Sabtu, 13 September 2014

III : TUJUH KUTUKAN KEMELARATAN

 
 
TUJUH KUTUKAN KEMELARATAN
 
 
 
Kemakmuran Babilonia bertahan lama, bergema ke seluruh wilayah dunia. Bertahun-tahun kemasyhurannya yang kita dengar sebagai kota terkaya, yang memiliki kelimpahan harta yang sungguh mencengangkan.
 
Tetapi pada zaman dahulu, sebelumnya, tidaklah demikian halnya. Orang-orang kaya Babilonia bertumbuh sebagai hasil kebijaksanaan penduduknya. Mereka awalnya harus banyak belajar bagaimana menjadi kaya.
 
Ketika Raja yang ternama, Sargon, kembali ke Babilonia, setelah mengalahkan musuh-musuhnya, bangsa Elamit, ia mendapatkan keadaan penduduk kota yang kurang bagus. Penasehat Raja menjelaskan hal itu kepada Sang Raja :
 
“Dulu, setelah tahun-tahun makmur yang dialami penduduk kota karena kerajaan telah membangun kanal irigasi yang luar biasa dan mendirikan Kuil Raja bagi Para Dewa, tapi sekarang setelah pekerjaan tersebut selesai, rakyat kelihatannya tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya..
 
“Para kuli hidup tanpa pekerjaan. Saudagar kehilangan pelanggan. Para petani tidak dapat menjual hasil kebunnya. Masyarakat bahkan tidak mempunyai cukup emas untuk membeli makanan.”
 
“Tetapi, kemana perginya semua emas yang kita keluarkan untuk pembangunan itu?” tanya Sang Raja.
 
“Emas-emas itu beredar kemudian, saya khawatir,” sahut Sang Penasehat, “mengalir menjadi milik beberapa orang kaya di kota ini. Beredar cepat dari tangan-tangan pemiliknya seperti susu kambing mengalir melalui saringan, dalam perputaran kehidupan penduduk kota. Sekarang saat aliran emas itu terhenti, sebagain besar pemilik emas itu telah kehabisan kepemilikannya, penghasilannya habis tak berbekas.”
 
Sang Raja menjadi masgul, terpekur beberapa saat. Kemudian ia bertanya, “Bagaimana mungkin hanya beberapa orang saja yang akhirnya menguasai seluruh emas itu?”
 
“Karena mereka tahu caranya,” jawab Sang Penasehat. “Kita tidak dapat mengutuk keberhasilan seseorang hanya karena mereka mengetahui bagaimana cara mencapai keberhasilan. Kita juga tidak dapat dengan kekuatan hukum mengambil bagian kekayaannya yang didapat secara benar, dan memberikannya kepada yang kurang mampu.”
 
“Tetapi mengapa,” tuntut Sang Raja, “tidak semua orang belajar bagaimana mengumpulkan emas dan dengan demikian dapat menjadikannya sebagai seorang hartawan dan penuh kemakmuran?”
 
“Berkemungkinan bisa, Tuanku. Tetapi siapa yang akan mengajarkan mereka? Para Imam sudah pasti tidak bisa, karena mereka sama sekali tidak mengetahui permasalahan memperoleh penghasilan.”
 
“Di seluruh kota kita ini, siapa yang paling mengetahui bagaimana cara menjadi kaya, Penasihat?” tanya Sang Raja.
 
“Pertanyaan Tuanku sudah terjawab sendiri, Tuanku. Siapa yang paling kaya di Babilonia?”
 
“Benar sekali, Penasihat ahliku. Dia Arkad. Dia orang terkaya di babilonia. Bawa dia menghadapku besok pagi.”
 
Keesokan harinya, sesuai titah Sang Raja, Arkad menghadapnya, tegak dan terlihat gagah meski usianya sudah mencapai sembilan windu.
 
“Arkad,” ujar Sang Raja. “Apakah benar anda orang terkaya di Babilonia?”
 
“Bagitulah yang saya dengar, Tuanku, dan kelihatannya tidak ada yang membantahnya.”
 
“Bagaimana caranya engkau menjadi sebegitu kayanya?”
 
“Dengan mengambil keuntungan atas kesempatan yang tersedia bagi seluruh masyarakat di kota kita yang baik ini.”
 
“Engkau memulainya dari tidak memiliki apa-apa?”
 
“Hanya keinginan besar untuk memperoleh kekayaan. Di samping itu tidak ada yang lain.”
 
“Arkad,” lanjut Sang Raja, “Keadaan kota kita saat ini kurang begitu baik karena hanya segelintir orang saja yang mengetahui cara mengumpulkan kekayaan dan menguasai peredarannya, sementara sebagian besar masyarakat tidak mengetahui samasekali bagaimana cara mengumpulkan emas yang diperoleh dari usahanya.”
 
“Cita-citaku, Babilonia menjadi kota terkaya di dunia. Oleh karena itu, kota ini harus menjadi kota yang penuh dengan orang yang kaya raya. Katakan padaku, Arkad, apakah ada rahasia dalam mengumpulkan kekayaan? Dapatkah hal itu diajarkan?”
 
“Bisa, Tuanku. Sesuatu yang diketahui seseorang dapat diajarkan kepada yang lainnya.”
 
Mata Sang Raja berbinar. “Arkad, engkau telah mengucapkan kata-kata yang sangat ingin kudengar. Maukah engkau melaksanakan tugas mulia yang besar ini? Maukah engkau menularkan pengetahuanmu kepada semua pendidik, yang selanjutnya saling mengajarkan sehingga kita mempunyai cukup banyak pendidik yang akan mengajarkan cara mengumpulkan kekayaan pada setiap anggota masyarakat di kota ini yang sangat memerlukannya.”
 
Arkad mengusung sembah dan berkata, “Hamba akan patuh melaksanakannya, Tuanku. Pengetahuan apa pun yang hamba miliki akan dengan senang hati akan hamba sebarkan demi saudara-sudaraku di kota Babilonia dan demi kejayaan kerajaan ini. Hamba persilakan Sang Penasehat yang baik mempersiapkan sebuah kelas berisi seratus orang, dan akan hamba paparkan pada mereka tujuh obat yang telah menggemukkan pundi-pundi uang hamba yang dahulunya tidak ada pundi uang yang lebih kosong dari pundi milik hamba di seluruh Babilonia.”
 
Dua minggu kemudian, mematuhi titah Sang Raja, seratus orang yang terpilih berkumpul di aula Kuil Pembelajaran, duduk berjejer setengah lingkaran di dalam ruangan bundar yang cerah. Arkad duduk di sebelah bejana kecil yang dari dalamnya keluar asap dari lampu keramat, menyebarkan bau dupa yang wanginya sangat menyenangkan.
 
“Lihat, orang terkaya di Babilonia,” bisik salah satu peserta, sambil menyikut orang di sampingnya, ketika Arkad mulai berdiri. “Dia manusia biasa sama saja seperti kita semua.”
 
“Sebagai warga yang patuh pada Raja kita yang agung,” Arkad memulai pembicaraannya, “Saya berdiri di hadapan kamu semua demi melayaninya. Karena dahulunya saya adalah anak muda yang sangat papa tetapi sangat menginginkan memiliki emas yang berlimpah, dan karena kudapatkan pengetahuan yang membuatku mampu mencapai keinginanku, Sang Raja memintaku agar menularkan pengetahuan itu kepada engkau semua.”
 
“Aku memulai keberuntunganku dengan cara yang paling sederhana. Aku tidak memiliki kelebihan apa pun, aku juga tidak berkecukupan dibandingkan dengan engkau semua bahkan dibandingkan seluruh penduduk Babilonia.”
 
“Gudang uangku yang pertama hanyalah sebuah kantung usang. Yang sangat kubenci karena selalu kosong dan tidak berguna. Aku menginginkan ia agar berbentuk bundar, penuh terisi, berdencing dengan suara emas. Jadi, kucari penyembuh kantung kosong itu. Aku menemukan tujuh penyembuh.
 
“Kepada engkau sekalian, yang hadir didepanku ini, akan kujelaskan ke tujuh penyembuh kantung kosong yang kusarankan kepada semua orang yang menginginkan kelimpahan emas. Setiap hari selama tujuh hari akan kujelaskan kepadamu satu dari tujuh penyembuh itu.”
 
“Dengarkan dengan sepenuh hati pengetahuan yang akan kusampaikan. Bahas bersamaku. Diskusikan sesamamu. Pelajari sedalam-dalamnya inti sari pelajaran ini, agar engkau semua dapat mengisi di kantongmu masing-masing, bibit-bibit kekayaan. Pertama kali hendaklah setiap orang memulai dengan bijaksana mengumpulkan keberuntungan bagi dirinya masing-masing. Kemudian, apabila engkau sudah cukup mampu, hanya bila engkau sudah cukup mampu, ajarkanlah pengetahuan ini kepada orang lain.”
 
“Aku akan mengajarkannya dengan cara yang sederhana bagaimana memenuhkan pundi-pundimu. Itu merupakan langkah pertama menuju ke kuil kekayaan, dan tidak akan ada yang akan sampai ke sana apabila dia tidak menanamkan kakinya kuat-kuat pada langkah pertama.
 
“Sekarang kita bahas penyembuh pertama.”
 
 
 
Penyembuh Pertama
 
Mulai gelembungkan kantung uangmu
 
 
Arkad menyampaikan pertanyaanya kepada seorang yang terlihat berpendidikan yang duduk di baris kedua.
 
“Sahabat baikku, apa yang merupakan keahlianmu?”
 
“Saya,” jawab orang itu, “penyalin dan penulis naskah pada lempeng tanah liat.”
 
“Ya, dengan pekerjaan seperti itulah saya memperoleh perakku yang pertama. Jadi, engkau memiliki kesempatan yang sama untuk menghimpun kekayaan.”
 
Ia berkata pada seorang yang tampan yang duduk di baris yang lebih di belakang, “Coba katakan pada kami apa yang engkau lakukan untuk menafkahi keluargamu.”
 
“Saya,” balas orang ini, “tukang daging. Saya membeli kambing-kambing dari penggembala menyembelih dan menjualnya pada para ibu rumah tangga dan kulitnya saya jual kepada pembuat sandal.”
 
Karena engkau bekerja dan menghasilkan uang, engkau memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil seperti yang saya alami.”
 
Dengan cara itu Arkad memulai. Mencari keterangan bagaimana setiap peserta bekerja memperoleh penghasilan untuk kehidupannya. Setelah dia selesai menanyai semua peserta, ia berkata :
 
“Sekarang, murid-muridku, engkau dapat melihat ada berbagai usaha dan kegiatan dalam memperoleh penghasilan. Setiap cara itu merupakan arus masuknya emas, dari situlah setiap penghasil uang itu menyalurkan sebagian dari hasilnya untuk kantung uagnya sendiri. Ke dalam setiap kantung uang kalian semua mengalir uang, baik dalam jumlah banyak ataupun sedikit, tergantung pada keampuannya masing-masing. Bukankah begitu?”
 
Terlihat semuanya setuju dengan pendapat itu.
 
“Kemudian,” lanjut Arkad, “apabila setiap orang berkeinginan untuk menghimpun kekayaan yang lebih besar bagi dirinya, sangat tidak mungkin untuk memulainya dari penggunaan sumber penghasilan yang telah engkau lakukan.”
 
Dengan hal ini pun semua peserta menyetujuinya.
 
Kemudian Arkad menoleh kepada seorang yang terlihat sederhana yang telah menerangkan bahwa dirinya adalah pedagang telur. “Apabila engkau isi setiap keranjang telurmu setiap pagi dengan sepuluh butir telur, kemudian mengeluarkan dan menjual sembilan butir telur setiap petang, setelah beberapa lama apa yang akan terjadi?”
 
“Akan banyak sekali sisa telur di rumahku.”
 
“Mengapa?”
 
“Setiap hari akau menjual lebih sedikit telur dari yang kukumpulkan, akhirnya aku menyimpan banyak kelebihan.”
 
Arkad kemudian melayangkan pandangannya ke seluruh isi kelas dengan tersenyum, bertanya, “Apakah dalam kelas ini ada yang kantung uangnya kosong?”
 
Semula mereka melihat hal itu lucu. Kemudian mereka tertawa. Akhirnya mereka tunjukkan kantung uang mereka dengan penuh canda getir.
 
“Baiklah,” lanjut Arkad. “Sekarang kuberitahukan padamu obat pertama untuk mengisi kantung uang yang kosong yang aku telah pelajari. Lakukan seperti apa yang kusarankan pada pedagang telur. Setiap sepuluh keping uang yang engkau masukkan dalam kantung uangmu, pergunakanlah hanya sembilan untuk keperluan keseharian kehidupanmu. Kantung uangmu akan segera mulai terisi dan tambahan beratnya yang engkau rasakan ditanganmu akan seketika terasa menyenangkan hatimu.”
 
“Jangan remehkan apa yang kukatakan karena kesderhanaannya. Kebenaran itu sangat sederhana. Kukatakan pada engkau semua akan kuceritakan bagaimana aku menghimpun kekayaanku. Inilah awal dari semuanya. Saya, juga, dulu memiliki kantung uang yang kosong dan sangat menderita karena dengan begitu tidak ada kesenanganku yang dapat kupenuhi. Tetapi begitu aku mulai hanya menggunakan sembilan keping uang dari sepuluh yang kuperoleh, kantung uangku mulai menggembung. Begitupula bisa, bagi engkau sekalian”
 
“Sekarang akan kuceritakan kebenaran yang cukup aneh, yang alasannya tidak kuketahui. Sejak kukeluarkan hanya sembilan dari sepuluh yang kuperoleh, kehidupanku biasa-biasa aja, aku bahkan tidak merasa menjadi lebih berkekurangan apa-apa. Kemudian, tak selang beberapa lama, bahkan uang datang kepadaku lebih mudah daripada sebelumnya. Sudah pasti itulah ketentuan hukum Para Dewa, bahwa kepada siapa yang menyimpan sebagian dan menggunakan hanya sebagian tapi tidak seluruh penghasilannya, emas akan datang dengan lebih lancar. Sebaliknya, orang yang kantung uangnya kosong, akan dihindari emas.”
 
“Apa yang paling engau inginkan? Apakah kesenangan sehari-hari yang engkau inginkan, perhiasan, sedikit barang mewah, pakaian bagus, makan lebih banyak; hal-hal yang segera berlalu dan dilupakan? Atau hal-hal yang lebih bermakna, emas, tanah, ternak, barang dagangan, pengeluaran yang memberikan hasil tambahan? Keping uang yang engkau keluarkan dari kantung uangmu akan memberikanmu hal-hal yag pertama, keping uag yang engkau tinggalkan dalam kantung uangmu sebagai simpanan akan memberikanmu hal yang terakhir.”
 
“Itulah, murid-muridku, obat pertama yang aku temukan bagi menyembuhkan kantung uangku yang kosong : ‘Setiap sepuluh keping yang engkau peroleh, gunakanlah hanya sembilan.’ Bahaslah hal ini sesama peserta di kelas ini. Apabila ada di antara engkau yang dapat membuktikan ketidakbenarannya, katakan padaku besok ketika kita bertemu di kelas ini kembali.”
 
 
 
Penyembuh Kedua
 
Atur dan cermati pengeluaranmu
 
 
“Sebagian peserta, murid-muridku, telah bertanya padaku: ‘Bagaimana mungkin seseorang menyimpan sepersepuluh dari yang diperolehnya dalam kantung uangnya sementara setiap keping uang yang dimilikinya itu tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya?’” itulah yang pertama kali disampaikan Arkad pada hari kedua.
 
“Kemarin ada berapa dari semua murid di sini yang memiliki pundi-pundi yang kosong?”
 
“Kami semua,” seru seisi kelas.
 
“Padahal, engkau semua tidak memiliki penghasilan yang sama. Yang satu memperoleh penghasilan yang lebih besar dari yang lainnya. Sementara ada yang memiliki tanggungan keluarga yang lebih besar dari yang lainnya. Namun, mengapa semua sama, kantung uangnya kosong? Sekarang biar kunyatakan kebenaran yang tidak biasa yang dilakukan manusia dan anak cucunya. Yaitu : Apa yang masing-masing dari kita sebutkan ‘pengeluaran yang penting, yang harus dikeluarkan’ akan senantiasa berkembang sejalan dengan peningkatan penghasilan, kecuali kita menolaknya dengan melakukan sebaliknya.”
 
“Jangan campur adukkan pengeluaran penting, yang harus dikeluarkan dengan keinginan hati. Setiap yang hadir di sini, bersama-sama dengan keluargamu yang berbahagia, memiliki keinginan hati yang jauh lebih besar dari yang dapat dipuaskan oleh penghasilanmu. Oleh karena itu meskipun seluruh penghasilanmu engkau gunakan memenuhi keinginan hatimu sebanyak yang dapat diperoleh dengan semua penghasilan itu. Tetap saja engkau akan masih memiliki keinginan hati yang belum terpenuhi.”
 
“Setiap orang dibebani keinginan hati yang lebih besar dari yang dapat ia penuhi. Apakah dengan seluruh kekayaan yang kumiliki saat ini engkau fikir aku akan dapat memenuhi tak terbatasnya keinginan hatiku? Itu pemikiran yang salah. Pada setiap saat selalu ada batas waktu. Pada setiap kekuatan pasti ada batas kemampuan. Selalu ada batas jarak yang mampu kutempuh dalam perjalananku. Ada batas jumah yang dapat kumakan. Begitupula ada batas kepuasan yang kuperoleh dari sebuah kenikmatan.”
 
“Kukatakan padamu, sebagaimana rerumputan akan bertumbuh di perkebunan apabila para petani meninggalkan sejumput akar dikebun yang disiangnya, begitulah keinginan hati akan tumbuh dibenakmu apabila ada kemungkinan tersedianya kemampuan untuk memenuhinya. Keinginan hati sangat banyak ragamnya dan yang dapat engkau penuhi hanyalah tidak lebih dari sebagian kecilnya.”
 
“Perhatikan dan pelajari dengan mendalam kebiasaan dalam hidupmu. Disitulah nanti biasanya akan engkau temukan beberapa pengeluaran tertentu yang biasanya engkau keluarkan sesungguhnya dapat degan bijak engkau kurangi, bahkan menghilangkannya sama sekali dari daftar pengeluaranmu. Jadikan motto dalam dirimu bahwa untuk setiap keping uang yang engkau keluarkan harus memberikan nilai seratus persen, tidak ada yang disia-siakan.”
 
“Oleh karena itu, coba tuliskan dalam lempeng tanah liat setiap pengeluaran untuk apa yang engkau inginkan. Pilihlah pengeluaran yang penting, yang harus dikeluarkan dan yang pengeluaran lainnya yang mungkin dapat engkau penuhi dengan sepersepuluh penghasilanmu. Coret pengeluaran yang lainnya dan pertimbangkanlah mereka sebagai beragam keinginan hati yang harus pergi tanpa perlu dipenuhi dan tidak perlu disesali.”
 
“Rencanakan pengeluaran yang penting, yang harus dikeluarkan. Jangan sentuh sepersepuluh yang mengisi kantung uangmu sebagai simpanan. Jadikanlah kegiatan mengisi kantung uang itu sebagai keinginan hatimu yang sedang engkau penuhi. Terus hidup dengan rencana itu, dan terus sesuaikan dengan keadaanmu. Jadikan dia sebagai pengawal yang mempertahankan usaha memenuhkan pundi-pundi uangmu.”
 
Sampai di sini, seorang murid, mengenakan jubah merah keemasan, berdiri dan bertanya, “Saya orang merdeka. Saya percaya bahwa adalah hak saya untuk menikmati hal-hal yang baik dan menyenangkan di kehidupan ini. Jadi saya menentang perbudakan yang dilakukan rencana pengeluaran ini yang membatasi berapa jumah yang dapat engkau keluarkan dan untuk apa pengeluaran dibolehkan. Saya rasa rencana itu akan mengambil sebagian besar kenikmatan hidupku dan membuat saya lebih seperti keledai pemanggul beban.”
 
Kepadanya Arkad meberikan jawaban, “Siapakah, temanku, yang akan menetapkan anggaran itu?”
 
“Aku akan membuatnya untuk diriku sendiri,” jawab murid yang memberi kritik bantahan tadi.
 
“Jika begitu, apakah keledai pemanggul tadi merencanakan juga beban yang ia panggul, permata, permadani dan batangan emas? Tidak begitu, yang direncanakan bukan beban yang akan dipanggul, yang direncanakan pemanggul tentunya, jerami dan biji-bijain serta kantung-kantung air untuk bekal makan minumnya diperjalanan.”
 
“Tujuan perencanaan belanja adalah untuk membantu kita menggemukkan pundi-pundi uang. Untuk membantu kita memenuhi keperluan mendasar dan, sepanjang dapat dicapai, memenuhi sebagian keinginan hati. Rencana itu dapat membuat engkau mampu memenuhi keinginan engkau yang utama dengan menjaganya dari grogotan keinginan yang tidak jelas. Seperti cahaya terang di dalam gua, engkau akan mampu menemukan kebocoran yang ada pada kantung uangmu dan menutupnya dan mengawasi pengeluaran-pengeluaran untuk hanya hal-hal yang pasti diperlukan dan pengeluaran yang jelas tujuannya.”
 
“Dengan itu, kemudian, berlanjut ke penyembuh kedua bagi kantung uang yang kosong. Rencanakan pengeluaranmu sesuai dengan keping uang yang engkau miliki untuk memenuhi kebutuhan mendasar hidupmu, membayar hal-hal yang akan menggembirakanmu dan memenuhi keinginan hatimu yang lain sepantasnya tanpa mengeluarkan lebih dari sembilan per sepuluh dari penghasilanmu.”
 
 
 
Penyembuh Ketiga
 
Lipatgandakan emasmu
 
 
“Lihat, kantung uang yang kosong mulai terisi. Apabila engkau telah mendisiplinan dirimu untuk menyisakan sepesepuluh dari seluruh penghasilanmu. Engkau telah rencanakan, atur dan cermati pengeluaranmu dan menjaga perkembangan kekayaanmu. Selanjutnya, kita mulai mempertimbangkan cara untuk mempekerjakan simpanan itu dan melipatgandakannya. Memiliki emas di pundi-pundi uang memang sangat memuaskan hati, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Emas yang terkumpul dalam simpanan kita merupakan awal perkembangan selanjutnya. Hasil yang akan diberikan emas itu akan menjadi alat yang dapat membantu membangun keberuntungan kita.” Itu, yang diucapkan Arkad di kelas pada hari ketiga.
 
“Bagaimana, selanjutnya kita mempekerjakan emas itu? Usaha pertamaku gagal, aku menghabiskan seluruh simpananku. Ceritanya akan kita bicarakan nanti. Usaha yang pertama kali memberikanku keuntungan adalah pinjaan yang kuberikan pada Aggar, pembuat tameng. Sekali setahun ia membeli kiriman perunggu yang dibawa kapal dari seberang laut, yang digunakannya sebagai bahan baku usahanya. Kekurangan modal untuk membayar pedagang perunggu, ia meminjam pada orang yang berkelebihan uang. Dia orang jujur yang terhormat. Pinjamannya semua terbayar kembali, ditambah sisa sewa uang, ketika ia berhasil menjual perisai hasil buatannya.
 
“Setiap kali, berikutnya ia kuberi pinjaman, kupinjamkan juga sisa sewa uang yang ia bayarkan padaku. Dengan begitu tidak saja modalku bertambah, hasil dari modal juga memberikan tambahan penghasilan. Sungguh memuaskan melihat bagaimana semua jumlah penerimaan itu masuk ke pundi-pundi uangku.”
 
“Kukatakan kepadamu, murid-muridku, kekayaan seseorang bukan dari banyaknya uang yang dibawa dalam kantung uangnya kesana kemari; tetapi aliran penghasilan yang dibangunnya, aliran emas yang terus menerus mengalir ke dalam kantung uangnya dan terus menerus membuatnya berkelimpahan. Itulah yang diinginkan setiap orang. Itulah juga yang engkau, semua yang hadir disini, menginginkannya; penghasilan yang terus menerus datang meski kamu bekerja atau sedang bepergian.
 
“Penghasilan yang sangat besar telah kuperoleh. Begitu banyaknya sehingga aku disebut sebagai orang kaya. Pinjaman yang kuberikan pada Aggar adalah pelajaran pertamaku mengusahakan simpanan yang berhasil. Berdasarkan pengalaman itu, aku mulai memperluas usaha itu, dan modalku terus meningkat. Dari beberapa sumber, kemudian bertambah dari lebih banyak sumber, semua mengalir ke dalam kantung uangku, aliran emas yang tersedia untuk penggunaan lebih lanjut, tetapi tetap harus digunakan dengan pertimbanagn yang bijaksana.”
 
“Begitulah, berawal dari penghasilan yang kecil sederhana aku telah memperoleh sepasukan budak emas, masing-masing budak bekerja dan memberikan hasi emas lebih banyak lagi. Sementara mereka bekerja untuk saya, anaknya, cucunya, juga menyertai mereka bekerja keras bersama-sama hingga semakin banyak penghasilan yang kuperoleh dari usaha bersama mereka.”
 
“Emas akan berkembang dengan cepat, apabila memberikan penghasilan yang memadai seperti yang engkau dapat lihat dalam cerita berikut ini : Seorang petani, ketika anak petamanya lahir, menyimpan sepuluh keping perak kepada pemberi pinjaman uang dan meminta dia menyimpannya sebagai modal yang akan disewakan hingga anaknya mencapai usia dua puluh tahun. Pemberi pinjaman uang ini kemudian setuju melaksanakan hal itu, dan memberikan sewa seperempat dari modal dalam jangka waktu empat tahun. Sang Petani meminta, karena uang itu sudah dipersiapkan untuk anaknya, agar sewa yang ia terima dimasukkan sebagai tambahan modal yang ia tanamkan.”
 
“Pada saat anak itu mencapai usia dua puluh tahun, Sang Petani berkunjung kembali kepada pemberi pinjaman uang menanyakan perihal uang peraknya. Pemberi pinjaman uang menjelaskan bahwa karena hasil sewanya telah ditambahkan pada modal yang semula ia tanam, jumlahnya bertambah lebih cepat, sepuluh keping perak yang ditanamkan sekarang telah berkembang menjadi tiga puluh setengah keping.”
 
“Sang Petani cukup puas dengan berita itu dan karena anaknya belum membutuhkan uang, ia menempatkan kembali semua uang itu pada pemberi pinjaman uang. Ketika anak petani itu berumur lima puluh tahun, sementara itu sang ayah sudah pergi ke alam arwah, pemberi pinjaman uang mengembalikan modal yang ditanamkan beserta penghasilannya kepada anak petani itu semuanya sebanyak seratus enam puluh tujuh keping perak.”
 
“Jadi, selama lima puluh tahun simpanan itu telah berlipat ganda beserta seluruh hasilnya sebanyak hampir tujuh belas kali lipat.”
 
“Ini, kemudian, yang menjadi penyembuh ketiga atas kantung uangmu yang melompong : Pekerjakan setiap keping kekayaanmu sehingga mereka menghasilkan kekayaan tambahan, bagai pasukan, mereka bekerja mengalirkan penghasilan bagimu, aliran penghasilan yang tidak ada hentinya ke dalam kantung uangmu.”
 
 
 
Penyembuh Keempat
 
Jaga hartamu dari kerugian
 
 
“Kemalangan sangat senang pada yang berkilau. Kilauan emas yang ada dalam pundi-pundi seseorang harus dijaga dengan ketat, jika tidak dia akan segera hilang. Jadi, akan sangat bijaksana apabila kita mulai dari belajar menjaga harta yang sedikit dengan seksama, sebelum Para Dewa memberikan kekayaan yang lebih besar untuk dijaga.” Ucap Arkad, pada hari keempat di kelas.
 
“Setiap pemilik emas akan selalu digoda berbagai kesempatan yang terlihat akan memberikannya hasil yang menggiurkan dalam bidang usaha yang terlihat sangat dapat dilaksanakan. Terkadang, sahabat bahkan keluarga bahkan mendukung usaha itu dan menganjurkan kita untuk terjun melaksanakannya.”
 
“Hal pertama dan yang utama dalam menjalankan usaha adalah keamanan atas modal yang ditanamkan. Apakah baik apabila tergoda oleh penghasilan yang lebih besar apabila ada kemungkinan modal yang ditanamkan akan hilang? Aku bilang tidak. Hal terburuk yang akan dihadapi dalam menjalankan usaha adalah kerugian. Pelajari dengan seksama, sebelum menanamkan kekayaanmu pada suatu usaha, yakinkan dirimu bahwa modal yang ditanamkan dapat kembali dengan selamat. Jangan tertuntun oleh bayangan keinginan hati yang indah tentang menghimpun kekayaan dengan cepat.”
 
“Sebelum memberikan pinjaman kepada seseorang, yakinkan dirimu akan kemampuannya untuk membayar kembali dan bahwa dia memiliki reputasi yang cukup baik untuk itu, agar jangan engkau menjadi seolah-olah memberikannya hadiah dari simpanan yang telah engkau himpun dengan bersusah payah.”
 
“Sebelum engkau menanamkan modalmu pada bidang usaha apapun kenalilah terlebih dahulu bahaya-bahaya yang mengintai dalam menjalankannya.”
 
“Penanaman modalku yang pertama merupakan suatu tragedi pada saat itu. Simpanan yang kujaga dan himpun selama setahun yang kupercayakan kepada seorang tukang bata, bernama Azmur, yang bepergian ke negeri di sebarang lautan, dan di Tyre disepakati ia akan membelikanku permata langka dari Phunisia. Permata itu akan kami jual di Babilonia sekembalinya dari perjalanan itu, dan keuntungannya akan kami bagi bersama. Orang Phunisia memang penipu, mereka menjual kepadanya sepotong kaca yang terlihat bagai permata. Habis simpananku. Hari ini, usaha itu telah mengajarkanku bahwa betapa bodohnya memberikan kepercayaan kepada tukang batu untuk berdagang permata.”
 
“Oleh karena itu, kuajarkan kepada engkau semua kebijakan yang telah kuperoleh dari pengalaman-pengalamanku : jangan terlalu yakin terhadap hasil buah pikiranmu dalam hal menanamkan kekayaanmu, perhatikan kemungkinan-kemungkinan buruknya. Jauh lebih baik kalau engkau meninta nasihat kepada seseorang yang sudah berpengalaman dan berhasil dalam menjalankan usaha. Nasihat seperti itu akan dengan diberikan dengan cuma-cuma dan akan bernilai setara dengan emas yang sama nilainya dengan modal yang akan engkau tanam. Nilai yang sesungguhnya dari nasihat adalah menyelamatkan engkau dari derita kerugian.”
 
“Inilah penyembuh keempat kantung uang yang kosong yang sangat penting, ia akan menjaga kantung uangmu dari kehilangan isinya setalah engkau berhasil menggemukkannya. Jaga kekayaanmu dari kerugian dengan cara menanamkannya hanya dalam usaha yang seluruh modalnya aman dan dapat engkau tarik kembali senadainya usah tersebut tidak menguntungkan. Berkonsultasilah dengan orang-orang bijak. Gunakan nasihat dari orang yang telah menunjukkan keberhasilan dalam menangani emas. Jadikan kebijaksanaan mereka menjaga kekayaanmu dari penanaman modal yang tidak aman.”
 
 
 
Penyembuh Kelima
 
Jadikan tempat tinggalmu sebagai penanaman modal yang menguntungkan
 
 
“Apabila seseorang telah menyisihkan untuk disimpan sepersepuluh dari penghasilannya, dan dia dapat hidup dengan sembilan bagian sisanya dengan hidup yang berkecukupan dan dari sembilan per sepuluh itu masih ada tersisa untuk dipergunakan sebagai modal usaha yang menguntungakan tanpa mengurangi keadaan kehidupannya, maka kekayaannya akan dapat lebih cepat berkembang,” itulah yang dikatakan Arkad pada pelajaran kelimanya.
 
“Sangat banyak penduduk Babilonia ini yang hidup berumahtangga dalam rumah-rumah petak. Mereka membayar sewa yang cukup tinggi pada pemilik rumah untuk ruangan kecil yang tidak ada tempat secuilpun tersisa bagi istri-istri mereka untuk menanam bunga yang akan menggembirakan hati mereka dan tidak tersedia pula tempat bagi anak-anak mereka bermain kecuali dalam gang-gang yang sempit.”
 
“Tidak ada satu keluargapun akan hidup dengan penuh kenyamanan kecuali ada tersedia lapangan bagi anak-anak untuk bermain dan sepetak kebun bagi istrinya untuk tidak hanya menanam bunga, tetapi juga sedikit sayuran dan buah yang hasilnya dapat digunakan sebagai tambahan menu keluarga.”
 
“Bagi hati seorang lelaki hal itu menambah kebahagiaan, memakan sayuran segar dan anggur
dari kebun sendiri. Memiliki rumah sendiri yang dengan senang hati dirawat, menambah kebanggaan dalam hatinya dan akan semakin mendorong kegiatan usahanya. Oleh karena itu, aku sangat menyarankan agar setiap orang memiliki atap tempat mereka berlindung.”
 
“Memiliki rumah bukanlah hal diluar kemampuan seseorang yang sangat bersungguh-sungguh. Bukankah Sang Raja telah memperluas wilayahnya dengan membangun tembok kota yang baru yang mencakup wilayah yang lebih luas yang didalamnya masih banyak tersisa tanah yang belum sepenuhnya terpakai, yang dapat dibeli dengan harga yang sedikit lebih terjangkau?”
 
“Juga, kukatakan kepadamu, murid-muridku, pemberi pinjman uang akan dengan senang hati memberikan pinjaman untuk kepentingan pembelian tanah dan pembangunan rumah di atasnya. Engkau bisa meminjam uang untuk kepentingan yang bernilai seperti membayar pembuat bata dan kuli bangunan, apabila engkau sendiri dapat menunjukkan ada bagian dana yang cukup memadai yang engkau tanggung sendiri.”
 
“Kemudian apabila rumah tersebut sudah jadi, engkau dapat membayar utang-utangmu secara teratur sebagaimana engkau dahulunya membayar sewa rumah petakmu. Karena setiap pembayaran akan mengurangi jumlah utangmu, dalam jangka waktu beberapa tahun utang-utang itu akan segera lunas.”
 
“Setelah itu barulah engkau akan merasakan kegembiraan memiliki rumah sendiri yang sangat bernilai, dan biaya yang engkau keluarkan untuk itu hanya tinggal pajak yang engkau harus bayarkan kepada Sang Raja.”
 
“Juga, apabila istrimu pergi ke sungai untuk mencuci pakaian, ia akan pulang dengan kantung kulti kambing berisi air yang akan dapat dia gunakan untuk menyirami tanaman di kebunnya.”
 
“Akan sangat banyak berkah yang akan datang pada seseorang yang memiliki rumah sendiri. Rumah itu akan menghindarkannya dari beban sewa dan itu sangat mengurangi biaya hidupnya, membuat tersedia dana yang lebih besar bagi meningkatkan taraf kehidupannya. Inilah yang menjadi penyembuh kelima kantong uang yang kosong : Miliki rumah sendiri.”
 
 
 
Penyembuh Keenam
 
Jamin penghasilanmu di masa depan
 
 
“Hidup setiap orang beranjak dari masa kecilnya hingga sampai usia renta. Itulah jalan kehidupan yang tidak ada seorangpun akan mempu menghindarinya kecuali Para dewa memanggilnya lebih awal ke dunai para arwah. Oleh karena itu kukatakan bahwa seharusnyalah seseorang : membuat persiapan untuk memperolah penghasilan yang memadai bagi masa depannya, apabila ia tidak lagi muda, dan : membuat persiapan bagi keluarganya apabila mereka tidak lagi bersama mereka untuk memberi nafkah. Pelajaran ini akan mengharuskan engkau semua untuk mempersiapkan kantung uang yang penuh berlimpah sebelum kemampuanmu memperoleh penghasian surut sepanjang meningkatnya usia.” Arkad menympaikan hal itu di kelasnya pada hari keenam.
 
“Orang yang, karena faham akan hukum kekayaan, akan memperoleh peningkatan perkembangan penghasilannya, harus memikirkan masa depannya. Ia harus merencanakan cara menanamkan modal simpanannya untuk cadangan yang diperkirakan akan tahan melalui jangka waktu yang cukup lama, dan akan tersedia baginya apabila diperlukan sesuai waktu yang diperkirakannya.”
 
“Ada berbagai cara yang dapat ditempuh seseorang untuk memperoleh jaminan penghasilan di masa depannya. Dia dapat mencari tempat rahasia dan menanamkan emas peraknya di tempat itu, namun begaimanapun ahlinya ia menyembunyikan hartanya paling tidak akan menjadi incaran penjarah. Dengan alasan ini aku tidak menyarakan melakukan hal itu.”
 
“Seseorang dapat membeli tanah dan rumah dengan hartanya untuk tujuan ini. Apabila dilakukan dengan petimbangan yang tepat, nilai tanah dan rumah itu di masa yang akan datang akan terjaga, dan penghasilan yang dapat diperoleh darinya di masa yang akan datang lebih dapat diharapkan.”
 
“Yang lainnya dapat menanamkan uangnya sebagai modal pada pemberi pinjaman uang sehingga jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Sewa uangnya ditambahkan sebagai tambahan modal yang ditanamkan akan lebih meningkatkan penghasilannya. Aku mengenal pembuat sandal, bernama Arsan, yang menjelaskan padaku belum lama berselang, bahwa setiap minggu selama delapan tahun ia telah menempatkan dua keping perak sebagai modal pada pemberi pinjaman uang. Pemberi pinjaman uang telah mengembalikan kepada Arsan perhitungan penanaman modalnya yang sangat menyenangkan hati Arsan. Jumlah penanaman kecilnya, dua keping perak setiap minggu dan hasil sewa uangnya yang disetujui sebesar seperempat nilainya setiap empat tahun, sekarang telah menjadi seribu empat puluh keping perak.”
 
“Aku dengan bersemangat menganjurkan Arsan utnuk terus melanjutkan apa yang telah ia lakukan dengan menunjukkan nilai simpanannya dalam dua belas tahun ke depan, berdasarkan perhitunganku, apabila ia tetap melanjutkan penanaman tiap minggunya, pemberi pinjaman uang itu akan memperhitungkan penanaman modal Arsan sebesar empat ribu keping perak, jumlah yang cukup untuk mebuatnya sejahtera seumur hidupnya.”
 
“Yakinlah, penanaman kecil yang dibuat terus menerus akan memberikan hasil yang menguntungkan, tidak ada orang yang mengharapkan akan mendapatkan masa tuanya atau masa depan keluarganya tidak terjamin, seberapa berhasil usahanya dan seberapa menguntungkan penanaman modalnya kini.”
 
“Kulanjutkan dengan bahasan lebih mendalam berkenaan dengan hal ini. Dalam pikiranku, aku percaya bahwa suatu hari nanti orang-orang yang bijaksana akan menciptakan sesuatu rencana yang akan menjamin penghasilan di masa depan apabila sesorang meninggal, penghasilan tersebut di dukung oleh banyak sekali orang yang akan membayarnya dalam jumlah yang sedikit secara teratur, sehingga jumlah yang cukup beasar akan dapat diterima oleh keluarga yang ditinggalkan ke alam arwah. Hal inilah yang menurut pendapatku sangat bisa diterima dan sangat kuanjurkan untuk dilakukan. Tetapi saat ini hal itu tidak mungkin dilakukan karena kegiatan itu harus berlanjut melebihi umur manusia bahkan melebihi usia kegiatan usaha-usaha yang selama ini ada di Babilonia. Kegiatan atas usaha seperti itu haruslah berusia panjang dan dapat bertahan lama seperti usia sebuah kerajaan. Suatu hari aku yakin hal ini akan ada yang melaksanakannya karena sangat bermanfaat bagi banyak orang, karena meski dengan pembayaran berkala yang kecil, ia akan menyediakan penghasilan yang cukup besar bagi keluarga yang ditinggalkan ke alam arwah.”
 
“Tetapi, karena kita hidup di masa kita sendiri, bukan di masa yang akan datang, kita hanya dapat manfaatkan setiap bentuk jalan yang tersedia saat ini bagi mencapai tujuan kita. Oleh karena itu aku menyarankan kepada setiap orang, agar mereka, dengan cara yang bijak dan yang telah difikirkan dengan mendalam, mempersiapkan diri bagi kosongnya kantung uang mereka di masa-masa hidupnya menjelang senja. Karena kantung uang yang kosong bagi orang yang sudah tidak lagi mampu menghasilkan pendapatan, karena tuanya, atau keluarga yang ditinggalkan karena telah mendahuluinya, sangat merupakan tragedi yang pahit.”
 
“Inilah, penyembuh keenam bagi kantung uag yang kosong. Persiapkan sedini mungkin bagi kebutuhan masa tuamu dan persiapkan juga perlindungan bagi keluargamu.”
 
 
 
Penyembuh Ketujuh
 
Tingkatkan kemampuan memperoleh penghasilan
 
 
“Hari ini kukatakan kepadamu, murid-muridku, tentang satu penyembuh utama bagi kantung uangmu yang kosong. Tetapi, aku tidak membicarakan tentang uang dan kekayaan, aku akan mebicarakan tentang dirimu, tentang seseorang di balik jubah beraneka warna yang duduk didepanku sat ini. Aku akan menyampaikan kepadamu tentang fikiran dan kehidupan seseorang yang mendukung atau menghambat keberhasilan mereka.” Begitulah Arkad membuka perckapan di depan kelasnya pada hari ketujuh.
 
“Beberapa wkatu yang lalu datang kapadaku seorang anak muda mengajukan pinjaman uang. Ketika kutanyakan kepadanya keperluan apa yang mendesaknya melakukan pinjaman uang, ia mengeluhkan tentang penghasilannya yang tidak dapat memenuhi biaya hidupnya. Selanjutnya kujelaskan kepadanya, apabila begitu keadaannya, ia merupakan pelanggan yang buruk bagi pemberi pinjaman uang, karena ia tidak memiliki kelebihan uang atas seluruh penghasilannya, dan pasti tidak akan mampu membayar kembali pinjaman itu.”
 
“’Apa yang engkau perlukan, anak muda,’ kukatakan padanya, ‘adalah berusaha memperoleh penghasilan yang lebih banyak. Apa yang akan engkau lakukan untuk mendapat penghasilan tambahan?’
 
“’Apa yang bisa kulakukan,’ jawabnya. ‘Enam kali dalam dua purnama saya sudah meminta pada tuanku untuk menambah penghasilanku, tapi tidak pernah dikabulkan. Tidak ada orang yang lebih sering dari diriku meminita tambahan penghasilan.’”
 
“Kita tersenyum mendengar kesederhaan ini, namun anak muda itu memiliki sesuatu persyaratan yang utama bagi usaha meningkatkan penghasilannya. Dalam dirinya ada keinginan hati yang kuat untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar, sebuah niat yang pas dan sangat dianjurkan untuk dimiliki.”
 
“Pencapaian selalu didahului dengan keinginan hati. Keinginan hatimu harus kuat dan jelas.” Keinginan hati yang umum, tidak jelas, merupakan angan-angan semata. Seseorang yang berkeinginan untuk menjadi orang kaya, keinginan hati itu tidak berguna sama sekali. Tetapi, apabila seseorang berkeinginan untuk memperolah lima keping emas, itu baru jelas dan dapat diusahakannya untuk dipenuhi. Setelah ia tekadkan tujuannya untuk memperoleh lima keping emas, selanjutnya ia akan dapat melakukan hal yang serupa untuk memperoleh sepuluh, kemudian untuk dua puluh keping dan berikutnya seribu keping dan, tanpa disadari, ia telah menjadi kaya. Dengan belajar mencapai tujuan hatinya yang kecil, ia telah melatih dirinya untuk mencapai tujuan lain yang lebih besar. Itulah proses yang akan menghimpun kekayaan bersamanya: pertama dalam jumlah sedikit, selanjutnya dalam jumlah yang lebih besar sejalan dengan perkembangan orang itu belajar dan akhirnya menjadi pengusaha yang lebih berkemampuan dan tangguh.”
 
“Keinginn hati harus sederhana dan jelas. Tujuannya menjadi tidak jelas kalau terlalu banyak dan ruwet atau di luar kemampuan orang tersebut untuk mencapainya.”
 
“Ketika seseorang meningkatkan dan menyempurnakan kemampuannya begitu pula kemampuannya untuk memperoleh penghasilan akan ikut meningkat. Dahulu pada saat awal aku menjadi penulis lempeng tanah liat, kuhasilkan beberapa keping perunggu sehari, kuperhatikan pekerja lain ada yang melakukan hal yang lebih baik dan berpenghasilan lebih banyak dariku. Lalu, aku bertekad untuk berusaha memperoleh penghasilan yang tidak bisa dilebihi dari pekerja lainnya. Tidak terlalu lama bagiku untuk mengetahui apa penyebab mereka memperoleh keberhasilan. Minat yang lebih banyak pada pekerjaanku, lebih tekun malakukan tugasku, bersungguh-sungguh dalam usahaku, akhirnya, tidak ada orang yang dapat menulis lempeng lebih banyak dari yang aku tulis dalam satu hari. Bersamaan dengan meningkatnya keahlianku penghasilanku pun bertambah dengan sendirinya, tanpa perlu aku enam kali mendatangi tuanku untuk meminta tambahan penghasilan.”
 
“Semakin banyak ilmu yang kita miliki, semakin besar yang dapat kita hasilkan. Orang yang mencari keahlian dan belajar lebih banyak dalam bidang usahanya akan diganjar dengan penghasilan yang lebih besar. Apabila dia seniman, ia akan belajar cara-cara dan alat-alat yang paling baik dalam bidangnya. Apabila dia bergerak di bidang hukum atau pengobatan, ia akan berkonsultasi dan bertukar pikiran dengan ahli di bidangnya. Apabla ia pedagang, ia akan terus mencari barang yang lebih baik yang dapat dibeli dengan harga yang lebih rendah.”
 
“Kehidupan dan ilmu seseorang selalu berubah dan menjadi lebih baik karena orang ingin selalu mencari keahlian yang labih sempurna, agar dapat memberikan sesuatu yang lebih baik pada lawan usahanya, itu yang sangat ia perlukan. Oleh karena itu kuminta agar setiap orang untuk selalu berada di baris terdepan dalam gerak kemajuan di bidangnya masing-masing, jangan berhenti, kalau tidak ia akan tertinggal di belakang.”
 
“Bayak hal yang dihadapi seseorang yang dapat memperkaya hidupnya dengan perolehan pengalaman. Hal-hal yang berikut ini, adalah hal yang musti dilakukan seseorang apabila ia ingin menghargai dirinya sendiri :
 
“Ia harus membayar utangnya tepat waktu sesuai dengan kemampuannya, tidak membeli susuatu yang tidak mampu ia bayar.”
 
“Ia harus menjaga keluarganya sehingga mereka akan mengatakan hal yang baik tentang dia.”
 
“Ia harus membuat catatan warisan tertulis agar, dalam hal Para Dewa memanggilnya, pembagian kekayaannya dapat dilakukan dengan tanpa pertikaian.”
 
“Ia harus memiliki rasa kasihan pada orang yang terluka atau tertimpa bencana dan membantu mereka dalam batas-batas yang wajar. Dia juga harus melakukan hal-hal yang baik sepenuh hati bagi orang-orang yang bersikap baik kepadanya.”
 
“Jadi, penyembuh ketujuh bagi kantung uang yang kosong adalah tanam dan pupuk kekuatanmu, terus belajar dan menjadi lebih bijaksana, menjadi lebih ahli di bidangnya, dan bertindak sebagaimana engkau menghargai dirimu sendiri. Dengan begitu engkau akan memperoleh kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam usaha mencapai keinginan hatimu yang telah engkau tetapkan dengan seksama.”
 
 
====
 
 
“Itulah ketujuh penyembuh kantung uang yang kosong, yang, dirangkum dari pengalaman  panjang kehidupan yang berhasil, yang sangat kuanjurkan pada orang yang ingin mencari kekayaan.”
 
“Di Babilonia ini sangat banyak sekali emas, murid-muridku, lebih banyak dari yang engkau pernah bayangkan. Semuanya berlimpah ruah.”
 
“Berusahalah engkau menerapkan kebenaran ini, maka engkau akan sejahtera dan menjadi kaya raya, karena itu memang hakmu.”
 
“Berusahalan engkau dan ajarkan pengetahuan ini agar setiap warga kerajaan ini dapat juga hidup berkecukupan, tidak kurang suatu apa, dan hidup penuh berkelimpahan di kota kita tercinta ini.”
 
 
 

 

IV : BERTEMU MUKA DENGAN DEWI KEBERUNTUNGAN

 
 
BERTEMU MUKA DENGAN DEWI KEBERUNTUNGAN
 
 
 
 
”Apabila seseorang beruntung, tidak ada yang dapat memperkirakan sampai seberapa jauh, seberapa besar keberuntungannya. Benamkan dia ke dalam Sungai Furat, dan tanpa diduga dia akan muncul berenang ke tepian dengan mutiara di tangannya.”
 
- Pepatah Babilonia
 
 
 
 
Keinginan untuk mendapat keuntungan merupakan hal yang manusiawi dan lumrah. Sama kuatnya hasrat itu di dalam dada orang-orang Babilonia pada masa ribuan tahun lalu dengan di dalam hati orang-orang yang hidup pada zaman kini. Kita semua mengharapkan dalam hidup ini akan selalu disentuh berkah dewi keberuntungan. Apakah ada cara, bagaimana agar kita dapat menemuinya dan menarik, tidak hanya perhatiannya, tetapi juga berkah yang menyertainya?
 
Apakah ada cara untuk menarik perhatian dewi keberuntungan?
 
Itulah yang justru ingin diketahui oleh orang-orang Babilonia pada masa itu. Itulah yang sebenarnya mereka putuskan untuk ditelusuri. Mereka orang-orang cerdas dan pemikir tangguh. Itulah juga, yang dapat menjelaskan mengapa kota mereka dikenal sebagai kota terkaya dan terkuat pada masa itu.
 
Pada masa dahulu, yang sudah lama sekali itu, tidak ada sekolah ataupun perguruan tinggi. Kendatipun demikian, mereka memiliki pusat pembelajaran yang sangat mendukung perkembangan ilmu dan kehidupan. Di antara menara dan bangunan tinggi di Babilonia terdapatlah satu bangunan penting yang setara pentingnya dengan Istana Sang Raja, Taman Gantung dan Kuil Para Dewa. Engkau tidak menemukan bangunan itu ditulis dalam buku-buku sejarah, besar kemungkinan tidak pernah disebut sama sekali, namun demikian, ia memberikan pengaruh yang luar biasa pada kehidupan keilmuan dan kesejahtearan masyarakat pada masa itu.
 
Gedung itu adalah Kuil Pembelajaran, tempat kebijaksanaan masa lalu dipelajari dan dibahas oleh para guru yang penuh minat dan tempat masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat pada saat itu dibahas bersama dalam majelis terbuka. Dalam lingkungan dinding kuil itu semua orang dianggap setara. Budak-budak sederhana sekalipun dapat menyanggah, dengan bebas tanpa rasa takut, pendapat seorang pangeran dari keluarga kerajaan.
 
Di antara orang-orang yang sering berulang kali berkunjung ke Kuil Pembelajaran itu, ada seorang kaya yang bijaksana bernama Arkad, yang digelari orang terkaya di Babilonia. Arkad memiliki ruangan khusus, yang hampir setiap petang serombongan orang, sebagian sudah cukup tua, sebagian masih remaja, sebagian besar berumur setengah baya, berkumpul untuk membahas, mendiskusikan dan saling berdalil atas hal-hal yang menarik perhatian mereka. Disanalah, seandainya dapat, akan kita dengar pembicaraan yang membahas mengenai cara memperoleh nasib baik.
 
Mentari baru saja terbenam seperti bola api merah memancarkan sinarnya menembus kabut senja yang tersaput debu gurun ketika Arkad melangkah menuju undak-undak tempat ia biasanya duduk. Sudah ada delapan puluh orang menunggu kedatangannya, bersimpuhan pada ambal kecil beratur di atas lantai. Masih ada lagi beberapa peserta lain yang datang kemudian.
 
“Apa yang akan kita bicarakan malam ini,” tanya Arkad.
 
Dengan sedikit ragu, seorang penenun permadani yang jangkung mengajukan pendapatnya, seraya berdiri, sesuai kebiasaan di situ. “Saya mempunyai satu masalah yang sangat ingin agar dapat dibicarakan dalam majelis ini, namun ragu menawarkannya karena khawatir akan terasa lucu dan remeh bagimu, Arkad, dan semua sahabat baikku di sini.”
 
Karena di dorong-dorong oleh Arkad, dan beberapa peserta lainnya, ia melanjutkan. “Hari ini saya sangat beruntung, karena saya menemukan sekantung uang yang di dalamnya terdapat keping-keping emas. Untuk terus mendapatkan keberuntungan seperti ini sangat saya inginkan. Saya kira semua orang akan berfikiran sama dengan saya. Jadi kutawarkan agar kita membicarakan bagaimana caranya agar keberuntungan datang mengunjungi kita atau dapat menemukan cara membujuk keberuntungan mendatangi seseorang.”
 
“Sebuah masalah yang sangat menarik sudah diajukan,” timbal Arkad, “sesuatu yang cukup bernilai untuk kita bahas di sini. Bagi sebagian orang, nasib baik dikatakan sebagai kejadian yang, bagaikan kecelakaan, akan diperoleh seseorang begitu saja tanpa tujuan dan tanpa alasan. Sebagian lainnya percaya penganugerah semua keberuntungan itu adalah dewi paling dermawan kita, Ashtar, yang akan selalu siaga menganugerahkan hadiah dengan murah hatinya pada siapa saja yang menyenangkan hatinya. Berbicaralah, sahabat-sahabatku, bagaimana pendapatmu, kita akan mencari tahu apakah ada cara agar nasib baik dapat kita bujuk untuk mengunjungi kita semuanya?”
 
“Ayo! Ya! Boleh!” tanggap kelompok yang terus bertambah yang terlihat begitu ingin mendengarkannya.
 
Arkad melanjutkan, “Untuk memulai pembicaraan kita, ada baiknya kita mendengar dari orang-orang yang hadir di sini yang pernah mengalami pengalaman yang sama yang telah dialami penenun permadani, menemukan atau menerima benda berharga atau perhiasan, dengan tanpa usaha apapun yang dilakukan.”
 
Keadaan menjadi hening sejnak, setiap orang saling toleh menoleh menunggu sesorang menjawabnya tetapi tidak seorangpun yang unjuk diri.
 
“Wah, tidak seorangpun?” tanya Arkad, “jadi, jarang sekali terjadi nasib baik seperti itu. Apakah ada, siapa, sekarang yang dapat memberi saran kemana kita akan mencari lebih jauh, guna mendalami masalah ini?”
 
“Nah, kalau begitu boleh lah,” kata seorang anak muda yang berjubah lumayan bagus seraya berdiri. “Apabila seseorang mebicarakan masalah nasib baik, bukankah sama halnya dengan orang yang fikirannya tertuju pada meja perjudian? Bukankah di sana dapat kita jumpai banyak orang-orang yang mengharapkan dewi keberuntungan menganugerahkannya hasil yang berlimpah?”
 
Ketika ia kembali duduk seseorang menegahnya, “Jangan berhenti! Lanjutkan ceritamu! Ceritakan pada kami, bukankah engkau mengharapkan keberuntunggan sang dewi di atas meja judi? Apakah sang dewi menggelindingkan dadu sesuai dengan yang engkau perkirakan sehingga engkau dapat mengalahkan sang bandar, atau sebaliknya dia memenangkan bandar sehingga keping-keping perak yang kau peroleh dengan susah payah ludes di sana?”
 
Anak muda itu ikut tertawa bersama orang yang hadir di majelis itu, kemudian menjawab, “Saya tidak membantah, bahwa, kelihatannya Sang Dewi bahkan tidak tahu saya ada di meja judi itu. Tidak pernah menang. Bagaimana dengan saudara-saudara semua? Apakah engkau menemukan dia menunggumu di tempat perjudian itu untuk membantumu memperoleh keuntungan dari perjudian? Saya sangat ingin mendengarnya sekaligus ingin mempelajarinya.”
 
“Permulaan yang bagus,” tukas Arkad. ”Kita berkumpul di sini utnuk mempertimbangkan segala sisi pertanyaan atas masalah yang kita bahas. Mengabaikan meja judi sama saja artinya mengabaikan hasrat asli setiap orang, kesenangan untuk mengambil kesempatan dengan sedikit keping perak dengan harapan memenangkan sejumlah besar keping emas.”
 
“Percakapan tentang judi ini mengingatkanku pada pacuan kereta kuda kemarin,” ujar seseorang pendengar. “Apabila Sang Dewi mengunjungi rumah judi, tentunya ia juga tidak melewatkan pacuan kereta yang berkilau dan kuda-kuda dengan mulut berbusa yang bahkan memberikan lebih banyak hiburan. Katakan pada kami apa adanya, Arkad, apakah Sang Dewi membisikkan padamu agar engkau menempatkan taruhanmu pada kuda abu-abu dari Niniveth kemarin? Aku berdiri tepat di belakangmu dan sangat tidak percaya engkau berani menempatkan taruhanmu pada kuda abu-abu itu. Padahal engkau lebih tahu, sama seperti yang kami ketahui, bahwa tidak ada peserta dari seluruh Assiria yang dapat mengalahkan kuda pacuan Babilonia dalam setiap pacuan.”
 
“Apakah dewi keberuntungan membisikkan padamu untuk memilih kuda abu-abu karena pada belokan terakhir kuda hitam akan terbalik dan menghalangi lajur kuda pacuan Babilonia sehingga kuda abu-abu dapat memenangkan pacuan itu meski kemampuannya diragukan?”
 
Arkad tersenyum dengan senangnya pada orang yang menggodanya itu. “Apa alasan kita untuk percaya bahwa Sang Dewi akan sangat tertarik pada taruhan yang kita pasang pada pacuan kereta kuda? Bagiku Sang Dewi adalah dewi cinta dan kehormatan yang kesenangannya membantu siapapun yang memerlukan bantuan dan memberikan anugerah kepada siapapun yang layak menerimanya. Aku mencarinya, bukan dimeja judi atau pacuan kuda, tempat lebih banyak orang kehillangan keping-keping emas dari pada mendapatkannya, tetapi di tempat lain, tempat orang-orang berkarya diberikan nilai lebih pada hasil kerjanya dan lebih pantas diberikan anugerah.”
 
“Tempat petani membajak tanah, pedagang berdagang dengan jujur, dan dalam setiap bidang pekerjaan, selalu ada kesempatan memperoleh penghasilan dari kegiatan usaha. Mungkin tidak setiap waktu mereka akan memperoleh anugerah karena kadang-kadang tindakannya mungkin keliru dan kala lainnya angin dan cuaca mengalahkan usahanya. Namun, apabila mereka tekun, mereka biasanya akan dapat mengharapkan hasil yang baik, Hal ini jelas, bahwa kesempatan memperoleh penghasilan selalu ada di fihak yang selalu berusaha.
 
“Tetapi, apabila seseorang berjudi, keadaannya menjadi terbalik, karena kesempatan memperoleh keuntungan baginya jauh lebih kecil dari pada kesempatan bandar memperoleh keuntungan. Permainan itu telah diatur sedemikian rupa sehingga akan selalu menguntungkan sang bandar. Itulah usahanya, yang telah direncanakan secara cermat sehingga dapat memberikan keuntungan dari keping-keping yang dipertaruhkan para penjudi. Hanya sedikit penjudi yang menyadari betapa pastinya keuntungan bagi bandar dan betapa tidak pastinya kemungkinan penjudi untuk menang.”
 
“Sebagai contoh, coba kita pelajari penjudi yang bermain dadu. Setiap kali dadu digelindingkan kita menempatkan pasangan untuk angka yang muncul di atas. Apabila angka tersebut cocok dengan yang dipertaruhkan kita memperoleh bayaran empat kali jumlah yang dipertaruhkan. Apabila selain angka itu yang muncul, kita kalah, keping yang kita pertaruhkan hilang. Kalau kita perhitungkan angka-angka yang muncul, maka setiap putaran dadu kita memiliki lima kemungkinan rugi, tetapi karena kecocokan angka dibayar empat kali lipat, kita memperoleh kemungkinan menang hanya empat kali. Setiap malam perjudian sang bandar dapat mengharapkan memperoleh keuntungan seperlima dari seluruh keping yang dipertaruhkan. Dapatkah seseorang berharap memperoleh keuntungan lebih dari sekali-sekali menghadapi kecilnya kemungkinan yang telah dirancang agar penjudi akan mengalami kerugian seperlima dari taruhannya?”
 
“Memang betul itu, tetapi, beberapa orang memperoleh kemenangan yang cukup besar sesekali,” ujar salah seorang pendengar.
 
“Benar, mereka menang,” lanjut Arkad. “Menyadari hal ini, pertanyaan berikut muncul di kepalaku, apakah uang yang diperoleh dengan cara itu memberikan nilai yang langgeng pada yang memperoleh keberuntungan itu. Di antara kenalanku, banyak yang merupakan orang berhasil di Babilonia, tetapi di antara mereka aku tidak dapat menemukan seorangpun yang bagian dari keberhasilannya diperoleh dari sumber seperti itu.”
 
“Engkau yang berkumpul di majelis ini, malam ini, mungkin mengenal lebih banyak lagi warga masyarakat yang berada. Akan sangat menarik bagiku untuk mengetahui apabila ada beberapa warga yang berhasil itu memperoleh kekayaannya mereka himpun dari meja judi. Coba, setiap yang hadir, sebutkan siapa yang engkau ketahui? Bagaimana?”
 
Setelah beberapa masa hening, seorang yang biasanya suka bercanda memecah kesunyian, “Apakah yang engkau tanyakan termasuk Sang Bandar?”
 
“Kalau engkau tidak dapat menemukan yang lain,” sahut Arkad. “Apabila tidak seorangpun di antara engkau dapat menyebutkan yang lain, bagaimana dengan dirimu sendiri? Apakah ada yang terus menerus memperoleh kemenangan sehingga agak enggan menyebutkan sumber kekayaannya?”
 
Tantangannya dijawab oleh beberapa gerutuan dari barisan belakang dan menjalar menjadi bahan tertawaan.
 
“Kelihatannya kita tidak mencari nasib baik pada tempat semacam itu, sebagai tempat yang selalu dikunjungi Sang Dewi,” lanjutnya. “Jadi, mari kita jelajahi tempat lainnya. Kita tidak menemukan Sang Dewi pada orang yang menemukan kantung uang yang hilang. Tidak juga kita temukan di meja perjudian. Atau, juga, di pertaruhan pacuan kereta kuda, harus kuakui, di pacuan itu, aku lebih banyak kehilangan keping emas perakku dari pada memenanginya.”
 
“Sekarang, coba kita pertimbangkan kegiatan dan usaha kita masing-masing. Bukankah kita tidak menganggap kegiatan usaha yang menguntungkan sebagai nasib baik melainkan sebagai hasil kerja keras kita semata? Aku cenderung menganggap kita telah mengabaikan nasib baik yang kita peroleh sebagai anugerah Sang Dewi. Mungkin dia benar-benar telah membantu kita apabila kita tidak menghargai kedermawanannya. Siapa yang ingin meneruskan pembicaraan lebih lanjut majelis ini?’
 
Berdirilah seorang saudagar tua, sambil merapikan jubah putihnya yang indah. “Dengan izin engkau, sahabatku yang mulia, Arkad, aku mengajukan tawaran. Bila, seperti yang engkau telah katakan, kita mengganggap keberhasilan kita sebagai hasil usaha dan kerja keras kita sendiri, mengapa tidak kita amati keberhasilan yang nyaris kita peroleh, namun gagal terjadi, yang seharusnya dapat memberikan kita keuntungan yang lumayan. Pasti akan sangat jarang contoh-contoh nasib baik apabila kita tidak pernah gagal dan selalu berhasil dalam berusaha. Karena apabila tidak ada penghasilan yang kita peroleh dari usaha kita maka kita akan mengganggap kegagalan itu bukan imbalan usaha kita. Pasti banyak yang hadir di sini memiliki pengalaman serupa itu untuk dibahas bersama.”
 
“Benar-benar suatu pendekatan yang bijaksana,” setuju Arkad. “Siapa diantara engkau semua yang  memperoleh nasib baik yang hampir saja dapat engkau genggam, menguap begitu saja di depan wajahmu?”
 
Beberapa lengan diacungkan, satu di antaranya dari sang saudagar tua. Arkad memberi isyarat kepadanya agar berbicara. “Seperti yang engkau sarankan, coba kami dengar pengalamanmu sendiri.”
 
“Aku akan sangat senang menceritakannya,” lanjut dia, “suatu hal yang sangat berkaitan dengan betapa dekatnya nasib baik datang menghampiri seseorang dan betapa butanya orang itu membiarkan nasib baik itu berlalu meninggalkannya dengan beban kerugian dan penyesalan kemudian yang tidak berguna.”
 
“Beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih sangat muda, baru saja menikah dan mulai berusaha mencari nafkah, suatu hari, datanglah ayahku menganjurkan dengan sangat agar aku melakukan penanaman modal usaha. Anak dari seorang sahabat baiknya telah menemukan dan tertarik pada sebidang tanah tandus tidak berapa jauh di luar dinding kota kita. Tanah itu letaknya jauh lebih tinggi dari saluran air, sehingga tidak ada air yang mengalir di atasnya.”
 
“Anak sahabat ayahku itu memiliki rencana untuk membeli tanah itu, membangun tiga kincir air besar yang akan digerakkan oleh kerbau dan selanjutnya mengairi tanah itu agar dapat dibudidayakan. Apabila hal itu terlaksana, ia merencanakan pula untuk membagi tanah itu kedalam luasan-luasan yang lebih kecil untuk dijual kepada warga kota untuk dijadikan kebun.”
 
“Anak sahabat ayahku tidak memiliki emas yang cukup untuk melaksanakan rencananya itu. Seperti halnya aku, ia masih muda dan hanya berpenghasilan yang sedikit lebih dari memadai. Ayahnya, seperti juga ayahku, memiliki keluarga yang besar dan berpenghasilan tidak berlebihan. Ia, kemudian, memutuskan untuk mengajak beberapa rekannya membantu mewujudkan rencana itu bersamanya. Terkumpullah kelompok dengan dua belas anggota, setiap orangnya harus berpenghasilan dan setuju untuk menyisihkan sepersepuluh dari penghasilannya kedalam kelompok itu sampai tanah tersebut siap dijual. Selanjutnya semuanya akan memperoleh bagian keuntungan sebanding dengan modal yang mereka masing-masing tanamkan.”
 
“’Engkau, anakku,’ kata ayahku, ‘saat ini berada pada masa mudamu. Aku sangat inigin melihat engkau mulai menghimpun kekayaan bagi dirimu sendiri sehingga engkau akan menjadi orang yang terpandang di antara warga masyarakat. Aku ingin melihat engkau memperoleh keuntungan dari pengalaman dan kesalahan akibat kurangnya pengetahuan ayahmu.”
 
“’Memang itulah juga yang sangat saya inginkan, ayahku,’ jawabku.’”
 
“’Sekarang, dengar nasihatku. Lakukan apa yang seharusnya telah aku lakukan saat aku seusiamu. Sisihkan sepersepuluh dari penghasilanmu dan tanamkan pada penanaman modal yang benar. Dengan sepersepuluh penghasilanmu itu, dan apa yang engkau peroleh dari hasil penanamannya, engkau dapat, sebelum usiamu mencapai umurku saat ini, menghimpun bagi dirimu sendiri harta yang akan sangat bernilai.”
 
“’Kata-katamu merupakan kata-kata yang bijaksana, ayahku. Aku sangat menginginkan kekayaan. Tetapi ada sangat benyak keperluan yang harus kupenuhi dengan penghasilanku yang cekak ini. Oleh karena itu, aku agak ragu menjalankan apa yang engkau nasehatkan padaku. Aku masih muda. Masih banyak waktu.’”
 
“’Itulah yang ada dalam fikiranku pada saat aku seusiamu, ternyata, tahun-tahun berlalu dan aku masih juga belum memulainya.’”
 
“’Kita hidup dalam masa yang berbeda, ayahku. Aku pasti mampu menghindarkan diriku dari kesalahan seperti yang engkau lakukan.’”
 
“’Kesempatan telah berdiri di depanmu, anakku. Ia menawarkan usaha yang dapat membawamu ke kekayaan. Aku minta padamu, jangan tunda lagi. Pergilah kamu besok pagi ke anak sahabatku itu dan tawarkan padanya sepersepuluh dari penghasilanmu untuk ikut serta dalam rencana usahanya. Datanglah tepat waktu besok pagi. Kesempatan tidak menunggu-nunggu seorangpun. Hari ini ia berdiri di depanmu; segara setelah itu ia pergi. Jadi, jangan menunda!’”
 
“Meskipun telah disarankan dengan sepenuh hati ayahku, aku ragu dan enggan. Ada jubah baru yang indah yang baru saja datang dibawa para pedagang dari Timur, jubah yang berkilau mewah yang istriku yang baik dan kau sendiri merasa kami harus memilikinya satu seorang. Seandainya aku setuju untuk menanamkan sepersepuluh dari penghasilanku kedalam usaha itu, kami tentu harus menahan keinginan untuk memiliki jubah itu, juga kepuasan-kepuasan lainnya yang benar-benar kami inginkan bisa didapat dengan jumlah itu.Kutunda keputusan untuk menanamkan uangku pada usaha itu dan terlambat akhirnya, disusul kemudian oleh penyesalan-penyasalan yang menyertainya. Usaha tersebut ternyata sangat berhasil, bahkan melebihi semua yang diramalkan orang-orang. Itulah ceritaku, menggambarkan bagaimana aku mempersilakan nasib baik berlalu dari hadapanku.”
 
“Dalam cerita itu dapat kita lihat bagaimana : nasib baik menunggu di hadapan seseorang yang memanfaatkan kesempatan,” begitu komentar seorang penghuni gurun yang berwajah kehitaman. “Untuk menghimpun kekayaan selalu ada awalnya. Permulaan, mestinya hanya akan berupa beberapa keping emas atau perak yang orang itu sisihkan dari penghasilanna dilanjutkan dengan pemanfaatan simpanan itu bagi usaha lainnya. Aku sendiri, memiliki banyak ternak. Usaha ternakku yang pertama kumulai ketika aku masih kanak-kanak lagi dengan membeli seeekor anak sapi seharga sekeping perak. Itulah, anak sapi yang kujadikan awal kekayaanku, sangat berarti bagiku.”
 
“Untuk mengambil langkah pertama menghimpun kekayaan sama halnya memperoleh nasib baik bagi setiap orang. Pada semua orang, mengambil langkah pertama, yang mengubah dirinya dari seseorang yang memperoleh penghasilan dari usaha atau kegiatannya menjadi seseorang yang memperoleh bagian dari penghasilan yang dihasilkan emas miliknya, hal itu sangat penting. Beberapa orang, beruntung, melakukannya ketika masih berusia muda sehingga mampu mendahului mereka yang memulainya setelah menjelang setengah baya atau orang-orang yang kurang beruntung, seperti ayah saudagar ini yang tidak pernah memulainya.”
 
“Seandainya sahabat kita, saudagar ini, mengambil langkah itu pada usia mudanya ketika kesempatan itu berdiri dihadapannya, hari ini ia akan menghimpun kekayaan dari yang dimilikinya saat ini. Seandainya nasib baik yang mendatangi sahabat kita ini, dan penenun permadani, membuat mereka mengambil langkah meraih kesempatan itu, sudah dapat dipastikan itu akan menjadi awal datangnya nasib-baik dan munculnya kesempatan-kesempatan lebih besar lainnya.”
 
“Terima kasih, terima kasih! Saya juga ingin berbicara.” Seorang asing dari negeri tetangga berdiri. “Saya orang Syria. Saya tidak begitu mahir berbicara dalam bahasa Babilonia. Saya ingin menyebut sahabat ini, sang pedagang, dengan suatu sebutan. Mungkin akan terdengar agak kurang sopan, sebutan ini. Tapi akau akan menyebutnya demikian. Tetapi, aduh, aku tidak mengenal sebutan ini dalam bahasamu. Jika kusebutkan dalam bahasa Syria, engkau tidak akan mengerti. Coba tolong, orang-orang yang baik di sini, beritahukan aku sebutan bagi orang yang mengabaikan berbuat sesuatu yang sesungguhnya sangat baik baginya.”
 
“Penyia-nyia kesempatan,” kata seseorang.
 
“Ya, itu dia,” tanggap orang Syria itu, sambil menggarak-gerakkan tangannya dengan ria, “ia tidak menanggapi kesempatan ketika kesempatan itu hadir di hadapannya. Kesempatan itu menunggu. Dia bilang aku sibuk saat ini. Lain kali, barangkali kita bisa beramah tamah. Kesempatan, tidak akan menunggu orang yang lamban seperti itu. Kesempatan beranggapan apabila apabila seseorang ingin beruntung ia akan bergerak seketika. Setiap orang yang tidak bergerak cepat ketika kesempatan tiba, dialah penyia-nyia kesempatan sepeti sahabat kita ini, sang saudagar.”
 
Sang saudagar berdiri dan dengan santunnya membungkuk hormat menanggapi tertawaan hadirin. “Aku senang dan sangat menghargai engkau, orang asing dalam kota ini, yang segan tidak sama sekali mengemukakan kebenaran.”
 
“Sekarang mari kita dengar cerita yang lain tentang masalah kesempatan ini. Siapa lagi yang memiliki pengalaman yang dapat diberikan pada kita?” pinta Arkad.
 
“Saya punya,” jawab seorang berjubah merah umur setengah baya. “Saya pedagang ternak, umumnya unta dan kuda. Kadang-kadang saya juga membeli biri-biri dan kambing. Cerita yang akan kusampaikan dengan seungguhnya ini akan menggambarkan bagaimana kesempatan datang pada suatu malam ketika saya samasekali tidak mengharapkannya. Mungkin karena tidak diharapkan itu, aku membiarkannya berlalu. Engkau semualah yang akan menilainya.”
 
“Pada suatu malam, ketika aku kembali ke kota, setelah malakukan perjalanan mencari unta dagangan selama sepuluh hari yang mengecewakan, aku sedikit gusar ketika medapatkan gerbang kota sudah ditutup dan terkunci. Sementara budak-budakku mendirikan tenda untuk bermalam yang mungkin akan kami lewati dengan hanya sedikit sisa makanan tanpa air, aku didatangi seorang peternak yang sudah agak tua, yang sama seperti kami, terkunci di luar gerbang kota.
 
“’Salam Tuan,’ ia menyapaku, ‘dari penampilanmu, engkau pasti pedagang ternak. Apabila memang benar begitu, aku ingin menjual kepadamu sekawanan biri-biri unggul yang baru aku datangkan ke sini. Susahnya, istriku yang baik sedang terbaring sakit terkena demam. Aku harus segera kembali ke peternakanku. Belilah olehmu biri-biriku agar aku dan rombongan dapat segera naik ke unta kami dan segera kembali tanpa menunda-nunda lagi.’”
 
“Ketika itu malam sangat gelap sehingga aku tidak dapat melihat kawanan biri-biri itu, tetapi dari suara-suara embekannya aku tahu pasti itu kawanan biri-biri yang bagus. Setelah menyia-nyiakan sepuluh hari tanpa hasil unta dagangan, aku menjadi sangat tertarik untuk menerima tawaran itu. Dalam kerisauannya, ia menawarkan harga yang paling baik. Aku menerimanya, dengan harapan budak-budakku akan menggiring kawanan biri-biri itu melewati gerbang kota besok pagi dan menjualnya dengan keuntungan yang lumayan besar.”
 
“Segera saja kesepakatan di dapat, kupanggil budak-budakku untuk membawa obor agar kami dapat menghitung kawanan biri-biri itu yang dikatakan pedagang itu ada berjumlah sembilan ratus ekor. Aku tidak akan memberatkanmu, sahabatku, dengan tambahan penjelasan betapa tidak mungkinnya menghitung begitu banyak biri-biri yang sedang memamhbiak, kehausan, yang tidak dapat ditenangkan dan terus berdesak-desakan. Penghitungan tidak mungkin dapat dilakukan. Oleh karena itu dengan tegas kuberitahukan pada peternak itu aku akan menghitungnya nanti di siang hari dan akan membayarnya setelah jelas jumlah perhitungannya.
 
“’Tolonglah saya, Tuan yang mulia,’ pohonnya,’cukup bayar saya dua pertiga dari harga yang disepakati malam ini agar aku dapat segera kembali ke peternakanku. Akan kutinggalkan budakku yang paling pintar dan paling terpelajar, untuk membantu melakukan perhitungan di siang nanti. Ia dapat dipercaya dan engkau dapat membayar sisa kekurangannya pada dia.’”
 
“Tetapi aku bersikeras dan menolak melakukan pembayaran pada malam itu. Kesepakatan batal terjadi. Keesokan paginya, sebelum aku bangun, gerbang kota sudah dibuka dan empat pembeli bergegas berdatangan mencari ternak dagangan. Mereka sangat bersemangat dan bersedia melakukan pembelian dengan harga yang sangat tinggi karena adanya berita akan adanya serangan ke kota dan warga kota sedang dalam keadaan siaga terhadap ancaman itu, tambahan lagi persediaan makanan saat itu sedang menipis. Hampir tiga kali lipat harga yang peternak itu tawarkan kepadaku, itulah jumlah yang akhirnya diterima sang peternak atas biri-birinya. Begitulah, nasib baik yang jarang terjadi, dibiarkan berlalu begitu saja.”
 
“Benar-benar sebuah cerita yang luar biasa,” komentar Arkad. “Kebijakasanaan apa yang diajarkannya?”
 
“Kebijaksanaan untuk membuat pembayaran segera apabila kita yakin keuntungan sudah sangat jelas,” simpul pembuat pelana yang cukup dikenal. “Apabila ada penawaran yang sangat menguntungkan, maka engkau perlu melakukan perlindungan terhadap penawaran itu dari kelemahan dirimu sendiri dengan cara yang sama seperti engkau menjaganya dari orang lain. Kita makhluk fana ini selalu berubah-ubah. Sayangnya, bisa kukatakan lebih tepat, kita mengubah pendirian kita lebih sering pada hal yang keliru dari pada yang benar. Salah, pada hal yang keliru kita benar-benar keras kepala. Betul, pada hal yang benar kita cenderung ragu dan membiarkan kesempatan berlalu. Keputusanku yang pertama selalu merupakan keputusan yang terbaik. Tetapi selalau saja aku menemukan kesulitan mendorong diriku sendiri untuk segera melaksanakan hal yang sudah jelas menguntungkan itu meski sudah menemukannya di depan mata. Oleh karena itu sebagai perlindungan atas kelemahan diriku sendiri, aku akan segera memberikan uang muka tanda jadi atas penawaran itu. Hal ini akan menghindarkanku dari penyesalan atas hilangnya nasib baik yang seharusnya menjadi milikku.”
 
“Terima kasih! Aku sekali lagi ingin berbicara,” Orang Syria telah kembali tegak berdiri. “Cerita-cerita ini ada persamaannya. Setiap kali kesempatan hilang berlalu dengan berbagai alasan. Setiap kali ia datang dengan impian berkah kepada orang yang menyia-nyiakannya. Setiap kali mereka ragu, bukan, saat ini bukan waktu yang tepat, bahkan, tidak katanya. Bagaimana seseorang akan mencapai keberhasilan dengan cara seperti itu?”
 
“Bijak sekali kata-katamu, sahabatku,” tanggap pedagang ternak itu. “Nasib baik meninggalkan sang penyia-nyia kesempatan dalam kedua cerita itu. Namun, hal itu bukanlah hal yang luar biasa. Sifat untuk menyia-nyiakan kesempatan ada pada diri setiap orang. Kita menginginkan kekayaan; tetapi seringkali ketika kesempatan muncul dihadapan kita, sifat untuk menyia-nyiakan dalam diri kita mendorong dengan berbagai cara untuk menunda menerimanya. Apabila kita mendengar bujukan itu, kita sendiri justru menjadi musuh terberat kita.”
 
”Pada masa mudaku aku tidak menyimpulkannya sebagaimana sahabat Syria kita ini dengan gembira membicarakannya panjang lebar di sini. Pertama kali aku berpikir, mungkin itu memang dikarenakan keputusanku sendiri yang tidak baik yang menyebabkan kerugian dalam usaha perdaganganku. Kemudian aku memang menyalahkan kekeras-kepalaanku. Akhirnya, aku menyadarinya sebagaimana apa adanya, suatu – kebiasaan untuk tidak perlu menunda apa yang harus segera dilakukan, lakukan dengan langsung dan tegas. Hal yang paling kubenci adalah apabila kutemukan sifat ini menampakkan dirinya tepat dihadapanku. Dengan kepahitan bagai bagal liar yang terikat pada kereta kuda. Keberhasilan kucapai ketika aku membebaskan diriku dari musuh besarku ini.”
 
“Terima kasih! Aku ingin bertanya kepada sang saudagar.” Itu yang dikatakan orang Syria selanjutnya. “Engkau mengenakan jubah yang indah, tidak seperti orang-orang berkekurangan. Engkau berbicara selayaknya secara orang-orang yang berhasil. Katakan pada kami, bila saatnya penyia-nyia kesempatan berbisik di telingamu?”
 
“Seperti halnya sahabat kita sang pedagang ternak, aku juga harus menyadari keberadaannya dan mengalahkannya,” jawab sang saudagar. “Bagiku, dia bagaikan seorang lawan, selalu mengintai dan menunggu untuk menghalang-halangi keberhasilanku. Cerita yang kukemukakan tadi hanya satu dari sekian banyak kejadian serupa yang dapat kuuraikan semua, bagaimana dia telah mengusir kesempatan-kesempatan yang datang kepadaku. Sebenarnya hal itu tidak terlalu sukar untuk diatasi begitu kita sudah menyadarinya. Tidak ada orang yang akan mengizinkan dengan senang hati seorang pencuri merampok gandum dalam periuknya. Begitu juga tidak akan ada orang yang bersedia apabila musuhnya mengusir pelanggannya dan mengambil keuntungan yang seharusnya menjadi bagiannya. Sekali aku menyadari bahwa tindakan itu adalah hsil usaha yang dilakukan lawanku, dengan satu tekad yang teguh aku mengalahkannya. Setiap orang harus menjadi tuan dari sifat menyia-nyiakan kesempatan pada dirinya sebelum ia dapat mengharapkan mendapatkan bagian dari kelimpahan kekayaan Babilonia.”
 
“Bagaimana menurutmu, Arkad?” Karena engkau orang terkaya di Babilonia, banyak yang mengatakan engkau orang yang paling beruntung di antara orang-orang yang beruntung. Apakah engkau sependapat denganku bahwa seseorang tidak akan mencapai keberhasilan yang penuh menyeluruh sebelum ia sepenuhnya menghancurkan sifat menyia-nyiakan kesempatan yang ada dalam dirinya?”
 
“Sama seperti yang engkau katakan,” Arkad menerimanya. “Sepanjang hidupku yang sudah cukup lama aku memperhatikan satu generasi dilanjutkan dengan generasi yang lain, berjalan dalam usaha dagangnya, ilmu pengetahuan dan mempelajari apa yang dapat memberikan keberhasilan dalam hidup ini. Kesempatan datang kepada semua orang ini. Sebagian menggenggamnya segera dan terus maju mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi sebagian besar ragu, goyah dan tertinggal di belakang.”
 
Arkad, bergeming ke arah penenun. “Engkau tadi yang menganjurkan kita membicarakan masalah nasib baik di majelis ini. Mari kita dengar apa yang engkau pikirkan tentang masalah ini?”
 
“Aku semula memang melihat nasib baik dalam pandangan yang agak berbeda, Aku fikir nasib baik sebagai sesuatu yang kita inginkan yang mungkin terjadi kepada seseorang tanpa ada usaha sama sekali yang dilakukannya. Sekarang, aku sadari bahwa kejadian itu bukanlah sesuatu yang dapat diusahakan seseorang agar nasib baik datang mendekatinya. Dari pembicaraan kita dapat aku pelajari bahwa : untuk menarik nasib baik datang kepadamu, engkau harus memanfaatkan seluruh kesempatan. Jadi, di masa yang akan datang, aku akan berusaha sekuat tenaga memanfaatkan setiap kesempatan yang datang ke hadapanku.”
 
“Engkau telah menyerap inti sari pembicaraan yang diungkap dalam majelis ini,” jawab Arkad. “Selamat, kita menemukan, bahkan mengikuti jalur kesempatan, jarang terjadi hal sebaliknya. Sahabat kita sang saudagar telah menemukan nasib baik yang sangat amat bagus apabila ia menerima kesempatan yang dianugerahkan dewi kebaikan padanya. Sahabat kita sang pedagang ternak, begitu juga, akan menikmati nasib baik apabila ia menyelesaikan penawaran untuk membeli sekawanan biri-biri dan menjualnya dengan keuntungan yang lumayan besar.”
 
“Kita mengikuti pembicaraan ini, mencari cara bagaimana agar nasib baik tergoda untuk mengunjungi kita. Aku kira kita telah menemukan caranya. Kedua cerita tadi mengambarkan bagaimana nasib baik mengikuti kesempatan. Disitulah terletak kebenaran bahwa cerita tentang nasib baik yang serupa, dimenangkan, atau kehilangan, tidak dapat diubah. Kebenarannya adalah : Nasib baik dapat didatangkan dengan memanfaatkan kesempatan.”
 
“Siapa pun yang bersemangat menggenggam setiap kesempatan bagi kebaikannya, akan menarik perhatian kebaikan sang dewi. Sang dewi selalu sangat bersedia membantu orang-orang yang menarik hatinya. Orang-orang yang senantiasa siaga bertindak, sangat menarik hatinya.
 
“Tindakan akan membawa engkau ke depan ke arah keberhasilan yang begitu engkau inginkan.”
 
 
 
ORANG YANG SENANTIASA SIAGA BERTINDAK
AKAN DIDAHULUKAN OLEH DEWI KELIMPAHAN