Sabtu, 13 September 2014

XI : SEJARAH SINGKAT BABILONIA


 

 

SEJARAH SINGKAT BABILONIA

 

 

 

Dalam catatan sejarah terdapatlah kota Babilonia yang tidak ada kota lainnya yang melebihi kecemerlangannya. Nama Babilonia itu sendiri langsung akan membawa pada bayangan kekayaan dan  kemegahan. Perbendaharaan emas dan perhiasannya sangat mewah. Seseorang secara alamiah akan menggambarkan sebuah kota dengan kekayaan sebegitu megahnya, seharusnyalah terletak pada daeah tropis yang kaya, dikelilingi sumber daya alam, hutan dan tambang, yang melimpah. Ternyata bukan begitu keadaannya. Babilonia terletak disisi sungai Furat, pada sebuah dataran, di sebuah lembah yang gersang. Kota itu tidak memilki hutan, tidak ada tambang – bahkan tidak ada batu untuk membuat bangunan. Tidak juga ia dibangun di atas sebuah jalur perdagangan alami. Curah hujan tidak cukup banyak untuk menghidupkan tanaman.

 

Babilonia adalah conoh yang luar biasa tentang kemampuan manusia untuk mencapai tujuan besar, menggunakan segala kemampuan yang ada yang dapat dipergunakannya. Semua sumber daya yang mendukung kehidupan di kota itu merupakan rekayasa manusia. Semua kemewahan dan kelimpahan itu hasil karya manusia.

 

Babilonia hanya memiliki dua sumber daya alam – tanah yang subur dan air di sungai. Dengan salah satu pencapaian teknologi terbaik pada saat itu atau masa sebelumnya, para ahli teknik Babilonia membelokkan aliran air di sungai dengan membangun dam dan saluran irigasi yang besar. Jauh membelah lembah gersang itu kanal-kanal dibuat untuk mencurahkan air yang memberi kehidupan ke atas tanah yang menjadi subur. Pekerjaan ini merupakan rekayasa teknik yang pertama yang dikenal sejarah. Panen yang melimpah merupakan hasil dari sistem irigasi yang belum pernah dilihat di mana pun di dunia pada waktu itu.

 

Sangat beruntung, dalam masa kejayaannya yang cukup lama, Babilonia diperintah oleh beberapa turunan raja yang jarang diperangi atau jarang mengalami pemberontakan. Apabila ia berperang, kebanyakan dari perang itu hanya perang lokal kecil atau hanya mempertahankan diri dari serangan penyerbu yang ingin menundukkan dan menjarah kekayaan Babilonia. Pemerintah yang terkenal yang diketahui sejarah karena kebijaksanaannya, kewirausahaan dan keadilan. Babilonia dalam sejarahnya tidak mengenal pemimpin yang mementingkan kepentingan rajanya saja, yang biasanya mencari daerah-daerah untuk dikuasai agar setiap negara memberikan upeti kepada kepentingan kerajaan penakluk.

 

Sebagai sebua kota, Babilonia tidak ada lagi di muka bumi ini. Ketika masyarakatnya yang penuh semangat membangun dan memelihara kota itu beratus-ratus tahun mulai menurun, Babilonia berubah menjadi hanya sebagai reruntuhan di gurun pasir. Letak kota itu di Asia sekitar enam ratus mil sebelah timur terusan Suez, tepat di utara teluk Persia. Pada garis lintang sekitar tiga puluh derajat sebelah utara khatulistiwa, selintang dengan Yuma, Arizona. Ia memiliki iklim yang berkemiripan dengan kota di Amerika itu, panas dan kering.

 

Saat ini, lembah sungai Furat, yang dulunya merupakan daerah teririgasi yang padat penduduk, kembali menjadi daerah gersang tersapu angin yang terbengkalai. Rerumputan yang jarang dan belukar gurun hidup dengan susah payah menghadapi pasir yang ditiup angin gurun. Hilang sudah tanah yang subur itu, kota raksasa dengan karavan panjang dengan barang-barang yang berlimpah. Tinggal beberapa kelompok Arab nomaden, menjalani hidupnya yang sederhana dengan menggembala sekawanan kecil hewan, merupakan penghuni tempat ini. Begitulah kehidupan di sini sejak awal masa Kristen.

 

Pada beberapa tempat di daerah ini, ada beberapa gundukan bukit kecil dari tanah liat. Selama berabad-abad, gundukan itu tidak dianggap apa-apa oleh orang-orang yang melaluinya. Perhatian para ahli arkeologi akhirnya terarah kesana, ketika melihat pecahan-pecahan tembikar dan susunan bata tersingkap oleh badai hujan yang datang sesekali. Ekspedisi, yang didanai museum-museum Eropa dan Amerika, dikirimkan ke situ untuk menggali dan melihat apa yang mungkin dapat ditemukan di bawah pasir gurun itu. Beliung dan sekop akhirnya membuktikan bahwa gundukan bukit-bukit itu ternyata merupakan reruntuhan kota-kota kuno. Kuburan kuburan kota, begitu mereka disebut.

 

Babilonia salah satunya. Di atas Babilonia yang sudah tertimbun selama duapuluh abad, pasir gurun yang disebar angin. Dibuat awalnya degan bata, semua tembok yang tersingkap telah hancur dan kembali menjadi gundukan tanah seperti semula. Seperti itulah keadaan Babilonia, kota yang kaya, hari ini. Setumpuk lumpur, begitu lama ditinggalkan sehingga tidak ada orang yang masih hidup pernah mengenal namanya hingga ia ditemukan kembali dengan menyingkirkan berabad timbunan pasir dari jalan-jalannya dan rertuntuhan dari kuil-kuil dan istana-istananya.

 

Beberapa ilmuwan menyimpulkan bahwa peradaban Babilonia dan kota-kota lainnya di lembah ini sebagai peradaban tertua yang memiliki catatan yang pasti. Penanggalan yang tepat telah membuktikan bahwa kota-kota ini berumur lebih dari 8000 tahun. Sebuah fakta yang menarik dalam hubungannya dengan cara menetapkan usia reruntuhan itu. Pada penggalian di reruntuhan Babilonia ditemuan catatan tentang gerhana matahari. Para ahli astronomi modern telah melakukan penghitungan waktu saat gerhana itu, terlihat di Babilonia, terjadi dan menentukan hubungan antara almanak Babilonia dengan almanak pada masa ini.

 

Dengan cara itu, mereka telah membuktikan bahwa 8000 tahun yang lalu, bangsa Sumeria, yang mendiami wilayah Babilonia, hidup dalam tembok-tembok kota. Orang hanya dapat menduga-duga berapa abad sebelumnya kota seperti ini sudah terbangun. Penduduknya bukan semata orang liar yang hidup dalam lindungan tembok. Mereka merupakan orang yang terdidik dan berpemikiran tinggi. Sejauh yang dituliskan dalam sejarah, mereka ahli teknik yang pertama, astronomer yang pertama, ahli matematika yang pertama, ahli keuangan yang pertama dan orang yang pertama memiliki bahasa tulis.

 

Sudah disebutkan tentang sistem irigasi yang mengubah lembah gersang menjadi surga pertanian. Sisa sisa kanal ini masih dapat ditelusuri, meski selruruhnya telah tertimbun pasir. Sebagaian saluran itu berukuran sangat besar, apabila dikeringkan. Selusin kuda apabila dijejerkan akan dapat ditunggangi melaluinya. Dalam ukuran dapat diperbaandingkan dengan mudah dengan kanal terbesar di Colorado dan Utah.

 

Selain mengairi lembah-lembah, ahli teknik Babilonia menyelesaikan pekerjaan lainnya yang sama besarnya. Dengan teknik pengaturan drainase yang rumit mereka berhasil mengeringkan dan memuliakan tanah rawa yang luas pada muara sungai Furat dan Tigris dan dapat memanfaatkannya untuk usaha pertanian.

 

Herodotus, seorang pengembara Yunani dan seorang sejarawan, mengunjungi Babilonia ketika kota itu dalam kondisi terbaiknya dan dia telah memberikan satu-satunya rincian penjelasan tentang kota itu dan beberapa kebiasaan yang aneh pendudukya. Dia menyebutkan betapa suburnya tanah di situ dan betapa melimpahnya panen gandum dan barley yang dihasilkannya.

 

Kejayaan babilonia memudar tetapi kebijaksanaannya telah di simpan untuk kita. Untuk itu kita telah berutang budi kepada mereka atas catatan-catatan yang ditinggalkannya. Pada hari yang sudah sangat lama itu, kertas masih belum ditemukan. Sebagai alat tulis, mereka dengan telitinya mengukir tulisannya di atas lempeng tanah liat yang hampir mengering. Apabila selesai ditulis, lempeng itu dibakar dan menjadi lempeng kering yang keras, ukurannya antara enam kali delapan inchi, dengan ketebalan satu inchi.

 

Lempeng tanah liat ini, demikian biasa diesbut, banyak digunakan sebagaimana kita menggunakan berbagai bentuk tulisan pada saat ini. Di atasnya tertulis legenda-legenda, puisi, sejarah, salinan keputusan Sang Raja, hukum tanah, kepemilikan harta, surat pengakuan utang bahkan surat-surat biasa, yang diantarkan oleh pembawa pesan ke kota-kota yang jauh. Dari lempaneg tanah liat ini kita dapat mengetahui sampai kepada hal-hal yang bersifat pribadi. Sebagai contoh, pada satu lempeng, terlihat jelas catatan penjaga gerai, sehubungn dengan tanggal dan nama pelanggan yang membawa lembu dan menukarkannya dengan tujuh karung gandum, tiga dikirimkan pada saat itu juga dan sisa empat karung akan dikirim sesuai dengan permintaan pelanggannya.

 

Dengan aman tertanam di bawah reruntuhan kota, arkeolog telah menmukan pustaka yang berisi lempeng tanah liat, ratusan ribu jumlahnya.

 

Salah satu keajaiban yang luar biasa Babilonia adalah tembok kotanya yang tebal dan tinggi yang mengelilingi kota. Para ahli menyetarakannya dengan piramid besar di Mesir dan memesukkannya dalam “tujuh keajaiban dunia.” Ratu Semiramis dikatakan sebagai yang pertama kali mendirikan tembok kota pada awal sejarah kota itu. Penggalian pada masa ini tidak dapat menemukan tembok kota awal yang asli. Tidak juga diketaui seberapa besar ukurannya. Berdasarkan hal yang disebut-sebut para penulis sebelumnya, diperkirakan memiliki tinggi antara lima puluh sampai enam puluh kaki, sisi luar ditempatkan bata-bata bakaran dilindungi saluran air yang besar di sekelilingnya.

 

Tembok kota yang belakangan dan lebih terkenal mulai didirikan sekitar enam ratus tahun sebelum Masehi oleh Raja Nabopolassar. Dengan suatu rencana raksaa ia membangun kembali tembok itu, tetapi ia meneninggal sebelum sempat menyaksikan tembok itu selesai dibangun. Pembangunannya akhirnya dilanjutkan oleh anaknya, Nebukadnezar, nama yang sangat dikenal dalam cerita-cerita injili.

 

Tinggi dan lebar tembok kota ini sangat luar biasa. Dilaporkan oleh fihak yang dapat dipercaya, memiliki tinggi kira-kira seratus enam puluh kaki, setara dengan bangunan perkantoran berlantai lima belas saat ini. Panjangnya diperkirakan mencapai antara sembilan dan sebelas mil. Begitu lebarnya pada bagian atas tembok itu sampai enam kereta kuda dapat berjalan berjajar di atasnya. Tembok yang berukuran raksasa ini, musnha tanpa sisa kecuali sedikit bagiannya dan fondasi serta saluran air yang mengelilinginya. Sebagai tambahan atas kehancuran yang telah dialami, orang-orang Arab melengkapinya dengan mengambili bata-batanya untuk kebutuhan bangunan di tempat lain.

 

Menyerang tembok Babilonia, pada masa itu, dilakukan juga oleh para penakluk. Pada masa perang saling menaklukkan yang berlangsung di era tersebut. Beberapa raja melakukan penyerangan dan mengurung Babilonia, tetapi selalu gagal menaklukkannya. Para penyerang pada ketika itu tidak dapat di anggap enteng. Para sejarawan menyebutkan satuan-satuan 10.000 pasukan berkuda, 25.000 kereta kuda, 1.200 resimen prajurit yang berjalan kaki dengan 1.000 anggota setiap resimennya. Kadang-kadan dua atau tiga tahun persiapan diperlukan untuk mengerahkan perlengkapan tempur dan logistik serta depot makanan sepanjang perjalanan sebuah penyerangan.

 

Kota Babilonia dikelola laaknya sebuah kota di zaman modern. Ada jalan-jalan dalam kota dan gerai-gerai. Para pedagang menawarkan barang dagangannya ke dalam daerah pemukiman. Para imam ditasbihkan bagi kuil-kuil. Di dalam kota ada lingkungan terdalam bagi istana raja yang dikelilingi oleh tembok. Tembok yang dibuat mengelililingi kawasan terdalam ini dikatakan jauh lebih tinggi dari tembok kota.

 

Orang-orang Babilonia sangat memiliki keahlian di bidang kesenian. Karya yang mereka hasilkan termasuk patung-patung, lukisan, tenunan, pandai emas dan menghasilkan senjata dari logam, dan aneka alat-alat pertanian. Perajin perhiasannya menciptakan perhiasan-perhiasan indah yang bermutu tinggi. Beberapa contoh ditemukan pada kuburan penduduknya yang kaya dan sekarang dipertunjukkan di museum utama di dunia.

 

Pada masa paling awal ketika seisi dunai masih menebang pepohonan dengan kapak batu, atau berburu dan berperang dengan tombak dan panah bermata dari batu, orang Babilonia sudah menggunakan kapak, tombak dan anak panah yang matanya terbuat dari logam.

 

Orang Babilonia merupakan ahli keuangan dan pedagang yang cerdik. Sepanjang yang kita ketahui, mereka orang yang pertama kali menemukan uang sebagai alat tukar, surat pengakuan utang dan tanda kepemilikan harta yang tertulis.

 

Babilonia tidak pernah dilanda pasukan yang menundukkannya hingga 540 tahun sebelum Masehi. Bahkan kala itu tembok kota tidak diduduki. Cerita kejatuhan Babilonia sangat tidak biasa. Cyrus, salah seorang penakluk terhebat pada masa itu, bermaksud menyerang kota dan memperkirakan dapat mengalahkan tembok yang tidak tertembus itu. Penasihat Nabonidus, raja Babilonia, membujuk sang raja supaya mendahului Cyrus dan menyerangnya sebelum ia dapat mengurung kota. Setelah kekalahannya dari serangan balatentara Babilonia, para penyerang lari menjauhi kota. Tetapi membuat tembok kota tak terjaga. Cyrus, karenanya, dapat dengan mudah memasuki gerbang kota dan mengambil alihnya tanpa perlawanan yang berarti.

 

Setelah itu kekuatan dan kemasyhuran kota secara bertahap memudar, dalam jangka waktu beberapa ratus tahun, kota itu akhirnya ditinggalkan penghuninya, kosong, hanya tersisa bagi angin dan badai meratakannya kembali, serata dengan gurun pasir yang kemegahan kota semula dibangun di atasnya. Babilonia telah jatuh, tidak pernah bangun kembali, tetapi padanya peradaban banyak berutang.

 

Rentang waktu yang panjang telah menghancurkan tembok kota yang perkasa dan kuil-kuilnya, hancur menjadi debu, tetapi kebijaksanaan orang Babilonia mampu bertahan.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar