Sabtu, 13 September 2014

VI : PEMBERI PINJAMAN EMAS DI BABILONIA

 
 
PEMBERI PINJAMAN EMAS DI BABILONIA
 
 
 
Lima puluh keping emas! Belum pernah seumur hidupnya, Rodan, pembuat tombak dari wilayah Babilonia Tua, membawa begitu banyak emas dalam kantungnya. Dengan gembira berjalan sepanjang jalan raya Sang Raja dari gerbang istana raja yang paling dermawan ia mengurai langkah. Berseri-seri, diiringi gemrincing emas di kantungnya yang berayun pada setiap langkah – bagai musik terindah yang pernah didengarnya.
 
Lima puluh keping emas! Semua miliknya! Hampir tidak dapat mempercaayai betapa bernasib baiknya dia. Kekuasaan apa yang dimiliki dalam rincingan keping emas itu. Emas itu dapat membeli apa saja yang dia perlukan, rumah megah, tanah, ternak, unta-unta, kuda-kuda, kereta kuda, apa saja yang dia inginkan.
 
Akan digunakan untuk apa? Senja itu, ketika ia berbelok ke jalan kecil menuju rumah adiknya, pikirannya tidak menemukan akan apa yang ingin dimilikinya selain barang yang berkilau sama, keping emas yang berat - yang ingin disimpannya.
 
Hingga pada suatu sore beberapa hari kemudian Rodan yang kebingungan masuk ke gerai Mathon, pemberi pinjaman emas dan pedagang perhiasan dan sutera mewah. Tanpa melirik ke kiri atau kanan pada beraneka warna barang dagangan yang disusun mewah menawan, ia langsung menuju ruang kediaman di belakang gerai. Di sana ia temukan Mathon yang santun duduk diatas permadani sedang menyantap makanan yang disajikan seorang budak hitam.
 
“Aku ingin meminta nasihatmu karena aku tidak tahu akan berbuat apa.” Rodan berdiri tegak, dengan kaki direnggangkan, dada berbulunya terpapar di antara celah jaket kulitnya.
 
Wajah Mathon yang sempit, putih, memberikan senyum bersahabat. “Apa yang telah engkau lakukan sehingga engkau mencari pemberi pinjaman emas? Apakah engkau sudah kalah di meja judi? Atau ada masalah dengan wanita yang menuntutmu? Sudah lama aku mengenalmu, selama ini belum pernah engkau mencariku untuk membantu menyelesaikan masalahmu.”
 
“Tidak, bukan. Bukan seperti itu. Aku bukan mencari pinjaman emas. Tetapi, aku memerlukan nasihatmu.”
 
“Apakah akau tidak salah dengar! Apa yang dikatakan orang ini. Tidak ada orang yang datang ke pemberi pinjaman emas untuk meminta nasihat. Telingaku mesti sudah menipuku.”
 
“Telingamu masih mendengar yang sesungguhnya.”
 
“Mengapa bisa demikian? Rodan, pembuat lembing, melakukan hal yang cerdik aneh dibandingkan orang lain, dia datang ke Mathon, bukan mencari pinjaman emas, tetapi mencari nasihat. Banyak orang yang datang kepadaku meminjam emas untuk menyelesaikan masalah akibat kebodohannya, tapi tidak satu pun meminta nasihat. Tetapi, siapa yang lebih mampu memberikan nasihat dari pada pemberi pinjaman emas, yang setiap orang dalam masalah pasti mendatanginya?”
 
“Engkau harus ikut makan bersamaku, Rodan,” lanjutnya. “Engkau menjadi tamuku sore ini. Ando!” perintahnya pada budak hitam, “bentangkan permadani untuk sahabatku, Rodan, pembuat tombak, yang datang meminta nasihat. Dia merupakan tamu terhotmatku. Sajikan makanan yang banyak dan tuangkan minuman di piala besar. Pilih anggur terbaik agar dia dapat menikmati minumnya.”
 
“Sekarang, ceritakan padaku masalahmu.”
 
“Masalahnya hadiah Sang Raja.”
 
“Hadiah Sang Raja? Raja memberimu hadiah dan hadiah itu memberimu masalah? Hadiah seperti  apa itu?”
 
“Karena Sang Raja sangat puas dengan contoh tombak yang kupersembahkan dengan bentuk mata tombak yang baru yang akan digunakan bagi para pengawal raja, kemudian Sang Raja menghadiahkan aku dengan lima puluh keping emas, dan sekarang aku bahkan menjadi kebingungan.”
 
“Aku bermohon setiap jam sepanjang waktu selama matahari melintas di atas langit, demi orang-orang yang selalu ingin ikut menikmati emas ini? Agar jangan menggodaku”
 
“Itu hal yang lumrah. Lebih banyak orang yang menginginkan emas daripada yang memilikinya, dan selalu berharap orang yang kebetulan memilikinya mau berbagi. Dan engkau tidak bisa mengatakan ‘Tidak?’  Apakah kekuatan hatimu tidak sekuat remasan kepal tanganmu?”
 
“Kepada beberapa orang aku dapat mengatakan tidak, tetapi kadang-kadang lebih mudah untuk mengatakan ya. Bagaimana mungkin aku menolak merayakan dan menikmatinya bersama dengan adikku yang sangat kusayangi?”
 
“Pasti, adikmu sendiri tidak mungkin akan berharap atau sengaja menyengsarakanmu dengan menikmati keberuntunganmu.”
 
“Tapi, untuk kepentingan Araman, suaminya, yang ingin ia harapkan menjadi seorang saudagar kaya. Adikku merasa bahwa suaminya tidak pernah mendapat kesempatan dan dia memohon padaku agar meminjamkan emasku pada suaminya agar dia dapat menjadi saudagar yang berhasil dan akan mengembalikan emasku dengan keberhasilannya.”
 
“Sahabatku,” simpul Mathon, “ini masalah yang sangat penting yang perlu kita bahas. Emas membawa kepada pemiliknya tanggungjawab dan mengubah kedudukannya di hadapan para sahabatnya. Emas membawa ketakutan akan kehilangan atau akan dicurangi lepas dari dirinya. Emas membawa rasa kekuatan dan kemampuan untuk berbuat baik. Begitu juga, emas membawa kesempatan-kesemptan, yang jika salah dimanfaatkan, niat baiknya sekali pun dapat membawanya ke dalam kesulitan.”
 
“Pernahkah engkau mendengar tentang seorang petani di Niniveh yang dapat mendengar dan mengerti bahasa binatang? Aku tidak akan menceritakan hal ini pada orang seolah-olah ini hanya cerita sambil lalu yang diceritakan sambil menempa perunggu. Aku akan menceritakan hal ini karena engkau harus tahu bahwa melakukan pinjam meminjam tidak sesederhana memindahkan keping emas dari tangan seseorang kepada tangan orang lainnya.”
 
“Petani ini, yang dapat mengerti apa yang diperbincangkan sesama binatang, setiap sore selalu berjalan di sekitar halaman kandang ternaknya mendengarkan pembicaraan mereka. Pada suatu senja ia mendengar seekor kerbau mengeluh pada seekor keledai betapa berat tugas yang harus dikerjakannya : ‘Aku menghela bajak dari pagi hingga petang. Betapapun teriknya hari, atau lunglainya kakiku, atau ketatnya busur bajak mencekik pundakku, tetap perintah harus aku kerjakan. Tetapi engkau, makhluk yang santai. Engkau dibungkus sadel warna warni dan tidak mengerjakan apa pun selain memanggul tuan kita kemanapun yang ia inginkan. Apabila dia tidak pergi kemana-mana, engkau beristirahat dan makan rumput hijau sepanjang hari.’”
 
“Kemudian sang keledai, meski dia seekor hewan yang tendangannya sangat membahayakan, dia masih merupakan sahabat yang baik dan memberikan tenggang rasa pada sang kerbau. ‘Sahabat baikku,’ sahutnya, ‘engkau memang bekerja dengan berat dan aku dapat memberikan saran untuk meringankan bebanmu. Jadi, kukatakan kepadamu cara agar engkau dapt beristirahat sehari. Pagi hari ketika sang budak menjemputmu di kandang untuk membajak hari itu, berbaringlah engkau di lantai dan banyak melenguh agar dia menyangka engkau sedang sakit dan tidak bisa bekerja.’”
 
“Jadi sang kerbau menggunkan nasihat keledai, pada pagi berikutnya sang budak menghadap ke petani dan mengatakan padanya sang kerbau sedang sakit dan tidak dapat digunakan untuk membajak pada hari itu.”
 
“’Jadi,’ kata petani, ‘gunakan sang keledai utnuk membajak, pekerjaan harus diteruskan.’”
 
“Sepanjang hari sang keledai, yang maksudnya semula hanya ingin menolong sahabatnya, mendapatkan dirinya terpaksa mengerjakan pekerjaaan sang kerbau. Ketika malam tiba dia dilepaskan dari ikatan di bajak, hatinya getir dan sendi-sendi kakinya goyah keletihan dan lehernya lecet tercekik busur bajak.”
 
“Sang petani, seperti biasa, berjalan-jalan di halaman kandang ternaknya mendengarkan.”
 
“Sang kerbau mulai terlebih dahulu. ‘Engkau memang sahabatku yang baik. Karena nasihatmu yang bijaksana aku dapat menikmati istirahat satu hari penuh.’
 
“’Dan aku,’ rutuk sang keledai, ‘hanya seperti orang lugu yang semula hanya ingin membantu sahabatnya tetapi justru berakhir dengan aku yang mengerjakan tugas sahabatnya itu. Besok engkau tarik kembali bajakmu, karena aku mendengar tuan kita mengatakan pada budaknya untuk membawamu kepada tukang jagal apabila besok engkau sakit lagi. Mudah-mudahan saja ia jadi melakukannya, karena engkau memang pemalas.’ Selanjutnya mereka, satu sama lain,  tidak pernah berbicara lagi – hal ini menghentikan persahabatan mereka. Dapat engkau sebutkan ajaran daam cerita ini, Rodan?”
 
“’Cerita yang bagus,’sahut Rodan, ‘tapi aku tidak melihat ajarannya.’”
 
“’Aku tidak berfikir engkau dapat menemukannya. Tapi ada ajarannya, sangat sederhana bahkan. Kira-kira begini : Apabila engkau ingin menolong sahabatmu, lakukanlah dengan cara yang tidak membuat beban sahabatmu itu menjadi bebanmu.”
 
“Iya, tidak terfikirkan olehku. Sungguh sebuah ajaran yang bijaksana. Aku juga tidak tentu mengharapkan akan menanggung beban suami adikku. Tetapi katakan padaku. Engkau meminjamkan emas kepada banyak orang. Tidakkah mereka membayarmu kembali?”
 
Mathon tersenyum dengan senyuman seseorang yang jiwanya sudah sangat kaya dengan pengalaman. “Mungkinkah pinjaman akan bagus apabila sang peminjam tidak dapat membayarnya kembali?. Apakah yang memberikan pinjaman tidak berfikir bijaksana dan memutuskan dengan hati-hati bagaimana caranya agar emasnya dapat berfungsi sesuai dengan keperluan peminjam dan kemudain akan kembali lagi kepadanya; atau bagaimana kalau emas itu disia-siakan oleh orang yang tidak mampu memanfaatkannya dengan bijaksana sehingga menyebabkannya kehilangan semuanya, dan meninggalkan si peminjam dalam utang yang tidak mampu ia lunasi? Aku akan tunjukkan padamu hal yang berkaitan dengan pinjaman yang kuberikan dan lihat apa yang telah dilakuan para peminjam.”
 
Ia membawa ke ruangan itu sebuah kotak selebar lenannya terbalut kulit dan dihiasi ornamen perunggu. Ia meletakkannya di lantai dan duduk di depannya, kedua lengannya diletakkan di atas tutup kotak itu.
 
“Dari setiap orang yang kuberikan pinjaman, aku tentukan suatu jaminan yang akan kusimpan dalam kotak jaminan ini, dan tetap tersimpan di situ sampai pinjaman itu dibayarkan kembali. Apabila mereka melunasinya, jaminan itu kukembalikan, tetapi apabila mereka tidak membayarnya kembali, jaminan itu akan selalu mengingatkanku akan seseorang yang telah menyalahgunakan kepercayaanku.”
 
“Pinjaman teraman, seperti kotak jaminanku ini selalu mengingatkanku, adalah pinjaman kepada orang yang nilai hartanya melebihi jumlah yang ia ingin pinjam. Mereka memiliki tanah, atau barang perhiasan, atau unta-unta, atau harta lain yang dapat dijual untuk membayar utangnya. Sebagian jaminan yang diberikan kepadaku berupa barang perhiasan yang nilainya lebih besar dari pijaman yang mereka inginkan. Yang lainnya berupa perjanjian bahwa apabila pinjaman tersebut tidak dapat dikembalikan sesuai dengan yang telah diperjanjikan mereka akan menyerahkan kepadaku harta bendanya sebagai alat pelunasan. Untuk peminjaman seperti itu aku menjamin emas yang kupinjamkan akan kembali sekaligus dengan sewanya,  karena semua yang kupinjamkan dijaminkan dengan harta benda yang bernilai.’
 
“Untuk jenis lainnya, kuberikan pinjaman kepada orang-orang yang bermata pencaharian. Orang seperti engkau, yang bekerja atau menyediakan tenaga dan memperoleh imbalannya. Mereka memiliki penghasilan dan apabila mereka jujur dan tidak menghadapi halangan atau kemalangan apa-apa, aku tahu mereka dapat membayar kembali emas yang kupinjamkan kepada mereka beserta sewanya yang diperjanjikan kepadaku. Pinjaman seperti itu kuberikan berdasarkan usaha atau mata pencaharian seseorang.”
 
“Yang lainnya mereka yang tidak memiliki harta dan mata pencahariannya tidak terjamin. Hidup memang susah dan selalau saja ada orang yang tidak dapat mengatasinya atau menyesuaikan hidupnya. Sayangnya, untuk pinjaman kepada orang seperti ini, meskipun hanya seketip, kotak jaminanku akan menyuruhku menolaknya selamanya kecuali mereka dijamin oleh sahabat baik sang peminjam yang mengetahui bahwa sang peminjam adalah orang yang berkehormatan dan berkelayakan.”
 
Mathon, melepas penguncinya dan membuka tutup kotak jaminan. Rodan membungkuk ingin melihat isinya.
 
Pada bagian paling atas kotak itu sebuah kalung perunggu terletak di atas selembar kain sutera ungu. Mathon mengambil kalung itu dan mengusapnya dengan lembut. “Barang ini akan selalu ad dalam kotak jaminanku ini karena pemiliknya telah meninggalkan dunia ini ke alam arwah. Akan kusimpan, jaminannya, dan dia akan sellu kukenang keberadaannya; karena ia salah seorang sahabat baikku. Kami berdagang bersama dan sangat berhasil hingga suatu hari datang dari negeri timur ia membawa seorang wanita untuk dinikahinya, sangat cantik, tetapi tidak seperti wanita-wanita Babilonia. Seorang makhluk yang sempurna. Ia hamburkan emas-emasnya untuk menyenangkan hati sang wanita. Ia datang kepadaku dengan risaunya ketika emasnya benar-benar habis. Kami bicarakan masalah ini bersama. Kukatakan padanya akau akan membantunya kembali mengendalikan dirinya sendiri. Ia berjanji di atas medali Lembu Agung bahwa ia akan mengendalikan diri. Tetapi hal sebaliknya yang ia lakukan. Dalam sebuah pertengkaran, sang wanita menusukkan belati kejantungnya ketika ia menantang sang wanita itu untuk melakukannya.”
 
“Dan sang wanita?” tanya Rodan.
 
“Ya, tentu saja, ini milik sang wanita.” Ia mengambil kain sutera ungu. “Dalam penyesalan yang memilukan sang wanita membenamkan dirinya ke Furat. Dua piutang ini tidak akan pernah terbayar. Kotak ini mengatakan padamu, Rodan, bahwa orang yang dilanda masalah hati dan kejiwaan bukanlah orang tanpa risiko bagi pemberi pinjaman emas.”
 
“Ini! Ini hal yang berbeda.” Ia menjangkau sebuah cincin yang dibuat dari tulang lembu. “Cincin ini milik seorang petani. Aku membeli permadani yang dirajut istrinya. Ketika datang hama belalang, dan mereka tidak memiliki apapun untuk dimakan. Aku membantu mereka dan ketika tanaman baru kembali tumbuh dan dia memperoleh panen yang baik, ia membayar kembali pinjaman yang kuberikan. Kemudian ia datang lagi dan menceritakan adanya kambing unggul dari daerah yang jauh sebagaimana diceritakan oleh para pengembara. Kambing-kambing itu memiliki bulu yang lebih panjang, lebih halus, dan lebih lembut yang kalau dirajut menjadi permadani akan diperoleh permadani yang lebih cantik dari yang pernah dilihat di Babilonia. Ia menginginkan ternak itu tetapi tidak memiliki emas. Jadi kupinjamkan kepadanya emas untuk melakukan perjalanan ke negeri jauh dan membeli kambing unggul itu. Sekarang dia mulai menernakkan kambing itu dan tahun depan aku akan mengejutkan para pangeran Babilonia dengan permadani termahal, yang akan sangat beruntung bagi mereka, kalau dapat membelinya. Nanti cincin ini harus segera kukembalikan karena petani ini menginginkan segera melunasi utang-utangnya tepat waktu.”
 
“Banyak peminjam emas melakuan hal begitu?” tanya Rodan.
 
“Apabila mereka meminjam untuk kepentingan yang memberikan penghasilan padanya, rata-rata kudapatkan mereka membayar kembali utang-utangnya. Tetapi kalau mereka meminjam emas untuk dipergunakan pada hal-hal sesuai dengan kehendak hatinya, kuingatkan engkau untuk lebih berhati-hati apabila emas yang engkau pinjamkan itu dapat kembali utuh kepadamu.”
 
“Ceritakan padaku hal itu,” pinta Rodan, sambil mengambil sebuah gelang wanita dari emas yang berat, berhiaskan batu permata dengan potongan-potongan yang indah.
 
“Wanita menarik perhatianmu sahabatku,” canda Mathon.
 
“Aku masih jauh lebih muda daripadamu,” sahut Rodan.
 
“Aku pastikan itu, tapi pada hal ini engkau jangan menaruh curiga ada masalah percintaan atau apapun, tidak. Pemilik gelang ini, orangnya gemuk dan sudah berkerutan dan terlalu banyak berbicara meski untuk mengatakan hal yang sedikit membuatku cukup pusing. Semula mereka memiliibanyak harta dan menjadi pelanggan yang baik, tetapi masa-masa sulit dialami mereka. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang sangat ingin agar anaknya menjadi seorang pedagang. Dia mendatangiku dan meminjam sejumlah emas dan kemudian anaknya menjadi rekan dagang suatu pemilik karavan yang bepergian dari satu kota membeli seuatu dan menukarkannya dengan barang lain di negeri lainnya.”
 
“Pemilik karavan ini ternyata seorang penipu, ia meninggalkan anak laki-laki itu pada suatu kota yang sangat jauh tanpa uang dan tanpa teman, mereka pergi meninggalkan negeri itu pagi-pagi sekali ketika anak itu sedang tertidur. Mungkin kalau anak ini dewasa nanti ia akan membayar utangnya kembali; sementara itu akau tidak meminta imbalan sewa atas emas yang kupinjamkan itu – dan hanya pembicaraan yang tersisa dari pinjaman itu. Tetapi harus aku akui gelang emas ini sama nilainya dengan pinjaman yang kuberikan.”
 
“Tidakkah wanita ini meminta pendapatmu tentang penggunaan pinjaman itu?”
 
“Bagaimana mungkin. Sebaliknya bahkan. Ia bahkan sudah membayangkan anak laki-lakinya itu menjadi orang kaya yang berpengaruh di Babilonia. Menyebutkan hal yang tidak sama dengan bayangan itu bahkan membuatnya marah. Sergahan kasar yang kudapat. Aku sendiri dapat menilai risiko yang mungkin dihadapi anak yang belum berpengalaman itu, tetapi karena wanita itu menawarkan jaminan yang senilai, aku tidak dapat menolaknya.”
 
“Ini,” lanjut Mathon, mengayunkan rantai perak halus yang disimpul indah, “milik Nebatur, pedagang unta. Apabila ia akan membeli unta dengan nilai yang melebihi keuangannya ia membawa rantai perak ini padaku dan aku memberikan pinjaman padanya sesuai kebutuhannya. Dia seorang pedagang yang bijaksana. Aku yakin pada kemampuannya berdagang dan berani dengan ringan memberikannya pinjaman yang dia perlukan. Banyak pedagang-pedagang di Babilonia yang dapat kupercaya karena telah kukenal tingkah lakunya yang terhormat. Jaminan yang mereka berikan datang dan pergi berulengkali dari kotak jaminanku ini. Pedagang yang baik merupakan harta tak ternilai bagi kota ini, mereka memberikan keuntungan kepadaku yang membantu mereka tetap menggulirkan usahanya yang membuat Babilonia menjadi berlimpah.”
 
Mathon meraih sebuah patung kumbang yang diukir dari batu baiduri hijau melemparkannya begitu saja ke atas permadani. “Kumbang dari Mesir. Anak muda yang memiliki kumbang ini tidak perduli apakah aku akan mendapatkan kembali emas yang kupinjamkan atau tidak. Apabila aku mengunjunginya dia akan menjawab, ‘Bagaimana mungkin akau dapat membayarmu apabila nasib buruk terus menerus menghantuiku? Lagi pula, bukankah engkau masih memiliki banyak harta.’ Apa yang dapat kulakukan? Jaminan ini milik ayahnya – orang yang terpandang tetapi tidak terlalu berada, yang menjaminkan tanah dan ternaknya sebagai pendukung usaha anaknya. Awalnya, anak itu memperoleh keberhasilan dan kemudian menjadi sangat berambisi untuk memperoleh kekayaan lebih banyak. Pengetahuannya belum sepadan. Usahanya berkecaian.
 
“Anak muda penuh keinginan. Anak muda akan bersedia mengambil jalan pintas ke kekayaan dan hal-hal lain yang diinginkannya dan akan mati-matian mempertahankannya. Untuk mendapatan kekayaan dengan cepat anak muda sering melakukan pinjaman dengan tidak berhati-hati. Sebagai anak muda, belum pernah memiliki pengalaman, tidak menyadari bahwa utang yang tidak memberikan hasil sama seperti perigi buta yang dalam yang kedalamnya seseorang akan terjun dengan segera dan menderita beberapa masa di dalamnya. Perigi buta itu perigi kesedihan dan penyesalan, sinar matahari tidak dapat mencapaimu dan malam-malam tidak bahagia selalu membuat engkau terjaga dari tidurmu. Tetapi aku tidak melarang melakukan pinjaman. Aku bahkan menganjurkannya. Aku menyarankannya apabila pinjaman itu benar-benar digunakan untuk tujuan yang jelas menjanjikan. Aku sendiri pun memulai keberhasilanku yang pertama sebagai saudagar dengan emas yang kupinjam.”
 
“Jadi, apa yang harus dilakukan pemberi pinjaman uang dalam masalah ini? Sang anak muda sedang dalam kesulitan, dan usahanya tidak menghasilkan apa-apa. Dia tidak dapat diandalkan. Dia tidak berusaha untuk membayar kembali pinjaman emas itu. Hatiku tidak menginginkan aku mengambil alih tanah dan ternak orang tuanya.”
 
“Engkau telah menceritakan banyak hal yang sangat ingin kudengar,” ucap Rodan, “tetapi, aku belum mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. Haruskah aku meminjamkan  lima puluh keping emas milikku kepada suami adikku? Mereka sangat berarti bagiku.”
 
“Adikmu orang yang sangat baik dan sangat kuhormati. Tetapi, seandainya suaminya datang kepadaku ingin meminjam lima puluh keping emas aku akan bertanya pada suaminya untuk apa akan ia gunakan emas yang akan kupinjamkan itu.”
 
“Apabila ia menjawab bahwa dia ingin menjadi saudagar seperti diriku berdagang perhiasan permata dan perabotan mahal, akan kukatakan, ‘Apa yang engkau ketahui dalam seluk beluk perdagangan itu? Tahukah engkau dimana engkau dapat membeli barang-barang itu dengan harga yang serendah-rendahnya? Tahukah engkau dimana engkau dapat menjual barang perniagaan itu dengan harga yang pantas?’ Dapatkah ia menjawab ‘Ya’ pada pertanyaan-pertanyaan itu?”
 
“Tidak, di tidak bisa,” aku Rodan. “Dia banyak menolongku dalam membuat lembing dan dia juga membantuku di gerai penjualannya.”
 
“Jadi, dapat kukatakan padanya bahwa tujuannya tidak jelas dan kurang bijaksana. Saudagar harus mempelajari secara menyeluruh bidang usahanya. Keinginannya, cukup bagus, tetapi tidak dapat dilaksanakan dan aku tidak akan memberikannya pinjaman emas.”
 
“Tapi, kalau seandainya dia dapat menjawab : ‘Ya, aku telah banyak membantu para saudagar. Aku tahu jalan ke Smyrna dan dapat membeli permadani dengan harga yang murah dari para ibu-ibu yang merajutnya di sana. Aku juga mengenal banyak orang kaya di Babilonia yang kepada mereka permadani itu dapat kujual dengan laba yang tinggi.’ Kemudian aku akan bertanya : ‘Tujuanmu jelas dan bijaksana sekali dan keinginanmu sangat kuhormati. Aku akan sangat senang memberikanmu pinjaman lima puluh keping emas apabila engkau dapat memberikan jaminan bahwa pinjaman itu akan engkau kembalikan.’”
 
“Tetapi kalau ia mengatakan : ‘Aku tidak memiliki jaminan apa pun selain bahwa aku orang yang terhormat dan tidak tercela dan aku akan membayar kembali pinjaan itu.’ Aku akan mengatakan, ‘Aku sangat menghargai emas-emasku, tiap kepingnya. Apabila ada penjahat yang merampok emasmu saat engkau bepergian ke Smyrna atau menyamun permadani-permadani indahmu saat engkau kembali, engau kemudian tidak memiliki apa-apa untuk mengembalikan emas pinjaman itu padaku, maka lenyaplah emas-emasku.’”
 
“Emas, ketahuilah, Rodan, adalah barang dagangan bagi pemberi pinjaman sepertiku. Sangat mudah memberikan pinjaman. Apabila diberikan dengan tidak bijaksana akan sangat sukar untuk memperolehnya kembali. Pemberi pinjaman yang bijaksana tidak menginginkan terjadinya resiko pemberian pinjaman, yang diinginkan justru jaminan pengembalian pinjaman.”
 
“Juga,” Mathon melanjutkan, “membantu mereka yang dalam kesulitan. Pinjaman ini juga diberikan pada siapa yang nasibnya sedang dalam kesulitan. Pinjaman juga diperlukan mereka yang akan memulai usahanya yang selanjutnya akan berkembang dan menjadi orang yang berhasil. Tetapi, pertolongan harus diberikan dengan bijaksana, jika tidak, sama seperti keledai petani, dengan keinginan kita menolong akhirnya kita sendiri yang justru menanggung beban yang seharusnya menjadi milik orang yang kita tolong.”
 
“Sekali lagi aku menyatakan hal yang menyimpang dari pertanyaanmu, Rodan, tapi dengar jawabanku : Simpan lima puluh keping emas milikmu itu. Apa yang mata pencaharianmu hasilkan untukmu dan apa yang telah diberikan padamu sebagai hadiah kerja kerasmu adalah milikmu sendiri, tidak akan ada seorangpun yang harus mewajibkan engkau meminjamkannya pada siapa pun kecuali sesuai dengan keinginanmu sendiri. Apabila engkau akan menanamkannya sebagai modal yang engkau pinjamkan agar memberikan engkau tambahan lebih banyak emas, maka lakukanlah dengan penuh kehati-hatian dan di beberapa tempat. Aku tidak senang melihat emas nganggur yang tidak dimanfaatkan, tetapi aku lebih tidak suka menghadapi risiko yang terlalu besar.”
 
“Berapa tahun sudah engkau melakukan pekerjaan membuat lembing?”
 
“Tiga tahun penuh.”
 
“Berapa banyak simpanan emasmu selain hadiah Sang Raja?”
 
“Tiga keping emas.”
 
“Setiap tahun dari hasil pencaharianmu setelah engkau tahan keinginanmu untuk menggunakan semua penghasilanmu engkau telah dapat menyisihkan satu keping emas?”
 
“Ya, begitu, seperti yang engkau katakan.”
 
“Jadi, bukankah nanti setelah engkau memerlukan lima puluh tahun bertungkus lumus baru dapat terkumpul lima puluh keping emas?.
 
“Sepertinya, pekerjaan seumur hidup.”
 
“Apakah engkau fikir adikmu akan menginginkan engkau membahayakan simpanan lima puluh tahun kerja keras demi gentong perunggu yang akan dicoba untuk diperdagangkan oleh suaminya agar menjadi seorang saudagar?”
 
“Pastinya tidak, apabila aku jelaskan seperti apa yang engkau katakan.”
 
“Jadi pergilah mendapatkannya dan katakan : ‘Tiga tahun aku bekerja setiap hari kecuali hari-hari puasa, dari pagi hingga sore hari, dan aku telah menahan keinginan hatiku dari memperoleh hal-hal yang kuperlukan. Untuk setiap tahun kerja keras dan menahan diri aku dapat menyisihkan satu keping emas. Engkau memang adikku yang sangat kusayangi dan kuharapkan suamimu akan berusaha dalam mata pencahariannya dan berhasil. Apabila dia dapat menyampaikan padaku rencana yang jelas dan bijaksana dan mungkin dijalankan menurut sahabatku, Mathon, maka aku akan sangat senang meminjamkan simpananku setahun dan dia akan mendapatkan kesempatan membuktikan bahwa dia akan berhasil.’ Lakukan itu, kataku, dan apabila dalam hatinya terdapat bibit keberhasilan ia akan dapat membuktikannya. Apabila ia gagal ia tidak akan berutang padamu lebih dari yang dia perkirakan mampu ia bayar.”
 
“Aku memberi pinjaman emas karena aku memiliki emas lebih banyak dari yang aku butuhkan untuk menjalankan usaha dalam mata pencaharianku. Keinginanku hanya agar kelebihan emasku ini dapat bekerja pada orang lain dan memberikan emas tambahan bagiku. Aku tidak mau mengambil risiko kehilangan emasku yang sudah kuperoleh dengan susah payah dan telah menahan diriku dari menggunakannya untuk banyak kepentinganku yang lain agar aku dapat memperolehnya. Oleh karena itu, aku tidak akan memberikan pinjaman pada hal-hal yang aku tidak merasa yakin akan kemanannya dan kemungkinan emas itu dikembalikan kembali kepadaku. Aku tidak juga akan memberikan pijaman emasku apabila aku tidak yakin sewa yang harus dihasilkannya dibayarkan padaku sesuai dengan yang diperjanjikan.”
 
“Telah kukatakan kepadamu, Rodan, sebagian rahasia yang disimpan di kotak jaminan ini. Dari cerita-cerita itu engkau dapat mempelajari kelemahan manusia dan keinginannya untuk meminjam emas meski mereka tidak memiliki sarana untuk membayarnya kembali. Dari situ engkau dapat melihat betapa seringnya harapan yang tinggi terhadap hasil terbaik yang diharapkan, ketika emas sudah ditangannya, ternyata hanya bayangan semu yang tidak dapat mereka capai karena tidak berkemampuan atau pun cukup berpengalaman untuk mencapainya.”
 
“Engkau, Rodan, sekarang memiliki emas yang seharusnya engkau pekerjakan untuk memperoleh tambahan emas lainnya. Engkau akhirnya dapat saja menjadi sama seperti aku, pemberi pinjaman emas. Apabila engkau dengan hati-hati menjaga emas-emasmu, mereka akan memberikan hasil yang berlipatganda bagimu dan menjadikannya sumber kegembiraan dan keberuntungan pada setiap hari-harimu. Tetapi apabila engkau biarkan ia berlalu pergi darimu, ia akan menjadi sumber kesedihan berlarut dan penyesalan sepanjang ingatanmu.”
 
“Apa yang paling ingin engkau lakukan terhadap emas yang ada di kantungmu?”
 
“Menjaganya agar aman tersimpan.”
 
“Ucapan yang bijaksana,” jawab Mathon menyetujui. “Harapanmu yang pertama adalah agar emasmu aman. Apakah engkau fikir, dalam tangan suami adikmu emas ini akan benar-benar aman dari risiko usahanya?”
 
“Aku khawatir tidak aman, karena aku kira dia kurang bijaksana dalam mengelola emas.”
 
”Jadi, jangan goyah oleh bayangan kewajiban yang bodoh itu, jangan begitu saja mempercayakan emasmu kepada siapapun. Kalau engkau ingin membantu keluargamu atau sahabat-sahabatmu, cari cara lain selain membahayakan kepemilikanmu yang berharga. Jangan lupa, emas akan lenyap dengan cara tak terduga di tangan orang yang tidak berpengalaman mengelolanya. Sama halnya menghambur-hamburkan emasmu untuk hal-hal yang tidak perlu seperti membiarkan orang lain menghilangkannya untukmu.”
 
”Apa selanjutnya, setelah keamanan emasmu, yang engkau inginkan.”
 
“Memperoleh lebih banyak emas.”
 
“Sekali lagi engkau telah berbicara dengan bijaksana. Emas harus dipergunakan untuk memperolah hasil dan berkembang lebih banyak. Emas yang dipinjamkan dengan bijaksana, akan mampu menggandakan dirinya dari hasil yang diusahakannya bahkan sebelum orang seumurmu menjadi tua. Apabila engkau menghilangkannya, engkau kehilangan hasil yang mungkin dapat diusahakan emas itu juga.”
 
“Oleh karena itu, jangan tergoda oleh rencana besar yang tidak mungkin dicapai hanya karena pembuat rencana berfikir dapat mempekerjakan emas dengan lebih keras agar hasilnya lebih besar. Rencana seperti itu biasanya hanya diciptakan orang yang hanya mampu bermimpi tanpa memperhatikan risiko dan hukum-hukum perdagangan yang dapat dipercaya. Berhati-hatilah pada apa yang engkau harapkan dapat dihasilkan emas-emas itu agar engkau tetap dapat memilikinya dan menikmati emas-emasmu. Menyewakannya kepada seseorang dengan janji hasil yang luar biasa sama saja dengan mengundang kerugian sebagai tamu datang kepadamu.”
 
“Cari dan berkumpullah dengan orang-orang atau kongsi-kongsi yang hasilnya sudah terbukti sehingga emasmu akan memberikan hasil yang bagus dibawah pengelolaan mereka yang sudah ahli dan terjaga oleh kebijaksanaan dan pengalaman mereka.”
 
“Dan, hendaknya engkau hindari kemalangan yang mengikuti sebagian besar anak manusia yang pada mereka Para Dewa telah melihat cukup pantas untuk diberi kepercayaan mengelola emas.”
 
Ketika Rodan menyampaikan terima kasih atas saran bijaksana yang ia berikan, yang terima kasih itu Mathon abaikan, Mathon berkata lagi, “Hadiah Sang Raja akan banyak memberimu pelajaran kebijaksanaan. Engkau harus menyimpan lima puluh keping emas itu dengan penuh kerahasiaan. Banyak sekali jalan untuk menggunakannya yang akan menggodamu. Banyak sekali saran-saran yang akan engkau dengar. Banyak kesempatan berharga untuk memperoleh keuntungan yang besar akan ditawarkan padamu. Cerita-cerita dari kotak jaminanku seharusnya akan mengingatkanmu, bahwa sebelum engkau mengeluarkan setiap keping emas yang ada di kantungmu engkau harus yakin engkau akan dapat dengan selamat menariknya kembali. Apabila nasihatku yang lain engkau perlukan, kembalilah kemari. Aku akan dengan senang hati memberikannya.”
 
“Ini, engkau harus membaca tulisan yang kupahat dibawah tutup kotak jaminanku ini. Kalimat ini berlaku bagi keduanya, peminjam atau pemberi pinjaman.”
 
 
 
 
LEBIH BAIK SEDIKIT BERHATI-HATI
DARI PADA PENYESALAN YANG BERLARUT
 
 
 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar