ORANG TERKAYA DI BABILONIA
Di Babilonia, pada zaman dahulu, hiduplah seorang yang
sangat kaya bernama Arkad. Di seluruh Babilonia ia sangat dikenal sebagai orang
yang memiliki harta yang berlimpah. Tetapi, ia juga terkenal akan
kedermawanannya. Amat sangat ringan dan kuat dalam berderma. Murah hati pada seluruh
sanak keluarga. Tidak terlalu perhitungan dalam pengeluaran-pengeluaran untuk
memenuhi hajat hidupnya. Kendati demikian, setiap tahun kekayaannya bahkan
bertambah lebih cepat dari pengeluaran-pengeluarannya.
Dan ada beberapa sahabat masa kecilnya datang berkunjung
padanya dan mengatakan : “Arkad, kamu lebih beruntung dari pada kami. Engkau
telah menjadi orang terkaya di Babilonia sementara kami berjuang hanya untuk
mempertahankan hidup kami dari hari ke hari. Engkau mengenakan pakaian terbaik
dan menikmati makanan mewah, tetapi kami harus cukup merasa puas apabila kami
dapat memberi pakaian pada keluarga kami dengan bahan sederhana, asal layak,
dan memberi makan sesuai dengan hasil terbaik yang kami peroleh.”
“Padahal, dulu kita sama setara. Kita belajar pada guru yang
sama, bermain permainan yang serupa, bahkan dalam pelajaran dan permainan itu
kita seimbang, tidak ada satu yang menonjol dari yang lainnya. Pada tahun-tahun
itu, engkau juga tidak lebih terhormat dari pada kami.”
“Dalam bekerja engkau juga tidak bekerja lebih keras dari
pada kami atau pun lebih tekun, begitulah sepanjang yang kami ketahui. Tetapi
mengapa, kemudian, seolah ada Dewi Fortuna yang membuatmu melebihi kami semua
dalam memperoleh hal-hal yang terbaik dalam kehidupan ini dan Sang Dewi mengabaikan
kami, padahal kita memiliki hak yang sama?”
Menghadapi pernyataan itu Arkad langsung menyanggah mereka.
Ia mengatakan, “Apabila engkau hidup dari hari ke sehari dan tidak mengumpulkan
kekayaan apa-apa selama usia remaja kita hingga saat ini, itu disebabkan karena
engkau gagal dalam mempelajari hukum pengembangan kekayaan, atau mungkin engkau
tidak mengamatinya sama sekali.”
“’Dewi Fortuna’ itu sebenarnya hanyalah dewi jahat yang
tidak memberikan kebaikan yang abadi pada siapapun. Sebaliknya, ia
menghancurkan hampir setiap orang yang dilimpahkannya dengan durian runtuh,
dengan keberuntungan tanpa usaha. Menjadikan mereka orang yang suka
berfoya-foya, yang dalam tempo sekejap menghapushabiskan kekayaan mereka dan kemudian
meninggalkan mereka dengan angan-angan bahwa mereka dapat hidup senang tanpa
merasakan bahwa mereka tidak mampu menyediakan pembiayaannya. Yang lainnya
menjadi sangat kedekut dan menggenggam keras kekayaannya, takut menggunakannya,
sadar bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengumpulkannya kembali
apabila terkurangi. Lebih jauh lagi, merkea takut hartanya hilang atau tercuri,
membuat kehidupannya kosong dan pantas dikasihani.”
“Ada juga, mungkin, dapat memeliharanya dan menambah
kekayaan itu dan berbahagia dan menjadi warga yang terhormat. Tapi sangat
sedikit yang demikian itu, aku pun hanya mengenal mereka dari kabar burung
semata.”
“Coba cermati mereka-mereka yang mewarisi kekayaan mendadak,
apakah apa yang baru kuungkapkan ini bukan kebenaran adanya?”
Sahabat-sahabatnya membenarkan bahwa dari orang-orang yang
mereka kenal yang mewarisi kekayaan, apa yang diucapkan Arkad ada benarnya, dan
mereka meminta Arkad menjelaskan pada mereka bagaimana caranya ia menjadi orang
yang memiliki kelimpahan yang tak terkira, jadi Arkad meneruskan :
“Pada masa mudaku kurasakan dan kulihat hal-hal yang baik yang memberikan kegembiraan, kebahagiaan dan yang memberikan kepuasan dan kesejahteraan. Dan kusadari bahwa kekayaanlah yang dapat mempermudah kita memperoleh hal itu semua.”
“Kekayaan itu kekuatan. Dengan kekayaan semua hal yang lain
menjadi mungkin.”
“Kita dapat memenuhi rumah kita dengan perabot yang mewah.”
“Kita dapat berlayar ke tempat-tempat yang jauh di seberang
lautan.”
“Kita dapat berpesta dengan makanan-makanan lezat dari
negeri-negeri jauh.”
“Kita dapat membeli perhiasan yang dibuat pandai emas atau
perajin permata.”
“Kita bahkan dapat membangun kuil yang megah bagi Para
Dewa.”
“Kita dapat melakukan hal itu semua dan banyak lagi hal
lainnya apa pun yang dapat menyenangkan hati dan menyejukkan jiwa.”
“Setelah kusadari hal itu, kuputuskan bahwa aku harus
mengumpulkan hal-hal yang baik dalam kehidupan ini. Aku tidak mau menjadi
penonton di kejauhan, melongo memperhatikan mereka yang menikmatinya. Aku tidak
akan puas dengan pakaian sederhana yang terlihat bersahaja. Aku tidak akan puas
berada di tengah orang-orang miskin. Sebaliknya akau akan menjadkan diriku
sebagai tamu pada kemewahan pesta dan kesejahteraan. Aku harus menjadi hartawan.”
“Sebagaimana yang engkau ketahui, menjadi seorang anak
pedagang kecil, dalam sebuah keluarga besar tanpa harapan, tanpa warisan, juga
tanpa kelebihan apa-apa, seperti yang telah dengan jujur engkau ungkapkan, juga
tidak ungggul dalam kebijaksanaan, saya memutuskan bahwa apabila saya ingin
mencapai apa yang saya cita-citakan, yang saya butuhkan adalah waktu dan
belajar.”
“Tentang waktu, semua orang memilikinya, berlebih-lebihan bahkan. Engkau, setiap orang, telah dikelabui oleh waktu yang cukup banyak untuk menjadikan dirimu kaya raya. Setelah sekian lama, apa yang terjadi. Ternyata, akhirnya engkau akui juga, bahwa tidak ada yang dapat engkau perlihatkan kecuali keluargamu yang baik yang dapat engkau bangga-banggakan.”
“Halnya belajar, bukankah guru kita yang bijaksana telah
memberitahu kita bahwa belajar itu ada dua jenis : pertama, belajar menjadikan
kita mengetahui apa yang kita pelajari dan ketahui, yang kedua belajar
merupakan sebuah latihan yang menjelaskan pada kita apa yang tidak kita
ketahui.”
“Oleh karena itu saya putuskan mempelajari bagaimana cara
seseorang mengumpulkan kekayaan, dan setelah saya ketahui caranya, saya jadikan
pembelajaran itu sebagai tugas saya dan melaksanakannya dengan
bersunguh-sungguh. Karena, alangkah tidak bijaksana apabila kita terlalu menikmati
hidup di hari-hari penuh keceriaan, sedangkan kesedihan pasti akan mendatangi
kita pada waktunya atau pada saat kita kembali ke alam arwah.”
“Aku bekerja sebagai penulis lempeng tanah liat di
perpustakaan kota, berjam-jam setiap hari kulakukan pekerjaan itu. minggu demi
minggu, bulan ke bulan, terus bekerja, tetapi penghasilanku tidak memadai sama
sekali, tidak ada yang dapat kutunjukkan. Makanan, pakaian dan persembahan bagi
Para Dewa, dan lain-lain yang tidak dapat kuingat sama sekali, telah
menghabiskan semua penghasilanku. Tetapi, untung tekadku tidak meninggalkanku.”
“Dan, pada suatu hari, Algamish, seorang pemberi pinjaman,
berkunjung ke rumah wali kota memesan salinan Hukum Kesembilan, ia berkata padaku,
‘aku harus mendapatkannya dalam dua hari, apabila pekerjaan dapat diselesaikan
dalam waktu itu, dua uang perak akan kuhadiahkan padamu.”
“Jadi, saya berusaha mati-matian menyelesaikan, tetapi Hukum
Kesembilan itu terlalu panjang, dan ketika dua hari kemudian Algamish datang,
pekerjaan itu masih belum selesai. Ia marah sekali, mungkin kalau saya ini
budak miliknya sudah pasti saya akan dipukulinya. Tapi dia tahu Wali Kota tidak
mungkin akan membiarkan ia menyakiti saya, jadi saya tenang-tenang saja, dan
mengatakan padanya, ‘Algamish, bukankah engkau orang yang kaya raya,
beritahukan padaku bagaimana caranya agar dapat menjadi kaya sepertimu, nanti
akan kukerjakan salinan Hukum Kesembilan ini sepanjang malam dan besok, pagi-pagi
sekali pasti dapat terselesaikan.”
“Ia tersenyum padaku dan menjawab, ‘engkau memang pedagang
cerdik, baiklah, aku setuju, engkau selesaikan salinan itu dulu, besok pagi
kita lihat hasilnya.”
“Sepanjang malam itu saya berusaha menyelesaikan salinan
Hukum Kesembilan itu, meski punggungku terasa nyeri dan bau minyak pelarut
tanah liat menyakitkan kepalaku dan membuat mataku berkunang-kunang. Akhirnya,
ketika ia kembali bersamaan munculnya matahari, lempeng salinan itu selesai.”
“’Nah,’ ucapku, ‘sekarang katakan padaku apa yang telah
engkau janjikan.”
“’Engkau telah menunaikan janjimu, anakku,’ katanya, ‘dan
sekarang giliran saya memenuhi janjiku. Akan, kuberitahukan apa yang ingin
engkau ketahui, bukankah aku telah tua dan orang tua senang sekali berbicara.
Dan apabila ada anak muda datang memerlukan nasehat pada orang tua, dia akan
memperoleh kebijaksanaan yang telah teruji bertahun-tahun. Tetapi anak muda
sering beranggapan bahwa kebijaksanaan orang tua hanyalah kebijaksanaan masa
lalu semata, tidak berguna bagi masa kini. Tapi, coba ingat-ingat hal ini,
matahari yang bersinar hari ini sama dengan matahari yang bersinar pada masa
ayahmu lahir, dan masih akan bersinar pada saat cucumu nanti kembali ke alam arwah.”
“’Pikiran anak muda,’ lanjutnya, ‘memang bersinar terang
bagai lintasan meteor yang menerangi cakrawala, tetapi kebijaksanaan orang tua
bagaikan bintang yang tidak bergeming, menetap di langit malam sehingga para
pelaut dapat bergantung padanya ketika melayarai samudera.’”
“’Harus engkau serap ucapanku, sebab bila itu tidak engkau
lakukan engkau akan gagal menyarikan kebenaran yang akan kusampaikan padamu,
dan engkau akan mengira kerja kerasmu semalam suntuk tidak sepadan dengan apa
yang engkau dapatkan.’”
“Kemudian dari bawah alis lebat yang memutih, matanya
menatapku langsung dengan tajamnya dan berucap dalam nada rendah yang sangat
dalam, ‘aku menemukan jalan kekayaan ketika menyimpulkan sebagian dari semua yang
kuperoleh adalah miliku yang harus kusimpan. Maka engkaupun harus
begitu.’”
“Selanjutnya, dengan tidak melanjutkan ucapannya, ia terus
menghunjamkan pandangannya padaku dengan pandangan yang kurasakan langsung
menusuk hatiku.”
“’Hanya begitu?’ aku bertanya.”
“’Ya, itu memadai untuk mengubah hati penggembala kambing
menjadi hati rentenir,’ jawabnya.”
“’Tapi, bukankah semua yang keperoleh dapat kusimpan?’
tuntutku.”
“’Salah sama sekali,’ jawabnya. ‘Apakah engkau tidak
membayar para penjahit untuk pakaianmu? Pembuat sandal? Engkau mengeluarkan
uang untuk makan dan minummu? Dapatkah engkau hidup di Babilonia tanpa
mengeluarkan uang? Apa yang tersisa dari penghasilanmu beberapa bulan
belakangan ini yang dapat engkau tunjukkan? Atau penghasilanmu setahun yang
lalu? Bodoh! Engkau mengeluarkan uang untuk membayar semua orang, tetapi tidak
untuk dirimu sendiri. Guoblok, engkau bekerja untuk orang lain semata. Sama
saja dengan budak yang bekerja untuk tuannya yang hanya memberikannya makanan
dan pakaian. Tidak berbeda. Coba. Apabila engkau simpan untuk dirimu sendiri
sepersepuluh dari seluruh penghasilanmu, berapa banyak yang sudah engkau
kumpulkan selama sepuluh tahun?’”
“Pengetahuanku berhitung masih ada, jadi kujawab, ‘sama
dengan penghasilanku dalam setahun.’”
“’Engkau Cuma separuh benar,’ sergahnya. ‘Setiap keping emas
yang engkau simpan itu merupakan budak yang harus bekerja dan mengabdi padamu.
Setiap perak yang dihasilkan emas itu merupakan anaknya, juga, harus
menghasilkan sesuatu untukmu. Engkau hanya dapat menjadi kaya apabila apa yang
engkau simpan memberikan penghasilan, begitupula anak-anaknya, penghasilan yang
dihasilkannya, harus juga memberikan penghasilan. Itulah pertolongan yang dapat
kuberikan padamu, kelimpahan yang begitu engkau dambakan’”
“’Apakah engkau kira aku telah menipumu supaya engkau
bersusah payah menyelesaikan salinan itu,’ lanjutnya, ’sesungguhnya dengan ini
aku telah membayarmu lebih dari seribu kali lipat, seandainya saja engkau cukup
cerdas menangkap inti sari kebenaran yang kusampaikan.’”
“’Sebagian dari semua yang engkau hasilkan adalah milikmu
yang harus engkau simpan. Jumlahnya tidak buleh kurang dari sepersepuluh,
seberapa kecilpun hasil yang engkau dapatkan. Lebih bagus lagi kalau engkau
mampu menyimpannya lebih dari itu. Bayar dulu dirimu sendiri. Jangan membeli
dari penjahit, atau pembuat sandal lebih dari kemampuanmu dan sediakan
secukupnya untuk makan, berderma dan persembahan bagi Para Dewa.’”
“’Kekayaan, seperti pohon, berkembang dari sebiji bibit yang
kecil. Keping perak pertama yang engkau simpan bagai bijian yang akan
menumbuhkan pohon kekayaanmu. Lebih cepat engkau tanamkan, maka lebih cepat pua
ia akan tumbuh. Semakin tekun engkau memeliharanya, menyirami, memberi pupuk,
dengan simpanan-simpanan berikutnya terus menerus, semakin cepat engkau akan
berteduh di bawah rindangnya pohon kekayaan itu.’”
“Begitulah, ia ambil lempeng salinan itu dan berlalu.”
“Aku memikirkan dalam-dalam apa yang telah disampaikannya,
sangat masuk akal. Jadi kuputuskan untuk mencobanya. Setiap kali aku dibayar,
kuambil satu dari setiap sepuluh keping perak dan menyimpannya. Dan cukup aneh,
aku tidak pernah mengalami kekurangan uang lebih dari sebelumnya. Aku mulai
mendapatkan sedikit perbedaan ketika mampu melewati beberapa waktu. Tetapi
berulang kali juga, aku tergoda, ketika melihat simpananku telah berkembang,
utnuk menggunakannya, memperoleh barang-barang indah yang ditawarkan para
pedagang, yang dibawa dengan unta dan kapal-kapal dari negeri Phunisia. Tetapi
aku cukup bijaksana untuk tidak melakukannya.”
“Dua belas bulan berlalu, Algamish datang kembali dan
mengatakan kepadaku, ‘Nak, sudahkah engkau bayar dirimu sendiri tidak kurang
dari sepersepuluh dari yang engkau hasilkan selama setahun ini?’”
“Dengan bangganya kujawab, ‘Ya, tuan, sudah.’”
“’Bagus,’ jawabnya dengan wajah ceria padaku, ‘dan apa yang
telah engkau perbuat terhadap simpananmu itu?’”
“’Kuberikan pada Azmur, pembuat bata, yang mengatakan ia
akan pergi jauh ke seberang laut dan di Tyre ia akan membelikanku permata Phunisia
yang langka. Apabila ia pulang kami akan menjualnya dengan harga yang tinggi
dan berbagi keuntungannya.’”
“’Orang bodoh harus belajar’,’ gerutunya, ‘mengapa engkau
mempercayai pengetahuan tukang bata untuk masalah permata? Apakah engkau akan
mendatangi tokang roti untuk menanyakan masalah tata surya? Tidak, alangkah bodohnya
engkau, seharusnya engkau mengunjungi ahli perbintangan, kalau engkau memang
dapat berfikir. Habislah simpananmu, anak kemarin sore, engkau telah mencabut
pohon kekayaanmu sampai ke akar-akarnya. Tapi tanam lagi yang lainnya. Coba
lagi. Lain kali kalau engkau memerlukan nasehat atau pengetahuan tentang
permata, kunjungi pedagang permata. Kalau engkau ingin mengetahui segala
sesuatu tentang kambing, datangi penggembala. Nasehat memang dapat diperoleh
dengan tanpa biaya, tetapi berhati-hatilah, ambillah hanya nasehat yang berguna
bagimu. Orang yang meminta nasehat tentang simpanannya kepada seseorang yang
tidak berpengalaman di bidang itu, akan membayarnya dengan seluruh simpanannya
justru untuk membuktikan betapa bodohnya nasehat itu.’ Setelah mengatakan hal
itu iapun berlalu.”
“Benar seperti yang dikatakannya. Orang-orang Phunisia
memang penipu. Mereka menjual ke Azmur sepotong gelas yang tak bernilai yang
terlihat seperti batu permata. Habis sudah simpananku. Tetapi seperti yang
dinasehatkan Algamish, saya mulai menyimpan kembali setiap sepersepuluh keping
perak yang saya peroleh, karena saya telah menjadi biasa melakukannya, usaha
untuk menyimpan ini menjadi sangat tidak berat lagi.”
“Sekali lagi, dua belas bulan berlalu, Algamish datang lagi
ke perpustakaan kota menemui saya. ‘Bagaimana perkembanganmu setelah terkahir
kita bertemu?’”
“’Aku telah membayar diriku sendiri dengan tekun,’ jawabku,
‘dan simpananku telah kupercayakan pada Aggar pembuat tameng, untuk membeli
perunggu bahan pembuat tameng, dan setiap bulan ia membayar padaku sewa uang
itu.’”
“’Itu bagus. Dan apa yang engkau perbuat atas sewa uang
itu?’”
“’Lumayan, aku bisa menikmati madu dan anggur bermutu dan
kue berrempah yang lezat. Aku juga telah membeli selendang sutera ungu. Suatu
hari nanti akau akan membeli seekor keledai muda yang dapat kutunggangi
kemana-mana.’”
“Algamish tertawa mendengarkan hal itu. ‘Engkau telah
memakan anak-anak simpananmu. Bagaimana mungkin engkau akan berharap mereka
bekerja untukmu? Dan bagaimana pula mereka akan melahirkan keturunan yang juga
dapat menjadi budakmu? Pertama-tama, himpun dan dapatkan dulu bala tentara
budak emasmu baru kemudian pesta yang mewah dapat engkau nikmati tanpa
penyesalan di kemudian hari.’ Sambil mengutarakan hal itu iapun berlalu.”
“Kemudian aku tidak melihatnya lagi selama dua tahun, ketika
ia muncul kembali wajahnya telah penuh kerutan dalam matanya lebih kuyu, ia
telah menjadi seorang yang sangat tua. Dan ia mengatakan kepadaku, ‘Arkad,
sudahkah engkau memperoleh kekayaan yang engkau impi-impikan itu?’”
“Kujawab, ‘Masih belum semuanya, tetapi sebagian sudah
kudapatkan dan bahkan memberikanku penghasilan tambahan, dan penghasilan
tambahan itu juga menumbuhkan penghasilan baru yang lain.’”
“’Apakah engkau masih meminta nasehat dari pembuat bata?’”
“’Mereka memberi nasehat yang bagus tentang bagaimana
membuat bata.’ Jawabku sekenanya”
“’Arkad,’ lanjutnya, ‘engkau telah belajar dengan baik.
Pertama engkau belajar hidup dengan biaya kebutuhan secukupnya yang lebih kecil
dari yang mampu engkau peroleh. Kemudian engkau belajar mencari nasehat dari
orang yang benar-benar menguasai yang berkeahlian di bidangnya. Dan terakhir,
engkau telah belajar bagaimana membuat emas bekerja untukmu.
“’Engkau telah belajar sendiri bagaimana memperoleh
penghasilan, bagaimana menyimpannya dan bagaimana pula menggunakannya. Oleh
karena itu engkau dapat dipercaya untuk menjalankan sebuah usaha. Aku sudah
bertambah tua. Anak-anakku hanya memikirkan bagaimana caranya menggunakan uang
tetapi tidak memikirkan sama sekali bagaimana cara memperolehnya. Usahaku
sangat besar dan banyak, dan aku akan semakin tidak mampu untuk mengurus
semuanya. Apabila engkau mau pergi ke Nippur dan mengurus serta mengusahakan
tanahku di sana, akau akan menjadikanmu rekan usahaku dan akan berbagi hasil
usaha bersama.’”
“Jadi, aku pergi ke Nippur mengurus harta kekayaannya yang
besar di sana. Oleh karena aku sangat berkeinginan dan karena aku telah
berhasil menguasai tiga hukum pengelolaan kekayaan, aku mampu melipatgandakan
kekayaannya. Akupun ikut sejahtera, dan ketika jiwa Algamish kembali ke alam
baka, aku mendapatkan bagian dari kekayaannya sesuai dengan perjanjian yang
telah rapi dibuatnya sesuai dengan ketentuan hukum.”
Begitulah yang dikemukakan Arkad, dan ketika ia
menyelesaikan ceritanya, salah seorang sahabatnya berkata, “Engkau memang
sangat beruntung Algamish telah menjadikan engkau sebagai pewaris sebagian
kekayaannya.”
“Beruntung hanya karena saya memiliki keinginan untuk
berkelimpahan sebelum saya bertemu dengannya. Bagaimanakah apabila selama empat
tahun saya tidak membuktikan kegigihan saya mencapai tujuan itu dengan
menyimpan sepersepuluh dari seluruh yang saya hasilkan? Apakah engkau
mengatakan nelayan itu beruntung padahal bertahun-tahun ia mempelajari
kebiasaan ikan-ikan yang berubah-ubah sesuai perubahan angin sehingga ia dapat
menebar jaring pada waktu dan tempat yang benar-benar berikan. Kesempatan itu
bagai Dewi sombong yang tidak memerlukan apa-apa, yang tidak akan membuang
waktu dengan orang yang tidak mempersiapkan diri.”
“Engkau memiliki tekad yang kuat untuk terus melanjutkan
rencanamu setelah engkau kehilangan seluruh simpanan tahun pertamamu. Dalam hal
ini engkau benar-benar luar biasa,” ujar sahabat lainnya.
“Tekad!” bantah Arkad. “Omong kosong. Apakah engkau fikir
tekad akan memberimu kekuatan untuk memanggul beban yag tidak bisa diusung
seekor unta, atau menarik bajak yang tidak bisa dihela kerbau? Tekad hanyalah
pemicu semata dalam usahamu melaksanakan rencana yang telah engkau tetapkan
untuk engkau capai. Apabila kutetapkan tugas bagi diriku, meskipun tugas
sederhana sekalipun, tetap saja akan kurencanakan secermat mungkin. Bagaimana
mungkin aku akan percaya diri melakukan hal-hal besar yang penting kalau aku
tidak merencanakannya? Misalnya, apabila kukatakan pada diriku, ‘Selama seratus
hari, setiap hari aku melewati jembatan memasuki kota ini, aku akan memungut
sebuah kerikil di jalan dan melemparkannya ke dalam aliran sungai.’ Itu akan
kulakukan. Apabila pada hari ketujuh aku melewati jembatan itu dan baru
teringat bahwa aku lupa akan tugasku. Aku tidak akan mengatakan pada diriku,
‘Besok akan kulemparkan dua buah batu sekaligus, hasilnya akan sama saja.’ Apa
yang akan engkau lakukan. Aku akan melangkah mundur ke belakang ke jembatan itu
dan melontarkan sebuah batu. Itu baru betul. Pada hari ke dua puluh aku tidak
akan mengatakan pada diriku, ‘Arkad, ini tidak berguna. Apa untungnya bagimu
melontarkan sebuah batu setiap hari selama seratus hari? Lemparkan saja seratus
batu sekaligus, beres.’ Tidak, bahkan mengucapkannya saja aku tidak akan apalagi
melakukannya. Apabila tugas sudah kutetapkan bagi diriku sendiri, akan
kuselesaikan. Jadi, aku akan berhati-hati agar tidak menetapkan tugas yang
terlalu berat dan tidak mungkin diselesaikan. Aku tidak mau kepayahan, aku suka
bersenang-senang.”
Lalu salah seorang shabat yang lain ikut berujar dengan
mengatakan, “Apabila yang engkau ceritakan memang benar, dan sepertinya betul
sebagaimana yang engau katakan, masuk akal, dan sangat sederhana, apabila
setiap orang melaksanakannya maka tidak ada lagi harta benda yang tersisa untuk
dimiliki.”
“Kekayaan tumbuh dan berkembang bilamana manusia mengeluarkan
energi, berusaha,” jawab Arkad. “Apabila ada seorang hartawan membangun istana
baru, apakah uang dan kekayaan yang ia keluarkan untuk membangun lantas hilang?
Tidak, pembuat bata akan mendapat sebagian, kuli bangunan akan mendapatkannya
juga, begitu pula arsitek dan perajin hiasan istana itu. Semua yang ikut serta
dalam usaha membangun istana itu mendapatkan bagian dari pembayaran dan ongkos
pembangunan istana itu. Setelah istana itu selesai apakah nilainya tidak sama
dengan biaya pembangunannya? Apakah tanah tempat istana itu didirikan tidak
menjadi bertambah nilainya karena ia terletak disitu? Tanah di sekitar istana
itu tidak naik nilainya karena terhampar disitu? Kekayaan berkembang dengan
cara yang ajaib. Tidak ada seorangpun yang dapat meramalkan batas pertumbuhannya.
Bukankah bangsa Phunisia membangun kota-kota besarnya di pantai-pantai gersang
dengan kekayaan yang mereka peroleh dari kapal-kapal dagang yang menyebar di
lautan?”
“Jadi, apa yang engkau sarankan pada kami supaya kami
lakukan agar kami juga bisa menjadi kaya?” masih ada lagi pertanyaan dari
sahabatnya yang lain. “Tahun-tahun sudah berlalu, kami tidak lagi muda dan
tidak ada harta yang telah kami simpan.”
“Kusarankan engkau menerapkan nasehat Algamish dan katakan
pada dirimu sendiri, ‘Sebagian dari semua yang kuperoleh adalah
milikku yang harus kusimpan.’ Ucapkan itu di pagi hari pada saat engkau
bangun dari tidurmu. Ucapkan pada siang hari. Ucapkan lagi pada malam hari.
Ucapkan pula setiap jam tiap hari. Katakan itu pada dirimu sendiri sehingga
kata-kata itu seolah tertulis jelas dengan huruf api terpampang melintang
dilangit.”
“Gugah dirimu dengan ide itu. Tanam dalam benakmu. Kemudian
ambillah dengan bijak dari simpanan itu secukupnya. Tetapi tidak boleh kurang
dari sepersepuluhnya harus tersimpan, untuk digunakan dimasa depan. Apabila
perlu sekali, rencanakan pengeluaranmu. Tetapi tetap sediakan bagian untuk
disimpan. Engkau akan segera dapat merasakan rasa sejahtera memiliki kekayaan
yang tersimpan hanya engkau sendiri yang dapat menggunakannya. Semakin
berkembang ia, akan semakin terdorong engkau. Kenikmatan hidup yang baru akan
membuatmu bersemangat. Kegigihan yang lebih besar akan datang mendukungmu meraih
tambahan penghasilan. Karena peningkatan penghasilanmu, tidakkah engkau dapat
lebih menambah persentase jumlah penghasilan yang engkau simpan?”
“Kemudain belajar mempekerjakan harta simpananmu. Jadikan
dia budakmu. Jadikan pula anak-anaknya dan cucu-cucunya bekerja untukmu.”
“Pastikan ada penghasilanmu di masa-masa yang akan datang.
Perhatikan orang-orang yang sudah uzur itu, dan jangan lupa bahwasanya engkau
juga akan seperti mereka. Oleh kerana itu usahakan dan pekerjakan simpananmu
dengan sangat hati-hati kalau tidak engkau akan kehilangan semuanya.
Penghasilan yang tinggi memukau sangat menipu, merayu orang-orang yang lengah
kedalam kehancuran dan penyesalan.”
“Perhatikan juga hal-hal yang tidak diinginkan keluargamu
sendainya engkau dipanggil Para Dewa ke alam arwah. Perlindungan seperti itu
selalu dapat disediakan apabila engkau
menyediakan simpanan kecil secara bertahap. Orang yang mempersiapkan hal
itu tidak akan menunda hingga penghasilan yang besar tersedia untuk
keperluan-keperluan yang baik itu.”
“Berkonsultasilah dengan orang bijak. Cari nasehat dari
orang yang pekerjaan sehari-harinya mengelola uang. Mereka akan menyelamatkanmu
dari kekeliruan yang pernah kulakukan ketika menggunakan nasehat keuangan dari Azmur,
si pembuat bata. Penghasilan kecil yang lebih aman harus diutamakan dari pada
menanggung resiko yang lebih besar.”
“Nikmatilah hidupmu selagi hidup di bumi ini. Jangan terlalu
membebani dirimu sendiri atau menyimpan terlalu banyak dari yang dapat engkau
sediakan. Apabila sepersepuluh dari semua penghasilanmu merupakan jumlah yang
terbanyak yang dapat dengan nyaman engkau sediakan untuk disimpan, cukuplah
puas dengan jumlah itu, asal tetap engkau pertahankan. Hidup saja sesuai dengan
penghasilanmu tetapi jangan pula membuat dirimu begitu pelit dan takut
mengeluarkan uang. Hidup itu enak dan hidup itu kaya dengan hal-hal yang pantas
engkau nikmati sepenuhnya.”
Sahabat-sahabatnya berterima kasih kepadanya dan pergi
berlalu. Beberapa terdiam karena mereka tidak punya bayangan sama sekali dan
tidak dapat mengerti isi pembicaraan. Sebagian lagi sangat tidak menerima
karena mereka fikir seseorang yang sudah sangat kaya seharusnya membagi
kekayaannya dengan sahabat lamanya yang kurang beruntung. Tetapi ada beberapa
orang yang memiliki harapan baru yang terbayang dimatanya. Mereka menyadari
bahwa Algamish telah kembali setiap waktu ke ruangan penyalin naskah di
perpustakaan karena ia mengamati perkembangan orang yang berusaha mencari jalan
keluar dari kegelapan ke dunia yang gilang gemilang. Apabila orang tersebut
sudah menemukan sinar gilang gemilang itu, sebuah tempat telah menunggunya.
Tidak seorangpun dapat menempati kedudukan itu hingga ia dapat mengusahakan
bagi dirinya sendiri dengan pengertiannya sendiri, hingga ia bersedia menghadapi
setiap kesempatan yang muncul.
Mereka dalam kelompok terkahir inilah yang dicari, yaitu
mereka yang, dalam tahun-tahun mendatang, berulangkali mengunjungi Arkad, yang
dengan sangat gembira menerima mereka. Mereka berkonsultasi, dan ia memberikan
beberapa nasehat tanpa biaya dari perbendaharaan kebijaksanaannya sebagaimana
seorang yang berpengalaman luas akan dengan senang hati melakukannya. Ia
membantu mereka mempekerjakan simpanannya dengan hasil yang lumayan dengan aman
sehingga tidak ada simpanan yang hilang percuma atau tidak mendatangkan hasill
tambahan sama sekali.
Titik balik kehidupan orang-orang ini datang pada hari
ketika mereka menyadari kebenaran yang datang dari Algamish melalui Arkad dan
dari Arkad menyentuh mereka.
|
SEBAGIAN DARI SEMUA YANG ENGKAU HASILKAN
ADALAH MILIKMU YANG HARUS ENGKAU SIMPAN
|
Sangat menginspirasi dan menggugah kesadaran. Artikel yg luar biasa
BalasHapusSangat menginspirasi dan menggugah kesadaran. Artikel yg luar biasa
BalasHapusterimakasih sudah memposting. saya mencari2 buku ini tapi belum ketemu
BalasHapusKereennn sy sdh praktek dan dpt hasilnya. Semoga ttp bisa disiplin
BalasHapusAamiin. http://www.bebasbayar.com/1250807
HapusLuar biasa artikel yg menarik
BalasHapus