PEMBERI PINJAMAN EMAS DI BABILONIA
Lima puluh keping emas! Belum pernah seumur hidupnya, Rodan,
pembuat tombak dari wilayah Babilonia Tua, membawa begitu banyak emas dalam
kantungnya. Dengan gembira berjalan sepanjang jalan raya Sang Raja dari gerbang
istana raja yang paling dermawan ia mengurai langkah. Berseri-seri, diiringi gemrincing
emas di kantungnya yang berayun pada setiap langkah – bagai musik terindah yang
pernah didengarnya.
Lima puluh keping emas! Semua miliknya! Hampir tidak dapat
mempercaayai betapa bernasib baiknya dia. Kekuasaan apa yang dimiliki dalam
rincingan keping emas itu. Emas itu dapat membeli apa saja yang dia perlukan,
rumah megah, tanah, ternak, unta-unta, kuda-kuda, kereta kuda, apa saja yang
dia inginkan.
Akan digunakan untuk apa? Senja itu, ketika ia berbelok ke
jalan kecil menuju rumah adiknya, pikirannya tidak menemukan akan apa yang
ingin dimilikinya selain barang yang berkilau sama, keping emas yang berat -
yang ingin disimpannya.
Hingga pada suatu sore beberapa hari kemudian Rodan yang
kebingungan masuk ke gerai Mathon, pemberi pinjaman emas dan pedagang perhiasan
dan sutera mewah. Tanpa melirik ke kiri atau kanan pada beraneka warna barang
dagangan yang disusun mewah menawan, ia langsung menuju ruang kediaman di
belakang gerai. Di sana ia temukan Mathon yang santun duduk diatas permadani
sedang menyantap makanan yang disajikan seorang budak hitam.
“Aku ingin meminta nasihatmu karena aku tidak tahu akan
berbuat apa.” Rodan berdiri tegak, dengan kaki direnggangkan, dada berbulunya
terpapar di antara celah jaket kulitnya.
Wajah Mathon yang sempit, putih, memberikan senyum
bersahabat. “Apa yang telah engkau lakukan sehingga engkau mencari pemberi
pinjaman emas? Apakah engkau sudah kalah di meja judi? Atau ada masalah dengan
wanita yang menuntutmu? Sudah lama aku mengenalmu, selama ini belum pernah
engkau mencariku untuk membantu menyelesaikan masalahmu.”
“Tidak, bukan. Bukan seperti itu. Aku bukan mencari pinjaman
emas. Tetapi, aku memerlukan nasihatmu.”
“Apakah akau tidak salah dengar! Apa yang dikatakan orang
ini. Tidak ada orang yang datang ke pemberi pinjaman emas untuk meminta
nasihat. Telingaku mesti sudah menipuku.”
“Telingamu masih mendengar yang sesungguhnya.”
“Mengapa bisa demikian? Rodan, pembuat lembing, melakukan
hal yang cerdik aneh dibandingkan orang lain, dia datang ke Mathon, bukan
mencari pinjaman emas, tetapi mencari nasihat. Banyak orang yang datang
kepadaku meminjam emas untuk menyelesaikan masalah akibat kebodohannya, tapi
tidak satu pun meminta nasihat. Tetapi, siapa yang lebih mampu memberikan
nasihat dari pada pemberi pinjaman emas, yang setiap orang dalam masalah pasti
mendatanginya?”
“Engkau harus ikut makan bersamaku, Rodan,” lanjutnya.
“Engkau menjadi tamuku sore ini. Ando!” perintahnya pada budak hitam,
“bentangkan permadani untuk sahabatku, Rodan, pembuat tombak, yang datang
meminta nasihat. Dia merupakan tamu terhotmatku. Sajikan makanan yang banyak
dan tuangkan minuman di piala besar. Pilih anggur terbaik agar dia dapat
menikmati minumnya.”
“Sekarang, ceritakan padaku masalahmu.”
“Masalahnya hadiah Sang Raja.”
“Hadiah Sang Raja? Raja memberimu hadiah dan hadiah itu
memberimu masalah? Hadiah seperti apa
itu?”
“Karena Sang Raja sangat puas dengan contoh tombak yang
kupersembahkan dengan bentuk mata tombak yang baru yang akan digunakan bagi
para pengawal raja, kemudian Sang Raja menghadiahkan aku dengan lima puluh
keping emas, dan sekarang aku bahkan menjadi kebingungan.”
“Aku bermohon setiap jam sepanjang waktu selama matahari
melintas di atas langit, demi orang-orang yang selalu ingin ikut menikmati emas
ini? Agar jangan menggodaku”
“Itu hal yang lumrah. Lebih banyak orang yang menginginkan
emas daripada yang memilikinya, dan selalu berharap orang yang kebetulan
memilikinya mau berbagi. Dan engkau tidak bisa mengatakan ‘Tidak?’ Apakah kekuatan hatimu tidak sekuat remasan
kepal tanganmu?”
“Kepada beberapa orang aku dapat mengatakan tidak, tetapi
kadang-kadang lebih mudah untuk mengatakan ya. Bagaimana mungkin aku menolak
merayakan dan menikmatinya bersama dengan adikku yang sangat kusayangi?”
“Pasti, adikmu sendiri tidak mungkin akan berharap atau
sengaja menyengsarakanmu dengan menikmati keberuntunganmu.”
“Tapi, untuk kepentingan Araman, suaminya, yang ingin ia
harapkan menjadi seorang saudagar kaya. Adikku merasa bahwa suaminya tidak
pernah mendapat kesempatan dan dia memohon padaku agar meminjamkan emasku pada
suaminya agar dia dapat menjadi saudagar yang berhasil dan akan mengembalikan
emasku dengan keberhasilannya.”
“Sahabatku,” simpul Mathon, “ini masalah yang sangat penting
yang perlu kita bahas. Emas membawa kepada pemiliknya tanggungjawab dan
mengubah kedudukannya di hadapan para sahabatnya. Emas membawa ketakutan akan
kehilangan atau akan dicurangi lepas dari dirinya. Emas membawa rasa kekuatan
dan kemampuan untuk berbuat baik. Begitu juga, emas membawa
kesempatan-kesemptan, yang jika salah dimanfaatkan, niat baiknya sekali pun
dapat membawanya ke dalam kesulitan.”
“Pernahkah engkau mendengar tentang seorang petani di
Niniveh yang dapat mendengar dan mengerti bahasa binatang? Aku tidak akan
menceritakan hal ini pada orang seolah-olah ini hanya cerita sambil lalu yang
diceritakan sambil menempa perunggu. Aku akan menceritakan hal ini karena
engkau harus tahu bahwa melakukan pinjam meminjam tidak sesederhana memindahkan
keping emas dari tangan seseorang kepada tangan orang lainnya.”
“Petani ini, yang dapat mengerti apa yang diperbincangkan
sesama binatang, setiap sore selalu berjalan di sekitar halaman kandang ternaknya
mendengarkan pembicaraan mereka. Pada suatu senja ia mendengar seekor kerbau
mengeluh pada seekor keledai betapa berat tugas yang harus dikerjakannya : ‘Aku
menghela bajak dari pagi hingga petang. Betapapun teriknya hari, atau
lunglainya kakiku, atau ketatnya busur bajak mencekik pundakku, tetap perintah harus
aku kerjakan. Tetapi engkau, makhluk yang santai. Engkau dibungkus sadel warna
warni dan tidak mengerjakan apa pun selain memanggul tuan kita kemanapun yang
ia inginkan. Apabila dia tidak pergi kemana-mana, engkau beristirahat dan makan
rumput hijau sepanjang hari.’”
“Kemudian sang keledai, meski dia seekor hewan yang
tendangannya sangat membahayakan, dia masih merupakan sahabat yang baik dan
memberikan tenggang rasa pada sang kerbau. ‘Sahabat baikku,’ sahutnya, ‘engkau
memang bekerja dengan berat dan aku dapat memberikan saran untuk meringankan
bebanmu. Jadi, kukatakan kepadamu cara agar engkau dapt beristirahat sehari.
Pagi hari ketika sang budak menjemputmu di kandang untuk membajak hari itu,
berbaringlah engkau di lantai dan banyak melenguh agar dia menyangka engkau
sedang sakit dan tidak bisa bekerja.’”
“Jadi sang kerbau menggunkan nasihat keledai, pada pagi
berikutnya sang budak menghadap ke petani dan mengatakan padanya sang kerbau
sedang sakit dan tidak dapat digunakan untuk membajak pada hari itu.”
“’Jadi,’ kata petani, ‘gunakan sang keledai utnuk membajak,
pekerjaan harus diteruskan.’”
“Sepanjang hari sang keledai, yang maksudnya semula hanya
ingin menolong sahabatnya, mendapatkan dirinya terpaksa mengerjakan pekerjaaan
sang kerbau. Ketika malam tiba dia dilepaskan dari ikatan di bajak, hatinya
getir dan sendi-sendi kakinya goyah keletihan dan lehernya lecet tercekik busur
bajak.”
“Sang petani, seperti biasa, berjalan-jalan di halaman
kandang ternaknya mendengarkan.”
“Sang kerbau mulai terlebih dahulu. ‘Engkau memang sahabatku
yang baik. Karena nasihatmu yang bijaksana aku dapat menikmati istirahat satu
hari penuh.’
