dapat menjelaskan mengapa kota mereka dikenal sebagai kota terkaya dan terkuat
pada masa itu.
Pada masa dahulu, yang sudah lama sekali itu, tidak ada
sekolah ataupun perguruan tinggi. Kendatipun demikian, mereka memiliki pusat
pembelajaran yang sangat mendukung perkembangan ilmu dan kehidupan. Di antara
menara dan bangunan tinggi di Babilonia terdapatlah satu bangunan penting yang
setara pentingnya dengan Istana Sang Raja, Taman Gantung dan Kuil Para Dewa.
Engkau tidak menemukan bangunan itu ditulis dalam buku-buku sejarah, besar
kemungkinan tidak pernah disebut sama sekali, namun demikian, ia memberikan
pengaruh yang luar biasa pada kehidupan keilmuan dan kesejahtearan masyarakat pada
masa itu.
Gedung itu adalah Kuil Pembelajaran, tempat kebijaksanaan
masa lalu dipelajari dan dibahas oleh para guru yang penuh minat dan tempat
masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat pada saat itu dibahas bersama
dalam majelis terbuka. Dalam lingkungan dinding kuil itu semua orang dianggap
setara. Budak-budak sederhana sekalipun dapat menyanggah, dengan bebas tanpa
rasa takut, pendapat seorang pangeran dari keluarga kerajaan.
Di antara orang-orang yang sering berulang kali berkunjung ke
Kuil Pembelajaran itu, ada seorang kaya yang bijaksana bernama Arkad, yang
digelari orang terkaya di Babilonia. Arkad memiliki ruangan khusus, yang hampir
setiap petang serombongan orang, sebagian sudah cukup tua, sebagian masih remaja,
sebagian besar berumur setengah baya, berkumpul untuk membahas, mendiskusikan
dan saling berdalil atas hal-hal yang menarik perhatian mereka. Disanalah, seandainya
dapat, akan kita dengar pembicaraan yang membahas mengenai cara memperoleh
nasib baik.
Mentari baru saja terbenam seperti bola api merah
memancarkan sinarnya menembus kabut senja yang tersaput debu gurun ketika Arkad
melangkah menuju undak-undak tempat ia biasanya duduk. Sudah ada delapan puluh
orang menunggu kedatangannya, bersimpuhan pada ambal kecil beratur di atas lantai.
Masih ada lagi beberapa peserta lain yang datang kemudian.
“Apa yang akan kita bicarakan malam ini,” tanya Arkad.
Dengan sedikit ragu, seorang penenun permadani yang jangkung
mengajukan pendapatnya, seraya berdiri, sesuai kebiasaan di situ. “Saya
mempunyai satu masalah yang sangat ingin agar dapat dibicarakan dalam majelis
ini, namun ragu menawarkannya karena khawatir akan terasa lucu dan remeh
bagimu, Arkad, dan semua sahabat baikku di sini.”
Karena di dorong-dorong oleh Arkad, dan beberapa peserta
lainnya, ia melanjutkan. “Hari ini saya sangat beruntung, karena saya menemukan
sekantung uang yang di dalamnya terdapat keping-keping emas. Untuk terus
mendapatkan keberuntungan seperti ini sangat saya inginkan. Saya kira semua orang
akan berfikiran sama dengan saya. Jadi kutawarkan agar kita membicarakan bagaimana
caranya agar keberuntungan datang mengunjungi kita atau dapat menemukan cara
membujuk keberuntungan mendatangi seseorang.”
“Sebuah masalah yang sangat menarik sudah diajukan,” timbal
Arkad, “sesuatu yang cukup bernilai untuk kita bahas di sini. Bagi sebagian
orang, nasib baik dikatakan sebagai kejadian yang, bagaikan kecelakaan, akan
diperoleh seseorang begitu saja tanpa tujuan dan tanpa alasan. Sebagian lainnya
percaya penganugerah semua keberuntungan itu adalah dewi paling dermawan kita,
Ashtar, yang akan selalu siaga menganugerahkan hadiah dengan murah hatinya pada
siapa saja yang menyenangkan hatinya. Berbicaralah, sahabat-sahabatku,
bagaimana pendapatmu, kita akan mencari tahu apakah ada cara agar nasib baik
dapat kita bujuk untuk mengunjungi kita semuanya?”
“Ayo! Ya! Boleh!” tanggap kelompok yang terus bertambah yang
terlihat begitu ingin mendengarkannya.
Arkad melanjutkan, “Untuk memulai pembicaraan kita, ada
baiknya kita mendengar dari orang-orang yang hadir di sini yang pernah
mengalami pengalaman yang sama yang telah dialami penenun permadani, menemukan
atau menerima benda berharga atau perhiasan, dengan tanpa usaha apapun yang
dilakukan.”
Keadaan menjadi hening sejnak, setiap orang saling toleh
menoleh menunggu sesorang menjawabnya tetapi tidak seorangpun yang unjuk diri.
“Wah, tidak seorangpun?” tanya Arkad, “jadi, jarang sekali
terjadi nasib baik seperti itu. Apakah ada, siapa, sekarang yang dapat memberi
saran kemana kita akan mencari lebih jauh, guna mendalami masalah ini?”
“Nah, kalau begitu boleh lah,” kata seorang anak muda yang
berjubah lumayan bagus seraya berdiri. “Apabila seseorang mebicarakan masalah
nasib baik, bukankah sama halnya dengan orang yang fikirannya tertuju pada meja
perjudian? Bukankah di sana dapat kita jumpai banyak orang-orang yang
mengharapkan dewi keberuntungan menganugerahkannya hasil yang berlimpah?”
Ketika ia kembali duduk seseorang menegahnya, “Jangan
berhenti! Lanjutkan ceritamu! Ceritakan pada kami, bukankah engkau mengharapkan
keberuntunggan sang dewi di atas meja judi? Apakah sang dewi menggelindingkan
dadu sesuai dengan yang engkau perkirakan sehingga engkau dapat mengalahkan
sang bandar, atau sebaliknya dia memenangkan bandar sehingga keping-keping
perak yang kau peroleh dengan susah payah ludes di sana?”
Anak muda itu ikut tertawa bersama orang yang hadir di majelis
itu, kemudian menjawab, “Saya tidak membantah, bahwa, kelihatannya Sang Dewi
bahkan tidak tahu saya ada di meja judi itu. Tidak pernah menang. Bagaimana
dengan saudara-saudara semua? Apakah engkau menemukan dia menunggumu di tempat
perjudian itu untuk membantumu memperoleh keuntungan dari perjudian? Saya
sangat ingin mendengarnya sekaligus ingin mempelajarinya.”
“Permulaan yang bagus,” tukas Arkad. ”Kita berkumpul di sini
utnuk mempertimbangkan segala sisi pertanyaan atas masalah yang kita bahas.
Mengabaikan meja judi sama saja artinya mengabaikan hasrat asli setiap orang,
kesenangan untuk mengambil kesempatan dengan sedikit keping perak dengan
harapan memenangkan sejumlah besar keping emas.”
“Percakapan tentang judi ini mengingatkanku pada pacuan
kereta kuda kemarin,” ujar seseorang pendengar. “Apabila Sang Dewi mengunjungi
rumah judi, tentunya ia juga tidak melewatkan pacuan kereta yang berkilau dan
kuda-kuda dengan mulut berbusa yang bahkan memberikan lebih banyak hiburan.
Katakan pada kami apa adanya, Arkad, apakah Sang Dewi membisikkan padamu agar
engkau menempatkan taruhanmu pada kuda abu-abu dari Niniveth kemarin? Aku
berdiri tepat di belakangmu dan sangat tidak percaya engkau berani menempatkan
taruhanmu pada kuda abu-abu itu. Padahal engkau lebih tahu, sama seperti yang kami
ketahui, bahwa tidak ada peserta dari seluruh Assiria yang dapat mengalahkan
kuda pacuan Babilonia dalam setiap pacuan.”
“Apakah dewi keberuntungan membisikkan padamu untuk memilih
kuda abu-abu karena pada belokan terakhir kuda hitam akan terbalik dan
menghalangi lajur kuda pacuan Babilonia sehingga kuda abu-abu dapat memenangkan
pacuan itu meski kemampuannya diragukan?”
Arkad tersenyum dengan senangnya pada orang yang menggodanya
itu. “Apa alasan kita untuk percaya bahwa Sang Dewi akan sangat tertarik pada
taruhan yang kita pasang pada pacuan kereta kuda? Bagiku Sang Dewi adalah dewi
cinta dan kehormatan yang kesenangannya membantu siapapun yang memerlukan
bantuan dan memberikan anugerah kepada siapapun yang layak menerimanya. Aku
mencarinya, bukan dimeja judi atau pacuan kuda, tempat lebih banyak orang
kehillangan keping-keping emas dari pada mendapatkannya, tetapi di tempat lain,
tempat orang-orang berkarya diberikan nilai lebih pada hasil kerjanya dan lebih
pantas diberikan anugerah.”
“Tempat petani membajak tanah, pedagang berdagang dengan
jujur, dan dalam setiap bidang pekerjaan, selalu ada kesempatan memperoleh
penghasilan dari kegiatan usaha. Mungkin tidak setiap waktu mereka akan
memperoleh anugerah karena kadang-kadang tindakannya mungkin keliru dan kala
lainnya angin dan cuaca mengalahkan usahanya. Namun, apabila mereka tekun, mereka
biasanya akan dapat mengharapkan hasil yang baik, Hal ini jelas, bahwa
kesempatan memperoleh penghasilan selalu ada di fihak yang selalu berusaha.
“Tetapi, apabila seseorang berjudi, keadaannya menjadi
terbalik, karena kesempatan memperoleh keuntungan baginya jauh lebih kecil dari
pada kesempatan bandar memperoleh keuntungan. Permainan itu telah diatur
sedemikian rupa sehingga akan selalu menguntungkan sang bandar. Itulah
usahanya, yang telah direncanakan secara cermat sehingga dapat memberikan
keuntungan dari keping-keping yang dipertaruhkan para penjudi. Hanya sedikit
penjudi yang menyadari betapa pastinya keuntungan bagi bandar dan betapa tidak
pastinya kemungkinan penjudi untuk menang.”
“Sebagai contoh, coba kita pelajari penjudi yang bermain
dadu. Setiap kali dadu digelindingkan kita menempatkan pasangan untuk angka
yang muncul di atas. Apabila angka tersebut cocok dengan yang dipertaruhkan
kita memperoleh bayaran empat kali jumlah yang dipertaruhkan. Apabila selain
angka itu yang muncul, kita kalah, keping yang kita pertaruhkan hilang. Kalau
kita perhitungkan angka-angka yang muncul, maka setiap putaran dadu kita
memiliki lima kemungkinan rugi, tetapi karena kecocokan angka dibayar empat
kali lipat, kita memperoleh kemungkinan menang hanya empat kali. Setiap malam
perjudian sang bandar dapat mengharapkan memperoleh keuntungan seperlima dari
seluruh keping yang dipertaruhkan. Dapatkah seseorang berharap memperoleh
keuntungan lebih dari sekali-sekali menghadapi kecilnya kemungkinan yang telah
dirancang agar penjudi akan mengalami kerugian seperlima dari taruhannya?”
“Memang betul itu, tetapi, beberapa orang memperoleh
kemenangan yang cukup besar sesekali,” ujar salah seorang pendengar.
“Benar, mereka menang,” lanjut Arkad. “Menyadari hal ini,
pertanyaan berikut muncul di kepalaku, apakah uang yang diperoleh dengan cara
itu memberikan nilai yang langgeng pada yang memperoleh keberuntungan itu. Di
antara kenalanku, banyak yang merupakan orang berhasil di Babilonia, tetapi di
antara mereka aku tidak dapat menemukan seorangpun yang bagian dari keberhasilannya
diperoleh dari sumber seperti itu.”
“Engkau yang berkumpul di majelis ini, malam ini, mungkin
mengenal lebih banyak lagi warga masyarakat yang berada. Akan sangat menarik
bagiku untuk mengetahui apabila ada beberapa warga yang berhasil itu memperoleh
kekayaannya mereka himpun dari meja judi. Coba, setiap yang hadir, sebutkan
siapa yang engkau ketahui? Bagaimana?”
Setelah beberapa masa hening, seorang yang biasanya suka
bercanda memecah kesunyian, “Apakah yang engkau tanyakan termasuk Sang Bandar?”
“Kalau engkau tidak dapat menemukan yang lain,” sahut Arkad.
“Apabila tidak seorangpun di antara engkau dapat menyebutkan yang lain,
bagaimana dengan dirimu sendiri? Apakah ada yang terus menerus memperoleh
kemenangan sehingga agak enggan menyebutkan sumber kekayaannya?”
Tantangannya dijawab oleh beberapa gerutuan dari barisan
belakang dan menjalar menjadi bahan tertawaan.
“Kelihatannya kita tidak mencari nasib baik pada tempat
semacam itu, sebagai tempat yang selalu dikunjungi Sang Dewi,” lanjutnya.
“Jadi, mari kita jelajahi tempat lainnya. Kita tidak menemukan Sang Dewi pada
orang yang menemukan kantung uang yang hilang. Tidak juga kita temukan di meja
perjudian. Atau, juga, di pertaruhan pacuan kereta kuda, harus kuakui, di
pacuan itu, aku lebih banyak kehilangan keping emas perakku dari pada
memenanginya.”
“Sekarang, coba kita pertimbangkan kegiatan dan usaha kita
masing-masing. Bukankah kita tidak menganggap kegiatan usaha yang menguntungkan
sebagai nasib baik melainkan sebagai hasil kerja keras kita semata? Aku
cenderung menganggap kita telah mengabaikan nasib baik yang kita peroleh
sebagai anugerah Sang Dewi. Mungkin dia benar-benar telah membantu kita apabila
kita tidak menghargai kedermawanannya. Siapa yang ingin meneruskan pembicaraan
lebih lanjut majelis ini?’
Berdirilah seorang saudagar tua, sambil merapikan jubah
putihnya yang indah. “Dengan izin engkau, sahabatku yang mulia, Arkad, aku
mengajukan tawaran. Bila, seperti yang engkau telah katakan, kita mengganggap
keberhasilan kita sebagai hasil usaha dan kerja keras kita sendiri, mengapa
tidak kita amati keberhasilan yang nyaris kita peroleh, namun gagal terjadi,
yang seharusnya dapat memberikan kita keuntungan yang lumayan. Pasti akan
sangat jarang contoh-contoh nasib baik apabila kita tidak pernah gagal dan
selalu berhasil dalam berusaha. Karena apabila tidak ada penghasilan yang kita
peroleh dari usaha kita maka kita akan mengganggap kegagalan itu bukan imbalan
usaha kita. Pasti banyak yang hadir di sini memiliki pengalaman serupa itu
untuk dibahas bersama.”
“Benar-benar suatu pendekatan yang bijaksana,” setuju Arkad.
“Siapa diantara engkau semua yang
memperoleh nasib baik yang hampir saja dapat engkau genggam, menguap
begitu saja di depan wajahmu?”
Beberapa lengan diacungkan, satu di antaranya dari sang saudagar
tua. Arkad memberi isyarat kepadanya agar berbicara. “Seperti yang engkau
sarankan, coba kami dengar pengalamanmu sendiri.”
“Aku akan sangat senang menceritakannya,” lanjut dia, “suatu
hal yang sangat berkaitan dengan betapa dekatnya nasib baik datang menghampiri
seseorang dan betapa butanya orang itu membiarkan nasib baik itu berlalu
meninggalkannya dengan beban kerugian dan penyesalan kemudian yang tidak
berguna.”
“Beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih sangat muda,
baru saja menikah dan mulai berusaha mencari nafkah, suatu hari, datanglah
ayahku menganjurkan dengan sangat agar aku melakukan penanaman modal usaha.
Anak dari seorang sahabat baiknya telah menemukan dan tertarik pada sebidang
tanah tandus tidak berapa jauh di luar dinding kota kita. Tanah itu letaknya
jauh lebih tinggi dari saluran air, sehingga tidak ada air yang mengalir di
atasnya.”
“Anak sahabat ayahku itu memiliki rencana untuk membeli
tanah itu, membangun tiga kincir air besar yang akan digerakkan oleh kerbau dan
selanjutnya mengairi tanah itu agar dapat dibudidayakan. Apabila hal itu
terlaksana, ia merencanakan pula untuk membagi tanah itu kedalam luasan-luasan
yang lebih kecil untuk dijual kepada warga kota untuk dijadikan kebun.”
“Anak sahabat ayahku tidak memiliki emas yang cukup untuk
melaksanakan rencananya itu. Seperti halnya aku, ia masih muda dan hanya
berpenghasilan yang sedikit lebih dari memadai. Ayahnya, seperti juga ayahku,
memiliki keluarga yang besar dan berpenghasilan tidak berlebihan. Ia, kemudian,
memutuskan untuk mengajak beberapa rekannya membantu mewujudkan rencana itu
bersamanya. Terkumpullah kelompok dengan dua belas anggota, setiap orangnya
harus berpenghasilan dan setuju untuk menyisihkan sepersepuluh dari
penghasilannya kedalam kelompok itu sampai tanah tersebut siap dijual.
Selanjutnya semuanya akan memperoleh bagian keuntungan sebanding dengan modal
yang mereka masing-masing tanamkan.”
“’Engkau, anakku,’ kata ayahku, ‘saat ini berada pada masa
mudamu. Aku sangat inigin melihat engkau mulai menghimpun kekayaan bagi dirimu
sendiri sehingga engkau akan menjadi orang yang terpandang di antara warga
masyarakat. Aku ingin melihat engkau memperoleh keuntungan dari pengalaman dan
kesalahan akibat kurangnya pengetahuan ayahmu.”
“’Memang itulah juga yang sangat saya inginkan, ayahku,’
jawabku.’”
“’Sekarang, dengar nasihatku. Lakukan apa yang seharusnya
telah aku lakukan saat aku seusiamu. Sisihkan sepersepuluh dari penghasilanmu dan
tanamkan pada penanaman modal yang benar. Dengan sepersepuluh penghasilanmu
itu, dan apa yang engkau peroleh dari hasil penanamannya, engkau dapat, sebelum
usiamu mencapai umurku saat ini, menghimpun bagi dirimu sendiri harta yang akan
sangat bernilai.”
“’Kata-katamu merupakan kata-kata yang bijaksana, ayahku.
Aku sangat menginginkan kekayaan. Tetapi ada sangat benyak keperluan yang harus
kupenuhi dengan penghasilanku yang cekak ini. Oleh karena itu, aku agak ragu
menjalankan apa yang engkau nasehatkan padaku. Aku masih muda. Masih banyak
waktu.’”
“’Itulah yang ada dalam fikiranku pada saat aku seusiamu,
ternyata, tahun-tahun berlalu dan aku masih juga belum memulainya.’”
“’Kita hidup dalam masa yang berbeda, ayahku. Aku pasti
mampu menghindarkan diriku dari kesalahan seperti yang engkau lakukan.’”
“’Kesempatan telah berdiri di depanmu, anakku. Ia menawarkan
usaha yang dapat membawamu ke kekayaan. Aku minta padamu, jangan tunda lagi.
Pergilah kamu besok pagi ke anak sahabatku itu dan tawarkan padanya
sepersepuluh dari penghasilanmu untuk ikut serta dalam rencana usahanya.
Datanglah tepat waktu besok pagi. Kesempatan tidak menunggu-nunggu seorangpun.
Hari ini ia berdiri di depanmu; segara setelah itu ia pergi. Jadi, jangan
menunda!’”
“Meskipun telah disarankan dengan sepenuh hati ayahku, aku
ragu dan enggan. Ada jubah baru yang indah yang baru saja datang dibawa para
pedagang dari Timur, jubah yang berkilau mewah yang istriku yang baik dan kau
sendiri merasa kami harus memilikinya satu seorang. Seandainya aku setuju untuk
menanamkan sepersepuluh dari penghasilanku kedalam usaha itu, kami tentu harus
menahan keinginan untuk memiliki jubah itu, juga kepuasan-kepuasan lainnya yang
benar-benar kami inginkan bisa didapat dengan jumlah itu.Kutunda keputusan
untuk menanamkan uangku pada usaha itu dan terlambat akhirnya, disusul kemudian
oleh penyesalan-penyasalan yang menyertainya. Usaha tersebut ternyata sangat
berhasil, bahkan melebihi semua yang diramalkan orang-orang. Itulah ceritaku,
menggambarkan bagaimana aku mempersilakan nasib baik berlalu dari hadapanku.”
“Dalam cerita itu dapat kita lihat bagaimana : nasib baik menunggu di hadapan seseorang
yang memanfaatkan kesempatan,” begitu komentar seorang penghuni gurun yang
berwajah kehitaman. “Untuk menghimpun kekayaan selalu ada awalnya. Permulaan,
mestinya hanya akan berupa beberapa keping emas atau perak yang orang itu
sisihkan dari penghasilanna dilanjutkan dengan pemanfaatan simpanan itu bagi
usaha lainnya. Aku sendiri, memiliki banyak ternak. Usaha ternakku yang pertama
kumulai ketika aku masih kanak-kanak lagi dengan membeli seeekor anak sapi
seharga sekeping perak. Itulah, anak sapi yang kujadikan awal kekayaanku,
sangat berarti bagiku.”
“Untuk mengambil langkah pertama menghimpun kekayaan sama
halnya memperoleh nasib baik bagi setiap orang. Pada semua orang, mengambil
langkah pertama, yang mengubah dirinya dari seseorang yang memperoleh
penghasilan dari usaha atau kegiatannya menjadi seseorang yang memperoleh
bagian dari penghasilan yang dihasilkan emas miliknya, hal itu sangat penting.
Beberapa orang, beruntung, melakukannya ketika masih berusia muda sehingga
mampu mendahului mereka yang memulainya setelah menjelang setengah baya atau
orang-orang yang kurang beruntung, seperti ayah saudagar ini yang tidak pernah
memulainya.”
“Seandainya sahabat kita, saudagar ini, mengambil langkah
itu pada usia mudanya ketika kesempatan itu berdiri dihadapannya, hari ini ia
akan menghimpun kekayaan dari yang dimilikinya saat ini. Seandainya nasib baik
yang mendatangi sahabat kita ini, dan penenun permadani, membuat mereka
mengambil langkah meraih kesempatan itu, sudah dapat dipastikan itu akan
menjadi awal datangnya nasib-baik dan munculnya kesempatan-kesempatan lebih
besar lainnya.”
“Terima kasih, terima kasih! Saya juga ingin berbicara.”
Seorang asing dari negeri tetangga berdiri. “Saya orang Syria. Saya tidak
begitu mahir berbicara dalam bahasa Babilonia. Saya ingin menyebut sahabat ini,
sang pedagang, dengan suatu sebutan. Mungkin akan terdengar agak kurang sopan,
sebutan ini. Tapi akau akan menyebutnya demikian. Tetapi, aduh, aku tidak
mengenal sebutan ini dalam bahasamu. Jika kusebutkan dalam bahasa Syria, engkau
tidak akan mengerti. Coba tolong, orang-orang yang baik di sini, beritahukan
aku sebutan bagi orang yang mengabaikan berbuat sesuatu yang sesungguhnya
sangat baik baginya.”
“Penyia-nyia kesempatan,” kata seseorang.
“Ya, itu dia,” tanggap orang Syria itu, sambil
menggarak-gerakkan tangannya dengan ria, “ia tidak menanggapi kesempatan ketika
kesempatan itu hadir di hadapannya. Kesempatan itu menunggu. Dia bilang aku sibuk
saat ini. Lain kali, barangkali kita bisa beramah tamah. Kesempatan, tidak akan
menunggu orang yang lamban seperti itu. Kesempatan beranggapan apabila apabila
seseorang ingin beruntung ia akan bergerak seketika. Setiap orang yang tidak
bergerak cepat ketika kesempatan tiba, dialah penyia-nyia kesempatan sepeti
sahabat kita ini, sang saudagar.”
Sang saudagar berdiri dan dengan santunnya membungkuk hormat
menanggapi tertawaan hadirin. “Aku senang dan sangat menghargai engkau, orang
asing dalam kota ini, yang segan tidak sama sekali mengemukakan kebenaran.”
“Sekarang mari kita dengar cerita yang lain tentang masalah
kesempatan ini. Siapa lagi yang memiliki pengalaman yang dapat diberikan pada
kita?” pinta Arkad.
“Saya punya,” jawab seorang berjubah merah umur setengah
baya. “Saya pedagang ternak, umumnya unta dan kuda. Kadang-kadang saya juga
membeli biri-biri dan kambing. Cerita yang akan kusampaikan dengan seungguhnya
ini akan menggambarkan bagaimana kesempatan datang pada suatu malam ketika saya
samasekali tidak mengharapkannya. Mungkin karena tidak diharapkan itu, aku
membiarkannya berlalu. Engkau semualah yang akan menilainya.”
“Pada suatu malam, ketika aku kembali ke kota, setelah
malakukan perjalanan mencari unta dagangan selama sepuluh hari yang mengecewakan,
aku sedikit gusar ketika medapatkan gerbang kota sudah ditutup dan terkunci.
Sementara budak-budakku mendirikan tenda untuk bermalam yang mungkin akan kami
lewati dengan hanya sedikit sisa makanan tanpa air, aku didatangi seorang peternak
yang sudah agak tua, yang sama seperti kami, terkunci di luar gerbang kota.
“’Salam Tuan,’ ia menyapaku, ‘dari penampilanmu, engkau
pasti pedagang ternak. Apabila memang benar begitu, aku ingin menjual kepadamu
sekawanan biri-biri unggul yang baru aku datangkan ke sini. Susahnya, istriku
yang baik sedang terbaring sakit terkena demam. Aku harus segera kembali ke
peternakanku. Belilah olehmu biri-biriku agar aku dan rombongan dapat segera
naik ke unta kami dan segera kembali tanpa menunda-nunda lagi.’”
“Ketika itu malam sangat gelap sehingga aku tidak dapat
melihat kawanan biri-biri itu, tetapi dari suara-suara embekannya aku tahu
pasti itu kawanan biri-biri yang bagus. Setelah menyia-nyiakan sepuluh hari
tanpa hasil unta dagangan, aku menjadi sangat tertarik untuk menerima tawaran
itu. Dalam kerisauannya, ia menawarkan harga yang paling baik. Aku menerimanya,
dengan harapan budak-budakku akan menggiring kawanan biri-biri itu melewati
gerbang kota besok pagi dan menjualnya dengan keuntungan yang lumayan besar.”
“Segera saja kesepakatan di dapat, kupanggil budak-budakku
untuk membawa obor agar kami dapat menghitung kawanan biri-biri itu yang
dikatakan pedagang itu ada berjumlah sembilan ratus ekor. Aku tidak akan
memberatkanmu, sahabatku, dengan tambahan penjelasan betapa tidak mungkinnya
menghitung begitu banyak biri-biri yang sedang memamhbiak, kehausan, yang tidak
dapat ditenangkan dan terus berdesak-desakan. Penghitungan tidak mungkin dapat
dilakukan. Oleh karena itu dengan tegas kuberitahukan pada peternak itu aku akan
menghitungnya nanti di siang hari dan akan membayarnya setelah jelas jumlah
perhitungannya.
“’Tolonglah saya, Tuan yang mulia,’ pohonnya,’cukup bayar
saya dua pertiga dari harga yang disepakati malam ini agar aku dapat segera
kembali ke peternakanku. Akan kutinggalkan budakku yang paling pintar dan
paling terpelajar, untuk membantu melakukan perhitungan di siang nanti. Ia
dapat dipercaya dan engkau dapat membayar sisa kekurangannya pada dia.’”
“Tetapi aku bersikeras dan menolak melakukan pembayaran pada
malam itu. Kesepakatan batal terjadi. Keesokan paginya, sebelum aku bangun,
gerbang kota sudah dibuka dan empat pembeli bergegas berdatangan mencari ternak
dagangan. Mereka sangat bersemangat dan bersedia melakukan pembelian dengan
harga yang sangat tinggi karena adanya berita akan adanya serangan ke kota dan
warga kota sedang dalam keadaan siaga terhadap ancaman itu, tambahan lagi
persediaan makanan saat itu sedang menipis. Hampir tiga kali lipat harga yang
peternak itu tawarkan kepadaku, itulah jumlah yang akhirnya diterima sang
peternak atas biri-birinya. Begitulah, nasib baik yang jarang terjadi, dibiarkan
berlalu begitu saja.”
“Benar-benar sebuah cerita yang luar biasa,” komentar Arkad.
“Kebijakasanaan apa yang diajarkannya?”
“Kebijaksanaan untuk membuat pembayaran segera apabila kita
yakin keuntungan sudah sangat jelas,” simpul pembuat pelana yang cukup dikenal.
“Apabila ada penawaran yang sangat menguntungkan, maka engkau perlu melakukan
perlindungan terhadap penawaran itu dari kelemahan dirimu sendiri dengan cara
yang sama seperti engkau menjaganya dari orang lain. Kita makhluk fana ini
selalu berubah-ubah. Sayangnya, bisa kukatakan lebih tepat, kita mengubah
pendirian kita lebih sering pada hal yang keliru dari pada yang benar. Salah,
pada hal yang keliru kita benar-benar keras kepala. Betul, pada hal yang benar
kita cenderung ragu dan membiarkan kesempatan berlalu. Keputusanku yang pertama
selalu merupakan keputusan yang terbaik. Tetapi selalau saja aku menemukan
kesulitan mendorong diriku sendiri untuk segera melaksanakan hal yang sudah
jelas menguntungkan itu meski sudah menemukannya di depan mata. Oleh karena itu
sebagai perlindungan atas kelemahan diriku sendiri, aku akan segera memberikan
uang muka tanda jadi atas penawaran itu. Hal ini akan menghindarkanku dari
penyesalan atas hilangnya nasib baik yang seharusnya menjadi milikku.”
“Terima kasih! Aku sekali lagi ingin berbicara,” Orang Syria
telah kembali tegak berdiri. “Cerita-cerita ini ada persamaannya. Setiap kali
kesempatan hilang berlalu dengan berbagai alasan. Setiap kali ia datang dengan
impian berkah kepada orang yang menyia-nyiakannya. Setiap kali mereka ragu,
bukan, saat ini bukan waktu yang tepat, bahkan, tidak katanya. Bagaimana
seseorang akan mencapai keberhasilan dengan cara seperti itu?”
“Bijak sekali kata-katamu, sahabatku,” tanggap pedagang
ternak itu. “Nasib baik meninggalkan sang penyia-nyia kesempatan dalam kedua
cerita itu. Namun, hal itu bukanlah hal yang luar biasa. Sifat untuk
menyia-nyiakan kesempatan ada pada diri setiap orang. Kita menginginkan
kekayaan; tetapi seringkali ketika kesempatan muncul dihadapan kita, sifat
untuk menyia-nyiakan dalam diri kita mendorong dengan berbagai cara untuk
menunda menerimanya. Apabila kita mendengar bujukan itu, kita sendiri justru
menjadi musuh terberat kita.”
”Pada masa mudaku aku tidak menyimpulkannya sebagaimana
sahabat Syria kita ini dengan gembira membicarakannya panjang lebar di sini.
Pertama kali aku berpikir, mungkin itu memang dikarenakan keputusanku sendiri
yang tidak baik yang menyebabkan kerugian dalam usaha perdaganganku. Kemudian
aku memang menyalahkan kekeras-kepalaanku. Akhirnya, aku menyadarinya
sebagaimana apa adanya, suatu – kebiasaan untuk tidak perlu menunda apa yang
harus segera dilakukan, lakukan dengan langsung dan tegas. Hal yang paling
kubenci adalah apabila kutemukan sifat ini menampakkan dirinya tepat
dihadapanku. Dengan kepahitan bagai bagal liar yang terikat pada kereta kuda.
Keberhasilan kucapai ketika aku membebaskan diriku dari musuh besarku ini.”
“Terima kasih! Aku ingin bertanya kepada sang saudagar.” Itu
yang dikatakan orang Syria selanjutnya. “Engkau mengenakan jubah yang indah,
tidak seperti orang-orang berkekurangan. Engkau berbicara selayaknya secara
orang-orang yang berhasil. Katakan pada kami, bila saatnya penyia-nyia
kesempatan berbisik di telingamu?”
“Seperti halnya sahabat kita sang pedagang ternak, aku juga
harus menyadari keberadaannya dan mengalahkannya,” jawab sang saudagar.
“Bagiku, dia bagaikan seorang lawan, selalu mengintai dan menunggu untuk
menghalang-halangi keberhasilanku. Cerita yang kukemukakan tadi hanya satu dari
sekian banyak kejadian serupa yang dapat kuuraikan semua, bagaimana dia telah
mengusir kesempatan-kesempatan yang datang kepadaku. Sebenarnya hal itu tidak
terlalu sukar untuk diatasi begitu kita sudah menyadarinya. Tidak ada orang
yang akan mengizinkan dengan senang hati seorang pencuri merampok gandum dalam
periuknya. Begitu juga tidak akan ada orang yang bersedia apabila musuhnya
mengusir pelanggannya dan mengambil keuntungan yang seharusnya menjadi
bagiannya. Sekali aku menyadari bahwa tindakan itu adalah hsil usaha yang
dilakukan lawanku, dengan satu tekad yang teguh aku mengalahkannya. Setiap
orang harus menjadi tuan dari sifat menyia-nyiakan kesempatan pada dirinya
sebelum ia dapat mengharapkan mendapatkan bagian dari kelimpahan kekayaan
Babilonia.”
“Bagaimana menurutmu, Arkad?” Karena engkau orang terkaya di
Babilonia, banyak yang mengatakan engkau orang yang paling beruntung di antara
orang-orang yang beruntung. Apakah engkau sependapat denganku bahwa seseorang
tidak akan mencapai keberhasilan yang penuh menyeluruh sebelum ia sepenuhnya
menghancurkan sifat menyia-nyiakan kesempatan yang ada dalam dirinya?”
“Sama seperti yang engkau katakan,” Arkad menerimanya.
“Sepanjang hidupku yang sudah cukup lama aku memperhatikan satu generasi
dilanjutkan dengan generasi yang lain, berjalan dalam usaha dagangnya, ilmu
pengetahuan dan mempelajari apa yang dapat memberikan keberhasilan dalam hidup
ini. Kesempatan datang kepada semua orang ini. Sebagian menggenggamnya segera
dan terus maju mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi sebagian besar
ragu, goyah dan tertinggal di belakang.”
Arkad, bergeming ke arah penenun. “Engkau tadi yang
menganjurkan kita membicarakan masalah nasib baik di majelis ini. Mari kita
dengar apa yang engkau pikirkan tentang masalah ini?”
“Aku semula memang melihat nasib baik dalam pandangan yang
agak berbeda, Aku fikir nasib baik sebagai sesuatu yang kita inginkan yang
mungkin terjadi kepada seseorang tanpa ada usaha sama sekali yang dilakukannya.
Sekarang, aku sadari bahwa kejadian itu bukanlah sesuatu yang dapat diusahakan
seseorang agar nasib baik datang mendekatinya. Dari pembicaraan kita dapat aku
pelajari bahwa : untuk menarik nasib baik
datang kepadamu, engkau harus memanfaatkan seluruh kesempatan. Jadi, di
masa yang akan datang, aku akan berusaha sekuat tenaga memanfaatkan setiap
kesempatan yang datang ke hadapanku.”
“Engkau telah menyerap inti sari pembicaraan yang diungkap
dalam majelis ini,” jawab Arkad. “Selamat, kita menemukan, bahkan mengikuti jalur
kesempatan, jarang terjadi hal sebaliknya. Sahabat kita sang saudagar telah
menemukan nasib baik yang sangat amat bagus apabila ia menerima kesempatan yang
dianugerahkan dewi kebaikan padanya. Sahabat kita sang pedagang ternak, begitu
juga, akan menikmati nasib baik apabila ia menyelesaikan penawaran untuk
membeli sekawanan biri-biri dan menjualnya dengan keuntungan yang lumayan
besar.”
“Kita mengikuti pembicaraan ini, mencari cara bagaimana agar
nasib baik tergoda untuk mengunjungi kita. Aku kira kita telah menemukan
caranya. Kedua cerita tadi mengambarkan bagaimana nasib baik mengikuti
kesempatan. Disitulah terletak kebenaran bahwa cerita tentang nasib baik yang
serupa, dimenangkan, atau kehilangan, tidak dapat diubah. Kebenarannya adalah :
Nasib baik dapat didatangkan dengan
memanfaatkan kesempatan.”
“Siapa pun yang bersemangat menggenggam setiap kesempatan
bagi kebaikannya, akan menarik perhatian kebaikan sang dewi. Sang dewi selalu
sangat bersedia membantu orang-orang yang menarik hatinya. Orang-orang yang
senantiasa siaga bertindak, sangat menarik hatinya.
“Tindakan akan membawa engkau ke depan ke arah keberhasilan
yang begitu engkau inginkan.”
|
ORANG YANG SENANTIASA SIAGA BERTINDAK
AKAN DIDAHULUKAN OLEH DEWI KELIMPAHAN
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar