Sabtu, 13 September 2014

II : ORANG TERKAYA DI BABILONIA

 
ORANG TERKAYA DI BABILONIA
 
 
Di Babilonia, pada zaman dahulu, hiduplah seorang yang sangat kaya bernama Arkad. Di seluruh Babilonia ia sangat dikenal sebagai orang yang memiliki harta yang berlimpah. Tetapi, ia juga terkenal akan kedermawanannya. Amat sangat ringan dan kuat dalam berderma. Murah hati pada seluruh sanak keluarga. Tidak terlalu perhitungan dalam pengeluaran-pengeluaran untuk memenuhi hajat hidupnya. Kendati demikian, setiap tahun kekayaannya bahkan bertambah lebih cepat dari pengeluaran-pengeluarannya.
 
Dan ada beberapa sahabat masa kecilnya datang berkunjung padanya dan mengatakan : “Arkad, kamu lebih beruntung dari pada kami. Engkau telah menjadi orang terkaya di Babilonia sementara kami berjuang hanya untuk mempertahankan hidup kami dari hari ke hari. Engkau mengenakan pakaian terbaik dan menikmati makanan mewah, tetapi kami harus cukup merasa puas apabila kami dapat memberi pakaian pada keluarga kami dengan bahan sederhana, asal layak, dan memberi makan sesuai dengan hasil terbaik yang kami peroleh.”
 
“Padahal, dulu kita sama setara. Kita belajar pada guru yang sama, bermain permainan yang serupa, bahkan dalam pelajaran dan permainan itu kita seimbang, tidak ada satu yang menonjol dari yang lainnya. Pada tahun-tahun itu, engkau juga tidak lebih terhormat dari pada kami.”
 
“Dalam bekerja engkau juga tidak bekerja lebih keras dari pada kami atau pun lebih tekun, begitulah sepanjang yang kami ketahui. Tetapi mengapa, kemudian, seolah ada Dewi Fortuna yang membuatmu melebihi kami semua dalam memperoleh hal-hal yang terbaik dalam kehidupan ini dan Sang Dewi mengabaikan kami, padahal kita memiliki hak yang sama?”
 
Menghadapi pernyataan itu Arkad langsung menyanggah mereka. Ia mengatakan, “Apabila engkau hidup dari hari ke sehari dan tidak mengumpulkan kekayaan apa-apa selama usia remaja kita hingga saat ini, itu disebabkan karena engkau gagal dalam mempelajari hukum pengembangan kekayaan, atau mungkin engkau tidak mengamatinya sama sekali.”
 
“’Dewi Fortuna’ itu sebenarnya hanyalah dewi jahat yang tidak memberikan kebaikan yang abadi pada siapapun. Sebaliknya, ia menghancurkan hampir setiap orang yang dilimpahkannya dengan durian runtuh, dengan keberuntungan tanpa usaha. Menjadikan mereka orang yang suka berfoya-foya, yang dalam tempo sekejap menghapushabiskan kekayaan mereka dan kemudian meninggalkan mereka dengan angan-angan bahwa mereka dapat hidup senang tanpa merasakan bahwa mereka tidak mampu menyediakan pembiayaannya. Yang lainnya menjadi sangat kedekut dan menggenggam keras kekayaannya, takut menggunakannya, sadar bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengumpulkannya kembali apabila terkurangi. Lebih jauh lagi, merkea takut hartanya hilang atau tercuri, membuat kehidupannya kosong dan pantas dikasihani.”
 
“Ada juga, mungkin, dapat memeliharanya dan menambah kekayaan itu dan berbahagia dan menjadi warga yang terhormat. Tapi sangat sedikit yang demikian itu, aku pun hanya mengenal mereka dari kabar burung semata.”
 
“Coba cermati mereka-mereka yang mewarisi kekayaan mendadak, apakah apa yang baru kuungkapkan ini bukan kebenaran adanya?”
 
Sahabat-sahabatnya membenarkan bahwa dari orang-orang yang mereka kenal yang mewarisi kekayaan, apa yang diucapkan Arkad ada benarnya, dan mereka meminta Arkad menjelaskan pada mereka bagaimana caranya ia menjadi orang yang memiliki kelimpahan yang tak terkira, jadi Arkad meneruskan :

“Pada masa mudaku kurasakan dan kulihat hal-hal yang baik yang memberikan kegembiraan, kebahagiaan dan yang memberikan kepuasan dan kesejahteraan. Dan kusadari bahwa kekayaanlah yang dapat mempermudah kita memperoleh hal itu semua.”
 
“Kekayaan itu kekuatan. Dengan kekayaan semua hal yang lain menjadi mungkin.”
 
“Kita dapat memenuhi rumah kita dengan perabot yang mewah.”
 
“Kita dapat berlayar ke tempat-tempat yang jauh di seberang lautan.”
 
“Kita dapat berpesta dengan makanan-makanan lezat dari negeri-negeri jauh.”
 
“Kita dapat membeli perhiasan yang dibuat pandai emas atau perajin permata.”
 
“Kita bahkan dapat membangun kuil yang megah bagi Para Dewa.”
 
“Kita dapat melakukan hal itu semua dan banyak lagi hal lainnya apa pun yang dapat menyenangkan hati dan menyejukkan jiwa.”
 
“Setelah kusadari hal itu, kuputuskan bahwa aku harus mengumpulkan hal-hal yang baik dalam kehidupan ini. Aku tidak mau menjadi penonton di kejauhan, melongo memperhatikan mereka yang menikmatinya. Aku tidak akan puas dengan pakaian sederhana yang terlihat bersahaja. Aku tidak akan puas berada di tengah orang-orang miskin. Sebaliknya akau akan menjadkan diriku sebagai tamu pada kemewahan pesta dan kesejahteraan. Aku harus menjadi hartawan.”
 
“Sebagaimana yang engkau ketahui, menjadi seorang anak pedagang kecil, dalam sebuah keluarga besar tanpa harapan, tanpa warisan, juga tanpa kelebihan apa-apa, seperti yang telah dengan jujur engkau ungkapkan, juga tidak ungggul dalam kebijaksanaan, saya memutuskan bahwa apabila saya ingin mencapai apa yang saya cita-citakan, yang saya butuhkan adalah waktu dan belajar.”

“Tentang waktu, semua orang memilikinya, berlebih-lebihan bahkan. Engkau, setiap orang, telah dikelabui oleh waktu yang cukup banyak untuk menjadikan dirimu kaya raya. Setelah sekian lama, apa yang terjadi. Ternyata, akhirnya engkau akui juga, bahwa tidak ada yang dapat engkau perlihatkan kecuali keluargamu yang baik yang dapat engkau bangga-banggakan.”
 
“Halnya belajar, bukankah guru kita yang bijaksana telah memberitahu kita bahwa belajar itu ada dua jenis : pertama, belajar menjadikan kita mengetahui apa yang kita pelajari dan ketahui, yang kedua belajar merupakan sebuah latihan yang menjelaskan pada kita apa yang tidak kita ketahui.”
 
“Oleh karena itu saya putuskan mempelajari bagaimana cara seseorang mengumpulkan kekayaan, dan setelah saya ketahui caranya, saya jadikan pembelajaran itu sebagai tugas saya dan melaksanakannya dengan bersunguh-sungguh. Karena, alangkah tidak bijaksana apabila kita terlalu menikmati hidup di hari-hari penuh keceriaan, sedangkan kesedihan pasti akan mendatangi kita pada waktunya atau pada saat kita kembali ke alam arwah.”
 
“Aku bekerja sebagai penulis lempeng tanah liat di perpustakaan kota, berjam-jam setiap hari kulakukan pekerjaan itu. minggu demi minggu, bulan ke bulan, terus bekerja, tetapi penghasilanku tidak memadai sama sekali, tidak ada yang dapat kutunjukkan. Makanan, pakaian dan persembahan bagi Para Dewa, dan lain-lain yang tidak dapat kuingat sama sekali, telah menghabiskan semua penghasilanku. Tetapi, untung tekadku tidak meninggalkanku.”
 
“Dan, pada suatu hari, Algamish, seorang pemberi pinjaman, berkunjung ke rumah wali kota memesan salinan Hukum Kesembilan, ia berkata padaku, ‘aku harus mendapatkannya dalam dua hari, apabila pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu itu, dua uang perak akan kuhadiahkan padamu.”
 
“Jadi, saya berusaha mati-matian menyelesaikan, tetapi Hukum Kesembilan itu terlalu panjang, dan ketika dua hari kemudian Algamish datang, pekerjaan itu masih belum selesai. Ia marah sekali, mungkin kalau saya ini budak miliknya sudah pasti saya akan dipukulinya. Tapi dia tahu Wali Kota tidak mungkin akan membiarkan ia menyakiti saya, jadi saya tenang-tenang saja, dan mengatakan padanya, ‘Algamish, bukankah engkau orang yang kaya raya, beritahukan padaku bagaimana caranya agar dapat menjadi kaya sepertimu, nanti akan kukerjakan salinan Hukum Kesembilan ini sepanjang malam dan besok, pagi-pagi sekali pasti dapat terselesaikan.”
 
“Ia tersenyum padaku dan menjawab, ‘engkau memang pedagang cerdik, baiklah, aku setuju, engkau selesaikan salinan itu dulu, besok pagi kita lihat hasilnya.”
 
“Sepanjang malam itu saya berusaha menyelesaikan salinan Hukum Kesembilan itu, meski punggungku terasa nyeri dan bau minyak pelarut tanah liat menyakitkan kepalaku dan membuat mataku berkunang-kunang. Akhirnya, ketika ia kembali bersamaan munculnya matahari, lempeng salinan itu selesai.”
 
“’Nah,’ ucapku, ‘sekarang katakan padaku apa yang telah engkau janjikan.”
 
“’Engkau telah menunaikan janjimu, anakku,’ katanya, ‘dan sekarang giliran saya memenuhi janjiku. Akan, kuberitahukan apa yang ingin engkau ketahui, bukankah aku telah tua dan orang tua senang sekali berbicara. Dan apabila ada anak muda datang memerlukan nasehat pada orang tua, dia akan memperoleh kebijaksanaan yang telah teruji bertahun-tahun. Tetapi anak muda sering beranggapan bahwa kebijaksanaan orang tua hanyalah kebijaksanaan masa lalu semata, tidak berguna bagi masa kini. Tapi, coba ingat-ingat hal ini, matahari yang bersinar hari ini sama dengan matahari yang bersinar pada masa ayahmu lahir, dan masih akan bersinar pada saat cucumu nanti kembali ke alam arwah.”
 
“’Pikiran anak muda,’ lanjutnya, ‘memang bersinar terang bagai lintasan meteor yang menerangi cakrawala, tetapi kebijaksanaan orang tua bagaikan bintang yang tidak bergeming, menetap di langit malam sehingga para pelaut dapat bergantung padanya ketika melayarai samudera.’”
 
“’Harus engkau serap ucapanku, sebab bila itu tidak engkau lakukan engkau akan gagal menyarikan kebenaran yang akan kusampaikan padamu, dan engkau akan mengira kerja kerasmu semalam suntuk tidak sepadan dengan apa yang engkau dapatkan.’”
 
“Kemudian dari bawah alis lebat yang memutih, matanya menatapku langsung dengan tajamnya dan berucap dalam nada rendah yang sangat dalam, ‘aku menemukan jalan kekayaan ketika menyimpulkan sebagian dari semua yang kuperoleh adalah miliku yang harus kusimpan. Maka engkaupun harus begitu.’”
 
“Selanjutnya, dengan tidak melanjutkan ucapannya, ia terus menghunjamkan pandangannya padaku dengan pandangan yang kurasakan langsung menusuk hatiku.”
 
“’Hanya begitu?’ aku bertanya.”
 
“’Ya, itu memadai untuk mengubah hati penggembala kambing menjadi hati rentenir,’ jawabnya.”
 
“’Tapi, bukankah semua yang keperoleh dapat kusimpan?’ tuntutku.”
 
“’Salah sama sekali,’ jawabnya. ‘Apakah engkau tidak membayar para penjahit untuk pakaianmu? Pembuat sandal? Engkau mengeluarkan uang untuk makan dan minummu? Dapatkah engkau hidup di Babilonia tanpa mengeluarkan uang? Apa yang tersisa dari penghasilanmu beberapa bulan belakangan ini yang dapat engkau tunjukkan? Atau penghasilanmu setahun yang lalu? Bodoh! Engkau mengeluarkan uang untuk membayar semua orang, tetapi tidak untuk dirimu sendiri. Guoblok, engkau bekerja untuk orang lain semata. Sama saja dengan budak yang bekerja untuk tuannya yang hanya memberikannya makanan dan pakaian. Tidak berbeda. Coba. Apabila engkau simpan untuk dirimu sendiri sepersepuluh dari seluruh penghasilanmu, berapa banyak yang sudah engkau kumpulkan selama sepuluh tahun?’”
 
“Pengetahuanku berhitung masih ada, jadi kujawab, ‘sama dengan penghasilanku dalam setahun.’”
 
“’Engkau Cuma separuh benar,’ sergahnya. ‘Setiap keping emas yang engkau simpan itu merupakan budak yang harus bekerja dan mengabdi padamu. Setiap perak yang dihasilkan emas itu merupakan anaknya, juga, harus menghasilkan sesuatu untukmu. Engkau hanya dapat menjadi kaya apabila apa yang engkau simpan memberikan penghasilan, begitupula anak-anaknya, penghasilan yang dihasilkannya, harus juga memberikan penghasilan. Itulah pertolongan yang dapat kuberikan padamu, kelimpahan yang begitu engkau dambakan’”
 
“’Apakah engkau kira aku telah menipumu supaya engkau bersusah payah menyelesaikan salinan itu,’ lanjutnya, ’sesungguhnya dengan ini aku telah membayarmu lebih dari seribu kali lipat, seandainya saja engkau cukup cerdas menangkap inti sari kebenaran yang kusampaikan.’”
 
“’Sebagian dari semua yang engkau hasilkan adalah milikmu yang harus engkau simpan. Jumlahnya tidak buleh kurang dari sepersepuluh, seberapa kecilpun hasil yang engkau dapatkan. Lebih bagus lagi kalau engkau mampu menyimpannya lebih dari itu. Bayar dulu dirimu sendiri. Jangan membeli dari penjahit, atau pembuat sandal lebih dari kemampuanmu dan sediakan secukupnya untuk makan, berderma dan persembahan bagi Para Dewa.’”
 
“’Kekayaan, seperti pohon, berkembang dari sebiji bibit yang kecil. Keping perak pertama yang engkau simpan bagai bijian yang akan menumbuhkan pohon kekayaanmu. Lebih cepat engkau tanamkan, maka lebih cepat pua ia akan tumbuh. Semakin tekun engkau memeliharanya, menyirami, memberi pupuk, dengan simpanan-simpanan berikutnya terus menerus, semakin cepat engkau akan berteduh di bawah rindangnya pohon kekayaan itu.’”
 
“Begitulah, ia ambil lempeng salinan itu dan berlalu.”
 
“Aku memikirkan dalam-dalam apa yang telah disampaikannya, sangat masuk akal. Jadi kuputuskan untuk mencobanya. Setiap kali aku dibayar, kuambil satu dari setiap sepuluh keping perak dan menyimpannya. Dan cukup aneh, aku tidak pernah mengalami kekurangan uang lebih dari sebelumnya. Aku mulai mendapatkan sedikit perbedaan ketika mampu melewati beberapa waktu. Tetapi berulang kali juga, aku tergoda, ketika melihat simpananku telah berkembang, utnuk menggunakannya, memperoleh barang-barang indah yang ditawarkan para pedagang, yang dibawa dengan unta dan kapal-kapal dari negeri Phunisia. Tetapi aku cukup bijaksana untuk tidak melakukannya.”
 
“Dua belas bulan berlalu, Algamish datang kembali dan mengatakan kepadaku, ‘Nak, sudahkah engkau bayar dirimu sendiri tidak kurang dari sepersepuluh dari yang engkau hasilkan selama setahun ini?’”
 
“Dengan bangganya kujawab, ‘Ya, tuan, sudah.’”
 
“’Bagus,’ jawabnya dengan wajah ceria padaku, ‘dan apa yang telah engkau perbuat terhadap simpananmu itu?’”
 
“’Kuberikan pada Azmur, pembuat bata, yang mengatakan ia akan pergi jauh ke seberang laut dan di Tyre ia akan membelikanku permata Phunisia yang langka. Apabila ia pulang kami akan menjualnya dengan harga yang tinggi dan berbagi keuntungannya.’”
 
“’Orang bodoh harus belajar’,’ gerutunya, ‘mengapa engkau mempercayai pengetahuan tukang bata untuk masalah permata? Apakah engkau akan mendatangi tokang roti untuk menanyakan masalah tata surya? Tidak, alangkah bodohnya engkau, seharusnya engkau mengunjungi ahli perbintangan, kalau engkau memang dapat berfikir. Habislah simpananmu, anak kemarin sore, engkau telah mencabut pohon kekayaanmu sampai ke akar-akarnya. Tapi tanam lagi yang lainnya. Coba lagi. Lain kali kalau engkau memerlukan nasehat atau pengetahuan tentang permata, kunjungi pedagang permata. Kalau engkau ingin mengetahui segala sesuatu tentang kambing, datangi penggembala. Nasehat memang dapat diperoleh dengan tanpa biaya, tetapi berhati-hatilah, ambillah hanya nasehat yang berguna bagimu. Orang yang meminta nasehat tentang simpanannya kepada seseorang yang tidak berpengalaman di bidang itu, akan membayarnya dengan seluruh simpanannya justru untuk membuktikan betapa bodohnya nasehat itu.’ Setelah mengatakan hal itu iapun berlalu.”
 
“Benar seperti yang dikatakannya. Orang-orang Phunisia memang penipu. Mereka menjual ke Azmur sepotong gelas yang tak bernilai yang terlihat seperti batu permata. Habis sudah simpananku. Tetapi seperti yang dinasehatkan Algamish, saya mulai menyimpan kembali setiap sepersepuluh keping perak yang saya peroleh, karena saya telah menjadi biasa melakukannya, usaha untuk menyimpan ini menjadi sangat tidak berat lagi.”
 
“Sekali lagi, dua belas bulan berlalu, Algamish datang lagi ke perpustakaan kota menemui saya. ‘Bagaimana perkembanganmu setelah terkahir kita bertemu?’”
 
“’Aku telah membayar diriku sendiri dengan tekun,’ jawabku, ‘dan simpananku telah kupercayakan pada Aggar pembuat tameng, untuk membeli perunggu bahan pembuat tameng, dan setiap bulan ia membayar padaku sewa uang itu.’”
 
“’Itu bagus. Dan apa yang engkau perbuat atas sewa uang itu?’”
 
“’Lumayan, aku bisa menikmati madu dan anggur bermutu dan kue berrempah yang lezat. Aku juga telah membeli selendang sutera ungu. Suatu hari nanti akau akan membeli seekor keledai muda yang dapat kutunggangi kemana-mana.’”
 
“Algamish tertawa mendengarkan hal itu. ‘Engkau telah memakan anak-anak simpananmu. Bagaimana mungkin engkau akan berharap mereka bekerja untukmu? Dan bagaimana pula mereka akan melahirkan keturunan yang juga dapat menjadi budakmu? Pertama-tama, himpun dan dapatkan dulu bala tentara budak emasmu baru kemudian pesta yang mewah dapat engkau nikmati tanpa penyesalan di kemudian hari.’ Sambil mengutarakan hal itu iapun berlalu.”
 
“Kemudian aku tidak melihatnya lagi selama dua tahun, ketika ia muncul kembali wajahnya telah penuh kerutan dalam matanya lebih kuyu, ia telah menjadi seorang yang sangat tua. Dan ia mengatakan kepadaku, ‘Arkad, sudahkah engkau memperoleh kekayaan yang engkau impi-impikan itu?’”
 
“Kujawab, ‘Masih belum semuanya, tetapi sebagian sudah kudapatkan dan bahkan memberikanku penghasilan tambahan, dan penghasilan tambahan itu juga menumbuhkan penghasilan baru yang lain.’”
 
“’Apakah engkau masih meminta nasehat dari pembuat bata?’”
 
“’Mereka memberi nasehat yang bagus tentang bagaimana membuat bata.’ Jawabku sekenanya”
 
“’Arkad,’ lanjutnya, ‘engkau telah belajar dengan baik. Pertama engkau belajar hidup dengan biaya kebutuhan secukupnya yang lebih kecil dari yang mampu engkau peroleh. Kemudian engkau belajar mencari nasehat dari orang yang benar-benar menguasai yang berkeahlian di bidangnya. Dan terakhir, engkau telah belajar bagaimana membuat emas bekerja untukmu.
 
“’Engkau telah belajar sendiri bagaimana memperoleh penghasilan, bagaimana menyimpannya dan bagaimana pula menggunakannya. Oleh karena itu engkau dapat dipercaya untuk menjalankan sebuah usaha. Aku sudah bertambah tua. Anak-anakku hanya memikirkan bagaimana caranya menggunakan uang tetapi tidak memikirkan sama sekali bagaimana cara memperolehnya. Usahaku sangat besar dan banyak, dan aku akan semakin tidak mampu untuk mengurus semuanya. Apabila engkau mau pergi ke Nippur dan mengurus serta mengusahakan tanahku di sana, akau akan menjadikanmu rekan usahaku dan akan berbagi hasil usaha bersama.’”
 
“Jadi, aku pergi ke Nippur mengurus harta kekayaannya yang besar di sana. Oleh karena aku sangat berkeinginan dan karena aku telah berhasil menguasai tiga hukum pengelolaan kekayaan, aku mampu melipatgandakan kekayaannya. Akupun ikut sejahtera, dan ketika jiwa Algamish kembali ke alam baka, aku mendapatkan bagian dari kekayaannya sesuai dengan perjanjian yang telah rapi dibuatnya sesuai dengan ketentuan hukum.”
 
Begitulah yang dikemukakan Arkad, dan ketika ia menyelesaikan ceritanya, salah seorang sahabatnya berkata, “Engkau memang sangat beruntung Algamish telah menjadikan engkau sebagai pewaris sebagian kekayaannya.”
 
“Beruntung hanya karena saya memiliki keinginan untuk berkelimpahan sebelum saya bertemu dengannya. Bagaimanakah apabila selama empat tahun saya tidak membuktikan kegigihan saya mencapai tujuan itu dengan menyimpan sepersepuluh dari seluruh yang saya hasilkan? Apakah engkau mengatakan nelayan itu beruntung padahal bertahun-tahun ia mempelajari kebiasaan ikan-ikan yang berubah-ubah sesuai perubahan angin sehingga ia dapat menebar jaring pada waktu dan tempat yang benar-benar berikan. Kesempatan itu bagai Dewi sombong yang tidak memerlukan apa-apa, yang tidak akan membuang waktu dengan orang yang tidak mempersiapkan diri.”
 
“Engkau memiliki tekad yang kuat untuk terus melanjutkan rencanamu setelah engkau kehilangan seluruh simpanan tahun pertamamu. Dalam hal ini engkau benar-benar luar biasa,” ujar sahabat lainnya.
 
“Tekad!” bantah Arkad. “Omong kosong. Apakah engkau fikir tekad akan memberimu kekuatan untuk memanggul beban yag tidak bisa diusung seekor unta, atau menarik bajak yang tidak bisa dihela kerbau? Tekad hanyalah pemicu semata dalam usahamu melaksanakan rencana yang telah engkau tetapkan untuk engkau capai. Apabila kutetapkan tugas bagi diriku, meskipun tugas sederhana sekalipun, tetap saja akan kurencanakan secermat mungkin. Bagaimana mungkin aku akan percaya diri melakukan hal-hal besar yang penting kalau aku tidak merencanakannya? Misalnya, apabila kukatakan pada diriku, ‘Selama seratus hari, setiap hari aku melewati jembatan memasuki kota ini, aku akan memungut sebuah kerikil di jalan dan melemparkannya ke dalam aliran sungai.’ Itu akan kulakukan. Apabila pada hari ketujuh aku melewati jembatan itu dan baru teringat bahwa aku lupa akan tugasku. Aku tidak akan mengatakan pada diriku, ‘Besok akan kulemparkan dua buah batu sekaligus, hasilnya akan sama saja.’ Apa yang akan engkau lakukan. Aku akan melangkah mundur ke belakang ke jembatan itu dan melontarkan sebuah batu. Itu baru betul. Pada hari ke dua puluh aku tidak akan mengatakan pada diriku, ‘Arkad, ini tidak berguna. Apa untungnya bagimu melontarkan sebuah batu setiap hari selama seratus hari? Lemparkan saja seratus batu sekaligus, beres.’ Tidak, bahkan mengucapkannya saja aku tidak akan apalagi melakukannya. Apabila tugas sudah kutetapkan bagi diriku sendiri, akan kuselesaikan. Jadi, aku akan berhati-hati agar tidak menetapkan tugas yang terlalu berat dan tidak mungkin diselesaikan. Aku tidak mau kepayahan, aku suka bersenang-senang.”
 
Lalu salah seorang shabat yang lain ikut berujar dengan mengatakan, “Apabila yang engkau ceritakan memang benar, dan sepertinya betul sebagaimana yang engau katakan, masuk akal, dan sangat sederhana, apabila setiap orang melaksanakannya maka tidak ada lagi harta benda yang tersisa untuk dimiliki.”
 
“Kekayaan tumbuh dan berkembang bilamana manusia mengeluarkan energi, berusaha,” jawab Arkad. “Apabila ada seorang hartawan membangun istana baru, apakah uang dan kekayaan yang ia keluarkan untuk membangun lantas hilang? Tidak, pembuat bata akan mendapat sebagian, kuli bangunan akan mendapatkannya juga, begitu pula arsitek dan perajin hiasan istana itu. Semua yang ikut serta dalam usaha membangun istana itu mendapatkan bagian dari pembayaran dan ongkos pembangunan istana itu. Setelah istana itu selesai apakah nilainya tidak sama dengan biaya pembangunannya? Apakah tanah tempat istana itu didirikan tidak menjadi bertambah nilainya karena ia terletak disitu? Tanah di sekitar istana itu tidak naik nilainya karena terhampar disitu? Kekayaan berkembang dengan cara yang ajaib. Tidak ada seorangpun yang dapat meramalkan batas pertumbuhannya. Bukankah bangsa Phunisia membangun kota-kota besarnya di pantai-pantai gersang dengan kekayaan yang mereka peroleh dari kapal-kapal dagang yang menyebar di lautan?”
 
“Jadi, apa yang engkau sarankan pada kami supaya kami lakukan agar kami juga bisa menjadi kaya?” masih ada lagi pertanyaan dari sahabatnya yang lain. “Tahun-tahun sudah berlalu, kami tidak lagi muda dan tidak ada harta yang telah kami simpan.”
 
“Kusarankan engkau menerapkan nasehat Algamish dan katakan pada dirimu sendiri, ‘Sebagian dari semua yang kuperoleh adalah milikku yang harus kusimpan.’ Ucapkan itu di pagi hari pada saat engkau bangun dari tidurmu. Ucapkan pada siang hari. Ucapkan lagi pada malam hari. Ucapkan pula setiap jam tiap hari. Katakan itu pada dirimu sendiri sehingga kata-kata itu seolah tertulis jelas dengan huruf api terpampang melintang dilangit.”
 
“Gugah dirimu dengan ide itu. Tanam dalam benakmu. Kemudian ambillah dengan bijak dari simpanan itu secukupnya. Tetapi tidak boleh kurang dari sepersepuluhnya harus tersimpan, untuk digunakan dimasa depan. Apabila perlu sekali, rencanakan pengeluaranmu. Tetapi tetap sediakan bagian untuk disimpan. Engkau akan segera dapat merasakan rasa sejahtera memiliki kekayaan yang tersimpan hanya engkau sendiri yang dapat menggunakannya. Semakin berkembang ia, akan semakin terdorong engkau. Kenikmatan hidup yang baru akan membuatmu bersemangat. Kegigihan yang lebih besar akan datang mendukungmu meraih tambahan penghasilan. Karena peningkatan penghasilanmu, tidakkah engkau dapat lebih menambah persentase jumlah penghasilan yang engkau simpan?”
 
“Kemudain belajar mempekerjakan harta simpananmu. Jadikan dia budakmu. Jadikan pula anak-anaknya dan cucu-cucunya bekerja untukmu.”
 
“Pastikan ada penghasilanmu di masa-masa yang akan datang. Perhatikan orang-orang yang sudah uzur itu, dan jangan lupa bahwasanya engkau juga akan seperti mereka. Oleh kerana itu usahakan dan pekerjakan simpananmu dengan sangat hati-hati kalau tidak engkau akan kehilangan semuanya. Penghasilan yang tinggi memukau sangat menipu, merayu orang-orang yang lengah kedalam kehancuran dan penyesalan.”
 
“Perhatikan juga hal-hal yang tidak diinginkan keluargamu sendainya engkau dipanggil Para Dewa ke alam arwah. Perlindungan seperti itu selalu dapat disediakan apabila engkau  menyediakan simpanan kecil secara bertahap. Orang yang mempersiapkan hal itu tidak akan menunda hingga penghasilan yang besar tersedia untuk keperluan-keperluan yang baik itu.”
 
“Berkonsultasilah dengan orang bijak. Cari nasehat dari orang yang pekerjaan sehari-harinya mengelola uang. Mereka akan menyelamatkanmu dari kekeliruan yang pernah kulakukan ketika menggunakan nasehat keuangan dari Azmur, si pembuat bata. Penghasilan kecil yang lebih aman harus diutamakan dari pada menanggung resiko yang lebih besar.”
 
“Nikmatilah hidupmu selagi hidup di bumi ini. Jangan terlalu membebani dirimu sendiri atau menyimpan terlalu banyak dari yang dapat engkau sediakan. Apabila sepersepuluh dari semua penghasilanmu merupakan jumlah yang terbanyak yang dapat dengan nyaman engkau sediakan untuk disimpan, cukuplah puas dengan jumlah itu, asal tetap engkau pertahankan. Hidup saja sesuai dengan penghasilanmu tetapi jangan pula membuat dirimu begitu pelit dan takut mengeluarkan uang. Hidup itu enak dan hidup itu kaya dengan hal-hal yang pantas engkau nikmati sepenuhnya.”
 
Sahabat-sahabatnya berterima kasih kepadanya dan pergi berlalu. Beberapa terdiam karena mereka tidak punya bayangan sama sekali dan tidak dapat mengerti isi pembicaraan. Sebagian lagi sangat tidak menerima karena mereka fikir seseorang yang sudah sangat kaya seharusnya membagi kekayaannya dengan sahabat lamanya yang kurang beruntung. Tetapi ada beberapa orang yang memiliki harapan baru yang terbayang dimatanya. Mereka menyadari bahwa Algamish telah kembali setiap waktu ke ruangan penyalin naskah di perpustakaan karena ia mengamati perkembangan orang yang berusaha mencari jalan keluar dari kegelapan ke dunia yang gilang gemilang. Apabila orang tersebut sudah menemukan sinar gilang gemilang itu, sebuah tempat telah menunggunya. Tidak seorangpun dapat menempati kedudukan itu hingga ia dapat mengusahakan bagi dirinya sendiri dengan pengertiannya sendiri, hingga ia bersedia menghadapi setiap kesempatan yang muncul.
 
Mereka dalam kelompok terkahir inilah yang dicari, yaitu mereka yang, dalam tahun-tahun mendatang, berulangkali mengunjungi Arkad, yang dengan sangat gembira menerima mereka. Mereka berkonsultasi, dan ia memberikan beberapa nasehat tanpa biaya dari perbendaharaan kebijaksanaannya sebagaimana seorang yang berpengalaman luas akan dengan senang hati melakukannya. Ia membantu mereka mempekerjakan simpanannya dengan hasil yang lumayan dengan aman sehingga tidak ada simpanan yang hilang percuma atau tidak mendatangkan hasill tambahan sama sekali.
 
Titik balik kehidupan orang-orang ini datang pada hari ketika mereka menyadari kebenaran yang datang dari Algamish melalui Arkad dan dari Arkad menyentuh mereka.
 
 
 
SEBAGIAN DARI SEMUA YANG ENGKAU HASILKAN
ADALAH MILIKMU YANG HARUS ENGKAU SIMPAN
 
 
 
 

 

6 komentar:

  1. Sangat menginspirasi dan menggugah kesadaran. Artikel yg luar biasa

    BalasHapus
  2. Sangat menginspirasi dan menggugah kesadaran. Artikel yg luar biasa

    BalasHapus
  3. terimakasih sudah memposting. saya mencari2 buku ini tapi belum ketemu

    BalasHapus
  4. Kereennn sy sdh praktek dan dpt hasilnya. Semoga ttp bisa disiplin

    BalasHapus