“’Dan aku,’ rutuk sang keledai, ‘hanya seperti orang lugu
yang semula hanya ingin membantu sahabatnya tetapi justru berakhir dengan aku
yang mengerjakan tugas sahabatnya itu. Besok engkau tarik kembali bajakmu,
karena aku mendengar tuan kita mengatakan pada budaknya untuk membawamu kepada
tukang jagal apabila besok engkau sakit lagi. Mudah-mudahan saja ia jadi
melakukannya, karena engkau memang pemalas.’ Selanjutnya mereka, satu sama
lain, tidak pernah berbicara lagi – hal
ini menghentikan persahabatan mereka. Dapat engkau sebutkan ajaran daam cerita
ini, Rodan?”
“’Cerita yang bagus,’sahut Rodan, ‘tapi aku tidak melihat
ajarannya.’”
“’Aku tidak berfikir engkau dapat menemukannya. Tapi ada
ajarannya, sangat sederhana bahkan. Kira-kira begini : Apabila engkau ingin
menolong sahabatmu, lakukanlah dengan cara yang tidak membuat beban sahabatmu
itu menjadi bebanmu.”
“Iya, tidak terfikirkan olehku. Sungguh sebuah ajaran yang
bijaksana. Aku juga tidak tentu mengharapkan akan menanggung beban suami
adikku. Tetapi katakan padaku. Engkau meminjamkan emas kepada banyak orang.
Tidakkah mereka membayarmu kembali?”
Mathon tersenyum dengan senyuman seseorang yang jiwanya
sudah sangat kaya dengan pengalaman. “Mungkinkah pinjaman akan bagus apabila
sang peminjam tidak dapat membayarnya kembali?. Apakah yang memberikan pinjaman
tidak berfikir bijaksana dan memutuskan dengan hati-hati bagaimana caranya agar
emasnya dapat berfungsi sesuai dengan keperluan peminjam dan kemudain akan
kembali lagi kepadanya; atau bagaimana kalau emas itu disia-siakan oleh orang
yang tidak mampu memanfaatkannya dengan bijaksana sehingga menyebabkannya
kehilangan semuanya, dan meninggalkan si peminjam dalam utang yang tidak mampu
ia lunasi? Aku akan tunjukkan padamu hal yang berkaitan dengan pinjaman yang
kuberikan dan lihat apa yang telah dilakuan para peminjam.”
Ia membawa ke ruangan itu sebuah kotak selebar lenannya
terbalut kulit dan dihiasi ornamen perunggu. Ia meletakkannya di lantai dan
duduk di depannya, kedua lengannya diletakkan di atas tutup kotak itu.
“Dari setiap orang yang kuberikan pinjaman, aku tentukan
suatu jaminan yang akan kusimpan dalam kotak jaminan ini, dan tetap tersimpan
di situ sampai pinjaman itu dibayarkan kembali. Apabila mereka melunasinya,
jaminan itu kukembalikan, tetapi apabila mereka tidak membayarnya kembali,
jaminan itu akan selalu mengingatkanku akan seseorang yang telah menyalahgunakan
kepercayaanku.”
“Pinjaman teraman, seperti kotak jaminanku ini selalu
mengingatkanku, adalah pinjaman kepada orang yang nilai hartanya melebihi
jumlah yang ia ingin pinjam. Mereka memiliki tanah, atau barang perhiasan, atau
unta-unta, atau harta lain yang dapat dijual untuk membayar utangnya. Sebagian
jaminan yang diberikan kepadaku berupa barang perhiasan yang nilainya lebih
besar dari pijaman yang mereka inginkan. Yang lainnya berupa perjanjian bahwa
apabila pinjaman tersebut tidak dapat dikembalikan sesuai dengan yang telah
diperjanjikan mereka akan menyerahkan kepadaku harta bendanya sebagai alat
pelunasan. Untuk peminjaman seperti itu aku menjamin emas yang kupinjamkan akan
kembali sekaligus dengan sewanya, karena
semua yang kupinjamkan dijaminkan dengan harta benda yang bernilai.’
“Untuk jenis lainnya, kuberikan pinjaman kepada orang-orang
yang bermata pencaharian. Orang seperti engkau, yang bekerja atau menyediakan
tenaga dan memperoleh imbalannya. Mereka memiliki penghasilan dan apabila mereka
jujur dan tidak menghadapi halangan atau kemalangan apa-apa, aku tahu mereka
dapat membayar kembali emas yang kupinjamkan kepada mereka beserta sewanya yang
diperjanjikan kepadaku. Pinjaman seperti itu kuberikan berdasarkan usaha atau
mata pencaharian seseorang.”
“Yang lainnya mereka yang tidak memiliki harta dan mata
pencahariannya tidak terjamin. Hidup memang susah dan selalau saja ada orang
yang tidak dapat mengatasinya atau menyesuaikan hidupnya. Sayangnya, untuk
pinjaman kepada orang seperti ini, meskipun hanya seketip, kotak jaminanku akan
menyuruhku menolaknya selamanya kecuali mereka dijamin oleh sahabat baik sang
peminjam yang mengetahui bahwa sang peminjam adalah orang yang berkehormatan
dan berkelayakan.”
Mathon, melepas penguncinya dan membuka tutup kotak jaminan.
Rodan membungkuk ingin melihat isinya.
Pada bagian paling atas kotak itu sebuah kalung perunggu
terletak di atas selembar kain sutera ungu. Mathon mengambil kalung itu dan
mengusapnya dengan lembut. “Barang ini akan selalu ad dalam kotak jaminanku ini
karena pemiliknya telah meninggalkan dunia ini ke alam arwah. Akan kusimpan,
jaminannya, dan dia akan sellu kukenang keberadaannya; karena ia salah seorang
sahabat baikku. Kami berdagang bersama dan sangat berhasil hingga suatu hari datang
dari negeri timur ia membawa seorang wanita untuk dinikahinya, sangat cantik,
tetapi tidak seperti wanita-wanita Babilonia. Seorang makhluk yang sempurna. Ia
hamburkan emas-emasnya untuk menyenangkan hati sang wanita. Ia datang kepadaku
dengan risaunya ketika emasnya benar-benar habis. Kami bicarakan masalah ini
bersama. Kukatakan padanya akau akan membantunya kembali mengendalikan dirinya
sendiri. Ia berjanji di atas medali Lembu Agung bahwa ia akan mengendalikan
diri. Tetapi hal sebaliknya yang ia lakukan. Dalam sebuah pertengkaran, sang
wanita menusukkan belati kejantungnya ketika ia menantang sang wanita itu untuk
melakukannya.”
“Dan sang wanita?” tanya Rodan.
“Ya, tentu saja, ini milik sang wanita.” Ia mengambil kain
sutera ungu. “Dalam penyesalan yang memilukan sang wanita membenamkan dirinya
ke Furat. Dua piutang ini tidak akan pernah terbayar. Kotak ini mengatakan
padamu, Rodan, bahwa orang yang dilanda masalah hati dan kejiwaan bukanlah
orang tanpa risiko bagi pemberi pinjaman emas.”
“Ini! Ini hal yang berbeda.” Ia menjangkau sebuah cincin
yang dibuat dari tulang lembu. “Cincin ini milik seorang petani. Aku membeli
permadani yang dirajut istrinya. Ketika datang hama belalang, dan mereka tidak
memiliki apapun untuk dimakan. Aku membantu mereka dan ketika tanaman baru
kembali tumbuh dan dia memperoleh panen yang baik, ia membayar kembali pinjaman
yang kuberikan. Kemudian ia datang lagi dan menceritakan adanya kambing unggul
dari daerah yang jauh sebagaimana diceritakan oleh para pengembara. Kambing-kambing
itu memiliki bulu yang lebih panjang, lebih halus, dan lebih lembut yang kalau
dirajut menjadi permadani akan diperoleh permadani yang lebih cantik dari yang
pernah dilihat di Babilonia. Ia menginginkan ternak itu tetapi tidak memiliki
emas. Jadi kupinjamkan kepadanya emas untuk melakukan perjalanan ke negeri jauh
dan membeli kambing unggul itu. Sekarang dia mulai menernakkan kambing itu dan
tahun depan aku akan mengejutkan para pangeran Babilonia dengan permadani
termahal, yang akan sangat beruntung bagi mereka, kalau dapat membelinya. Nanti
cincin ini harus segera kukembalikan karena petani ini menginginkan segera
melunasi utang-utangnya tepat waktu.”
“Banyak peminjam emas melakuan hal begitu?” tanya Rodan.
“Apabila mereka meminjam untuk kepentingan yang memberikan
penghasilan padanya, rata-rata kudapatkan mereka membayar kembali
utang-utangnya. Tetapi kalau mereka meminjam emas untuk dipergunakan pada
hal-hal sesuai dengan kehendak hatinya, kuingatkan engkau untuk lebih
berhati-hati apabila emas yang engkau pinjamkan itu dapat kembali utuh
kepadamu.”
“Ceritakan padaku hal itu,” pinta Rodan, sambil mengambil
sebuah gelang wanita dari emas yang berat, berhiaskan batu permata dengan
potongan-potongan yang indah.
“Wanita menarik perhatianmu sahabatku,” canda Mathon.
“Aku masih jauh lebih muda daripadamu,” sahut Rodan.
“Aku pastikan itu, tapi pada hal ini engkau jangan menaruh
curiga ada masalah percintaan atau apapun, tidak. Pemilik gelang ini, orangnya
gemuk dan sudah berkerutan dan terlalu banyak berbicara meski untuk mengatakan
hal yang sedikit membuatku cukup pusing. Semula mereka memiliibanyak harta dan
menjadi pelanggan yang baik, tetapi masa-masa sulit dialami mereka. Ia memiliki
seorang anak laki-laki yang sangat ingin agar anaknya menjadi seorang pedagang.
Dia mendatangiku dan meminjam sejumlah emas dan kemudian anaknya menjadi rekan
dagang suatu pemilik karavan yang bepergian dari satu kota membeli seuatu dan
menukarkannya dengan barang lain di negeri lainnya.”
“Pemilik karavan ini ternyata seorang penipu, ia
meninggalkan anak laki-laki itu pada suatu kota yang sangat jauh tanpa uang dan
tanpa teman, mereka pergi meninggalkan negeri itu pagi-pagi sekali ketika anak
itu sedang tertidur. Mungkin kalau anak ini dewasa nanti ia akan membayar utangnya
kembali; sementara itu akau tidak meminta imbalan sewa atas emas yang
kupinjamkan itu – dan hanya pembicaraan yang tersisa dari pinjaman itu. Tetapi
harus aku akui gelang emas ini sama nilainya dengan pinjaman yang kuberikan.”
“Tidakkah wanita ini meminta pendapatmu tentang penggunaan
pinjaman itu?”
“Bagaimana mungkin. Sebaliknya bahkan. Ia bahkan sudah
membayangkan anak laki-lakinya itu menjadi orang kaya yang berpengaruh di
Babilonia. Menyebutkan hal yang tidak sama dengan bayangan itu bahkan membuatnya
marah. Sergahan kasar yang kudapat. Aku sendiri dapat menilai risiko yang
mungkin dihadapi anak yang belum berpengalaman itu, tetapi karena wanita itu
menawarkan jaminan yang senilai, aku tidak dapat menolaknya.”
“Ini,” lanjut Mathon, mengayunkan rantai perak halus yang
disimpul indah, “milik Nebatur, pedagang unta. Apabila ia akan membeli unta
dengan nilai yang melebihi keuangannya ia membawa rantai perak ini padaku dan
aku memberikan pinjaman padanya sesuai kebutuhannya. Dia seorang pedagang yang
bijaksana. Aku yakin pada kemampuannya berdagang dan berani dengan ringan
memberikannya pinjaman yang dia perlukan. Banyak pedagang-pedagang di Babilonia
yang dapat kupercaya karena telah kukenal tingkah lakunya yang terhormat.
Jaminan yang mereka berikan datang dan pergi berulengkali dari kotak jaminanku
ini. Pedagang yang baik merupakan harta tak ternilai bagi kota ini, mereka
memberikan keuntungan kepadaku yang membantu mereka tetap menggulirkan usahanya
yang membuat Babilonia menjadi berlimpah.”
Mathon meraih sebuah patung kumbang yang diukir dari batu
baiduri hijau melemparkannya begitu saja ke atas permadani. “Kumbang dari
Mesir. Anak muda yang memiliki kumbang ini tidak perduli apakah aku akan
mendapatkan kembali emas yang kupinjamkan atau tidak. Apabila aku
mengunjunginya dia akan menjawab, ‘Bagaimana mungkin akau dapat membayarmu apabila
nasib buruk terus menerus menghantuiku? Lagi pula, bukankah engkau masih
memiliki banyak harta.’ Apa yang dapat kulakukan? Jaminan ini milik ayahnya –
orang yang terpandang tetapi tidak terlalu berada, yang menjaminkan tanah dan
ternaknya sebagai pendukung usaha anaknya. Awalnya, anak itu memperoleh
keberhasilan dan kemudian menjadi sangat berambisi untuk memperoleh kekayaan
lebih banyak. Pengetahuannya belum sepadan. Usahanya berkecaian.
“Anak muda penuh keinginan. Anak muda akan bersedia
mengambil jalan pintas ke kekayaan dan hal-hal lain yang diinginkannya dan akan
mati-matian mempertahankannya. Untuk mendapatan kekayaan dengan cepat anak muda
sering melakukan pinjaman dengan tidak berhati-hati. Sebagai anak muda, belum
pernah memiliki pengalaman, tidak menyadari bahwa utang yang tidak memberikan
hasil sama seperti perigi buta yang dalam yang kedalamnya seseorang akan terjun
dengan segera dan menderita beberapa masa di dalamnya. Perigi buta itu perigi
kesedihan dan penyesalan, sinar matahari tidak dapat mencapaimu dan malam-malam
tidak bahagia selalu membuat engkau terjaga dari tidurmu. Tetapi aku tidak
melarang melakukan pinjaman. Aku bahkan menganjurkannya. Aku menyarankannya
apabila pinjaman itu benar-benar digunakan untuk tujuan yang jelas menjanjikan.
Aku sendiri pun memulai keberhasilanku yang pertama sebagai saudagar dengan
emas yang kupinjam.”
“Jadi, apa yang harus dilakukan pemberi pinjaman uang dalam
masalah ini? Sang anak muda sedang dalam kesulitan, dan usahanya tidak
menghasilkan apa-apa. Dia tidak dapat diandalkan. Dia tidak berusaha untuk
membayar kembali pinjaman emas itu. Hatiku tidak menginginkan aku mengambil
alih tanah dan ternak orang tuanya.”
“Engkau telah menceritakan banyak hal yang sangat ingin
kudengar,” ucap Rodan, “tetapi, aku belum mendapatkan jawaban atas
pertanyaanku. Haruskah aku meminjamkan
lima puluh keping emas milikku kepada suami adikku? Mereka sangat
berarti bagiku.”
“Adikmu orang yang sangat baik dan sangat kuhormati. Tetapi,
seandainya suaminya datang kepadaku ingin meminjam lima puluh keping emas aku
akan bertanya pada suaminya untuk apa akan ia gunakan emas yang akan
kupinjamkan itu.”
“Apabila ia menjawab bahwa dia ingin menjadi saudagar
seperti diriku berdagang perhiasan permata dan perabotan mahal, akan kukatakan,
‘Apa yang engkau ketahui dalam seluk beluk perdagangan itu? Tahukah engkau
dimana engkau dapat membeli barang-barang itu dengan harga yang
serendah-rendahnya? Tahukah engkau dimana engkau dapat menjual barang
perniagaan itu dengan harga yang pantas?’ Dapatkah ia menjawab ‘Ya’ pada
pertanyaan-pertanyaan itu?”
“Tidak, di tidak bisa,” aku Rodan. “Dia banyak menolongku
dalam membuat lembing dan dia juga membantuku di gerai penjualannya.”
“Jadi, dapat kukatakan padanya bahwa tujuannya tidak jelas
dan kurang bijaksana. Saudagar harus mempelajari secara menyeluruh bidang
usahanya. Keinginannya, cukup bagus, tetapi tidak dapat dilaksanakan dan aku
tidak akan memberikannya pinjaman emas.”
“Tapi, kalau seandainya dia dapat menjawab : ‘Ya, aku telah
banyak membantu para saudagar. Aku tahu jalan ke Smyrna dan dapat membeli
permadani dengan harga yang murah dari para ibu-ibu yang merajutnya di sana.
Aku juga mengenal banyak orang kaya di Babilonia yang kepada mereka permadani
itu dapat kujual dengan laba yang tinggi.’ Kemudian aku akan bertanya :
‘Tujuanmu jelas dan bijaksana sekali dan keinginanmu sangat kuhormati. Aku akan
sangat senang memberikanmu pinjaman lima puluh keping emas apabila engkau dapat
memberikan jaminan bahwa pinjaman itu akan engkau kembalikan.’”
“Tetapi kalau ia mengatakan : ‘Aku tidak memiliki jaminan
apa pun selain bahwa aku orang yang terhormat dan tidak tercela dan aku akan
membayar kembali pinjaan itu.’ Aku akan mengatakan, ‘Aku sangat menghargai
emas-emasku, tiap kepingnya. Apabila ada penjahat yang merampok emasmu saat
engkau bepergian ke Smyrna atau menyamun permadani-permadani indahmu saat
engkau kembali, engau kemudian tidak memiliki apa-apa untuk mengembalikan emas
pinjaman itu padaku, maka lenyaplah emas-emasku.’”
“Emas, ketahuilah, Rodan, adalah barang dagangan bagi pemberi
pinjaman sepertiku. Sangat mudah memberikan pinjaman. Apabila diberikan dengan
tidak bijaksana akan sangat sukar untuk memperolehnya kembali. Pemberi pinjaman
yang bijaksana tidak menginginkan terjadinya resiko pemberian pinjaman, yang
diinginkan justru jaminan pengembalian pinjaman.”
“Juga,” Mathon melanjutkan, “membantu mereka yang dalam
kesulitan. Pinjaman ini juga diberikan pada siapa yang nasibnya sedang dalam
kesulitan. Pinjaman juga diperlukan mereka yang akan memulai usahanya yang
selanjutnya akan berkembang dan menjadi orang yang berhasil. Tetapi, pertolongan
harus diberikan dengan bijaksana, jika tidak, sama seperti keledai petani,
dengan keinginan kita menolong akhirnya kita sendiri yang justru menanggung
beban yang seharusnya menjadi milik orang yang kita tolong.”
“Sekali lagi aku menyatakan hal yang menyimpang dari
pertanyaanmu, Rodan, tapi dengar jawabanku : Simpan lima puluh keping emas
milikmu itu. Apa yang mata pencaharianmu hasilkan untukmu dan apa yang telah
diberikan padamu sebagai hadiah kerja kerasmu adalah milikmu sendiri, tidak
akan ada seorangpun yang harus mewajibkan engkau meminjamkannya pada siapa pun
kecuali sesuai dengan keinginanmu sendiri. Apabila engkau akan menanamkannya
sebagai modal yang engkau pinjamkan agar memberikan engkau tambahan lebih
banyak emas, maka lakukanlah dengan penuh kehati-hatian dan di beberapa tempat.
Aku tidak senang melihat emas nganggur yang tidak dimanfaatkan, tetapi aku
lebih tidak suka menghadapi risiko yang terlalu besar.”
“Berapa tahun sudah engkau melakukan pekerjaan membuat
lembing?”
“Tiga tahun penuh.”
“Berapa banyak simpanan emasmu selain hadiah Sang Raja?”
“Tiga keping emas.”
“Setiap tahun dari hasil pencaharianmu setelah engkau tahan
keinginanmu untuk menggunakan semua penghasilanmu engkau telah dapat
menyisihkan satu keping emas?”
“Ya, begitu, seperti yang engkau katakan.”
“Jadi, bukankah nanti setelah engkau memerlukan lima puluh
tahun bertungkus lumus baru dapat terkumpul lima puluh keping emas?.
“Sepertinya, pekerjaan seumur hidup.”
“Apakah engkau fikir adikmu akan menginginkan engkau
membahayakan simpanan lima puluh tahun kerja keras demi gentong perunggu yang
akan dicoba untuk diperdagangkan oleh suaminya agar menjadi seorang saudagar?”
“Pastinya tidak, apabila aku jelaskan seperti apa yang
engkau katakan.”
“Jadi pergilah mendapatkannya dan katakan : ‘Tiga tahun aku
bekerja setiap hari kecuali hari-hari puasa, dari pagi hingga sore hari, dan
aku telah menahan keinginan hatiku dari memperoleh hal-hal yang kuperlukan.
Untuk setiap tahun kerja keras dan menahan diri aku dapat menyisihkan satu
keping emas. Engkau memang adikku yang sangat kusayangi dan kuharapkan suamimu
akan berusaha dalam mata pencahariannya dan berhasil. Apabila dia dapat
menyampaikan padaku rencana yang jelas dan bijaksana dan mungkin dijalankan
menurut sahabatku, Mathon, maka aku akan sangat senang meminjamkan simpananku
setahun dan dia akan mendapatkan kesempatan membuktikan bahwa dia akan
berhasil.’ Lakukan itu, kataku, dan apabila dalam hatinya terdapat bibit
keberhasilan ia akan dapat membuktikannya. Apabila ia gagal ia tidak akan
berutang padamu lebih dari yang dia perkirakan mampu ia bayar.”
“Aku memberi pinjaman emas karena aku memiliki emas lebih
banyak dari yang aku butuhkan untuk menjalankan usaha dalam mata pencaharianku.
Keinginanku hanya agar kelebihan emasku ini dapat bekerja pada orang lain dan
memberikan emas tambahan bagiku. Aku tidak mau mengambil risiko kehilangan
emasku yang sudah kuperoleh dengan susah payah dan telah menahan diriku dari
menggunakannya untuk banyak kepentinganku yang lain agar aku dapat
memperolehnya. Oleh karena itu, aku tidak akan memberikan pinjaman pada hal-hal
yang aku tidak merasa yakin akan kemanannya dan kemungkinan emas itu
dikembalikan kembali kepadaku. Aku tidak juga akan memberikan pijaman emasku
apabila aku tidak yakin sewa yang harus dihasilkannya dibayarkan padaku sesuai
dengan yang diperjanjikan.”
“Telah kukatakan kepadamu, Rodan, sebagian rahasia yang
disimpan di kotak jaminan ini. Dari cerita-cerita itu engkau dapat mempelajari
kelemahan manusia dan keinginannya untuk meminjam emas meski mereka tidak
memiliki sarana untuk membayarnya kembali. Dari situ engkau dapat melihat
betapa seringnya harapan yang tinggi terhadap hasil terbaik yang diharapkan,
ketika emas sudah ditangannya, ternyata hanya bayangan semu yang tidak dapat
mereka capai karena tidak berkemampuan atau pun cukup berpengalaman untuk
mencapainya.”
“Engkau, Rodan, sekarang memiliki emas yang seharusnya
engkau pekerjakan untuk memperoleh tambahan emas lainnya. Engkau akhirnya dapat
saja menjadi sama seperti aku, pemberi pinjaman emas. Apabila engkau dengan
hati-hati menjaga emas-emasmu, mereka akan memberikan hasil yang berlipatganda
bagimu dan menjadikannya sumber kegembiraan dan keberuntungan pada setiap
hari-harimu. Tetapi apabila engkau biarkan ia berlalu pergi darimu, ia akan
menjadi sumber kesedihan berlarut dan penyesalan sepanjang ingatanmu.”
“Apa yang paling ingin engkau lakukan terhadap emas yang ada
di kantungmu?”
“Menjaganya agar aman tersimpan.”
“Ucapan yang bijaksana,” jawab Mathon menyetujui. “Harapanmu
yang pertama adalah agar emasmu aman. Apakah engkau fikir, dalam tangan suami
adikmu emas ini akan benar-benar aman dari risiko usahanya?”
“Aku khawatir tidak aman, karena aku kira dia kurang
bijaksana dalam mengelola emas.”
”Jadi, jangan goyah oleh bayangan kewajiban yang bodoh itu,
jangan begitu saja mempercayakan emasmu kepada siapapun. Kalau engkau ingin
membantu keluargamu atau sahabat-sahabatmu, cari cara lain selain membahayakan
kepemilikanmu yang berharga. Jangan lupa, emas akan lenyap dengan cara tak
terduga di tangan orang yang tidak berpengalaman mengelolanya. Sama halnya
menghambur-hamburkan emasmu untuk hal-hal yang tidak perlu seperti membiarkan
orang lain menghilangkannya untukmu.”
”Apa selanjutnya, setelah keamanan emasmu, yang engkau
inginkan.”
“Memperoleh lebih banyak emas.”
“Sekali lagi engkau telah berbicara dengan bijaksana. Emas
harus dipergunakan untuk memperolah hasil dan berkembang lebih banyak. Emas
yang dipinjamkan dengan bijaksana, akan mampu menggandakan dirinya dari hasil
yang diusahakannya bahkan sebelum orang seumurmu menjadi tua. Apabila engkau
menghilangkannya, engkau kehilangan hasil yang mungkin dapat diusahakan emas
itu juga.”
“Oleh karena itu, jangan tergoda oleh rencana besar yang
tidak mungkin dicapai hanya karena pembuat rencana berfikir dapat mempekerjakan
emas dengan lebih keras agar hasilnya lebih besar. Rencana seperti itu biasanya
hanya diciptakan orang yang hanya mampu bermimpi tanpa memperhatikan risiko dan
hukum-hukum perdagangan yang dapat dipercaya. Berhati-hatilah pada apa yang
engkau harapkan dapat dihasilkan emas-emas itu agar engkau tetap dapat
memilikinya dan menikmati emas-emasmu. Menyewakannya kepada seseorang dengan
janji hasil yang luar biasa sama saja dengan mengundang kerugian sebagai tamu datang
kepadamu.”
“Cari dan berkumpullah dengan orang-orang atau kongsi-kongsi
yang hasilnya sudah terbukti sehingga emasmu akan memberikan hasil yang bagus
dibawah pengelolaan mereka yang sudah ahli dan terjaga oleh kebijaksanaan dan
pengalaman mereka.”
“Dan, hendaknya engkau hindari kemalangan yang mengikuti
sebagian besar anak manusia yang pada mereka Para Dewa telah melihat cukup
pantas untuk diberi kepercayaan mengelola emas.”
Ketika Rodan menyampaikan terima kasih atas saran bijaksana
yang ia berikan, yang terima kasih itu Mathon abaikan, Mathon berkata lagi,
“Hadiah Sang Raja akan banyak memberimu pelajaran kebijaksanaan. Engkau harus
menyimpan lima puluh keping emas itu dengan penuh kerahasiaan. Banyak sekali
jalan untuk menggunakannya yang akan menggodamu. Banyak sekali saran-saran yang
akan engkau dengar. Banyak kesempatan berharga untuk memperoleh keuntungan yang
besar akan ditawarkan padamu. Cerita-cerita dari kotak jaminanku seharusnya
akan mengingatkanmu, bahwa sebelum engkau mengeluarkan setiap keping emas yang
ada di kantungmu engkau harus yakin engkau akan dapat dengan selamat menariknya
kembali. Apabila nasihatku yang lain engkau perlukan, kembalilah kemari. Aku
akan dengan senang hati memberikannya.”
“Ini, engkau harus membaca tulisan yang kupahat dibawah
tutup kotak jaminanku ini. Kalimat ini berlaku bagi keduanya, peminjam atau
pemberi pinjaman.”
LEBIH BAIK SEDIKIT BERHATI-HATI
DARI PADA PENYESALAN YANG BERLARUT
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar